Pesona Sang Perompak

Pesona Sang Perompak
Hari Yang Sangat Berat


__ADS_3

Roseland, Desa Lilbert. Desember 1499.


Elie menangis tersedu-sedu. Sofia sudah benar-benar menghilang dari depan matanya. Tidak ada tanda-tanda keberadaanya. Elie sudah berlari sangat cepat menyusuri pantai, tapi tak menemukan apapun.


Setelah hampir gelap, Elie berjalan dengan cepat ke rumah Tuan Gerald. Dia seperti orang kerasukan berteriak sangat kencang didepan rumahnya.


"Tuan...."


"Tuan Gerald...!!!"


"Buka pintunya! Atau Saya akan berteriak lebih kencang! Tuan Gerald!!!"


Duk!


Duk!


Duk!


Duk!


Duk!


Elie menendang-nendang pintu dengan kuat.


Mau tidak mau Gerald membuka pintu rumahnya. Sebenarnya dia sudah tidak mau berurusan lagi dengan Elie, karena sejak tadi siang Elie terus mencercanya dengan berbagai macam pertanyaan.


"Dimana Nona!"


"Katakan pada saya!"


"Saya menyesal membiarkan Nona berduaan dengan Anda!"


"Saya akan mengejarnya meskipun keujung dunia!!" Elie berteriak sangat kencang.


"Aku tidak tau!"


"Kau melihatnya sendiri!"


"Dia dibawa oleh perompak sialan itu!"


"Perompak siapa??" Tanya Elie tidak sabar.


"Awak Kapten Hades."


Sebuah Bom seperti meledak dikepala Elie. Tubuhnya terguncang. Dia terjatuh begitu saja.


Nama Kapten Hades terngiang-ngiang didalam kepalanya. Dia tidak bisa bergerak. Elie terus mengingat setiap rumor yang pernah dia dengar.


Penyiksaan, pemerkosaan, pembunuhan. Elie tidak dapat mengingat setiap detailnya lagi. Dia menangis tersedu-sedu, membayangkan Nona mudanya berada diatas kapal yang penuh dengan perompak keji. Ditempat antah berantah.


Elie pulang kerumah. Rumah itu terlihat berbeda. Sekarang tidak tampak nyaman lagi. Dia bingung, frustasi, tidak tau harus bagaimana menghadapi hari esok. Menghadapi Tuan Jasper dan menghadapi Nyonya Rossie nanti.


Semua pelayan bingung, mereka tidak tau harus berbuat apa. Elie ingin cepat kembali ke Roseland. Tapi, dia mengingat pesan Nona mudanya.


"Nona pasti kembali, entah esok atau lusa..." Gumamnya.


Semua pelayan berkumpul diaula tengah, termasuk kusir kereta kuda.


"Bagaimana ini Elie?"


"Kita akan menunggu Nona, Nona mengatakan akan kembali." Jawab Elie seadanya.


"Kapan Nona kembali?"


"Esok atau lusa kita harus menunggu dan percaya." Elie mencoba tenang.


"Jika lusa tidak ada?" Seseorang semakin cemas.


"Kita harus terus berdoa!!!" Elie sudah mulai goyah, dia tidak bisa lagi menahan air matanya.


Entah siapa yang memulainya, semua orang menangis tersedu-sedu.

__ADS_1


"Kita harus percaya, kita akan menunggu selama satu Minggu, kemudian 2 Minggu, kemudian 3 Minggu. Lalu setelah itu kita akan kembali ke Roseland jika Nona masih belum kembali."


"Kita harus yakin Nona akan baik-baik saja."


Elie mengakhiri perkataannya, kemudian pergi kedalam kamar Nona Sofia.


Elie menatap sebuah lukisan yang masih tertutup kain putih. Dia membukanya, dan terpampanglah wajah seorang pria tampan yang pernah Elie lihat di Roseland, Richi.


"Nona, apa yang harus Saya lakukan sekarang?" Elie duduk memandang lukisan Richi yang masih belum sempurna.


Hari itu semua orang diliputi rasa duka. Rumah yang selalu ceria berubah menjadi suram sejak kepergian Sofia.


Hari pertama tanpa Sofia terasa sangat lama. Tidak ada yang berbicara sepanjang hari, semua orang menyibukkan diri masing-masing dengan pekerjaan yang tidak jelas.


Elie berjalan mengelilingi Desa Lilbert, berharap akan menemukan Sofia berdiri ditepi pantai, namun Sofia tidak ada dimanapun.


Hari kedua masih sama, beberapa pelayan menemani Elie mengelilingi Desa Lilbert, masih berharap menemukan Sofia sedang menunggu ditepi pantai, namun Sofia tidak ada disana.


Sudah seminggu mereka melakukan hal yang sama. Namun, tidak menghasilkan apapun.


Semua orang semakin putus asa. Mereka bertanya pada semua penduduk desa. Namun tidak ada yang pernah kembali setelah bertemu dengan para perompak itu. Harapan mereka seperti dihempaskan oleh angin yang sangat kencang begitu saja.


Semua pelayan berkumpul di aula. Elie ingin mendengar saran dari mereka. Dia tidak mau mengambil keputusan seorang diri.


"Apakah semua orang punya ide? Atau rencana? Katakan saja padaku? Sungguh, Aku tidak bisa berpikir jernih." Elie menundukkan kepalanya.


"Elie, bagaimana jika kita memberi tahu identitas Nona yang sebenarnya?" Salah satu pelayan memberikan usulan.


"Maksudmu?" Elie masih bingung.


"Bukankah Tuan Gerald tidak tau bahwa Nona Sofia merupakan Putri Tuan Marquess Jasper?" Pelayan itu menjelaskan.


"Ah..."


"Mungkinkah dia akan membantu?" Elie balik bertanya.


"Mungkin saja Elie. Siapa yang tidak mengenal Tuan? Semua orang mengenal Tuan Jasper di negara ini." Pelayan itu semakin yakin.


"Baiklah, Aku akan menemuinya. Ini satu minggu yang sangat berat untuk kita."


"Semoga Tuan Gerald mau mendengarkan Aku. Tapi, aku harus membawa sesuatu yang dapat membuatnya percaya. Kemarin Aku sudah berteriak seperti orang gila didepan rumahnya. Astaga.." Elie menyesali perbuatannya seminggu yang lalu.


Esok harinya Elie bergegas pergi menuju rumah Tuan Gerald.


Tok


Tok


Tok


Elie mengetuk pintu dengan sopan. Seseorang membukanya dari dalam beberapa saat kemudian.


"Anda mencari siapa?" Sapa seseorang dengan pakaian khas pelayan.


"Ah, Saya ingin bertemu dengan Tuan Gerald.." jawab Elie.


"Tuan Gerald baru saja pergi.."


"Pergi? Pergi kemanakah?" Elie tidak bisa menyembunyikan rasa penasarannya.


"Beliau mengatakan akan pergi ke Roseland."


"Kapan Dia akan kembali?" Elie semakin tidak sabaran.


Pelayan itu bingung melihat tingkah Elie yang mencurigakan.


"Ah, maafkan Saya.." ujar Elie kembali dengan nada sopan.


"Mungkin sekitar satu Minggu." Pelayan itu menjawab dengan ketus.


"Katakan yang sebenarnya! Kapan dia kembali?" Elie tidak sanggup lagi mengontrol emosinya.

__ADS_1


"Sebaiknya Anda pergi, sebelum saya memanggil penjaga."


Braaak!!!


Pelayan itu menutup pintu dengan kasar.


"Astaga! Menyebalkan sekali dia!" Elie mengumpat dengan kesal.


Karena tujuan utamanya tidak terpenuhi, mau tidak mau, Elie kembali ke rumah dengan harapan kosong. Dia tidak bisa menyembunyikan raut wajahnya yang sedih, semua pelayan mengetahuinya tanpa bertanya.


"Maaf, Tuan Gerald sedang tidak ada dirumah. Seandainya kemarin Aku langsung pergi dan tidak menunda-nundanya." Elie hampir menangis, sebelum sebuah tepukan keras mendarat tepat di punggungnya.


"Nona pasti baik-baik saja!" Olin teman satu kamar Elie memeluknya dengan erat.


"Aku selalu berdoa.." Elie memeluk Olin dengan erat.


Setelah satu minggu lagi dilewati Elie dan seluruh pelayan dengan tanpa semangat sedikitpun, akhirnya tibalah waktunya Elie kembali kerumah Tuan Gerald.


Dia sudah menyusun kata-kata yang cukup pantas untuk dikatakan.


"Elie, jangan emosi. Kau harus sabar dan mengingat tujuan utama kita." Olin mengingatkan Elie sebelum dia berangkat.


"Baiklah.."


Elie diantar oleh kusir kereta kuda agar lebih cepat sampai. Ketika sampai dikediaman Tuan Gerald, ternyata Tuan Gerald baru saja sampai di depan pintu rumahnya, dan masuk kedalam rumah. Elie tidak membuang-buang waktu, dia turun dari kereta kuda dengan kecepatan penuh dan berlari sambil memanggil nama Tuan Gerald.


"Tuuuuan Geraaaaald...."


"Tuan Geraaaaaald..."


Suara Elie sangat nyaring, sehingga Gerald yang sudah berada didalam rumah pun mendengarnya.


"Astaga!"


"Apa yang Kau inginkan sekarang?"


Elie mengatur nafasnya, dia hampir tersungkur karena menendang beberapa kerikil yang cukup besar. Elie kehabisan nafas karena berlari sambil berteriak. Dia tidak mampu mengucapkan sepatah katapun selain suara nafas yang berat.


Hosh


Hosh


Hosh


"Cepat katakan! Atau Aku akan masuk dan mengusirmu!"


"Ttuungggu ssebentar.." Elie mencoba mengatur nafasnya secepat mungkin.


"Tuuaan, Esme sebenarnya adalah Sofia Esmeralda." Elie tidak mau membuang-buang waktu.


"Apa? Apa maksudmu?" Tuan Gerald nampak tidak percaya.


"Nona Esme adalah Sofia Esmeralda, putri dari Marquess Jasper." Kata-kata Elie membuat raut wajah Gerald berubah.


"Katakan sekali lagi!"


"Esme adalah Sofia Esmeralda putri dari Marquess Jasper." Elie menunjukan foto Tuan Jasper dan Nona Sofia yang selalu dia bawa didalam pakaiannya.


Deg


Deg


Deg


Deg


Seketika raut wajah Gerald berubah, menjadi seperti seseorang yang tidak Elie kenal. Elie tidak bisa menebak apa yang sedang dipikirkannya.


"Haaaaah..."


"Ini hari keberuntunganku!" Gumam Tuan Gerald.

__ADS_1


"Anda akan membantu menemukan Nona?" Elie terlihat bersemangat.


"Menemukan Sofia Esmeralda? Tentu saja." Tuan Gerald masuk kedalam rumah tanpa melihat Elie yang masih kesusahan bernafas.


__ADS_2