
Istana Kerajaan, Roseland. April 1500.
Musim semi telah tiba, bunga-bunga sudah mulai bermekaran dengan indah di seluruh pelosok negeri.
Semua orang menyimpan dengan rapi pakaian hangat yang mereka gunakan saat musim dingin dilemari.
Satu Minggu berlalu sejak Richi mengirim surat wasiat Rossie pada Hades. Belum ada tanda-tanda burung itu akan kembali, Sofia sudah bosan menunggu dan memilih menghabiskan waktu dengan belajar menunggangi kuda.
"Yakin akan menggunakan Rok super lebar itu untuk belajar?" Richi memandang Sofia dari ujung kaki hingga kepala.
Sofia mengamati pakaian yang ia kenakan.
"Apakah terlihat aneh?" Dia mengangkat rok dan berputar-putar.
"Bukan aneh Sayangku.."
"Kau akan merasa tidak nyaman menaiki kuda dengan Rok super lebar itu."
"Benarkah?"
Richi menganggukan kepalanya dengan cepat.
"Aku akan kembali."
"Jangan kemana-mana!"
"Tentu, My Lady..." Richi membungkukkan punggungnya kemudian melambaikan tangannya ke arah Sofia yang berlari dengan mengangkat roknya menuju Istana.
"Mengapa Dia sungguh menggemaskan sekali?" Richi menutup wajahnya yang merah.
* * *
"Ell...."
"Elieee..."
Terdengar suara langkah yang begitu cepat dari luar kamar.
"Saaya, Nona..." Nafas Elie terdengar sangat cepat.
"Astaga.."
"Apakah Kau berlari?"
"Tidak, begitu cepat.." Elie memperlihatkan senyumnya yang ramah.
"Ah.."
"Begitu rupanya.."
Elie mengangguk dengan cepat.
"Duduklah lebih dulu.."
"Terimakasih, Nona.."
"Elie.."
"Richi mengatakan bahwa Aku akan merasa tidak nyaman jika menunggangi kuda dengan dengan pakaian ini.."
"Tidak nyaman?"
"Ya..."
"Bukankah Nona akan menunggangi kuda dengan Tuan Duke?"
"Tidak.."
"Aku akan menunggangi kuda sendiri.." Sofia mengangkat kedua alisnya.
"Sendiri?"
Sofia menganggukan kepalanya
"Sendiri Nona?"
"Yyaa.."
"Aku akan belajar menunggangi kuda."
"Tidak boleh Nona!"
"Menunggangi kuda sendirian itu sangat berbahaya!"
"Anda tidak boleh membuat diri Anda sendiri dalam bahaya!"
Sofia menatap Elie dengan mata berkaca-kaca.
"Tidak Nona, tidak.."
"Jangan menatap Saya.." Elie menutup seluruh wajahnya.
"Ayolah..."
"Lagipula.. Richi bersamaku.."
"Siapa yang berani membuatku dalam bahaya?"
"Tentu saja.."
"Diri Anda sendiri!" Elie menghembuskan nafasnya dengan kesal.
"Sebentar saja..."
"Yaa.."
"Tidak akan lebih dari 1 jam.."
"Aku janji.." Sofia memperlihatkan jari kelingkingnya yang mungil.
Hmm..
"Saya akan melihat Anda dari jauh!"
"Tentu!"
"Tentu saja Kau harus mengawasi ku, Madam.." Sofia mengedipkan matanya beberapa kali.
Elie berdiri dan berjalan ke arah ruang ganti, kemudian kembali sangat cepat dengan tangan penuh dengan berbagai macam pakaian.
__ADS_1
"Waaah..." Sofia bertepuk tangan dengan senang.
"Apakah ini yang Anda inginkan?" Elie memperlihatkan sebuah pakaian dan celana berbahan kulit berwarna coklat tua.
Sofia mengangguk dengan cepat.
"Bantu Aku berpakaian!"
"Richi sudah menunggu.."
* * *
Richi terlihat asyik memberi makan kuda yang akan ditunggangi oleh Sofia, sehingga Dia tidak menyadari kedatangan Sofia.
"Ekhm.."
Richi membalikan badannya dengan cepat.
"Ayo.."
"Aku siap!!" Sofia tersenyum dan berputar didepan Richi.
Lagi-lagi Richi menutup wajahnya dan tertawa.
"Kenapa?" Sofia mengerutkan keningnya.
Richi membuka wajahnya dan menarik Sofia kedalam pelukannya.
"Richi?"
"Ada apa?"
Richi membenamkan seluruh wajahnya di rambut Sofia.
"Ada apa?"
"Sebentar saja.."
Sofia mengerutkan keningnya tidak mengerti.
"Cantik sekali istriku..."
"Semoga nanti anak kita perempuan.." Bisik Richi ditelinga Sofia.
Pipi Sofia memerah mendengar perkataan Richi, hembusan nafasnya yang hangat masih terasa di telinganya.
"Hentikan.."
"Menjauhlah.." Sofia mencoba mendorong Richi dengan sekuat tenaga.
Richi hanya terkekeh melihat perilaku calon istrinya.
"Ayo.." Richi menarik tangan Sofia mendekat ke arah Theo, nama Kuda itu.
"Astaga.."
"Dia terlihat sangat cantik.." Sofia terpesona melihat rambut Theo yang hitam dan panjang.
"Dia lelaki sayang..." Richi tidak kuasa menahan tawanya.
Sofia kesal, Dia memukul punggung Richi dengan keras.
"Aw..."
"Maaf..."
"Maaf..." Richi pura-pura mengusap punggungnya yang kesakitan.
"Aku tidak memukul sekuat itu!" Sofia menghentakkan kakinya.
Richi lagi-lagi tertawa.
"Kau sangat lembut sekali..." Dia mencubit pipi Sofia yang cemberut.
"Dia, Theo.."
"Theo berumur 6 tahun, Dia sudah dewasa dan bisa ditunggangi.." Richi membelai dengan lembut rambut Theo.
"Bisakah Aku menyentuhnya?"
"Tentu..."
Richi menarik tangan Sofia dan mendekatkannya ke arah Theo.
"Jangan tegang.."
"Santai saja.."
"Umm..."
"Baiklah..."
Sofia mencoba tenang, Dia berhati-hati menyentuh Theo. Dia tersenyum saat berhasil menaruh tangannya di atas kepala Theo.
"Halo Theo..."
"Aku Sofia, ijinkan Aku belajar denganmu.."
Richi tersenyum melihat Sofia yang bersungguh-sungguh berbicara dengan kudanya.
"Ayo, pegang tanganku.."
Richi mengajarkan Sofia bagaimana cara menaiki Kuda, kemudian menyuruhnya memberi makan kuda dan menggosok punggungnya. Hari ini hanya itulah yang mereka lakukan, Sofia berkali-kali hampir terjatuh saat akan menaiki Theo, namun dengan cepat Richi membantunya. Elie sudah sangat cemas memperhatikan dari kejauhan, Dia siap berlari kapan saja jika ada hal bahaya yang akan terjadi pada Nona mudanya.
* * *
Saat matahari sudah hampir tenggelam, seorang pelayan berlari dengan cepat menuju kamar Richi.
Tok
Tok
Tok
"Tuan.."
"Saya membawa sepucuk surat untuk Anda.."
KLAK.
__ADS_1
Pintu terbuka dengan cepat, Richi sedang menggunakan handuk untuk mengeringkan rambutnya yang masih basah.
"Ini Tuan.."
"Terimakasih.."
Pelayan itu mengangguk, dan meminta ijin untuk kembali.
"Tampaknya lebih cepat dari perkiraan ku.."
Richi duduk di sofa, kemudian mulai membuka surat itu.
'Datanglah satu Minggu setelah musim semi tiba, Aku sudah menyiapkan segalanya.'
Note: Berikan pada Nenek Tua.
Richi tidak mengerti keseluruhan isi surat tersebut. Namun Dia yakin, Neneknya akan lebih mengerti.
* * *
Ratu Ranee sedang membaca diruang kerjanya, hari ini banyak sekali pekerjaan yang Dia selesaikan.
Sebuah ketukan pintu membuyarkan konsentrasinya.
Tok
Tok
Tok
"Nenek, Ini Aku.."
"Ah.."
"Richard.."
"Masuklah.."
Ratu Ranee melepaskan kacamata bacanya, Dia berjalan kearah Richi yang sudah duduk dengan nyaman di sofa.
Richi mengibarkan surat yang Dia dapatkan.
"Apakah itu?"
"Surat cinta."
Hahahaha
Ratu Ranee tidak kuasa menahan tawanya. Cucunya selalu saja bisa membuatnya tertawa bahagia.
Ratu Ranee mengambilnya dengan cepat. Dia berjalan kearah meja dan mengambil kacamata bacanya.
"Hmm.."
"Tanpa nama?"
"Kau akan mengetahui saat membacanya, Nek."
"Baiklah, baiklah.."
Setelah membaca seluruh isinya, Ratu Ranee meremas kertas itu dengan kesal lalu membuangnya ke perapian.
Richi menutup mulutnya, Dia tidak kuasa menahan tawanya.
Ratu Ranee menatap Richi lalu menggerakkan giginya.
"Sudah berapa hari sejak musim semi?"
"Aku rasa 2 atau 3 hari.." Richi mengangkat kedua bahunya.
"Kita akan berangkat 3 hari lagi, bersiaplah."
"Berangkat?"
"Kemana?"
"Pulau Pace."
"Pace?"
"Ya."
"Nenek akan ikut?"
"Tentu saja."
"Semua orang akan ikut."
"Beritahu Sofia."
"Aku mengerti."
"Ah.."
"Ada apa Nek?"
"Kunjungilah Marquess Jasper."
"Beritahu padanya tentang rencana kita."
"Sekarang?"
"Besok pagi saja."
"Bawalah hadiah untuknya."
"Jangan lupa sampaikan salam ku padanya."
"Aku sendiri?"
"Ya, sebaiknya sendiri saja."
"Tapi, Nek.."
"Ada apa?"
"Mengapa Aku menjadi tegang?" Richi membelalakan matanya.
Ratu Ranee hanya tertawa melihat tingkah cucunya itu.
__ADS_1