
Istana Kerajaan, Roseland. Maret 1500.
Count France berlari memasuki Ruang kerja Ratu Ranee setelah menerima pesan burung yang dikirimkan sahabatnya.
Tok
Tok
Tok
"Yang Mulia.."
France sudah berdiri didepan Ruang prbadi Ratu Ranee.
"Masuklah France."
CLACK.
Count France masuk dan berjalan ke arah Ratu Ranee yang sedang menulis.
"Yang Mulia.."
Ratu Ranee melirik France yang memegang sepucuk surat.
"Siapa?"
"Gusto, Yang Mulia."
"Gusto?"
"Berikan padaku."
Count France memberikan surat itu kemudian berjalan mundur.
"Tunggulah diluar."
"Ya, Maam.."
CLACK.
'Selamat siang Yang Mulia.'
'Saya ingin menyampaikan kabar berduka.'
Deg
Deg
Deg
'Maaf, Tuan Richard tidak bisa......'
Ratu Ranee meremas surat itu lalu membuangnya keperapian, tidak lama surat itu terbakar dan berubah menjadi abu.
Dia mengepalkan kedua tangannya. Rasa sesak yang sangat hebat membuat dadanya terasa sakit. Perasaan yang tidak pernah dirasakan lagi olehnya sejak kematian kedua putri tercintanya kini mulai terasa lagi.
Air mata mengalir deras dikedua pipinya. Dia memukul dadanya yang terasa sakit dan sesak.
Uuuhk!
Buk
Buk
Buk
Uuuhk
Riiichaaard uuuhh
Uuuuh
Uhhhhhhh
Richaaard
Uuuh
HUUU
"Yang Mulia?"
"Yang Mulia?" Count France khawatir dan membuka pintu dengan cepat.
CLACK.
Ratu Ranee tersungkur dibawah meja, France terkejut dan membantunya duduk dikursi.
"Yang Mulia.."
"Ada apa?"
"Yang Mulia.."
Count France memberikan sapu tangannya dan memberikan segelas air putih pada Ratu Ranee.
Ratu Ranee mulai berhenti menangis, Dia menarik secarik kertas lalu menulis.
'Kembalilah!'
'Bawa Richard dalam keadaan utuh!'
'Aku tidak peduli meskipun Dia mati.'
Ratu Ranee melipat surat itu dan memberikannya pada Count France.
"Kirimkan ini secepatnya!"
"Aku tidak peduli!"
"Saya mengerti, Maam."
"Ah, Dimana ******** itu?"
"Maaf?"
"Gerald! Dimana Dia?!"
"Saya mendapatkan informasi bahwa Dia baru kembali dari Pulau Rayons, Yang Mulia."
__ADS_1
"Ah.."
"Cepat kirimkan."
Count France membungkuk lalu berjalan keluar.
* * *
Pulau Rayons, Maret 1500.
Top dan Ben kembali dari Kota Rayons, mereka melanjutkan misi yang terhambat karena kecelakaan beberapa waktu yang lalu.
Dia berjalan dengan tergesa-gesa menemui Hades yang sedang mengisap tembakaunya.
"Kapten.."
"Kapten.."
Ssst
"Biar Aku tebak.."
Ben duduk dan menghirup nafas dengan tenang. Dia menganggukan kepalanya.
"******** itu telah meninggalkan Pulau Rayons?"
"Apakah begitu?"
Lagi-lagi Ben hanya menganggukan kepalanya.
"Ah.."
"Memang sesuai dugaan ku.."
Ben menganggukkan kepalanya lagi.
"Apakah Dia kembali ke Roseland?"
"Benar Kapten.."
"Dia kembali satu Minggu yang lalu.."
"******** sialan.." Hades membuang cerutunya dan menginjaknya dengan kesal.
"Apakah kita akan pulang Kapten?"
"Tentu."
"Kau sudah membelinya?"
"Sudah Kapten."
"Masukan Richi kedalam Peti mati.." Raut wajah Hades tampak kacau. Dia tidak bisa berpikir jernih.
"Yya Kapten.."
"Ah, Dimana Gusto?"
"Sepertinya sedang menunggu kedatangan surat." Jawab Top dengan ragu.
"...."
Hades masuk kedalam rumah dan berjalan ke halaman belakang.
"Pak tua!"
"Ya.."
"Sudah ada balasan?"
Gusto memegang sebuah amplop berwarna merah.
"Aku akan melihatnya."
* * *
Istana Kerajaan, Roseland. Maret 1500.
Satu Minggu setelah Ratu Ranee mengirim surat untuk Gusto, Gerald datang dengan membawa banyak sekali hadiah untuknya. Dan disinilah mereka sekarang, dalam suasana yang tampak tegang, Ratu Ranee dapat dengan mudah merasakannya, Dia mencoba bersikap setenang mungkin.
"Mari, duduklah.."
"Terimakasih, Yang Mulia.." Sofia duduk berhadap-hadapan dengan Gerald.
"Gerald, sejak kapan Kau ada di Roseland?" Ratu Ranee menatap Gerald sambil meminum teh yang disajikan pelayannya.
"Ah.."
"Sudah dua Minggu Yang Mulia."
"Benarkah?"
"Bagaimana kabar Ayah dan Ibumu?"
"Mereka baik-baik saja Yang Mulia."
"Apakah pekerjaanmu berjalan dengan lancar?" Ratu Ranee menekankan nada suaranya.
"Bisnis saya lancar seperti biasanya Yang Mulia, terimakasih pada Anda, yang selalu membantu Saya dalam setiap kesulitan."
Sofia merasa jijik mendengar perkataan Gerald. Dia enggan menatapnya dan mengalihkan pandangannya pada Lukisan yang ada dibelakangnya.
"Ah, syukurlah.."
"Gerald, Lady Sofia akan menikah dengan Richard musim semi nanti." Raut bahagia tergambar jelas diwajah Ratu Ranee, hampir saja butiran air mata mengalir dari pelupuk matanya.
"Aku harap semuanya berjalan dengan lancar." Ratu Ranee mengusap matanya yang perih.
"Dengan Richard?"
"Ah, tentu saja?"
"Mengapa tidak dengan Saya, Yang Mulia?" Gerald menatap Ratu Ranee dengan pandangan memohon.
Deg
Deg
Deg
__ADS_1
Jantung Sofia berdegup dengan kencang, sumbu api yang kecil tiba-tiba berkobar dalam tubuh Sofia seperti terkena percikan minyak. Dia sudah muak mendengar semua perkataan yang keluar dari mulut ******** itu.
"Tidak Yang Mulia.."
"Maafkan Saya, tapi Saya hanya mencintai Richi." Sofia memandang Gerald dengan tatapan kesal dan marah.
"Tentu saja, Anakku.."
"Aku tidak akan memaksa siapapun untuk menikah, kecuali mereka memang saling mencintai.." Ratu Ranee menggenggam tangan Sofia seperti mengerti kekhawatiran yang Dia rasakan.
"Ah.."
"Tapi, Saya telah jatuh cinta pada pandangan pertama Yang Mulia.." Gerald menundukkan wajahnya.
Ratu Ranee tertawa terbahak-bahak mendengar perkataan Gerald.
"Nampaknya kali ini Kau kurang beruntung, Gerald." Ratu Ranee menepuk-nepuk punggung Gerald.
"Ah, Kita lihat saja nanti.." Gerald tersenyum dengan licik. Sofia tidak tau ada apa dibalik perkataannya, tapi Dia tidak bisa tenang begitu saja.
Ratu Ranee dapat melihat dengan jelas tatapan benci Sofia pada Gerald, Dia tidak mengetahui dengan pasti mengapa dan bagaimana. Tapi tampaknya Sofia dan Gerald telah mengenal satu sama lain. Entah mengapa hatinya merasa tidak tenang, Ratu Ranee menautkan jari-jarinya.
* * *
"Gerald!"
"Gerald!"
Sofia mengejar Gerald yang keluar dari ruangan lebih dulu.
Gerald berhenti dan memutar tubuhnya.
"Ah, Esme tersayang.."
Gerald mengambil sejumput rambut Sofia dan menciumnya.
"Apakah Kau sudah sembuh sayang?"
"Maafkan aku, saat itu Aku tidak bermaksud melukaimu.."
"Kaupun tau.."
PLAAK!!
Sofia menampar wajah Gerald dengan keras.
"Menjijikkan!"
"Singkirkan tanganmu yang kotor itu!"
HAHAHA
Gerald tertawa sangat keras.
Dia mendorong Sofia ke dinding dan menahan tubuhnya dengan kuat.
BUGH!
"Lepaskan Aku ********!"
Gerald menutup mulut Sofia dengan tangan kanannya.
Ssst
"Tidak akan ada yang bisa mendengar suaramu, sayang."
Tangan Gerald menyentuh dada Sofia dengan kasar.
Ahk
Sofia menggigit tangan Gerald dan menendang perutnya.
BUGH!
"Dasar ******** brengsek!"
"Menjijikkan sekali seluruh tingkah mu itu!"
"Aku harap Kau membusuk dipenjara!"
HAHAHAHA
"Tenanglah sayang.." Gerald memegang perutnya yang terasa sakit.
"Aku akan memaafkan tingkahmu saat ini, namun Aku tidak tau apa yang akan aku lakukan kedepannya." Dia tersenyum dengan puas.
"Bermimpi lah!"
"Richi tidak akan pernah membiarkanmu menyentuhku. Seujung jaripun!"
HAHAHAHA
"Richi?"
"Richi?"
HAHAHAHA
"Berpikirlah sesukamu sayang."
"Setelah Kau melihat tubuhnya yang beku!"
"Apa?"
"Apa maksudmu ********?!"
"Katakan padaku!"
"Ah.."
"Tidak akan menyenangkan jika Kau tau sekarang.."
"Sebaiknya Aku pergi.."
"Sampai bertemu lagi sayang.."
"Mungkin dipernikahan kita?"
HAHAHAHA
__ADS_1
Gerald berjalan menjauh. Sedangkan Sofia berdiri seperti patung dalam kebingungan.