Pesona Sang Perompak

Pesona Sang Perompak
Duke Of Roseland


__ADS_3

Roseland, Istana Kerajaan. Desember 1499.


Richard Dexter, Dia adalah seorang Duke of the Roseland. Seorang bangsawan kelas atas yang tidak bisa dibandingkan dengan bangsawan lainnya. Dia adalah seorang cucu dari sang Ratu Roseland itu sendiri.


Richard adalah seorang bangsawan sejati, dia mempunyai bakat menjadi seorang pemimpin. Tidak ada hal yang tidak bisa dia lakukan. Berkuda, memanah, berburu, menembak dan hal sulit lainnya dengan mudah dia kuasai di usianya yang masih muda.


Keberadaannya selalu membuat orang lain penasaran. Tidak ada yang mengetahui dengan pasti keberadaan sang Duke itu. Kabarnya dia bisa tiba-tiba menghilang dan muncul dimana saja dalam waktu bersamaan. Entah itu karangan atau kenyataan, tidak ada yang mengetahuinya.


"Aku sangat terhibur malam ini." Ratu menepuk-nepuk punggungnya dengan kuat.


"Kau bisa menipu orang lain dengan penampilanmu Nek, tapi kekuatanmu meragukan seluruh rambut putih yang sudah terlihat di atas kepalamu."


Ratu Roseland tertawa terbahak-bahak mendengar perkataan cucu satu-satunya itu.


"Kau harus lebih sering berada disini, dari pada bersama **** itu."


"Tapi Aku menyukainya, Kau tau." Richard mengambil sebuah kursi dan memberikannya kepada Ratu.


"Tentu saja. Kau lebih memilih dia dari pada Aku. Disini sangat terasa sepi."


"Jadi, siapakah gadis itu?"


"Apakah sekarang kau mulai tertarik?"


"Aku hanya terkejut."


"Tidak kusangka dia akan berbuat seperti itu."


"Itulah mengapa kau harus lebih sering berada disini."


"Sekarang semua orang mengatakan bahwa kau adalah seorang Duke tua." Ratu tertawa lagi dengan sangat keras. Dia terus membayangkan perkataan orang-orang tentang cucunya yang sudah tua.


"Astaga, Aku merasa menyesal karena tidak memperkenalkan mu dengan cara yang lebih, lebih apa namanya.." Ratu mengingat kalimat selanjutnya dengan lambat.


"Lebih terhormat?"


"Nah, itu dia."


"Tapi, bagaimana kau bisa berada disana?"


"Sebenarnya Aku akan menemuimu pada saat itu. Tapi, wanita itu dengan cepat menarik tanganku begitu saja."


"Kebetulan yang sangat menarik."


"Aku tidak merasa begitu." Richard mengangkat kedua pundaknya bersamaan.


"Kau akan pergi kemana setelah ini?"


"Aku akan mengunjungi desa-desa terdekat lebih dulu. Lalu menyisir Desa yang letaknya lebih terpencil."


"Memerlukan waktu berapa lama pekerjaan kali ini?"


"Mungkin sekitar 1 sampai 2 Minggu."


"Setelah itu?"


"Kau tau Aku akan berada dimana." Richard memamerkan deretan giginya yang rapih dan bersih.


"Hmm..." Ratu menggelengkan kepalanya.


"Apakah Kau masih mencurigai pamanmu?" Dia menatap cucunya dengan tajam.


"Tentu saja." Richard tidak mengatakan apapun lagi.


Kedua orang tua Richard sudah meninggal karena kecelakaan. Kereta kuda yang mereka kendarai jatuh kedalam jurang. Tidak ada yang mengetahui pasti bagaimana hal tersebut bisa terjadi. Saat itu usia Richard 13 tahun, ini tahun ke 7 kematian kedua orang tuanya.


"Beristirahatlah untuk saat ini."

__ADS_1


"Kamarmu sudah lama tidak terisi." Ratu memeluk Richard dengan erat.


Richard mencium pipi neneknya, kemudian meninggalkannya.


Kamar yang sudah lama tidak dia kunjungi, mungkin sekitar 1 tahun atau 2 tahun. Richard sudah lama tidak menghitung. Awalnya hanya beberapa hari, lalu beberapa minggu, setelah itu beberapa bulan dan tidak terasa sudah hampir 2 tahun.


Ruangan yang sangat luas hanya untuk dihuni oleh satu orang, dengan warna emas yang mendominasi. Diatas dinding tergantung lukisan-lukisan yang sangat mahal harganya, beberapa karpet Persia dan guci peninggalan bersejarah. Semua itu adalah ulah neneknya. Tidak ada satupun barang yang berharga dimatanya, kecuali potret Ayah dan Ibunya yang berjejer rapi diatas meja kerjanya.


Richard menyimpan topeng yang dia gunakan malam ini. Topeng berwarna hitam, satu-satunya topeng yang hanya menutupi bagian atas dan berwarna hitam. Dia masih ingat wanita yang tiba-tiba menciumnya, wanita itu menggunakan topeng berwarna tembaga, dengan hiasana bulu berwarna nude diatasnya.


"Nenek tua itu pasti senang sekali melihat Aku dipermalukan seperti itu."


"Beruntung sekali pesta kali ini menggunakan topeng." Gumamnya.


Richard melepaskan pakaiannya, lalu menggantinya dengan kemeja berwarna putih dan celana hitam, dia naik keatas tempat tidurnya yang terlihat sangat nyaman.


"Sudah lama sekali Aku tidak tidur ditempat nyaman seperti ini."


Tercium aroma lavender yang samar dari atas sepreinya.


"Nenek memang tidak berubah."


Lavender adalah bunga kesukaan Ibunya Richard, Almarhum Putri Catherine.


"Tempat ini terlalu nyaman untukku. Aku takut akan bermimpi buruk jika terlalu lama merasakan kenyamana ini."


Tidak lama kemudian, mata Richard terpejam, dan pikirannya terbang jauh melintasi dimensi.


* * *


Keesokan harinya, Richard telah bersiap dengan pakaian berkudanya. Dia selalu memilih kudanya yang bernama Kid. Kulitnya berwarna hitam legam, tubuhnya penuh dengan otot-otot yang kuat karena sering berlari di dataran yang luas. Rambutnya panjang dan lembut, karena secara khusus Kid selalu dirawat oleh penjaga istal.


"Bagaimana keadaannya hari ini?" Richard bertanya pada Joss si penjaga istal.


"Dia sangat bersemangat Tuan.."


Joss, membukakan pintu dengan cepat.


Tidak lama kemudian, Richard naik ke atas tubuh Kid dan dengan cepat melaju dengan kencang.


Suara langkah kaki kuda menghantam tanah dengan kuat, Joss melihat dari dalam kandang dengan tatapan kagum.


"Tuan memang seorang pengendali kuda terbaik."


Awalnya tidak ada satupun yang mampu menjinakkan Kid. Karena dia adalah kuda liar yang ditemukan kerajaan sedang mengamuk dilahan milik petani.


Namun, dengan mudahnya Richard dapat mengendalikannya, bahkan beberapa jam saja setelah Kid dipindahkan ke dalam istal kerajaan.


Semua orang terpana dan merasa sangat kagum pada Duke muda itu.


Richard kembali setelah kurang lebih satu jam berkuda. Wajahnya penuh dengan keringat, tapi tidak mengurangi ketampanannya sedikitpun. Keringatnya mengalir kebagian bawah lehernya. Menampakan butir-butir air berwarna bening.


Seluruh pakaiannya basah, dia dengan santai membuka pakaian atasnya, beberapa pelayan wanita yang tidak sengaja lewat tidak bisa membiarkan pemandangan indah didepannya lewat begitu saja. Mereka diam seperti sedang menonton pertunjukan.


Kulit tubuhnya yang putih berubah warna menjadi kecoklatan karena terlalu sering terpapar matahari. Dihiasi dengan otot-otot perut yang rata dan kuat membuat seluruh wanita yang memandangnya ingin menyentuhnya dengan rakus, tidak terkecuali dengan pria, mereka sangat iri dengan bentuk tubuh sang Duke yang terlihat kuat dan indah.


"Dimana Nenek?" Richard bertanya pada Joss yang sedang menatap bagian perutnya.


"Ah.."


"Yang Mulia sedang berbicara dengan beberapa orang diatas Tuan." Joss sangat malu karena Richard memergokinya.


Richard menyerahkan tali kekang Kid, kemudian berlari melewati semak belukar.


Setelah membersihkan diri, Richard pergi menemui neneknya yang ternyata sedang berbicara dengan seseorang.


Tok

__ADS_1


Tok


Tok


"Nenek.."


"Ah, Richard.. kemarilah."


Richard memasuki ruangan dengan santai.


"Duduklah.."


"Perkenalkan, ini adalah Tuan Marquess Jasper. Jasper ini cucuku, Richard."


"Senang bertemu dengan Anda, Tuan Richard." Jasper tersenyum melihat pemuda tampan yang duduk dihadapannya.


"Jasper, dia adalah seorang Duke yang kuceritakan beberapa waktu yang lalu."


Richard yang tidak mengerti hanya diam dan mencoba tersenyum.


"Ah.."


"Jadi kabar Duke tua itu bohong?"


Ratu tertawa terbahak-bahak mendengar perkataan Marquess Jasper.


"Astaga Jasper.. Aku tidak mungkin membuat putrimu satu-satunya menikah dengan seorang lelaki tua."


"Nenek, apa maksudnya?" Richard semakin bingung, Dia mengangkat kedua alisnya.


"Dia adalah Ayah wanita yang tiba-tiba mencium mu Richard." Ratu menepuk-nepuk paha Richard.


Richard terkejut mendengar penuturan Neneknya. Dia memandang wajah Marquess Jasper penasaran.


"Tidak mungkin Yang Mulia.."


"Bagaimana mungkin Sofia mencium Tuan Muda?" Jasper bingung dengan perkataan Yang Mulia Ratu.


"Itu benar Jasper, Aku melihatnya dengan jelas dari atas podium."


Sang Duke muda tidak menunjukan ekspresi apapun, Jasper tidak bisa menebak apa yang sedang dipikirkan olehnya.


"Lalu, dimana kah Sofia?" Ratu bertanya karena merasa penasaran.


"Ah, Saya sedang menghukumnya Yang Mulia."


"Saat ini Dia tidak berada di Roseland."


Setelah cukup lama, obrolan mereka berakhir karena Marquess Jasper masih harus menyelesaikan beberapa pekerjaannya.


"Aku akan pergi sore nanti.." Richard memulai pembicaraan.


"Ah, tentu saja Kau hanya ingin berpamitan." Raut wajah Ratu terlihat sedih.


"Aku menyayangimu.." Ucap Richard sambil memeluk Neneknya dengan lembut.


"Berhati-hatilah Richard."


"Jadi, nama wanita itu Sofia?"


"Ya."


Notes :


Istal adalah kandang kuda.


Saat ini didalam Istana hanya tinggal Ratu Roseland yaitu Ratu Ranee. Ratu Ranee mempunyai kembaran yaitu Rena yang telah lebih dulu meninggal.

__ADS_1


__ADS_2