Pesona Sang Perompak

Pesona Sang Perompak
Cerita Elie


__ADS_3

Pulau Pace, Februari 1500.


Matahari sudah mulai tenggelam di Pulau Pace. Kapal Marinir sudah siap berlayar lagi, mereka tidak mau membuat Duke Of Roseland marah dan memilih meninggalkan Pulau Pace secepat mungkin.


Pulau Pace kembali tenang, dengan hamparan pasir putih bebas dari kapal Marinir. Hanya Kapal Kapten Hades yang berada disana lengkap dengan layarnya yang berubah putih tanpa bendera hitam diatasnya.


"Elie.."


"Bagaimana Kau bisa berada di Pulau ini?" Sofia masih berbaring, lukanya kembali terbuka akibat terjatuh tadi. Joy sudah menjahit lagi bagian yang terbuka.


"Ah.."


"Atas arahan dari Yang Mulia Ratu, Saya dapat berada di Pulau ini Nona..."


"Yang Mulia Ratu? Ratu Ranee?"


"Benar, beliau mengatakan pada Tuan Jasper bahwa Nona berada di Pulau ini."


"Benarkah?"


"Benar Nona.."


"Ceritakan padaku apa yang terjadi saat Aku dibawa oleh anggota Kapten Hades.."


"Saya akan menceritakannya, Nona. Tapi bukankah lebih baik Anda beristirahat untuk saat ini?"


"Aku ingin mengetahuinya, Elie.."


"Kumohon..." Sofia memandang Elie dengan mata berbinar-binar.


"Ah..."


"Jangan menatap Saya seperti itu, Nona..."


"Kumohon Elie.."


"Aku ingin mengetahuinya.."


"Baiklah, baiklah..."


"Saya akan menceritakannya..."


* * *


Desa Lilbert, Januari 1499.


Rumah Tuan Marquess Jasper.


"Elie, bagaimana?"


"Apa yang dikatakan Tuan Gerald?"


"Cepat katakan!"


"Ah, Dia akan membantu menemukan Nona.." Elie menjawab seadanya.


"Benarkah? Tapi mengapa Kau tampak tidak puas?"


"Hanya..."


"Hanya apa Elie? Katakan?!" Semua orang menunggu jawaban Elie dengan tegang.


"Tuan Gerald terlihat aneh.."


"Dia, Dia seperti menyembunyikan sesuatu?"


"Seperti apa? Aku tidak mengerti maksud perkataanmu..."


"Aku tidak yakin, sebaiknya kita menunggu saja untuk sementara." Elie semakin tidak yakin.


"Elie, bagaimana dengan Tuan Jasper?" Haruskah kita memberi tahunya?"


"Ah.. Tuan Gerald berkata kita harus menunggu seminggu lagi, dan Dia akan memberikan kabar."


"Benarkah?"


"Ya, kita tunggu saja..."


"Jika Kau berfikir begitu, maka Kita tidak punya pilihan lagi selain menunggu..."


Semua pelayan berpandangan satu sama lain. Mereka memang tidak bisa melakukan apapun selain menunggu kabar dari Tuan Gerald.


"Aku akan kembali ke Roseland jika dalam seminggu Tuan Gerald tidak memberikan kabar apapun." Ujar Elie untuk membuat semua temannya merasa tenang.


"Semoga Nona baik-baik saja.." Gumam Elie perlahan.


Mereka mengangguk bersamaan.


Selama seminggu suasana rumah menjadi tegang, tidak ada seorangpun yang bekerja dengan baik. Mereka makan tidak teratur, tidur tidak tepat waktu, semuanya hanya memikirkan Nona Sofia.


Dalam hati mereka yang paling dalam, mereka merasa bersalah apabila mereka makan dan tidur dengan nyenyak, sedangkan Nona mereka tidak tau ada dimana. Apakah Nona makan dengan enak dan tidur di tempat yang nyaman? Tidak ada yang tau.


"Aku akan pergi ke tempat Tuan Gerald.."


"Berhati-hatilah Elie.."


"Jika Aku tidak kembali dalam beberapa jam, tolong susul Aku kesana..." Elie meremas-remas tangannya.


"Aku akan ikut bersamamu!" Seorang pelayan lelaki mengajukan dirinya.

__ADS_1


"Benarkah? Aku merasa lebih baik."


"Mari kita pergi."


Mereka berdua pergi ke rumah Tuan Gerald dengan mengendarai kereta kuda.


Rumah Tuan Gerald tampak sepi.


Hanya ada beberapa orang yang berjaga didepan rumahnya.


"Elie, Kau yakin ini rumah Tuan Gerald?"


"Benar! Tapi mengapa banyak penjaga didepan sini?"


"Mereka seperti sekelompok ********."


"Tepat sekali yang Kau pikirkan Gus! Mereka tampak menakutkan."


"Elie, bagaimana jika kita melihat dulu dari jauh?"


"Aku khawatir membiarkanmu masuk kesana."


"Apakah Kau berpikir begitu?"


"Baiklah kita tunggu sebentar."


Mereka menunggu cukup lama dari kejauhan. Keanehan semakin terlihat, semakin banyak orang berkumpul didepan rumah Tuan Gerald. Namun, yang lebih aneh.. Banyak wanita muda yang digiring masuk kedalam rumahnya.


"Gus! Kau lihat itu?"


"Tentu Elie.."


"Apa yang mereka lakukan disana?"


"Aku tidak yakin.."


"Apakah mereka seperti yang aku pikirkan?" Elie menatap Gus.


"Kau berpikiran sama denganku?" Gus mengangguk.


"Astaga.. apa yang harus kita lakukan Gus?" Elie mengepalkan kedua tangannya.


"Kupikir, Kita harus kembali ke Roseland Elie.."


"Tidak ada hal baik yang akan terjadi jika kita terus berada di Lilbert.." Gus kembali menatap Elie.


"Kau benar! Nona akan berada dalam bahaya jika kita terus berada disini, sebaiknya kita cepat bertemu dengan Tuan Jasper."


"Kau benar!"


"Kita harus kemba.."


KRAAAK!


Seseorang mendekat ke arah kereta Elie dan Gus. Gus menepuk punggung kusir dan kereta kuda melaju dengan cepat.


"HEI!"


"HEII!"


Orang itu mengejar dengan berlari, namun kuda berlari dengan lebih cepat, sehingga Elie dan Gus bisa berhasil lolos dari pria itu.


"Astaga Gus!! Jantungku! Jantungku!"


"Astaga!!"


"Untunglah Elie!"


"Untunglah Kau tidak masuk kesana!"


"Kita harus kembali ke Lilbert hari ini juga!"


Setelah sampai di rumah, Elie mengambil beberapa barang yang diperlukan, termasuk lukisan wajah Richi yang belum sempat selesai di lukis oleh Sofia. Seluruh pelayan ikut pulang ke Roseland. Mereka tidak mau merasa resah terus menerus dan memilih mengetahui semua hal yang terjadi dengan ikut ke Roseland.


"Baiklah, Kita akan pulang ke Roseland. Semuanya sudah siap?"


"Yaa, kita sudah siap."


"Mari kita pergi!"


Perjalan ke Roseland dilakukan dengan cepat. Mereka tidak beristirahat seperti dulu saat bersama Sofia. Perjalanan dilakukan dengan singkat karena mereka ingin cepat bertemu dengan Tuan Marquess Jasper.


Hanya memakan waktu 1 hari 1 malam ke Roseland. Mereka sangat senang dapat kembali ke rumah utama. Penjaga rumah membuka pagar agar kereta kuda dapat masuk.


Elie dengan cepat masuk kedalam rumah dan mencari Tuan Marquess dengan membawa-bawa lukisan Richi.


"Tuan..."


"Tuan..."


"Elie? Kau kembali?" Ron berlari dari dalam rumah.


"Roon!! Ya Tuhan..." Elie memeluk Ron dengan erat.


"Mana Nona?" Ron melihat kebelakang Elie, namun tidak ada siapapun.


"Mana Nona?" Ron melepaskan pelukan Elie.


Elie menangis dengan keras, Dia tidak sanggup lagi menahan air matanya.

__ADS_1


Uuuh


Huuuuuu


Uuuuuhk


"Nona..."


"Nona...."


"Apa? Katakan padaku?"


"Nona..."


"Nona diculik Ron.."


"Diculik apa?" Tiba-tiba terdengar suara Marquess Jasper dari belakang Elie.


"Diculik apa?"


"Tuan, Tuan..." Elie memegang kaki Marquess Jasper.


"Nona diculik Tuan..."


Uuuuh


Huuuu


"Katakan dengan jelas! Apa yang terjadi?!" Tuan Japser memegang bahu Elie dengan kuat.


"Nona..."


"Nona diculik perompak Tuan..."


Huuuuu


Huuuuuuuu


Elie menutup wajahnya, dia menahan tangisnya dengan sekuat tenaga.


BRUUUGH!!


Tuan Jasper terjatuh kelantai saat mendengar perkataan Elie.


"Tuan...!"


"Tuan!" Ron membantu Jasper berdiri, kemudian memapahnya ke kursi terdekat.


Elie berlari dengan cepat kedapur dan mengambil segelas air putih.


"Tuan.."


"Maafkan Saya..."


Japser mencoba mengatur nafasnya. Jantungnya berdebar sangat cepat. Aliran darahnya seakan berhenti ketika mendengar perkataan Elie.


"Jelaskan semua yang terjadi!!"


Elie duduk dilantai dan menjelaskan semua yang terjadi.


"Siapa yang menculik Sofi?" Mata Jasper membesar.


"Awak Kapal Hades, Tuan..." Elie menjawab dengan gugup.


"Kapal Hades?"


"Kapal Hades Kau bilang?"


"Benar Tuan.."


"Ya Tuhan..."


"Ya Tuhan.."


"Rossie.."


"Apa yang harus Aku lakukan sekarang?" Tuan Japser menutup wajahnya dengan kedua tangannya.


Elie teringat sesuatu dan langsung mengambil lukisan yang tergeletak dibawah.


"Tuan.."


"Dia salah satu awak Kapal Hades.."


"Nona melukisnya.."


Tuan Jasper mendongakkan wajahnya dan melihat lukisan itu.


"Astaga..."


"Ya Tuhan..." Japser terkejut bukan main.


"Kau yakin dia salah satu awak Kapal Hades?"


"Be benar Tuan.."


"Kau yakin?!"


"Yakin Tuan!"

__ADS_1


"Ikut aku, dan bawa lukisan itu!"


Tuan Japser keluar dari rumah dan masuk kedalam kereta kuda, Elie menyusulnya dengan cepat.


__ADS_2