Pesona Sang Perompak

Pesona Sang Perompak
Interogasi


__ADS_3

Lautan, Di Atas Kapal Perompak. Desember 1499.


Setelah Kapten Hades dan Richi pergi, Sofia kembali sendirian. Dia memeluk lututnya erat dan terus membayangkan percakapannya tadi dengan Richi. Dia tidak mengingat semua detail perkataan Hades, yang dia ingat hanya wajah Richi dan senyumannya.


Namun, lamunannya hanya berhenti disana saja. Tidak lama kemudian Ben masuk dengan cepat.


"Kenakanlah pakaian ini." Ben melempar sebuah buntelan kain.


"Aku harus menggunakan ini?" Sofia mengangkat pakaian itu dengan enggan.


"Kau akan menggunakannya sendiri? Atau ingin bantuanku juga?" Ben memelototinya dengan seram.


"Aku akan memakainya sendiri. Kau pergilah."


"Aku sudah melihat bagian tubuh bawahmu. Dan tidak ada yang menarik. Lalu apa bedanya dengan tubuh bagian atas?" Ungkap Ben tak peduli.


"Dasar Kau lelaki brengsek!" Sofia melempar pakaian itu kearah wajah Ben.


"Ah, biasanya orang lain memanggilku ****." Ben tertawa terbahak-bahak.


Dengan cepat Sofia mengambil lagi pakaian yang dia lempar.


"Kalau begitu, tolonglah.. berbalik lah sebentar." Sofia memohon dengan sangat.


"Ah!! Dasar perempuan ini." Mau tidak mau Ben membalikan tubuhnya dan tidak berdebat lebih lama lagi.


Sofia membentangkan pakaian itu. Sebuah kaos oblong berukuran sangat besar yang kainnya terasa sangat kasar, dengan sebuah celana? Astaga. Sebuah celana. Hal terakhir yang ingin dia kenakan saat hidup.


Pada masa ini, perempuan sangat tabu jika mengenakan celana. Hanya laki-laki saja yang diperkenankan memakai celana.


"Aku harus memakai ini?"


"Harus. Saat ini hanya itulah pakaian yang bisa kudapatkan. Sebaiknya kau mengenakannya dengan benar."


Dengan enggan, Sofia melepas bagian atas gaunnya dan menggantinya dengan kaos oblong berwarna merah maroon. Dan memakain celana selutut berwarna hitam. Dia berputar-putar seperti sedang berada diruang ganti butik dan cukup puas dengan hasilnya.


Ben memutar badannya dan menatap sofia.


"Kau seperti sedang tersesat dengan pakaian itu."


"Kau yang membuatku berada disini!" Sofia melemparkan bagian atas gaunnya kearah Ben. Dengan cepat Ben menangkapnya.


"Kau akan mendapatkan pakaian yang lebih baik jika kita mendarat nanti."


"Kita akan mendarat?"


"Hanya Aku yang akan turun." Ben menegaskan.


Sofia tampak kecewa dan membuang muka.


Dengan cepat dan tanpa pemberitahuan Ben menggendong Sofia bagai karung beras.


Sofia yang terlalu terkejut tidak bisa melawan dan hanya berteriak memukul punggung Ben.


"Hei!!!"


"Turunkan Aku!"


"Turunkan Aku brengsek!"


"Diamlah, atau semua orang akan menatapmu." Suara Ben Terdengar ketus.


Sofia langsung terdiam begitu mendengar perkataan Ben, dia sekarang sedang berada diatas geladak, yaitu bagian luar kapal. Terlihat beberapa awak kapal yang memperhatikannya dari dekat dan dari jauh.


Mereka terlihat menyeramkan dengan janggut dan jambang yang panjang. Beberapa bekas luka terlihat dipipi dan dada. Bahkan ada seseorang yang kehilangan sebelah kakinya dan menggantinya dengan sebuah potongan kayu? Sofia tidak melihat dengan jelas karena sudah malam. Mereka tidak memakai pakaian yang layak.


Penampilan yang sangat berbeda dengan Richi, Richi terlihat rapih, bersih dan wangi. Penampilannya lebih seperti seorang bangsawan yang sedang berpetualang dan baru sekarang Sofia menyadarinya.

__ADS_1


Sofia menutup matanya saat seorang awak kapal mengedipkan sebelah mata padanya.


"Sangat menyeramkan." Gumamnya.


"Siapa?" Ben menatapnya.


"Teman-temanmu.." Jawab Sofia lirih.


"Kau tidak tau saja, betapa menyeramkannya Richi." Ben tersenyum sinis.


Sofia mengerutkan dahinya tidak mengerti.


Ben membuka pintu berwarna merah maroon yang ada didepannya. Dengan hiasan kaca berwarna hijau tua ditengahnya dan sebuah lambang negara yang tidak asing. Karena cahaya sedikit redup, Sofia tidak melihatnya dengan jelas.


Richi terlihat sedang menenggak sebotol minuman keras. Dan berhenti sejenak ketika melihat Ben dengan Sofia diatas punggungnya.


"Ah.. Esme yang cantik."


"Kemarilah..." Richi menggapai-gapaikan tangannya ke arah Ben.


"Berhati-hatilah.." Bisik Ben ditelinga Sofia.


"Apa maksudmu?" Sofia bingung dengan peringatan yang diberikan oleh Ben.


Ben meletakan Sofia diatas tempat tidur, lalu meninggalkannya.


"Jangan terlalu kasar padanya." Ben menatap Richi lalu menutup pintu.


Ruangan menjadi sunyi. Tidak ada sepatah katapun yang diucapkan oleh Richi maupun Sofia. Yang terdengar hanyalah suara ombak yang menghantam batu karang dari kejauhan.


Ruangan ini sama besarnya dengan Kabin milik Kapten Hades. Namun, tempat tidurnya tidak senyaman milik kapten, dibawahnya terdapat karpet yang lembut dan tebal. Desainnya sangat rumit namun tetap terlihat elegan. Beberapa lukisan mewah tergantung rapih di atas dinding. Samar-samar Sofia dapat mencium aroma yang lembut dan menenangkan. Seperti aroma bunga.


"Apakah sekarang Kau menjadi penyihir?" Terdengar suara sinis Richi.


"Apa maksudmu?"


"Aku tidak mengerti ucapanmu." Sofia memalingkan wajahnya.


Richi meletakkan botol minuman yang telah kosong di sudut ruangan. Dia berjalan memutari tempat tidur dan berhenti tepat didepan wajah Sofia.


Sofia mencoba tenang, walaupun jantungnya seperti akan lepas dari tempatnya.


"**** itu merubahmu menjadi seorang perompak?" Richi menatap seluruh tubuh Sofia.


"Apa maksudmu?"


"Lihatlah pakaian ini, kulitmu yang halus akan terluka jika menggunakannya." Richi menyentuh bagian pundak Sofia.


"Aku baik-baik saja. Sebaiknya singkirkan tanganmu."


"Ah, kau menggigit seperti ular." Richi melepaskan tangannya, tapi matanya tetap menatap Sofia penuh dengan kecurigaan.


"Apa yang kau inginkan?!" Sofia mencoba terlihat tegas.


"Rupanya Kau cepat tanggap." Richi mengangkat kedua alisnya. Dia menopang kan kedua tangannya di kedua pundak Sofia yang mungil.


Sofia tampak sangat tidak nyaman, dia tidak berani menatap mata Richi dari jarak sedekat itu. Sofia takut suara detak jantungnya akan terdengar oleh Richi. Dia menarik nafas dalam dan menghembuskannya perlahan.


Richi melepaskan tangannya, Dia jongkok didepan Sofia dan menatapnya.


"Aku penasaran dengan beberapa hal. Aku akan mengatakannya sekarang. Dan Aku tidak suka pembohong, jadi cobalah untuk berkata jujur." Richi menatap Sofia dengan sorot mata yang tidak bisa dibantah.


Mau tidak mau Sofia balas menatapnya dan enggan mengalihkan pandangannya.


"Aku bukan seorang pembohong." Sofia mencoba tenang. Matanya terasa perih sekali, dia ingin berkedip tapi menahannya.


"Apa kau mengenal Gerald?" Richi bertanya dengan datar.

__ADS_1


"Aku mengenalnya."


"Bagaimana kau mengenalnya?"


"Semua orang di Desa Lilbert mengenalnya."


"Apa kau tau siapa dia?"


"Tentu. Dia adalah seorang saudagar kaya yang baik." Sofia tidak tahan lagi, dia mengedipkan matanya beberapa kali.


"Baiklah.. " Richi mengambil nafas dan melanjutkan lagi pertanyaannya.


"Mengapa Kau bersama Gerald?"


"Aku diajak jalan-jalan olehnya." Sofia tetap tenang.


"Ah, sudah berapa kali kau bertemu dengannya?"


"3 kali, kemarin saat di pantai itu pertemuan ke 3."


"Dimanakah pertemuan pertama kalian?"


"Dirumahnya." Jawab Sofia.


"Menarik sekali... Aku tidak tau jika Gerald menemui seorang wanita sampai berkali-kali." Richi tertawa sinis.


"Jadi, kau dibayar berapa?" Richi menatapnya tajam.


"Apa maksudmu?"


"Jangan berpura-pura bodoh. Berapa banyak kau dibayar ketika tidur dengannya?"


Sofia terkejut mendengar pertanyaan Richi, dia tidak menyangka akan mendengar pertanyaan semacam itu.


"Aku tidak pernah tidur dengan siapapun." Sofia berkata tegas.


"Ah.. Aku sudah mengatakannya tadi, Aku tidak suka pada kebohongan."


"Aku berkata jujur!"


"Lalu apa yang Kau lakukan di penginapan 'Je souffre et aime' saat itu?" Richi menatap mata Sofia dengan tajam.


Jantung Sofia serasa berhenti mendadak. Dia bingung harus menjawab apa. Tidak mungkin dia berkata sedang kabur dari rumah karena tidak ingin menghadiri pesta Debutante dan bertemu dengan calon suaminya.


"Cepat katakan." Richi masih menatapnya.


"Itu bukan urusanmu!" Jawab Sofia gugup.


"Kau akan menemui Gerald disana?"


"Apa? Tidak! Aku tidak mengenalnya."


"Kau berbohong! Tadi kau bilang mengenalnya. Dan sekarang baru beberapa detik berlalu kau bilang tidak mengenalnya."


"Aku tidak berbohong! Aku sudah mengatakan aku bertemu dengannya dirumahnya."


"Ah, apakah kau tidak tau bahwa rumah Gerald berada dekat dengan tempat itu?"


Sofia terkejut mendengar pernyataan itu. Dia sungguh tidak tau siapa Gerald saat itu. Dia tidak menyangka mengenalnya akan membuat situasinya rumit seperti ini.


"Aku sungguh bertemu dengannya di Desa Lilbert. Sungguh aku tidak mengenalnya sebaik itu dan aku tidak tau apa-apa.."


"Sungguh.. tolong berhentilah.. Aku lelah, Aku ingin pulang."


Sofia sudah tidak sanggup lagi untuk berdebat. Dia sangat lelah dan ingin beristirahat. Dia tidak mau salah bicara dan membuat situasinya semakin kacau.


Richi masih menatapnya. Dia mengambil botol minuman kosong dan keluar dari kamar, dia membanting pintu dengan kencang.

__ADS_1


__ADS_2