
Diatas Kapal Perompak, Desember 1499.
Sofia jatuh tertidur karena terlalu lelah. Bahkan dia tidak sadar jika Richi sudah tidak ada disebelahnya. Rasa dingin mulai merayap dari ujung jari kakinya, Sofia mencoba menarik selimut yang dikenakannya, namun selimut itu sudah terjatuh dari tempat tidur.
Suara gemuruh membuatnya terbangun dengan seluruh tubuh basah oleh keringat. Dia belum terbiasa bangun dengan kondisi yang cukup memprihatinkan seperti saat ini.
Pakaiannya tidak nyaman, cenderung panas dan membuatnya gatal. Sofia terus menggaruk bagian paha dan perutnya. Terdapat luka lecet dipipi kirinya karena tidak sengaja membentur ranjang saat kapal menghantam ombak.
Dia belum membersihkan tubuhnya selama 2 hari. Rasa tidak nyaman mulai membuatnya frustasi. Ingin rasanya berteriak dan memohon pada Tuhan agar dia dibangunkan dari mimpi buruknya ini. Tetapi hal itu tidak pernah terjadi. Ini bukan sekedar mimpi buruk belaka, benar-benar kenyataan yang terburuk dan sangat menakutkan.
Ben membuka pintu saat Sofia sedang menggaruk perutnya. Dia kesal karena Ben selalu datang disaat dan waktu yang tidak tepat.
"Tidak bisakah kau sekedar mengetuk atau berkata 'Aku akan masuk?' disini ada perempuan! Halooo..." Sofia berbicara tanpa henti.
Ben hanya memperhatikannya dan menghembuskan nafas dalam.
"Ikuti Aku." Ucap Ben.
"Kemana?"
"Kau akan menyukainya."
Sofia sedikit bingung, tapi dia tetap menurut seperti seekor anak ayam mengikuti induknya.
Ben kembali membawa Sofia kedalam Kabin Kapten Hades. Dia memberikan sebuah handuk dan menyuruhnya masuk kedalam sebuah ruangan.
"Astaga..kalian punya kamar mandi?" Sofia terkejut melihat bak mandi yang berukuran cukup besar dilengkapi dengan sabun wangi dan air mancur.
"Ini hanya untuk Kapten dan Richi. Cepatlah sebelum Kapten datang." Ben menutup pintu dan menunggu diluar.
Sofia senang bukan kepalang. Dia tidak berhenti tersenyum sejak melangkahkan kaki kedalam kamar mandi. Dia berputar-putar seperti seorang putri yang sedang berulang tahun.
"Ini hal terindah yang Aku lihat ditempat mengerikan ini."
Kamar mandi itu berukuran cukup besar, sekitar 2x3 meter. Terdapat shower dan tempat rendam yang besar. Kaca yang berukuran besar memantulkan bayangan Sofia yang tampak kacau. Dengan rambut yang berantakan, pakaian yang tidak cocok dan tentu saja pipi yang sedikit lecet. Sofia sedikit terkejut melihat tampilan tubuhnya sendiri. Tapi tidak mengurangi rasa bahagianya sedikitpun.
Sofia mulai membuka pakaiannya dengan cepat. Dia memenuhi bak rendam dengan air dan sabun yang beraroma bunga. Dia berendam layaknya dirumah sendiri.
"Biarkan Aku sedikit menikmati hidup ini." Gumamnya.
Dia memejamkan matanya, mencoba membayangkan hal yang menyenangkan, mengingat kembali Ayahnya dan Elie yang selalu menggangunya. Sekarang dia benar-benar merindukannya.
Tidak berapa lama kemudian terdengar suara Ben mengetuk pintu.
Tok
Tok
"Cepatlah, sebentar lagi Kapten akan kembali."
"Aku akan keluar 5 menit lagi, menghitung lah." Jawab Sofia dengan santai.
Benar saja, tidak lama kemudian terdengar suara derap langkah mendekat kedalam Kabin.
Klak
Suara langkah sepatu bot yang berat terdengar oleh Sofia. Dia tau bahwa itu adalah Kapten Hades.
__ADS_1
"Ben, sedang apa Kau?"
"Dia ingin mandi." Ben menunjuk kepintu kamar mandi.
"Ben brengsek!" Gumam Sofia.
Dengan cepat Sofia membersihkan diri dan memakai pakaian yang sudah basah oleh keringat. Dia keluar dengan tergesa-gesa hingga kakinya tergelincir. Beruntung Richi menangkap tubuhnya dengan cepat.
"Terimaka.." Saat menatap siapa yang menolongnya, Dia urung melanjutkan perkataannya. Richi terlihat canggung dan tidak mengatakan apapun.
"Ada apa ini?" Hades tertawa terbahak-bahak.
Tanpa banyak bicara, Ben meninggalkan Kabin dengan cepat. Dia tidak ingin mendengar Omelan Kapten dan Richi.
Richi menurunkan tubuh Sofia dengan lembut. Sofia terlihat berbeda, dia menggulung rambutnya yang sedikit ikal keatas. Tercium wangi bunga dari tubuhnya, Richi tidak dapat mengalihkan pandangannya dari Sofia.
"Sudah selesai?" Ucapan Hades membuat Richi tersadar, dia terbatuk beberapa kali.
Uhk
Uhk
"Terimakasih.." Gumam Sofia.
"Aku membawakan mu hadiah, tapi aku meletakkannya dikamar Richi, cobalah lihat." Ujar Kapten Hades.
Tanpa mengatakan apapun, Sofia bergegas meninggalkan Kabin Kapten. Lalu dia mencari pintu berwarna merah maroon.
Setelah Sofia pergi, Hades memandang Richi.
"Ada apa denganmu?" Tanya Hades.
"Kau berlagak tidak tahu."
"Aku memang tidak mengerti."
"Hati-hati dengan ucapanmu, atau Kau akan menyesal." Lanjut Hades santai.
"Bercerminlah sebelum mengatakannya." Richi meninggalkan Hades yang sedang tertawa.
* * *
Setelah meninggalkan Kabin Kapten, Sofia mencari-cari pintu berwarna maroon, tapi dia tidak kunjung menemukannya. Dia membuka semua pintu yang dia temukan, tetapi bukan pintu ke kamar Richi.
Susah sekali berjalan diatas kapal yang mengapung diatas air dengan kecepatan yang normal. Sofia terus berjalan seperti orang mabuk, dia berjalan seperti biasa namun terus menempel didinding kapal.
Sofia berjalan kebagian bawah kapal, dia tidak tau tempat apa itu, dia berjalan sembunyi-sembunyi karena tidak ingin ada awak kapal yang menyadari kehadirannya.
Tidak sengaja kakinya menendang sebuah kaleng sehingga seseorang menyadari kehadirannya.
"Astaga, apakah hanya Aku yang tidak tau bahwa kita punya seorang perempuan diatas Kapal?"
"Jangan hiraukan, dia milik Tuan Richi."
Sofia ketakutan dan tidak berani mengatakan apapun.
Pria yang sudah terlihat berumur mendekatinya dan tersenyum ramah.
__ADS_1
"Nona.. sudah sarapan?"
Sofia menggelengkan kepalanya perlahan.
"Astaga.. Cefo, apakah roti yang kemarin Kau bawa masih ada?"
"Kau akan memberikan roti itu padanya, Top?" Cefo memanggil pria tua itu Top.
"Tentu saja, lihatlah tubuhnya, begitu kurus dan... Pucat. Nona, apakah Kau baik-baik saja?" Top mengambil sebuah kursi dan memberikannya pada Sofia.
Sofia ragu-ragu, namun dia tidak bisa menolaknya.
"Terimakasih, kulitku memang seperti ini." Sofia mencoba tersenyum.
Top mengangkat kedua alisnya, antara mengerti dan bingung.
Cefo berjalan mendekat dengan sebuah piring berisi roti isi. Dia memberikannya pada Sofia.
"Makanlah."
"Terimakasih.." Gumam Sofia.
Cefo berjalan kembali kearah dapur, karena disana terdapat kompor dan oven yang cukup besar.
Top mengambil tempat duduk dan duduk disamping Sofia.
Sofia langsung mengambil roti isi itu dan memakannya, roti itu terasa lebih lezat dari pada bubur gandum kemarin.
"Apakah lezat?"
Sofia mengangguk.
"Ini lezat, Aku menyukainya. Bubur kemarin terasa seperti muntahan." Sofia berkata pelan.
Top tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan Sofia.
"Apakah Kau memakan bubur itu? Astaga, apakah Ben yang memberikannya?"
Sofia mengangguk pelan.
"Jika beruntung, kita bisa menemukan makanan yang lezat. Jika tidak, kita akan makan bubur itu setiap hari, bahkan memanggang tikus yang lewat didalam kapal." Top menjelaskan.
Sofia berhenti makan dan melihat roti isi itu.
"Tenang saja Nona, itu daging sapi." Top tertawa terbahak-bahak.
Sofia hampir memuntahkan roti isi itu dari lambungnya, namun pernyataan Top membuatnya bertahan dan melanjutkan memakan sisa roti isi nya, sejujurnya Sofia amat sangat kelaparan, cuaca yang dingin membuatnya terus merasa lapar.
"Apakah tempat ini terasa buruk, Nona?"
Sofia tidak mengatakan apapun. Tapi Top menyadari rasa takutnya.
"Mari kita berjalan-jalan setelah Kau selesai makan." Top tersenyum lalu menepuk-nepuk kepala Sofia dengan lembut.
Sofia menyelesaikan makannya dengan cepat. Cefo memberikannya air teh hangat setelah melihat Sofia menghabiskan rotinya. Dia senang roti isi itu habis.
"Nona, kemarilah jika Kau merasa lapar." Cefo tersenyum lebar.
__ADS_1
Sofia tidak mengatakan apapun dan hanya mengangguk, lalu berjalan mengikuti Top yang sudah lebih dulu meninggalkan dapur.