Pesona Sang Perompak

Pesona Sang Perompak
Sebuah Ide


__ADS_3

Diatas Kapal Perompak Blanc, Desember 1499.


"Esme!"


"Esme!"


"Bangunlah!"


Kapten Blanc menggerakkan tubuh Sofia beberapa kali, namun Sofia masih belum sadar juga. Nafasnya terputus-putus dan terlihat berat. Wajah Sofia berubah menjadi merah dan badannya basah oleh keringat.


"Rond!"


"Rond!"


Kapten Blanc berteriak dari dalam Kabin.


Rond berlari dengan cepat memasuki Kabin Kapten.


"Apa yang terjadi padanya?!" Kapten Blanc mengarahkan telunjuknya pada Sofia.


Rond memegang tubuh Sofia, lalu melihat genangan muntah dipojok kabin.


"Kapten... kurasa dia mati." Rond berkata dengan gugup, dia menelan ludahnya.


"TOLOL! Dia masih bernafas! Lihatlah dadanya! naik turun!" Blanc memegang dahi Sofia. Tubuh Sofia terasa panas, Blanc mengipaskan tangannya dibagian yang panas.


"Kipasi dia! Tubuhnya sangat panas."


"Siap Kapten!" Rond mengipaskas tangannya yang besar diatas dahi Sofia.


Setelah beberapa saat, Rond memegang dahinya lagi, namun panasnya tidak kunjung turun.


"Kapten! Kapten! Tubuhnya tetap panas!"


"Astaga, dia akan meledak! Coba berpikir, apa yang ibumu lakukan saat Kau panas?" Blanc bertanya pada Rond.


"Aku tidak punya Ibu Kapten." Rond menggaruk kepalanya yang botak.


"Astaga! Kau memang tidak dilahirkan, tapi dimuntahkan!" Seru Kapten Blanc.


Mereka berdua tertawa terbahak-bahak, pernyataan Blanc terdengar seperti sebuah lelucon.


"Carilah seseorang yang punya Ibu! Tanyakan padanya!"


Dengan cepat Rond keluar dari Kabin Kapten dan pergi ke geladak.


"Apa yang harus Aku lakukan?" Blanc berputar-putar didalam Kabin.


"Hei! Esme, Esme!!" Kapten Blanc menggerak-gerakkan lagi tubuh Sofia.


Namun Sofia masih belum sadar juga.


Tidak lama kemudian Rond kembali bersama seseorang. Terlihat seorang lelaki remaja berusia belasan tahun berjalan mendekat.


"Sam?" Blanc menatap pemuda itu.


"Iya Kapten!"


"Kau punya Ibu?" Blanc menatap Sam.

__ADS_1


"Tentu saja Kapten! Tapi dia sudah meninggal 3 tahun yang lalu." Sam tidak menunjukan sedikitpun raut wajah sedih.


"Ah, sungguh malang! Apa yang Ibumu lakukan saat Kau panas seperti gadis ini?" Blanc menunjuk Sofia.


Sam berjalan mendekat ke arah tempat tidur dan memegang dahi Sofia dengan lembut.


"Dia harus dikompres Kapten! Kita membutuhkan lap dan air hangat!" Sam berkata dengan semangat dan terlihat bersungguh-sungguh.


"Dikompres?"


"Benar Kapten!"


"Rond! Bawakan yang dia butuhkan."


"Siap Kapten!" Rond pergi meninggalkan Kabin.


Sam mengamati tubuh Sofia yang terbaring lemah. Keringat membasahi gaunnya. Sofia terlihat kesusahan saat bernafas.


"Kapten, sebaiknya kita lepaskan pakaiannya." Sam berkata ragu-ragu.


"Astaga! Sam, wanita ini sedang sakit!" Blanc memelototi Sam.


"Maksudku, bajunya basah oleh keringat, lebih baik jika dia memakai pakaian yang kering." Sam berkata dengan cepat, karena tidak ingin Blanc salah paham terhadapnya.


"Ah, Kau harus berkata dengan jelas Sam. Lepaskan saja bajunya." Blanc berkata dengan santai.


"Tapi, tapi Kapten.." Sam menatap Kapten Blanc ragu-ragu.


"Lepaskan saja, ini untuk kebaikannya, dan jangan lakukan apapun!"


"Tentu saja Kapten!"


Jantung Sam berdebar-debar ketika mulai membukanya, ini adalah pertama kalinya Sam melakukan hal seperti ini. Terlebih pada wanita yang sangat cantik seperti Sofia. Kulit Sofia yang sangat putih dan bersih terlihat dengan jelas, tanpa sedikitpun bekas luka, kulitnya terasa sangat lembut. Hanya pergelangan tangannya yang terlihat biru dan bagian bawah kakinya yang penuh luka goresan.


Sam hanya berani membuka baju luar Sofia. Dia tidak mau membuka seluruh pakaiannya, Sam masih terlalu polos dan lugu, dia baru 1 tahun ikut berlayar dengan Kapal Blanc karena kekurangan uang untuk membantu keluarganya.


Setelah melepaskan baju Sofia, Sam memakaikan Selimut pada tubuhnya.


Tidak lama kemudian Rond datang dengan membawa satu ember penuh air hangat dan lap kering.


"Apakah ini sudah semuanya?" Rond menunjuk ember dan lap.


"Sudah, Aku akan mengompresnya sekarang. Sam mengambil ember dan lap ditangan Rond.


"Rond, mari kita pergi. Biarkan Sam mengurus domba kecil itu." Blanc menggandeng tangan Rond keluar.


Sekarang hanya ada Sam dan Sofia didalam kabin.


Sam mulai mengompres dahi Sofia. Dia melakukannya perlahan. Sam mengganti kompres Sofia dalam beberapa menit, ketika lapnya sudah mulai dingin.


Dia terus memperhatikan Sofia, dan tidak mengalihkan pandangannya sedikitpun darinya.


Setelah beberapa jam dikompres, tubuh Sofia sudah tidak sepanas tadi, sudah mulai terasa hangat dan lama-lama menjadi suhu normal.


Sofia mengerjapkan matanya beberapa kali. Dia terkejut melihat seorang pemuda tepat didepan matanya. Sofia hampir menjerit, namun Sam menutup mulutnya dengan cepat.


"Ssst... Nona, Kau sedang sakit. Beristirahatlah." Sam mencoba tersenyum agar Sofia tidak takut.


Sofia lebih terkejut ketika mengetahui dia tidak memakai pakaian itu lselain pakaian dalamnya.

__ADS_1


Dia mendorong Sam dan membuatnya terjungkal.


"Kau! Menjauhlah! Dasar ****!" Sofia berteriak memaki karena terlalu terkejut.


Kapten Blanc masuk kedalam kabin karena mendengar suara gaduh.


"Esme! Kau sudah sadar?" Blanc berjalan mendekat dan memegang dahi Sofia.


"Sudah dingin! Astaga Sam! Kau hebat sekali!" Kapten Blanc menepuk-nepuk punggung Sam.


"Aku sakit?" Sofia menunjuk dirinya sendiri.


"Tubuhmu panas Nona. Maaf Aku melepaskan bajumu, bajumu basah oleh keringat." Gumam Sam.


Sofia melihat gaunnya tergeletak disamping tempat tidur. Dia masih tidak percaya dan tetap tidak mau menerima.


"Sam, tinggalah bersama Esme. Aku akan pergi ke anjungan."


"Aku mengerti Kapten." Sam menjawab ragu-ragu.


Kapten Blanc pergi meninggalkan mereka berdua. Tidak ada seorangpun yang berbicara.


"Apa yang Kau lihat?!" Sofia membalikan badan dan menatap Sam yang kebingungan.


"Maaf Nona, Aku tidak melihat apapun, Aku memang melihat kulitmu yang begitu putih dan lembut tapi tidak melakukan apapun. Demi Tuhan!"


Esme melotot pada Sam yang menjelaskan semuanya dengan jelas. Memang benar, Sofia tidak merasakan hal aneh pada tubuhnya, diam-diam Sofia berterimakasih pada Sam karena telah merawatnya. Sofia melihat sekilas ember yang keruh dan lap disamping tempat tidur Blanc.


Hanya ada keheningan didalam kabin. Sofia merasa canggung untuk berbicara karena telah berkata kasar pada Sam. Namun, dia terlalu malu untuk meminta maaf. Jadi mereka hanya diam dan tidak sengaja saling berpandangan disaat yang sama.


"Mm.. Kau duluan." Ujar Sofia.


"Maaf sebelumnya Nona, tapi apa yang Anda lakukan diatas kapal Perompak?" Sam bertanya dengan gugup.


"Ah.. Kau penasaran?"


Sam menganggukkan kepalanya.


"Ingin tau?"


Sam menganggukkan lagi kepalanya.


"Sangat ingin tau?"


"Saya ingin tau Nona!"


Sofia dengan sekuat tenaga menahan agar tidak tertawa, Dia tidak mau Sam melihatnya sedang tertawa dan tidak lagi merasa bersalah padanya.


"Apa yang akan kau lakukan setelah Kau mendengar ceritaku?"


"Mmm.. mungkin, mungkin Aku bisa membantumu.." Sam menjawab ragu-ragu.


Sebuah ide baru saja melintas dikepala Sofia, Dia tidak sabar untuk melakukannya.


"Baiklah, Siapa namamu?"


"Nama Saya Sam, Nona."


"Sam, oke. Mari kita buat kesepakatan!" Sofia tertawa senang ketika idenya akan berjalan sebentar lagi.

__ADS_1


__ADS_2