Pesona Sang Perompak

Pesona Sang Perompak
Awal Yang Baru


__ADS_3

Roseland, Desa Lilbert. Desember 1499.


Mereka masuk dengan penuh semangat. Elie bersenandung riang melewati pintu rumah yang cukup besar. Ruang tamu terlihat sangat indah dengan beberapa ornamen berwarna biru langit. Sofa berwarna gading terlihat cantik dan nyaman sekali diduduki. Sebuah potret yang tergantung membuat Sofia menghentikan langkahnya.


Jantungnya berdegup dengan kencang. Terlihat seorang wanita yang masih muda dan seorang lelaki yang sangat dia kenal.


Marquess Jasper dan Ibunya, Rossie. Sofia memandang potret itu begitu lama. Mencoba mengingat-ingat lagi kenangan bersama ibunya, namun dia tidak menemukannya sama sekali. Semua kenangan indah berubah menjadi kenangan buruk saat Sofia mencoba mengingatnya.


"Elie.."


"Turunkan lukisan ini." Kemudian Sofia kembali berjalan masuk kedalam kamar.


Elie sedih jika mengingat kembali Nyonya yang dia layani itu, sekarang Elie harus menggantikannya untuk menjaga Sofia.


"Saya akan menurunkannya, Nona.."


Kemudia Elie memanggil beberapa pelayan dan memintanya untuk menyimpan lukisan itu didalam gudang.


Sofia menemukan kamarnya, kamar itu terletak dilantai atas, menghadap langsung ke arah laut. Angin sepoi-sepoi berhembus dengan cukup kencang. Dengan sigap Sofia mengeluarkan semua set melukisnya. Dia tidak sabar untuk menemukan inspirasi baru ditempat ini. Tidak lupa dia membawa lukisan Richi diantara beberapa lukisannya, dia tidak mau Ayahnya menemukan lukisan itu dikamarnya di Roseland.


"Aku harus merasa nyaman ditempat ini."


"Sepertinya tempat ini akan menyenangkan.." gumam Sofia.


Rumah Sofia berdekatan dengan rumah lain, hanya dibatasi oleh pagar kayu yang cukup tinggi, sehingga Sofia dapat melihat kegiatan tetangganya dari atas kamarnya.


Terlihat beberapa anak kecil berlari mengejar layang-layang, dan beberapa remaja sedang membentuk kelompok bermain.


Suasana lingkungan cukup ramai, hal ini akan membuat Sofia belajar untuk beradaptasi dengan masyarakat.


Rumah-rumah lainnya dihuni oleh pasangan lansia. Mereka mempunyai pelayan yang membantunya melakukan tugas sehari-hari.


Ada seorang bangsawan yang tinggal di Desa Lilbert, dia mengelola berbagai macam properti dan lahan untuk bercocok tanam. Semua orang sangat mengenalnya dengan baik, dia adalah seorang dermawan.


Setelah membereskan semua barang bawaan, Elie membuat makan siang untuk Sofia. Dia memasak daging sapi dan berbagai macam masakan lainnya yang sangat disukai Sofia.


Sofia terlihat sangat senang melihat meja makan penuh dengan hidangan yang dia sukai. Setalah beberapa hari hanya makan roti dan susu.


"Nona, kita akan mengunjungi semua tetangga kita." Ucap Elie tiba-tiba.


Sofia yang mendengar terkejut, karena sebelumnya dia tidak pernah melakukan hal itu.


"Berkunjung?"


"Betul, kita akan menyapa tetangga kita disini."


Marquess Jasper meminta pada Elie agar mengajarinya bersosialisasi. Jadi, itulah yang sedang Elie lakukan sekarang.


"Kita akan melakukannya sekarang? Hari ini?" Sofia terlihat enggan untuk pergi.


"Oh.. tidak, Nona. Kita akan melakukannya besok atau lusa. Tubuh Anda butuh istirahat.."

__ADS_1


"Ah, baiklah jika begitu. Aku akan tidur sebentar. Punggungku terasa pegal sekali." Sofia kembali kedalam kamarnya.


Sofia berjalan langsung menuju tempat tidurnya yang terlihat sangat nyaman. Tapi sebelum menjatuhkan tubuhnya, dia mengecek dulu takut kasurnya tipis seperti kasur yang ada di penginapan.


"Ah, syukurlah kasur ini sangat tebal dan akan nyaman sekali untuk dipakai tidur."


Benar saja, Dia tertidur pulas. Sehingga melewatkan waktu makan malam dan terbangun subuh sekali.


Sofia mengerjapkan matanya beberapa kali. Diluar masih sangat gelap. Bahkan suara ayam berkokok pun belum terdengar. Seluruh tubuhnya terasa sangat sakit. Dia memijat bagian punggung dan pinggangnya.


"Ah.. benar-benar. Apakah Elie punya obat untuk pegal-pegal ini?"


Sofia menuruni anak tangga dan pergi ke kamar Elie.


Tok


Tok


Tok


"Elie..." Sofia mengintip kedalam kamar.


Terlihat Elie yang masih tidur nyenyak tanpa selembarpun selimut menutupi tubunya.


"Untung saja Aku pengertian. Kau beruntung memilikiku Elie." Sofia membuka lemari dan mengeluarkan selimut tebal, kemudian menyelimuti Elie dengan perlahan.


"Aku harus bertanya besok pagi." Sofia meninggalkan kamar Elie.


Dia berjalan-jalan didalam rumah, mencoba mengenal tempat yang akan dia tinggali beberapa waktu. Karena ayahnya berjanji akan menjemputnya.


Sofia membuka pintu keluar. Diluar sudah mulai terlihat cahaya matahari meskipun hanya sedikit.


Dia berjalan ke halaman belakang. Terlihat laut yang masih berwarna kelabu. Terlihat burung-burung terbang diatasnya. Beberapa kapal nelayan baru kembali setelah berlayar semalaman.


"Aku mulai merindukan Danau Ble dan bunga teratai diatasnya." Gumam Sofia.


Angin terasa semakin dingin menusuk kulitnya. Sofia tidak mengenakan pakaian hangat. Dia memeluk tubuhnya dengan erat.


"Seharusnya Aku memakainya tadi."


Sofia berlari masuk kedalam rumah, dia tidak ingin membuat Elie terkejut karena tidak menemukannya diatas tempat tidur.


Setelah terdengar suara Kokok ayam, terdengar suara ketukan pintu.


Tok


Tok


Tok


"Nona...."

__ADS_1


"Ya, Elie.. masuklah."


Elie membuka pintu dan menghampiri Nona mudanya.


"Elie, apakah Kau punya obat yang bisa membuat tubuhku terasa lebih baik? Seperti yang kau lihat, Punggung dan pinggang ku sakit sekali." Terlihat Sofia memijit pinggangnya.


"Ah, Saya tidak punya obat. Tapi punya salep Nona. Salep hangat ini akan meredakan sakitnya."


"Begitukah? Bawa kemari."


Elie keluar dan kembali dengan membawa sebuah kotak kecil berwarna merah maroon, berukuran 5 cm. Elie memberikan kotak itu pada Sofia. Sofia mengendusnya, tercium wangi bunga lavender dan mint ketika dibuka.


"Harus dioleskan, Nona.."


Sofia terlihat ragu, namun Dia tau Elie tidak akan mengecewakannya.


Dia mulai memasukan jarinya kedalam wadah, terasa dingin dan lembut, kemudian mencolek sedikit dan mulai membalurkannya dibagian pinggang. Pingganya terasa hangat, Sofia memijit dengan lembut dan tersenyum.


"Lebih baik.." gumamnya.


Elie senang salepnya dapat membantu Sofia. Karena dia lebih dulu menggunakannya semalam sehingga tubuhnya terasa baik-baik saja sekarang.


Setelah mengoleskan keseluruh tubuhnya, Elie memijatnya perlahan. Sofia memejamkan matanya dan jatuh tertidur begitu saja.


Elie tidak tega membangunkannya, dia keluar dengan berjinjit dan menyiapkan sarapan.


* * *


Sinar matahari langsung mengenai kelopak mata Sofia, mau tidak mau dia menutup matanya dengan bantal yang ada didekatnya.


Tubuhnya yang tadi dingin kini terasa hangat. Dia menendang selimut yang Elie pakaikan.


Sofia menguap beberapa kali, rambutnya berantakan. Dia memegang punggung dan pinggangnya. Sekarang tidak terasa sakit dan pegal lagi. Sofia tersenyum.


Dia mencoba mengumpulkan semua energinya dan membuang sisa-sisa racun malasnya. Menggerakkan seluruh jari tangan dan kakinya bersamaan, kemudian berteriak.


"Aaaaaaaaaa...."


"Aaaaaaaaaa...."


"Terasa lebih baik." Gumamnya.


Elie yang mendengar teriakan Sofia langsung berlari dari dapur, dia masuk tanpa mengetuk pintu dan melihat Sofia sedang duduk ditempat tidurnya.


"Ada apa Nona?" Elie tampak pucat karena berlari dengan kencang.


"Tidak, tidak ada. Aku hanya membuang rasa malasku." Sofia mengangkat kedua pundaknya.


"Ah, saya sangat terkejut. Mari sarapan.." Elie berjalan keluar dan menutup pintu perlahan.


Notes :

__ADS_1


Desa Lilbert terletak sangat strategis karena diapit oleh pegunungan dan lautan sehingga udaranya cenderung segar.


Pekerjaan utama penduduk adalah Nelayan dan Berkebun. Banyak sekali kebun-kebun sayuran dan kebun teh. Mereka menjual hasil panen dan ikan-ikan dari nelayan ke kota terdekat dengan harga yang cukup tinggi. Sehingga keadaan ekonomi sangat baik.


__ADS_2