
Diatas Kapal Marine, Februari 1500.
Deburan ombak yang kencang mengantarkan kepergian Kapal Angkatan Laut dari Pulau Pace menuju Pulau Roseland.
Geladak dipenuhi oleh pasukan angkatan laut yang sibuk dengan tugasnya masing-masing. Mereka sangat tertib sekali bahkan tidak ada satupun yang berbicara, semuanya begitu solid satu sama lain.
"Kemana Richi?"
Tidak ada jawaban, Elie menundukkan kepalanya.
"Elie!" Sofia mencengkeram pundak Elie dan mengguncangnya.
Dari kejauhan Clark, Sang Kapten memperhatikan Sofia dan Elie yang sedang berbincang. Karena jauh, Dia tidak bisa mendengar apapun.
Kapten Clark menghampiri Sofia, Dia mengangkat tangan kanan Sofia dan mencium punggung tangannya.
"Suatu kehormatan dapat bertemu dengan Anda Lady Sofia.."
Sofia terkejut seseorang mengangkat dan mencium tangannya, namun Sofia mencoba tersenyum senormal mungkin. Dia menganggukan kepalanya dengan anggun.
Elie berjalan mundur kebelakang Sofia.
"Ah.."
"Panggil saja Saya Kapten Clark." Clark mundur dua langkah dan membungkukkan punggungnya.
"Terimakasih, Kapten. Senang bertemu dengan Anda.."
Clark mencuri-curi lirik ke arah Elie yang masih menunduk, Dia mengangkat ke dua alisnya tidak mengerti apa yang sedang terjadi.
"Apakah Anda ingin beristirahat?"
"Saya dapat mengantar Anda ke dalam kabin."
Clark ingin membuat ketegangan yang terasa ini mencair, setidaknya Dia dapat menawarkan sedikit tempat beristirahat.
"Saya tidak keberatan berada disini, Kapten.."
"Perjalanan ke Pulau utama Roseland memang tidak akan memakan waktu lama, Lady.."
"Namun, mungkin akan lebih nyaman jika Anda dan Nona Elie berbincang di dalam Kabin." Clark tersenyum dengan sopan.
"Ah..."
"Dengan senang hati Saya akan menerima kebaikan Anda, Kapten.."
"Saya merasa tersanjung mendengarnya.." Clark puas mendengar jawaban Sofia.
"Namun.."
"Bisakah Elie satu Kabin dengan Saya?"
"Tentu saja Lady.."
"Nona Elie bisa satu Kabin dengan Anda..."
"Mari ikuti Saya.."
"Terimakasih.."
Kapten Clark terlihat sopan dan baik. Sofia merasa tidak nyaman karena tidak tersenyum seramah mungkin tadi.
Elie mengangkat kepalanya dan mengangguk ketika Clark tidak sengaja bertatapan dengannya, Clark hanya tersenyum dan mengangguk.
Kapal Marine ini sebesar Kapal Hades, mungkin sedikit lebih besar. Bendera Kerajaan Roseland berkibar bebas diatas tiang. Sofia merasa seperti masih berada di dalam mimpi dapat melihat lagi lambang itu. Beberapa bulan yang lalu Dia bahkan tidak pernah membayangkan hal seperti ini, sedikit pun.
Clark berjalan masuk kedalam lorong yang minim cahaya, kemudian berhenti dan membuka pintu disebelah kiri.
"Nona, ini kabin Anda.."
"Jika membutuhkan sesuatu, Anda dapat naik ke geladak dan mencari Saya.."
"Saya permisi.." Kapten Clark membungkuk dan meninggalkan Sofia dan Elie.
__ADS_1
Sofia memegang keningnya dan mengurut-urut nya dengan kencang. Sudah cukup lama sejak terakhir Dia naik keatas kapal yang besar.
"Nona.."
"Anda baik-baik saja?" Elie khawatir melihat wajah Sofia yang lebih pucat dari biasanya.
"Mungkin Aku hanya mabuk laut Elie.."
"Kau punya sesuatu untuk membuatku merasa lebih baik?" Sofia menutup mulut dengan tangan kanannya.
"Rasanya kepalaku terasa berputar-putar."
"Ah.."
"Mungkin balsem ini bisa membantu.."
Sofia ingat balsem itu. Elie menggunakannya dulu saat mereka terpantul pantul didalam kereta saat menuju ke Desa Lilbert. Sofia tersenyum, Dia mengingat hal seperti itu disaat seperti ini.
Elie mengoleskan balsem itu dikening Sofia. Kemudian mengoleskannya lagi dibelakang leher dan mengurut-urutnya sebentar.
"Lebih baik, Nona?"
"Ah.."
"Terasa hangat."
"Terimakasih, Elie.."
Elie menutup lagi balsemnya dan duduk disebelah Sofia.
"Apakah ada yang ingin Kau katakan?" Sofia mengikat rambutnya keatas dengan cepat. Rasa panas mulai menyebar ditempat Elie mengoleskan balsem. Sofia mengipaskan tangannya disana.
"Nona.."
"Ini..." Elie mengeluarkan sesuatu dari dalam sakunya dan memberikannya pada Sofia. Sebuah kertas putih terlipat rapi dengan pita merah maroon diatasnya.
"Apa ini?"
"Ini surat dari Tuan Richi." Elie berkata dengan gugup.
"Apa maksudnya?"
"Saya tidak tau, Nona. Tuan memberikan ini pada Chris sebelum berangkat."
"Berangkat?"
"Kemana Richi pergi?"
"Saya tidak tau, Nona. Mungkin Anda lebih baik membacanya terlebih dahulu."
"Ah..!!" Sofia kesal bukan main.
Dia benar-benar merasa dikhianati. Tidak ada seorangpun yang memberitahunya kemana Richi pergi. Semua orang seperti ingin Dia kembali ke Roseland secepatnya.
"Keluarlah.."
"Aku ingin membacanya.."
"Baik, Nona.."
Elie meninggalkan Sofia didalam kabin sendirian.
"Mengapa tempat ini begitu panas?!" Sofia mengibaskan tangan didepan matanya.
Matanya terasa sangat pedih sampai hampir meneteskan air mata, namun tidak tau mengapa, hatinya lah yang terasa lebih perih.
Sofia mengusap air mata yang keluar. Dia tidak tau apa yang sedang terjadi. Perasaan apa yang harusnya dia rasakan sekarang? Dia tidak tau. Mungkin surat ini adalah jawabannya.
Sofia mulai membalik kertas putih itu, kemudian membuka pitanya dengan pelan.
'Teruntuk kekasihku, Esme..'
Air mata mulai keluar dari sudut mata Sofia. Dia cepat-cepat mengusapnya.
__ADS_1
'Aku tebak.. sekarang pasti Kau sangat kesal karena Aku pergi tanpa mengabarimu. Maaf.. Maafkan Aku cinta, hanya itu yang bisa Aku katakan saat ini. Kau tau betapa brengseknya Hades? Dia menyeretku tengah malam saat Aku sedang tidur. Bahkan Aku tidak tau sekarang sudah berada diatas kapal dan meninggalkan Pulau Pace. Ketika Kau membaca surat ini, Aku pasti sudah berada dilautan dengan awak Kapal Hades. Aku belum bisa pulang untuk saat ini. Nenek Tua itu ingin Aku menyelesaikan pekerjaanku terlebih dulu. Aku harus membereskan semua masalah yang telah diperbuat oleh Gerald. Kau pasti muak membaca namanya dalam surat ini. Oke, mari kita lupakan saja Dia.'
'Untuk saat ini, Aku tidak bisa pulang, mungkin akan pulang pertengahan bulan Mei, sekitar 3 bulan lagi. Aku ingin secepatnya masalah ini selesai. Berhati-hatilah dengan Gerald dan kawanannya saat berada di Roseland nanti. Jangan menikah dengan siapapun! Aku ingatkan sekali lagi, Kau MILIKU! dan Kau tau, bahkan saat ini Aku sudah merindukanmu.. Ingin sekali Aku berenang kesana dengan kedua lenganku, namun Kau tau apa yang membuatku kesal? Hades mengunciku dikabinnya yang bau tembakau.'
'Jaga diri baik-baik, jangan marahi Elie..'
'Aku mencintaimu..'
'R'
Air mata tidak berhenti mengalir dari mata Sofia. Dia meremas kertas itu lalu melemparkannya ke sudut kabin dengan kencang.
Tidak lama kemudian Dia mengambilnya lagi dan merapihkan kertas itu lalu menciumnya.
"Dasar Hades ********!" Sofia mengumpat kesal. Tetapi Dia menggenggam kertas itu dengan penuh cinta.
"Aku akan bertahan hingga Mei, Jika kau datang terlambat sehari saja, mungkin Aku akan menikah saja dengan Duke tua itu!"
"Setidaknya Dia sudah terlalu tua untuk meninggalkan ku." Sofia melipat surat itu dan menyimpannya dalam saku pakaian.
Kapal terasa melaju dengan kencang setelah melewati batu karang yang besar dan banyak jumlahnya. Sofia membaringkan tubuhnya diatas tempat tidur. Tempat tidur ini tidak senyaman Tempat tidur Hades saat di Kapal dulu. Sangat jauh berbeda. Sofia merasakan goncangan saat kapal berpapasan dengan ombak yang besar sehingga membuat kepalannya terasa berputar dan terasa mual. Berulang kali dia memijat kepalanya dengan keras, namun tidak membaik sedikitpun.
"Apakah Roseland masih jauh?"
"Aku tidak ingin naik kapal lain selain kapal Hades." Itulah yang ada didalam pikiran Sofia.
"Bagaimana kabar awak kapal yang lain?"
"Aku tidak berpamitan dengan mereka.."
"Rasanya sungguh tidak adil.." Kepalanya terasa semakin sakit ketika Dia mencoba berpikir.
Tok
Tok
Tok
"Nona..."
"Saya akan masuk.."
Tidak lama kemudian pintu terbuka dan Elie berjalan masuk. Elie membawa secangkir teh hangat dengan beberapa bagelen yang masih hangat dan sangat wangi.
"Nona..."
"Minumlah teh ini.."
Elie memberikan cangkir itu ketangan Sofia.
"Aku merasa mual Elie..."
"Anda harus makan, Nona.."
"Mual Anda akan berkurang.."
Sofia menyesap sedikit teh hangat itu, lalu mengambil bagelen yang Elie berikan.
"Ini enak.." Sofia mengunyah sampai habis dan mengambil sisanya.
"Saya akan kembali kedapur, Nona.."
"Beristirahatlah.."
Sofia tidak menjawab, Dia hanya mengangguk dan tersenyum.
"Elie.."
Elie berhenti berjalan dan menengok ke arah Sofia.
"Yya, Nona??"
"Maafkan Aku, dan Terimakasih.."
__ADS_1
Elie tersenyum dan melanjutkan perjalanannya.