
Lautan, Desember 1499.
Pemandangan pantai yang indah jika diliat dari tepi, berbeda dengan yang terlihat sekarang. Bukan lagi pantai, tapi laut. Laut yang dari kejauhan terlihat biru, kini terlihat coklat dan keruh. Ombak yang terus-menerus bergulung membuat sampan kecil itu bergoyang kesana-kemari.
Sofia masih tidak percaya dengan apa yang barusan terjadi begitu cepat. Dia masih mengingat semuanya dengan jelas.
Saat itu dia sedang berjalan-jalan dengan Gerald, namun tidak lama kemudian datang beberapa orang yang tidak dia kenal, hanya Ben yang dia ingat. Lalu sekarang, dia berada diatas sebuah sampan kecil dan parahnya sedang mengapung diatas lautan yang sangat luas.
Sofia tidak dapat menahan keinginan yang dirasakan oleh tubuhnya. Rasa mual yang tiba-tiba melandanya membuatnya memuntahkan isi perutnya. Kepalanya berputar-putar, rasa maul yang tidak hilang bahkan setelah semua isi perutnya keluar.
"Hei!! Kau membuat pakaianku kotor!" Bamus mencoba membersihkan pakaiannya dengan air laut.
"Sudahlah, dia mabuk laut." Ucap Ben ketus.
Sofia tidak dapat mendengar dengan jelas semua perkataan mereka, kepala dan perutnya terasa bagai dihantam oleh tinju yang kuat.
"Cepatlah mengayuh! Kapten akan kesal jika kita lebih lama dari ini." Ben memukul kepala temannya dengan cukup keras.
Sofia memejamkan matanya, dia berharap rasa mual dan pusingnya akan menghilang setelah dia memejamkan matanya. Namun, rasa mual semakin menjadi-jadi, ombak terus menghantam sampan mereka yang kecil.
Dari kejauhan, terlihat sebuah kapal yang besar, dengan layar hitam dan bendera bergambar tengkorak.
Sofia tidak bisa melihat dengan jelas, dia memegang kepalanya yang seperti mau pecah.
Ben melambai-lambaikan tangannya ke arah kapal.
Seseorang melihat sampan Ben dengan teropong, lalu mengarahkan kapal ke arah sampan.
"Siapa wanita itu?" Tanya salah satu awak kapal.
"Hadiah untuk kapten!" Jawab Ben.
Bamus mencoba mengangkat tubuh Sofia, namun malang bagi Sofia, keseimbangan sampannya goyah, sehingga tubuhnya yang mungil terjatuh kedalam laut yang keruh.
Sofia yang terkejut tidak bisa berbuat apa-apa. Mendadak kakinya kram, dia menjerit didalam air, sehingga sebagian air masuk kedalam mulutnya.
Rasanya seperti ribuan jarum menusuknya bersamaan, tubuhnya terasa sangat sakit. Air yang terasa sangat dingin dan gelap juga kotor membuat Sofia tidak bisa melihat apapun, sebagian air masuk kedama hidungnya. Rasa perih dan sakit terasa sampai ubun-ubunnya.
Sofia menggapai-gapai kan tangannya keatas, menendang-nendang kakinya bagaikan anak kecil yang sedang belajar berenang.
Sungguh sebuah mimpi buruk baginya. Gaun yang basah menjadi berat sekali, Sofia tenggelam semakin dalam kedalam lautan.
Sebuah tangan meraih tubuhnya dengan cepat. Dia mencoba mengangkat Sofia. Tapi gaunnya terlalu berat, terpaksa dia merobek bagian bawah gaun Sofia, sehingga menunjukan bagian tubuh bawahnya yang tak pernah terlihat oleh siapapun selain dirinya. Sofia tidak peduli.
Berat tubuh Sofia seperti berkurang setengahnya.
"Astaga, bagaimana kau bisa berjalan dengan baju seberat itu." Ben mengumpat kesal.
Sofia masih terkejut, dia menggigil. Gigi-giginya berbenturan. Lidahnya tergigit, darah segar menetes dari ujung bibirnya. Semua orang yang melihat terkejut dan ikut panik.
__ADS_1
Sofia memeluk kakinya dengan erat, dia tidak peduli sebagian kakinya terlihat oleh orang lain, sekarang dia betul-betul kedinginan dan hanya butuh sesuatu yang kering dan hangat.
Ben yang tidak tahan melihat Sofia kedinginan, melepaskan jaket kulitnya, dan melemparkannya ke arah Sofia. Sofia tidak berkata apa-apa, dengan cepat dia memeluk erat jaket kulit itu.
"Kau hampir membawa bangkai manusia keatas kapal, Bamus!" Ben melotot ke arah Bamus yang terlihat sangat merasa bersalah.
"Maafkan Aku, Aku tidak tau jika wanita itu akan terjatuh."
Dengan sangat berhati-hati, Bamus menggendong Sofia keatas kapal. Sofia tidak merasa nyaman sedikitpun digendong oleh Bamus. Rasanya jauh dari kata nyaman. Namun, dia tidak bisa melawan karena seluruh tubuhnya menggigil hebat.
Setelah sampai diatas Dek, Bamus bingung harus membawa Sofia kemana.
"Mengapa Kau berhenti?" Tanya Ben kesal.
"Aku harus meletakkannya dimana?"
Ben melihat sekeliling.
"Apakah harus diletakan digeladak? Bersama awak kapal yang lain?" Ben menatap beberapa pasang mata yang terus mengawasi tubuh Sofia.
Bamus menggelengkan kepala.
"Tentu saja tidak! Cepat masukan kedalam Kabin Kapten!" Ucap Ben dengan kesal.
Dengan cepat, Bamus membuka pintu Kabin Kapten dan meletakan Sofia ditempat tidur.
Sofia tidak peduli dimana sekarang dia berada, dia hanya menginginkan tempat tidur dan selimut yang hangat.
Ben berjalan ke arah pintu, menutupnya dan meninggalkan Sofia seorang diri.
Dengan cepat Sofia meraih selimut tebal berwarna coklat buludru yang terlipat rapih diatas tempat tidur. Tempat tidur ini tidak bergerak, karena bagian bawahnya menempel diatas lantai, sehingga Sofia tidak terlalu merasa pusing dan mual.
Kabin itu berukuran cukup besar, sekitar 3x4 meter. Lantainya dari kayu dilapisi permadani lembut yang berasal dari Persia.
Lukisan yang berharga sangat mahal tergantung dibelakang tempat tidur. Terdapat sebuah kabinet yang terbuat dari kayu jati, sebuah meja dan kursi satu set melengkapi ruangan ini.
Sebuah mantel tidur terbuat dari sutra berwarna maroon terlipat rapih disebelah tempat tidur. Ada sebuah kompas dan beberapa peta yang menggulung di atas meja.
Sofia mengamati kamar ini sambil menghangatkan tubuhnya yang masih menggigil. Berulang kali dia menggosokkan kedua telapak tangannya dan menempelkannya dipipi.
Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki yang berat mendekat.
Pintu terbuka dengan lebar, seorang pria bertubuh tinggi besar, berkulit coklat dengan pakaian berbahan kulit dan sepatu bot mengkilap menatapnya.
Sofia mengingat dengan sangat jelas siapa pria ini, seorang pria yang sangat ditakuti oleh semua orang kini berdiri tepat dihadapannya.
"Kapten Hades.." Gumam Sofia.
"Kau masih mengingat ku Gadis kecil?" Kapten Hades terkejut dibuatnya.
__ADS_1
Sofia tidak menjawab sedikitpun, dia mencoba berjarak sejauh mungkin dari Kapten Hades.
Kapten Hades berjalan masuk kedalam Kabin, semakin mendekatinya.
"Kau tampak kacau manis.."
"Menjauh! Menjauh dariku!" Sofia melemparkan bantal yang terdekat dengan tubuhnya.
"Ah, tidak manis. Apakah sekarang Kau lupa berada dimana? Kau berada dikamarku." Ucapnya.
"Kembalikan Aku! Kembalikan Aku kerumahku!" Sofia berteriak dengan kencang.
"Rupanya Kau masih penuh dengan energi setelah terjatuh kedalam lautan yang indah ini?" Kapten Hades tertawa menunjukkan deretan giginya yang putih.
"Hentikan omong kosongmu! Turunkan Aku!" Sofia semakin kesal.
"Ah, apakah Kau akan merasa lebih nyaman jika tidur digeladak bersama awak kapalku?" Tanya Kapten Hades sambil mengangkat kedua pundaknya.
"Tidak! Tidak! Jangan lakukan itu!" Jawab Sofia dengan cepat.
"Hmm.. ataukah kau ingin tidur dikamar Richi?" Kapten Hades menyipitkan kedua matanya.
"Richi?"
"Yaa, Richi.. Kau mengingatnya?" Kapten Hades mendekatkan tubuhnya ke arah Sofia.
"Dia ada disini? Richi ada disini?" Sofia turun dari tempat tidur, namun sayangnya tubuhnya langsung terjatuh, karena selain tempat tidur kapten, tempat lainnya bergoyang mengikuti arah kapal.
Kapten Hades membantu Sofia berdiri, namun Sofia menepis tangannya.
"Menjauh dariku! Menjauh!" Sofia memegang tepi kasur dan memegang kepalanya yang kembali berputar.
"Biarkan Aku membantumu gadis kecil." Kapten Hades tidak menghiraukan teriakan Sofia, dia mengangkat tubuh Sofia dan meletakkannya diatas tempat tidur.
"Bukankah ini saatnya Kau mengucapkan terimakasih?" Kapten Hades mengedipkan sebelah matanya.
"Tidak akan pernah!" Umpat Sofia.
Sofia kembali meringkuk dan menutup seluruh tubuhnya dengan selimut.
"Kau ingin tetap berada disini?" Tanya Kapten Hades.
Sofia tidak menjawab apapun.
"Richi masih belum kembali, dia akan kembali besok atau lusa. Bersiaplah.." Kapten Hades tertawa dan pergi meninggalkan Sofia.
Notes :
Sampan adalah perahu kayu yang kecil dan hanya bisa dinaiki oleh 3-8 orang.
__ADS_1
Sampan harus digerakkan dengan cara mendayung yang biasanya dilakukan oleh 2 orang atau lebih agar lajunya cepat.