Pesona Sang Perompak

Pesona Sang Perompak
Perubahan Richi


__ADS_3

Pulau Pace, Februari 1500.


Sofia kesulitan bernafas, Dia mencoba mengimbangi ciuman Richi, namun Dia kesulitan. Richi menyadari nafas Sofia yang tidak teratur. Dia berhenti mencium Sofia, hidung mereka menempel satu sama lain. Sofia mencoba mengalihkan pandangannya, namun Richi memegang punggungnya sehingga Sofia tidak bisa berpaling.


"Bisakah Aku menciumu lagi?" Bisik Richi ditelinga Sofia. Refleks Sofia menjauh dan menutup telinganya. Rasa panas menyebar dari tempat menempelnya bibir Richi.


Sofia tidak menjawab apapun, Richi mengartikannya sebagai bentuk penyetujuan. Dia membelai dengan lembut rambut Sofia yang masih basah. Menyelipkan sebagian rambutnya kebelakang telinga lalu menarik tubuh Sofia mendekat.


Sofia menundukkan kepalanya, namun Richi mengangkat dagunya sehingga Dia bisa leluasa menciumnya.


Rasa manis terasa diujung lidah Sofia, saat lidah mereka saling bertautan. Bibir bawahnya terasa lembut dibibirnya saat dengan sengaja Richi menghisap bibir atasnya kemudian bergantian menghisap bibir bawah Sofia secara teratur dan terus menerus.


Jantung mereka berdetak seirama, sama-sama berdebar dengan kencang seperti sedang berlomba mencapai garis finish.


Tangan kanan Richi membelai punggung Sofia dengan lembut. Turun dari pangkal leher kebawah sampai bawah pinggang.


Nngg..


Terdengar desahan pelan keluar dari mulut Sofia saat tangan Richi menyentuh bagian perutnya. Perut Sofia terasa lembut ditangannya, Richi menyukainya.


Pakaian Sofia yang tipis membuat Richi tidak bisa mengalihkan pandangannya dari tubuh Sofia yang hampir terlihat bahkan dari luar.


"Bernafaslah.." Bisik Richi ditelinga Sofia dengan lembut.


Mereka kembali berciuman dengan penuh gairah sampai nafas mereka kembali terdengar bersamaan.


Tok


Tok


Tok


Suara ketukan pintu membuat Sofia terkejut dan refleks mendorong Richi menjauh.


Richi tertawa saat melihat ekspresi Sofia yang terkejut.


Sofia kesal dan cemberut.


Richi mencubit kedua pipinya dengan gemas.


"Nona.."


"Makan malam sudah siap." Terdengar suara Elie dari balik pintu.


"Sepertinya mereka menunggu.." Richi menatap Sofia dengan lembut.


"Aku tau!"


"Sebaiknya kita pergi." Sofia masih kesal melihat Richi yang menertawakannya.


"Haruskah kita pergi?" Richi berdiri dengan enggan.


"Harus!!" Sofia menarik tangan Richi dengan cepat.


"Aah.."


"Baiklah Tuan Putri.." Dengan cepat Richi menggendong Sofia bagaikan seorang Putri.


"Turunkan Aku.." Sofia menendang-nendang kakinya.


"Tidak.."


"Aku akan menurunkanmu disana."


"Mengapa Kau melakukan hal yang tidak perlu?"


"Kau terluka.."


"Aku baik-baik saja.."


"Kau tidak menolak saat Hades menggendongmu." Ekspresi Richi berubah kesal.


Suatu kalimat terlintas dipikiran Sofia.


"Hah?"


"Apa kau cemburu?"


"Cemburu?"


"Ya.."


"Kau cemburu.."


"Aku tidak."


"Begitukah?"


"Baiklah, Aku tidak akan menolak jika Hades ingin menggendongku lagi."


"Jangan lakukan itu."


"Kenapa?"


"Jangan membiarkan Hades atau Pria lain menyentuhmu!"


"Mengapa?"


"Aku tidak suka."


"Aku tidak keberatan." Sofia mengangkat kedua alisnya.


"Aku bilang jangan!"


"Mengapa??"


"Karena Kau miliku!" Richi menatap tajam Sofia.

__ADS_1


"Sejak kapan Aku milikmu?" Sofia mengalihkan pandangannya.


"Sejak saat ini dan selamanya." Richi menurunkan Sofia dan menciumnya.


Prok


Prok


Prok


Terdengar suara tepuk tangan dari arah depan. Terlihat Hades sedang tertawa melihat Richi dan Sofia.


Sofia terkejut dan mendorong Richi, tubuh Sofia terhuyung kedepan karena kakinya tidak seimbang, namun dengan cepat Richi menahannya sehingga mereka kembali berpelukan.


"Astaga..."


"Sungguh pertunjukan yang menarik..!"


"Kalian bisa melanjutkannya nanti."


"Sekarang mari Kita makan!"


"Kami tidak.." Sofia mencoba membantah, namun Hades tertawa semakin kencang tidak menghiraukan perkataan Sofia, lalu Dia masuk kedalam Mansion.


"Kau bisa melepaskan pelukanmu sekarang.." Gumam Sofia di telinga Richi.


Richi mengangkat kedua tangannya ke atas. "Baiklah.." Dia tersenyum senang.


"Kau melakukannya dengan sengaja." Ucap Sofia.


Richi mengangkat kedua alisnya dan berpura-pura tidak mendengar apapun.


"Ayo, mereka sudah menunggu.." Richi berjalan ke arah Mansion.


Sofia memukul punggung Richi dari belakang dengan keras.


BUK!!


Richi mengedipkan sebelah matanya.


"Jangan terlalu jauh dariku.." Bisiknya ditelinga Sofia.


"Mengapa?!"


"Nanti Aku rindu.." Richi menggandeng tangan Sofia dengan erat.


Sofia menutup wajahnya dengan sebelah tangan. Wajahnya memerah dengan sangat cepat.


"Astaga.."


"Jangan mengatakan hal memalukan seperti itu.."


"Tapi Aku jujur."


"Kau tau, Aku tidak suka kebohongan." Richi kembali mengedipkan sebelah matanya.


Sofia benar-benar tidak bisa berkutik. Dia hanya menggelengkan kepalanya dengan pasrah. Jauh didalam lubuk hatinya, Dia merasa sangat bahagia Richi memperlakukannya seperti itu.


Elie menjerit kecil dari semak-semak karena mengintip Sofia dan Richi.


"Ada apa Nona Elie?" Chris menepuk punggung Elie dari belakang.


"Astaga..!"


"Chris!"


"Kau hampir membuat jantungku berhenti berdetak." Elie menepuk-nepuk dadanya.


"Ah.."


"Maafkan Saya, Nona.."


"Saya tidak tau Anda akan terkejut seperti itu.." Chris menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Jangan melakukan hal seperti itu lagi..." Elie menunjuk Chris dengan telunjuknya.


"Iya, Nona.."


"Saya akan mengingatkan.."


"Tapi, apa yang Anda lakukan di semak-semak gelap ini?"


"Ah.." Elie merasa tertangkap basah.


"Tidak ada.."


"Aku sedang melihat pemandangan.." Elie mengalihkan pandangannya dari Richi dan Sofia.


Chris mengikuti arah pandang Elie, dengan cepat Elie mendorongnya.


"Mari Kita makan malam!!" Elie mencoba menutupi pandangan Chris.


Chris semakin bingung, tapi Dia enggan bertanya lebih jauh dan memilih mengikuti Elie ke Mansion.


* * *


Semua orang telah berkumpul di meja makan, termasuk Richi dan Sofia, mereka duduk bersebelahan. Tidak lagi terlihat ketegangan diantara mereka. Joy senang karena susana makan malam kali ini damai.


"Kau terlihat bahagia." Hades memulai percakapan.


"Siapa?" Richi menatap Hades.


"Kau!" Hades menunjuk Richi dengan pisau yang ada ditangannya.


Joy mulai panik melihat Hades mengacungkan pisau roti ke arah Richi.


"Aku?"

__ADS_1


"Ya.."


"Tentu.." Richi memandang Sofia dengan tatapan lembut.


"Ah..." Hades tertawa melihat arah pandangan Richi.


Sofia menatap Richi, Dia menggelengkan kepalanya.


"Apa yang akan Kau lakukan besok?" Tanya Hades pada Sofia.


"Aku tidak tau.."


"Richi, ajaklah dia berkeliling."


"Bukankah Kau mengenal baik tempat ini." Hades mengangkat kedua alisnya.


"Baiklah.."


"Pakailah perahu digudang jika Kau memerlukannya." Hades kembali menatap Sofia, lalu mengedipkan sebelah matanya.


Richi yang melihat langsung menatap tajam Hades. Hades tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi kesal Richi. Sedangkan mata Sofia berbinar-binar mendengar perkataan Hades.


"Bisakah?" Tanya Sofia.


"Perahu?" Tanya Hades balik.


"Ya...." Sofia memohon dengan matanya.


"Tentu, Kau bisa menggunakannya besok." Jawab Hades.


"Terimakasih.." Sofia berdiri, lalu berjalan ke arah Hades dan memeluknya dari belakang.


Richi semakin kesal melihat Hades yang tertawa senang.


"Kau bisa memelukku juga." Richi menarik tangan Sofia yang memeluk Hades.


"Untuk apa?" Tanya Sofia.


"Tidak ada alasan."


"Cepat peluk Aku!" Richi menggenggam tangan Sofia.


"Astaga..." Mau tidak mau Sofia memeluk Richi dengan erat.


"Kau puas?"


Richi tidak menjawab, Dia hanya tersenyum.


"Astaga.."


"Berhentilah.."


"Seluruh makanan yang ku makan seperti akan keluar lagi."


"Menyingkirlah dari hadapanku." Hades mendengus dengan kesal.


Elie dan Joy hanya diam, mereka menahan tawa agar tidak terdengar oleh Hades dan Richi.


Makan malam berjalan cukup mulus. Joy senang seluruh makanan habis dengan cepat.


Richi mengantar Sofia ke Paviliun Rose sedangkan Elie membantu Chris membereskan meja makan.


"Jangan berjalan terlalu cepat."


"Mengapa?" Tanya Sofia.


"Nanti aku tersesat jika Kau tidak ada.."


"Astaga.."


"Hentikan.." Sofia membalikan badan dan memukul dada Richi.


Richi menarik Sofia kedalam pelukannya.


"Jangan memeluk Pria lain.."


"Kumohon.." Pelukan Richi semakin kuat.


Jantung Sofia berdebar dengan kencang, Dia tidak ingin Richi mengetahuinya.


'Tenanglah jantungku'


'Tenanglah..' Gumam Sofia dalam hati.


"Jika Kau memeluk Pria lain.."


"Aku akan.."


"Apa?"


"Aku akan memelukmu berkali-kali lipat."


"Astaga.."


"Kau mengerti?!"


"Ya.."


"Dan.."


"Besok bersiaplah.."


"Aku akan menjemputmu pagi sekali.." Richi menatap Sofia dan mencium keningnya.


Sofia tidak punya kesempatan untuk menjawab.


"Berisitirahat..."

__ADS_1


Richi mengecup punggung tangan Sofia dan berjalan menjauh.


__ADS_2