Pesona Sang Perompak

Pesona Sang Perompak
Terluka


__ADS_3

Pulau Rayons, Maret 1500.


BRUGH...!!!


Hades berhasil melepaskan ikatan tali kuda dari kereta. Kemudian Kereta terhempas ke tumpukan bebatuan yang cukup besar dengan sangat keras. Kereta terpental dan hampir hancur. Sedangkan Hades berhasil melompat dari kereta.


Gusto merangkak dari dalam kereta Kuda, kepalanya berdarah dan terluka cukup parah karena terbentur atap kereta sangat keras.


Hades mencoba berdiri, bahunya terkilir, dan rusuknya sepertinya patah. Dia mengamati Kuda dan Richi yang menghilang ditikungan.


"Tuan..."


"Tuan.."


Gusto berjalan dengan susah payah, Dia menekan kepalanya yang masih terasa berputar-putar.


"Tuan.."


"Dimana Tuan Richi?"


Gusto melihat kekiri dan kekanan, Dia tidak dapat menemukan Richi dimanapun.


Hades berjalan dengan memegang dadanya yang terasa sangat sakit, nafasnya sesak, Dia hampir terjungkal beberapa kali.


Gusto membantu Hades berjalan ke tempat yang agak teduh dan membantunya duduk diatas batu.


Hades batuk beberapa kali dan mengeluarkan darah.


Dia meludah kesamping dan menggigit bibirnya. Hades bernafas dengan perlahan, dadanya terasa sakit bahkan saat Dia hanya sekedar bernafas.


"Awak Kapalku akan menyusul beberapa saat lagi, tunggulah.." Hades batuk-batuk lagi saat mencoba berbicara.


"Ba.."


"Bagaimana dengan Tuan Richi??" Badan Gusto bergetar ketika membayangkan hal yang buruk menimpa Richi.


"Berdoalah.."


"Aku tidak tau sekarang Dia berada dimana.." Hades menutup wajah dengan kedua tangannya yang terluka.


"Kuharap Kau baik-baik saja ..."


"Sungguh.." Gumam Hades.


Mereka duduk dengan pikiran yang tidak tenang. Setiap terdengar suara Kuda mendekat, mereka mendongak, namun sayang itu bukan salah satu awak Kapal Hades. Orang-orang yang lewat tidak mau berhenti bahkan hanya sekedar bertanya pun tidak, karena mereka tidak mau terlibat dengan hal yang akan merugikannya.


Barulah sekitar satu jam kemudian terdengar teriakan Ben dari kejauhan. Ben melihat kereta yang hampir hancur dan melihat sekeliling dengan cermat.


"Kapten!"


"Kapten Hades!"


Ben turun dari Kuda dan berlari ke arah Hades dan Gusto yang sudah hampir tidak sadarkan diri karena kehabisan darah maupun karena sudah tidak sanggup lagi menahan rasa sakit.


"Kapten!!"


"Sadarlah.."


Ben menggerakkan tangan Hades dengan cukup kencang, Hades membuka matanya dan memukul kepala Ben dengan kencang.


BUK!!


"Sakit Kapten!" Ben mengelus kepalanya.


"Cepat cari Richi!"


"Dia menghilang ditikungan!" Hades menunjuk ke arah tikungan dan Ben mengikuti arahannya.


Ben berdiri dan berlari kearah tikungan. Dia melihat ke arah semak-semak yang terinjak dan mendongak ke bawah tebing.


"Astaga..."


"Tuan...!!"


"Tuan Richi!!


"Tuan Richi!


Terlihat Kuda yang dikendarai Richi tewas mengenaskan dengan bagian perut yang terurai karena mengenai batu yang tajam.


Richi tergeletak disebelahnya dengan kepala yang berdarah dan kaki yang terluka parah karena tertimpa bagian tubuh kuda.


Ben turun dengan hati-hati. Tebing itu cukup curam sehingga bisa membuatnya tergelincir.

__ADS_1


"Astaga.."


"Tuhan.."


"Apa yang harus Aku lakukan?" Ben tidak bisa menahan air matanya melihat Richi yang tidak bergerak sedikitpun.


Beberapa awak kapal terlihat diatas tebing. Mereka mengamati Ben yang menangis disamping Richi. Bamus turun kebawah dengan cepat.


"Apa yang terjadi Ben?"


"Tuan Richi.."


Bamus memegang tubuh Richi yang sudah dingin, tapi denyut nadi dipergelangan tangannya masih terasa walaupun kecil. Darah terus mengalir dari paha dan kepalanya.


"Aku akan menggendongnya, Kau naiklah lebih dulu.."


"Dan, berhentilah menangis, Aku tidak tahan melihatnya.." Bamus mengelap air mata yang sudah keluar dari sudut matanya.


Hades dan Gusto sudah menaiki Kereta Kuda yang dibawa oleh Cefo. Cefo sendiri yang mengendarainya.


Awak kapal yang lain sudah melaju lebih dulu untuk mencari penginapan dan dokter.


Ben membuka kereta kuda dan membantu Bamus menaikan Richi.


"Bagaimana kondisinya?" Hades mengamati Richi yang tidak sadarkan diri.


"Tidak bagus Kapten.." Ben tidak berani menatap Kaptennya.


"Melajulah cepat, namun berhati-hatilah.." Hades tidak sanggup melihat sepupunya dalam kondisi seperti itu.


Dia sangat kesal sampai tidak bisa mengatakan apapun. Amarahnya sudah sampai puncak. Dia menyesal membiarkan ******** gila itu pulang.


Mereka tiba di penginapan beberapa jam kemudian. Langit sudah sore sehingga Cefo harus benar-benar ekstra mengendalikan Kudanya.


Dokter dengan cepat membantu Hades dan Gusto turun. Kemudian membawa blangkar untuk membawa Richi turun dari kereta.


Ada 3 orang perawat yang membantu dokter itu, mereka bekerja dengan cepat dan tidak menyia-nyiakan waktu. Nyawa Richi sangat bergantung pada kecepatan mereka dalam bekerja.


Richi dipindahkan kedalam kamar. Dia tidak bergerak sedikitpun, nafasnya lemah dan tubuhnya dingin. Dokter mengeluarkan orang-orang yang tidak berkepentingan, hanya perawat yang diijinkan berada di dalam.


Hades berada diruangan yang sama dengan Gusto. Gusto sudah mulai berbicara dengan jelas, perawat lain sudah menjahit luka di kepalanya dan memberikan obat pereda nyeri.


Hades berbaring terlentang, dia juga sudah minum obat pereda nyeri yang sama dengan Gusto. Perawat menganjurkannya untuk beristirahat tanpa melakukan aktivitas apapun.


"Bagaimana kondisi Tuan Richi, Kapten?" Gusto mulai bertanya pertanyaan yang tidak Hades ketahui jawabannya.


"Aku tidak tau.."


"Dokter tidak mengatakan apapun?"


"Mereka belum keluar dari sana sejak tadi.."


"Sungguh?"


"Ya.."


"Aku tidak akan membiarkan ******** itu lolos kali ini.."


"Biarkan Aku membunuhnya Hades.." Gusto mengepalkan kedua tangannya dengan keras.


"Jangan lakukan itu.."


"Pulanglah.."


"Tentu, setelah membunuhnya." Gusto berbaring dengan susah payah.


"Richard yang akan melakukannya.." Hades menatap langit-langit yang berwarna putih.


"Ah.."


"Tentu saja.."


"Tuan Richard yang akan melakukannya.."


"Tapi.."


"Mungkinkah beliau akan sadarkan diri?"


"Jangan mengatakan hal seperti itu.."


"Kau membuatku takut.."


"Ya.."

__ADS_1


"Tuan Richard akan kembali.."


* * *


Dokter keluar beberapa jam kemudian dengan dahi penuh keringat.


"Tuan.."


Hades bangun dan terkejut melihat dokter yang sedang menatapnya.


Dia tertidur pulas karena perawat memberikannya obat tidur tadi.


"Ya.."


"Maaf, Tuan.."


"Ada apa?"


"Tuan Richi dalam kondisi kritis."


"Beliau kehilangan banyak darah."


"3 tulang rusuk sebelah kiri patah dan 2 sebelah kanan juga patah."


"Kakinya terluka sangat parah."


"Akan lebih baik jika Tuan Richard dibawa ke rumah sakit yang memadai."


"Apakah Kau tidak bisa melakukannya?"


"Saya.."


"Saya tidak yakin bisa melakukannya, mungkin akan sangat memakan waktu.."


"Dan juga.. Beliau benar-benar dalam kondisi krisis yang setiap saat harus dipantau."


"Kepalanya terbentur sangat keras.."


"Ah..."


"Apakah Dia akan mati?"


"Apakah itu maksudmu?"


BUK!


Hades memukul meja disebelahnya dengan kencang, Gusto terbangun karena mendengar suaranya yang keras.


"Saya.."


"Saya tidak tau Tuan.."


"Saya tidak bisa memprediksi hal seperti itu.." Dokter itu ketakutan melihat sorot mata Hades yang menakutkan.


"Kau harus membuatnya stabil!"


"Itulah pekerjaanmu!"


"Lakukanlah yang terbaik!"


"Aku akan membayarmu berapapun!"


"Lakukan!" Air mata Hades mengalir begitu saja. Dia tidak ingat kapan terakhir kali menangis, namun melihat Richi yang terbaring tidak berdaya seperti itu membuatnya hancur dan lemah.


"Lakukan!"


"Lakukan yang terbaik!"


"Aku mohon.."


"Selamatkan Dia.."


Hades menghapus air matanya yang terus keluar. Dia ingat saat itu, saat kedua orang tuanya tenggelam, Dia bahkan tidak menangis sedikitpun.


"Saya.."


"Saya akan berusaha, Tuan.."


"Sungguh?"


"Kau sungguh akan melakukannya?"


Dokter itu mengangguk. Dia tidak tau mengapa Dia menyanggupinya, namun Dia tidak ingin melihat siapapun lagi meninggal begitu saja didepan matanya.

__ADS_1


Dokter itu kembali menemui perawat yang berada diruangan Richi. Dia memberikan instruksi dengan cepat, kemudian mereka mengangguk bersamaan.


Hades belum bisa menghirup nafas dengan tenang sebelum melihat Richi membuka kedua matanya.


__ADS_2