
Diatas Kapal Perompak, Desember 1499.
Langkah Sofia sedikit lambat sehingga Top berhenti dan menunggunya.
"Kemarilah.." Top menyodorkan tangannya untuk membantu Sofia agar berjalan lebih cepat.
Sinar matahari terasa hangat, Sofia baru bisa melihat dengan jelas pemandangan diatas kapal. Terlihat berbeda dengan saat Dia pertama datang.
Geladak terlihat kosong, hanya terlihat seseorang sedang mengemudikan kapal di anjungan.
Kapal ini sangat besar ternyata, dia tidak begitu memperhatikan saat Bamus menggendongnya seperti karung.
"Nona, bagaimana Saya harus memanggil Anda?" Top menatap Sofia yang sedang menikmati pemandangan.
"Ah... Panggil Aku, Esme."
"Nona Esme? Nama yang sangat cantik sekali."
Sofia hanya tersenyum dan kembali memanjakan matanya dengan melihat lautan.
Kapal terus melaju dengan bantuan angin. Layar mengembang sangat besar, sehingga laju kapal cukup kencang.
Bendera hitam bergambar tengkorak berkibar dengan bebas diatas tiang.
Sofia melihat keluar kapal, warna air terlihat hijau namun sangat jernih. Beberapa ikan yang besar terlihat sedang berenang disebelah kanan kapal.
"Apakah nama ikan besar itu?"
"Itu adalah ikan lumba-lumba." Top menjelaskan.
"Ikan yang sangat besar. Apakah lumba-lumba bisa dimakan?" Sofia semakin penasaran.
"Aku tidak pernah memakannya, tapi jika kau ingin mencoba, kami akan menangkapnya." Ucap Top dengan santai.
"Tidak, tidak. Aku tidak mau menyakitinya."
Top terkikik mendengar jawaban Sofia. Sofia kembali menikmati pemandangan yang langka itu.
"Tuan, dimanakah semua orang?"
"Mereka sedang bekerja, beberapa sedang memancing di bagian belakang. Kau ingin melihatnya?"
"Aku belum pernah memancing, tapi Ayahku sering melakukannya."
"Mari kita pergi." Top dengan santai menggandeng tangan Sofia.
Dibagian belakang geladak terlihat 5 orang yang sedang memegang pancingan. Mereka berteriak dengan keras ketika salah satu temannya mendapatkan ikan yang cukup besar. Ada yang saling mengganggu satu sama lain, terlihat menyenangkan dimata Sofia. Sofia hampir lupa sedang berada diatas kapal Perompak yang berbahaya.
"Kau hanya mendapatkan sebelah sepatu bot usang!" Top menendang salah satu ember.
"Diamlah pak tua! Aku akan mendapatkan bagian lainnya." Mereka tertawa terbahak-bahak.
"Jangan dihiraukan Nona, mereka memang seperti bocah kecil." Top berkata sambil tertawa.
Sofia mulai tertarik dengan pancingan. Dia beberapa kali dia melirik sebuah pancingan yang tergeletak dilantai. Tangannya gatal sekali ingin memegangnya.
Top yang menyadari tatapan mata Sofia dengan cepat mengambil pancingan itu dan menyerahkan padanya.
"Peganglah. Matamu akan keluar jika Kau terus memelototinya." Top tertawa terbahak-bahak.
Sofia dengan wajah sumringah mengambil pancingan itu, dia memutar-mutarnya bagaikan sebuah tongkat sihir.
Top mengambilnya lagi dan mengajarinya cara memegang pancingan. Dia mengajarkan bagaimana cara memasang umpan dikail dan melempar tali pancingannya.
"Tusukan udang ini kekail, coba lakukanlah." Top memberikan contoh pada Sofia.
"Aku tidak ingin menyakitinya." Sofia enggan menusukan udang hidup itu.
"Astaga, ini hanya seekor udang." Top menggelengkan kepalanya.
"Bisakah kita tidak memakai umpan?" Sofia mengangkat alisnya.
"Tentu, tapi kau akan mendapatkan sebelah sepatu bot." Seluruh awak kapal yang mendengar tertawa terbahak-bahak.
"Temukanlah pasangan bot yang kudapatkan Nona." Mereka tertawa lagi.
Wajah Sofia berubah merah, dia sangat malu sekali.
__ADS_1
"Siapakah perempuan berpakaian aneh itu Top?" Seseorang dengan janggut yang panjang bertanya.
"Ah, Nona ini milik Tuan Richi."
"Benarkah? Mengapa wanita secantik dia berada diatas kapal seperti ini?"
"Sebaiknya Kau bertanya pada Kapten Hades, Hobs." Jawab Top dengan ketus.
Pria berjanggut panjang itu bernama Hobs. Hobs berkulit coklat terbakar matahari. Dia menggunakan pakaian tanpa lengan dengan celana gombrong bersaku banyak khas perompak. Rambutnya ikal dan diikat keatas.
"Nona, Kau tampak pucat." Hobs memerhatikan wajah Sofia. "Tapi, Kau terlihat sangat cantik." Hobs mengedipkan sebelah matanya.
Entah mengapa, Sofia tidak lagi merasa takut saat melihat perompak berkedip padanya. Apakah rasa takutnya sudah menghilang begitu saja bagaikan buih dilautan? Entahlah, Sofia juga tidak mengetahuinya.
Ketika sedang asyik melihat orang-orang memancing lagi, seseorang mengejutkannya dengan menepuk pundaknya dengan keras.
"Apa yang Kau lakukan?" Suara Ben membuatnya terlonjak kaget.
"Astaga.. tidak bisakah Kau berkata dari kejauhan? Telingaku berdengung." Sofia mengusap-usap telinganya.
"Ben!! Kau pergi kemana saja kawan?" Top menepuk-nepuk punggung Ben dengan keras.
"Hentikan. Kau yang membawanya kesini tua bangka?"
"Nona Esme terlihat bosan. Aku hanya mengajaknya berkeliling." Top memberikan alasan.
"Nona Esme? Kau berkenalan dengannya? Kau pikir ini kapal Feri? Kau mengajaknya tur? Astaga. Dimana kehormatan mu sebagai perompak?" Ben berkata kesal.
Semua awak kapal tertawa terbahak-bahak mendengar perkataan Ben.
"Astaga kawan, Kau terlihat lucu sekali." Hobs tidak kuat menahan air matanya agar tidak keluar.
"Nona, kawan kita si Ben ini memang seorang pelawak." Mereka tertawa terbahak-bahak lagi.
Sofia yang tidak mengerti hanya mengangguk-angguk saja dan ikut tertawa.
"Hentikan, Richi menunggumu."
Sebuah nama yang dapat menghentikan tawa Sofia. Dia berubah menjadi diam dan tidak berekspresi.
"Aku tidak ingin kesana." Sofia memalingkan wajahnya.
"Astaga, Ben sang pelawak. Kau tidak boleh berkata seperti itu pada wanita." Ucap Top yang mendengar perkataan Ben.
Ben yang memang tidak pernah mengenal siapa ibunya tidak pernah bersikap baik pada wanita manapun. Baginya seorang wanita hanya teman tidur, tidak lebih dari itu.
"Jangan ikut campur tua bangka, ini bukan kemauanku." Ben menggelengkan kepalanya.
"Ah, Nona Esme. Ikutlah dengannya, kami tidak bisa membelamu lagi, maafkan kami." Top terlihat menyesal tidak bisa membantu Sofia.
"Aku tidak menyukainya!" Sanggah Sofia.
"Mengapa?"
"Semua wanita yang bertemu dengannya bahkan tidak ingin pergi."
"Benar! Mereka mengikutinya kemanapun saat Tuan Richi ada didaratan!"
"Mereka mengekor seperti bebek!" Semua orang tertawa terbahak-bahak.
"Pernah saat itu Tuan Richi masih diperjalanan, tapi semua wanita sudah menunggunya disepanjang jalan."
Sofia yang mendengarnya hanya bengong dan tidak percaya. Memang benar Richi mempunyai aura yang berbeda. Dia adalah seorang penakluk wanita. Tapi mereka benar-benar wanita yang malang. Sofia menggelengkan kepalanya.
"Tuan Richi sangat hebat diranjang!" Hobs berkata dengan semangat.
"Betulkah Nona?" Seseorang bertanya padanya.
"Aku tidak tau!" Jawab Sofia ketus.
"Astaga apakah Tuan membuat perempuan cantik seperti Nona kedinginan dan tidak menyentuh Anda?" Top berkata dengan nada prihatin.
"Hentikan kalian semua. Tuan Richi tidak menyentuhnya sedikitpun." Ben menjawab semua pertanyaan itu.
Tampak raut wajah tak percaya terlihat dari semua awak kapal yang mendengarkan.
"Ayo kita pergi." Tambah Ben.
__ADS_1
Sofia dengan enggan mengikuti Ben dari belakang, langkahnya tetap lambat bagaikan seekor keong. Ben yang kesal melihatnya kembali dengan cepat dan menggendongnya seperti karung.
"Astaga! Kau pria brengsek!" Sofia memukul-mukul punggung Ben dengan kencang.
"Hentikan." Sofia berhenti ketika Ben menatapnya.
"Apakah semua yang mereka ucapkan benar?" Sofia penasaran dengan kebenarannya.
"Benar, bahkan lebih gila dari apa yang mereka katakan. Mereka benar-benar gila." Pundak Ben bergidik.
"Segila apa?"
"Beberapa wanita bahkan menunggunya ditempat tidur tanpa sehelai benangpun."
"Astaga.." Sofia menutup mulutnya karena tidak percaya.
Ben melanjutkan perjalanannya, pintu kamar Richi ternyata tidak jauh dari kabin Kapten Hades.
Seperti sebuah Dejavu, Sofia melihat lagi pintu merah maroon dengan kaca berwarna hijau dan sebuah lambang negara yang dia kenal.
"Roseland?" Gumamnya.
"Apa yang Kau ucapkan?"
"Tidak ada."
Ben membuka pintu dengan segera. Terlihat Richi duduk diatas tempat tidur dan langsung berdiri ketika melihat Ben menggendong Sofia.
Ben menurunkan Sofia diatas tempat tidur lalu pergi tanpa mengatakan apapun.
Suasana menjadi hening. Richi menyibukan diri mencari sesuatu. Sofia duduk diam bagaikan boneka pajangan dengan raut wajah tanpa ekspresi.
Tidak lama kemudian Richi memberikan sebuah bungkusan berwarna coklat.
"Untukmu."
Karena Sofia terlihat ragu-ragu membukanya, Richi kembali mengambil bungkusan itu dan merobeknya dengan cepat. Terlihat sebuah gaun berwarna gading yang terlipat rapi. Bahannya lembut seperti sutra.
"Kenakanlah, Hades membelinya untukmu. Aku tidak yakin ukurannya pas atau tidak."
Sofia masih tidak mengerti mengapa Kapten Hades memberinya sebuah gaun. Gaun itu sangat indah, bukan gaun sembarangan yang bisa didapatkan.
"Bagaimana cara Dia mendapatkannya?" Sofia memberanikan diri bertanya.
"Mungkin dia mengambilnya dari salah satu gundik yang Dia temui." Ucap Richi tak peduli.
"Aku tidak mau mengenakannya!" Sofia membuang gaun itu ke lantai.
"Terserah padamu, sejujurnya Aku lebih menyukai mu tanpa pakaian." Richi tertawa.
"Dasar brengsek!" Sofia mengambil lagi gaun yang dia buang.
Tidak ada lagi percakapan dintara mereka. Masing-masing sibuk dengan pikirannya. Dari sudut yang gelap Richi beberapa kali mencuri pandang ke arah Sofia yang membelakanginnya.
Entah mengapa ada perasaan aneh ketika mata mereka bertautan satu sama lain. Richi tidak berani memikirkannya. Dia harus menyelesaikan masalahnya terlebih dahulu sebelum terlalu jauh melangkah.
"Bisakah Kau pergi? Aku akan berganti pakaian."
"Lakukanlah sekarang, Aku bukan seorang lelaki cabul yang suka mengintip.
"Ah, benar. Kau adalah seorang incaran." Sofia tertawa.
"Apa maksudmu?"
"Benar seperti yang mereka katakan, Kau adalah penakluk wanita." Sofia berhenti tertawa.
"Haaa, bukan aku yang merangkak menunggu diatas tempat tidur." Sekarang Richi yang tertawa terbahak-bahak.
"Aku tidak menunggumu! Dan tidak merangkak!"
"Aku tidak merujuk padamu." Richi mengangkat kedua pundaknya.
Terdengar suara langkah kaki mendekat, tidak lama kemudia Ben membuka pintu dan berjalan mendekati Richi lalu membisikkan sesuatu.
"Ah.."
"Kenakanlah, Aku akan kembali dengan cepat."
__ADS_1
Kemudian Richi dan Ben meninggalkan Sofia seorang diri.