Pesona Sang Perompak

Pesona Sang Perompak
Istana Kerajaan


__ADS_3

Kediaman Marquess Jasper, Roseland. Maret 1500.


Sudah beberapa hari Sofia pulang ke Roseland, dan sudah beberapa kali juga Ayahnya, Marquess Jasper menghindarinya.


Sofia mencari Ayahnya kesana-kemari, namun Ayahnya seperti tidak terlihat. Pelayan mengatakan Ayahnya sedang diteras, namun ketika Sofia kesana, Ayahnya menghilang. Terus begitu sampai Sofia lelah.


Aaargh!!!


Sofia melempar kuas yang sedang dipegangnya.


"Astaga..."


"Maafkan Aku.." Dia mengambilnya lagi dan meniupnya.


Seperti biasa, Elie selalu ada dibelakang punggungnya. Sejak Sofia menghilang, Elie tidak pernah beranjak dari sisinya. Elie takut Nona mudanya akan menghilang seperti terakhir kali. Semua orang yang ada di Mansion memakluminya, karena mereka tau betapa sayangnya Elie pada Sofia.


"Ada apa Nona?" Elie menghampiri Sofia di beranda.


"Mengapa Ayah menghindari ku?!"


Elie mengernyitkan keningnya. Dia tidak tau bahwa Tuannya menghindari Nona mudanya.


"Apakah sekarang Ayah membenciku?"


Elie mengerjap tidak percaya, Dia terkejut mendengar hal itu keluar dari mulut Sofia.


"Tidak!"


"Tidak mungkin, Nona..!" Dengan yakin Elie menggelengkan kepalanya.


"Benarkah?"


"Tentu saja!"


"Beliau adalah orang yang paling khawatir ketika Anda menghilang."


"Beliau hampir tidak sadarkan diri karena sangat terkejut Anda menghilang."


Sofia melirik Elie yang terlihat khawatir.


"Maaf..."


"Maafkan Aku mengatakan hal yang tidak masuk akal seperti itu."


"Hanya saja.."


"Ayah benar-benar menghindari ku."


Elie tidak yakin Marquess Jasper menghindari Nona mudanya. Karena sepengetahuan Elie, Beliau selalu datang setiap malam ke kamar Sofia saat Sofia tertidur.


"Hmm.."


"Nona.."


"Ya.."


"Apakah Anda ingin berbicara dengan Beliau?"


"Tentu saja!"


"Nanti malam, pura-pura lah tertidur."


"Pasti Beliau akan datang lagi kekamar Anda." Elie dengan yakin mengatakannya.


"Ayah mengunjungi ku setia malam?"


"Benar, Nona..."


"Baiklah, terimakasih Elie.." Akhirnya Sofia bisa tersenyum.


"Ah, Nona.."


"Hmm.."


"Mengapa Anda tidak melanjutkan melukis Tuan Richi?"


"Ah.."


"Aku mengggalkan lukisan itu di Lilbert.."


"Di Lilbert?"


"Tunggu.."


"Saya ingat.."


Elie berlari keluar dan kembali dengan cepat. Dia membawa sebuah lukisan ditangannya.


"Ini, Nona.."


"Kau membawanya?"


"Tentu.."


"Tidak mungkin Saya meninggalkan karya masterpiece ini dan membuatnya terbengkalai." Elie terkekeh mengingat bagaimana Dia selalu menjaga lukisan itu dengan sangat hati-hati. Karena hanya lukisan itulah penghubung Elie dengan Sofia.


Sofia memasang lukisan itu dikanvas. Dia menatapnya dengan mata berbinar-binar.


Sudah berapa hari Dia tidak melihat Richi. Sudah berapa lama Dia tidak menatap mata biru itu. Sudah berapa lama Dia tidak menggenggam tangan Richi yang besar. Sudah berapa lama Dia tidak mencium bibir Richi yang lembut dan mencium aroma tubuhnya yang memabukkan. Sofia terlarut dalam khayalannya sampai melupakan Elie yang berdiri di sebelahnya.


Sofia merindukannya, setiap hari rasa rindu itu semakin membesar dan semakin membuatnya sakit. Dia tersenyum, membelai wajah Richi yang datar, dan hanya terasa bekas goresan kuasnya. Tidak terasa, air mata menetes lagi, dan lagi. Elie terkejut dan mengusapnya.


"Nona.."


"Anda baik-baik saja?"


"Ah.."


"Disini terlalu dingin."


"Ayo masuk."


Dia membiarkan lukisan itu diberanda, terkena angin dan salju.


* * *


Malam itu seperti yang sudah dikatakan Elie, Sofia pura-pura tidur untuk menunggu kedatangan Ayahnya, namun semakin Dia berpura-pura, semakin Dia tidak bisa menahannya.


Beberapa kali Sofia menguap, Dia menahan kantuknya dengan meminum beberapa gelas kopi saat makan malam. Namun, Dia bukan seseorang yang bisa begadang semalaman. Dan disinilah sekarang, Sofia tertidur lelap dikasur hangatnya, tanpa tahu Ayahnya sudah berada didalam kamarnya.

__ADS_1


"Anakku.."


"Mengapa kau tidak mengunci beranda mu.."


Jasper berjalan kearah pintu yang sedikit terbuka itu dan terkejut melihat sebuah kanvas dan familiar dengan lukisannya.


"Tuan Richard?"


"Mengapa Sofia melukisnya lagi?"


"Ataukah ini lukisan dulu?"


Jasper mengerutkan keningnya.


Dia membawa masuk lukisan itu dan menaruhnya disebelah Sofia.


"Apa yang sebenernya terjadi, Sofi?"


"Apa yang harus Ayah lakukan?"


"Rossie? Tidak bisakah Kau membantu Pria tua ini?"


Jasper mengambil selimut yang hampir terjatuh dan menyelimuti Sofia yang terlihat kedinginan.


Tidak sengaja Jasper melihat bekas luka di perut Sofia.


"Perompak?"


"Itukah Pria yang ingin Kau nikahi?"


"Bukan seorang Duke?"


"Ya Tuhan, Sofia.."


"Apa saja yang sudah Kau lalui di dunia yang kejam itu?"


"Aku sudah gagal, Rossie.." Jasper menutup wajahnya.


* * *


Sinar matahari kembali bersinar, sinarnya membuat tubuh Sofia yang menggigil terasa hangat. Dia menendang selimutnya dan sesuatu terjatuh dengan keras.


BRUK!!


Sofia terkejut dan bangun untuk melihat apa yang terjatuh.


"Lukisan Richi?"


"Siapa yang membawanya masuk?"


"Elie?"


"Tidak mungkin.."


"Hmm.."


"Ayah?"


"Astaga?"


"Astaga!!"


"Astaga!!"


Sofia bangun dari tempat tidur dan berlari menuruni anak tangga dengan cepat tanpa memakai alas kaki.


"Ayah..."


"Ayah.."


"Astaga, Nona.."


"Mana sandal Anda?"


Elie mengambil sandal yang biasa dipakai Sofia.


"Ada apa Nona?"


"Gawat, Elie..!"


"Gawat!"


"Astaga.."


"Astaga.." Sofia berputar-putar tidak karuan.


"Ada apa, Nona.."


"Duduklah dulu.."


Elie mengambil kursi dan memaksa Sofia duduk, lalu menyalakan perapian dengan cepat.


"Mana Ayah, Elie?"


"Tuan?"


"Yaa!!"


"Tuan sudah pergi lebih dulu, Nona.."


"Dan.."


"Anda diminta menyusul saat sudah siang nanti..."


"Kemana?"


"Istana Kerajaan.."


"Aku?"


"Harus kesana?"


Elie mengangguk dengan cepat.


"Ayo Nona, kita sarapan lalu bersiap." Elie membangunkan Sofia dari kursi, lalu menariknya ke meja makan.


Dia melupakan hal penting yang ingin disampaikan pada Ayahnya.


* * *

__ADS_1


Butuh waktu cukup lama untuk merias Sofia. Dia tidak ingin memakai pakaian yang berlebihan, namun Elie terus-menerus memaksanya memakai Gaun.


Elie memilih Gaun terusan berwarna Navy dengan bagian atas yang tertutup. Dia melengkapinya dengan sebuah kalung permata berwarna putih. Kalung itu sangat cantik dipakai oleh Sofia. Elie menggulung rambut Sofia ke atas, sehingga lehernya yang jenjang dapat terlihat jelas.


"Anda dapat membuat semua wanita di Roseland iri, Nona."


"Bahkan, sekarang kulit Anda terlihat lebih berkilau." Elie tidak berpaling sedikitpun dari Sofia.


"Hentikan Elie, kita hanya akan berkunjung ke istana dan kembali dengan cepat."


"Siapa tau kita akan bertemu dengan Tuan Duke, Nona."


"Aku takut menghadapi kenyataan, Elie.."


"Semoga Duke itu tidak lagi tertarik padaku."


"Itu tidak mungkin, Nona!"


"Sudah jelas Tuan Ri.." Elie berhenti dan mengingat pesan Richi padanya.


"Tuan apa?" Sofia melirik padanya.


"Tuan Duke itu pasti terpesona pada Anda, Nona."


"Haha?"


"Aku ingin cuci muka, Elie. Dan lepas kalung ini, kita tidak membutuhkannya." Sofia berlari kekamar mandi, namun Elie dengan cepat menangkap tangannya.


"Tidak, Nona. Tidak."


"Sungguh, Anda terlihat Biiiiasaaaaa saja. Tidak ada yang istimewa." Elie mengangguk dengan yakin.


"Sungguh?"


"Sungguh.."


"Mari kita pergi, Ron sudah menunggu dibawah."


"Baiklah.."


Elie menggandeng Sofia dengan erat, Dia tidak mau Nona mudanya membuat kekacauan lagi. Ron membuka pintu dengan cepat ketika Sofia sudah terlihat di anak tangga.


"Nona, Anda terlihat cantik sekali.." Ron membungkukkan punggungnya.


"ELiiiie!!" Sofia melotot ke arah Elie, namun Elie pura-pura tidak mendengar apapun dan terus berjalan kedalam kereta.


"Astaga.." Sofia menggelengkan kepalanya, sedangkan Ron mengerjapkan matanya karena tidak mengerti.


Perjalanan ke Istana Kerajaan memakan waktu cukup lama, karena jalanan licin oleh salju. Elie membuka sedikit jendela dan melihat kota Roseland yang diselimuti oleh salju. Orang-orang berlalu lalang menggunakan penutup kepala karena salju sudah mulai turun lagi. Matahari sudah diatas kepala namun karena cuaca yang dingin sehingga tidak terasa panas sama sekali.


Jalanan berubah berbelok-belok ketika mulai memasuki kawasan Kerajaan.


Pohon-pohon cemara mulai terlihat, daun-daun membeku berubah menjadi es. Sofia merasa nyaman melihat hamparan salju putih yang menyelimuti hutan.


Terlihat beberapa serigala dan Rusa bertanduk didalam hutan, kelinci putih meloncat-loncat mengejar kupu-kupu yang berwarna biru.


Ron menghentikan kereta kuda dengan cepat karena seekor kucing melintas tiba-tiba.


BRUGH!


Sofia terkejut dan hampir terbentur dinding kereta.


"Nona, Anda baik-baik saja?"


"Ya, Aku baik-baik saja Ron."


"Elie?"


Sofia melihat Elie sedang memijit pinggangnya.


"Kau kenapa?"


"Pinggang Saya terbentur, Nona."


"Tapi tidak apa-apa. Saya membawa balsem."


"Hehehe."


Elie tetap tertawa karena tidak ingin Nona mudanya khawatir.


"Sungguh, Elie?"


Elie mengangguk dengan cepat. Pinggangnya berdenyut terasa sakit sekali.


Tidak terasa, mereka sudah tiba di Istana Kerajaan. Ron menghentikan kereta kuda tepat didepan gerbang.


"Nona, mari.." Elie turun lebih dulu, kemudian membantu Sofia.


Terlihat Elie beberapa kali meringis kesakitan, Sofia tau bahwa sejak tadi Elie menahan sakit.


"Elie.."


"Rawatlah lukamu, Aku akan mencari Ayah sendiri."


"Tapi, Nona.."


"Jangan membantah."


"Oke?"


Elie hanya mengangguk dan masuk kembali kedalam kereta dan melambai ketika Sofia memasuki pintu.


Sebuah perasaan aneh mulai dirasakan oleh Sofia. Dia mengingat kembali momen dimana Dia berjalan seorang diri memasuki istana dan tidak ada seorangpun yang Dia kenal saat Debutante.


Saat itu, Dia sama sekali tidak menikmati apapun. Dia kembali teringat pada pria yang Dia curi ciumannya. Pipinya mulai terasa panas mengingat momen singkat itu.


"Astaga.."


"Apa yang Aku pikirkan?" Sofia menepuk kedua pipinya.


Seorang pria berlari kearahnya dengan cepat.


"Lady Sofia?"


Sofia membalikan badan dan melihat seorang Pria paruh baya yang memanggilnya.


'Apakah Dia Duke tua itu?' Gumam Sofia.


Bulu kuduknya mulai berdiri.

__ADS_1


__ADS_2