Pesona Sang Perompak

Pesona Sang Perompak
Sebuah Percakapan


__ADS_3

Pulau Pace, Februari 1500.


Setelah mengunjungi makam Rossie di kebun mawar, Hades kembali menggendong Sofia ke Mansion utama. Dari kejauhan sudah terlihat Richi berdiri didepan pintu, Dia menyilangkan kedua tangannya diatas dada sambil mengetuk-ngetuk kakinya ke tanah.


"Astaga, lihat Dia." Ucap Hades dengan tenang.


Sofia mendongakkan kepalanya, lalu melihat ke arah Richi.


"Apa yang dilakukannya?" Tanya Sofia.


"Tentu saja menunggu kedatangan Tuan Putri."


"Hah?"


"Siapa yang Kau maksud?"


"Tentu saja Kau."


"Omong kosong." Gumam Sofia.


Hades tertawa melihat ekspresi cemberut Sofia, lalu Dia berhenti berjalan dan menatap Sofia.


"Jangan mengatakan apapun padanya."


"Anggap saja ini rahasia kecil kita." Hades mengedipkan sebelah matanya. Kemudian Dia kembali berjalan.


"Ya.." Gumam Sofia pelan.


Mereka telah tiba didepan Mansion. Richi berjalan menghampiri Hades dengan cepat.


"Urusanmu sudah selesai?" Tanyanya dengan raut wajah kesal.


"Tentu."


"Ambilah."


Hades menyerahkan Sofia ke tangan Richi.


"Hei!"


"Turunkan Aku!"


Hades pura-pura tidak mendengar Sofia, Dia berjalan lurus ke dalam Mansion sambil melambaikan tangannya.


"Brengsek!"


"Turunkan Aku!" Sofia menatap kesal Richi.


"Kau tidak menolak digendong Dia, namun tidak mau digendong olehku?" Richi menjawab dengan kesal.


"Itu.."


"Itu karena Dia ada keperluan denganku." Sofia mengalihkan pandangannya.


Wajah Richi terlalu dekat dengan wajahnya.


"Aku akan membawamu ke kamar."


"Jangan menolak, Aku tidak akan menuruti keinginan mu."


Sofia menghembuskan nafas dengan kesal. Dia tidak berbicara sepatah katapun.


"Anak baik.." Richi tersenyum puas.


"Ah..."


"Apa yang Kau bicarakan dengannya?" Richi menatap Sofia dengan lembut.


Sofia tidak menjawab.


"Esme, apa yang Kau bicarakan dengannya?"


"Tidak ada.."


"Omong kosong."


"Katakanlah.."


"Tidak ada hubungannya denganmu."


Richi menatap Sofia dengan pandangan yang tidak dapat diartikan. Sofia pura-pura tidak melihatnya.


"Sesulit itukah?" Gumam Richi.


"Apa?"


"Tidak ada."


Sofia bingung dengan perilaku Richi yang tiba-tiba berubah. Richi tidak lagi menatapnya, Dia hanya berjalan lurus ke arah Paviliun Rose.


Elie sedang duduk didepan kamar, Dia berjalan ke arah Richi begitu melihat Sofia sudah kembali.


"Nona..."


"Elie.."


"Kau menunggu?"


"Tentu saja!"


Elie dengan cepat membuka pintu dan berjalan kearah tempat tidur, lalu menyandarkan beberapa bantal agar Sofia bisa bersandar.


Richi menurunkan Sofia diatas tempat tidur, lalu pergi keluar tanpa mengucapkan sepatah katapun.


"Tuan Richi.."


"Terimakasih.." Ucap Elie.


Richi hanya menganggukkan kepala lalu berjalan keluar dan menutup pintu.


CLACK


"Elie!"


"Jangan terlalu baik padanya!" Sofia merenggut kesal.


"Mengapa Nona?"


"Dia itu seorang Perompak!"


"Ah.." Elie mencoba tersenyum, Dia tidak bisa mengatakan kebenarannya karena telah berjanji pada Richi.


"Apakah luka Anda tidak sakit?" Elie melihat perban di perut Sofia.


"Aku sudah baik-baik saja Elie, Joy memberikanku obat terbaik, sehingga luka ku cepat kering." Sofia tersenyum senang.


"Syukurlah..."


"Saya khawatir Nona akan kesakitan karena digendong seperti itu tadi."


"Tidak sama sekali."


"Aku harus banyak berjalan, sekujur tubuhku terasa kaku.


"Pelan-pelan saja Nona..."


"Namun, Saya belum mengetahui mengapa Anda bisa mengalami hal seperti ini?"

__ADS_1


"Luka tembak ini?"


"Ya.." Ekspresi Elie terlihat sedih.


"Gerald, ******** itu ingin menembak Richi, namun Aku menghalanginya."


"Gerald? Tuan tanah Lilbert itu?"


"Ya.. ******** itu.."


"Ya Tuhan, Nona.."


"Mengapa Anda melakukan hal berbahaya seperti itu?"


"Aku tidak tau, rasanya tubuhku seperti bergerak sendiri."


"Apakah Anda takut Tuan Richi terluka?"


Sofia tidak menjawab pertanyaan Elie. Dia menatap langit-langit kamar dan memikirkan jawabannya.


"Nona..."


"Nona??"


"Ah.."


"Maafkan Aku.."


"Aku tidak tau, yang jelas saat itu.. hanya itulah yang bisa Aku lakukan.." Sofia menautkan seluruh jarinya.


"Nona.."


"Apakah.."


"Apakah Anda menyukai Tuan Richi?"


"Suka?"


"Pada Perompak brengsek seperti Dia?"


"Ah Nona.."


"Itu..."


"Apa?" Sofia menatap Elie erat-erat.


"Tidak, tidak ada hehehe.."


"Kau terlihat aneh Elie.." Sofia mengernyitkan dahinya.


"Sungguh?"


"Ya.."


"Tidak Nona, perasaan Nona saja.." Elie mencoba tersenyum senormal mungkin.


"Ah.."


"Apa yang Kau lakukan saat Aku tidak ada?"


"Saya menunggu Anda, dan mengobrol dengan Chris."


"Chris? Pelayan Madam Joy?"


"Ya.."


"Apa yang kalian bicarakan?"


"Hanya bertanya tentang Pulau ini Nona.."


"Benarkah?"


"Ya.."


"Tatapan itu..." Elie menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Cepat!!"


"Jadi.. nama Pulau ini Pace yang berarti Damai. Pulau ini milik Tuan Hades, Nona."


"Sungguh?"


"Ya.."


"Awalnya Saya tidak percaya.."


"Namun Chris mengatakan bahwa Tuan Hades mempunyai sertifikat tanah ini di ruang kerjanya."


"Luar biasa."


"Dipulau ini ada suatu tempat yang tidak diperbolehkan dikunjungi oleh siapapun."


"Tempat apakah itu?"


"Ladang Rose.."


"Astaga.." Sofia menutup mulutnya.


"Ada apa Nona?"


"Tidak, tidak.."


"Lanjutkan."


"Ya.."


"Dan semua orang yang tinggal di Pulau ini adalah keluarga awak Kapal Hades. Bukankah itu luar biasa Nona? Perompak Hades tinggal disini!"


"Itu luar biasa Elie.."


"Dan Chris bilang, Kapten Hades tidak pernah menawan satupun perempuan. Kapal Hades tidak pernah melakukan kejahatan."


"Itulah yang dikatakan Chris.."


"Betulkah Nona?"


Sofia hanya tersenyum mendengar cerita Elie, separuh ceritanya memang benar, Kawanan Hades tidak jahat. Itulah yang ada dipikiran Sofia.


"Ah Nona.."


"Tuan Richi mengatakan bahwa Kita akan pulang besok atau lusa.."


"Menunggu sampai luka Anda benar-benar sembuh."


"Benarkah?"


"Benar Nona."


"Baik-baiklah pada Tuan Richi, Nona."


"Aku akan baik padanya jika Dia meminta maaf padaku!"


"Sungguh?"


"Ya!!"


"Aku tidak pernah menarik kembali kata-kata ku."

__ADS_1


"Syukurlah.." Elie tersenyum puas.


"Apakah Kau sesenang itu?"


"Sangat Nona!"


"Saya sangat senang!"


"Elie.."


"Ya Nona.."


"Bercerminlah..."


"Mengapa?"


"Kau seperti orang gila.." Sofia tertawa terbahak-bahak.


"Astaga Nona.."


"Anda membuat saya malu." Elie menutup seluruh wajahnya.


* * *


Richi berjalan dengan kesal. Dia menendang apapun yang ada didepannya.


AHK!!


"Apakah Dia membenciku?"


"Sungguh?"


"Bahkan Dia lebih memilih menikah dengan seorang Duke Tua dari pada tinggal bersamaku."


"Apakah Aku seburuk itu?" Richi mengacak-acak rambutnya.


"Seburuk itu." Jawab Hades dari arah belakang.


"Sial!" Richi mengumpat dengan kesal.


"Apa rencanamu sekarang?"


Richi diam tidak menjawab, Dia sungguh tidak tau harus bagaimana. Otaknya terasa beku jika sudah menyangkut Sofia.


"Hei Kawan!"


"Kau terlihat kacau.." Hades tertawa melihat Richi yang berantakan.


"Haruskah Kau mengatakannya?!" Richi menatap Hades dengan kesal.


"Harus!"


"Itu kenyataan kawan.." Hades masih tertawa.


"Tidak bisakah Kau membantuku?"Raut wajah Richi berubah putus asa.


"Tidak biasanya." Hades berhenti tertawa.


"Apakah Kau yakin?" Dia memandang Richi dengan serius.


"Aku.."


"Aku tidak tau.."


"Tidak tau?"


"Apa maksudmu?"


"Aku tidak bisa menyingkirkannya dari pikiranku."


"Mungkin Kau hanya penasaran." Jawab Hades dingin.


"Penasaran?"


"Ya.."


"Karena Dia tidak seperti wanita-wanita yang Kau temui sebelumnya."


"Apa Kau berpikir seperti itu?"


"Aku hanya mengatakannya."


"Aku mencoba untuk menjauh darinya, bahkan sejak masih di Kapal."


"Namun.."


"Semakin Aku mencoba, semakin Aku tidak bisa." Richi kembali mengacak-acak rambutnya.


"Aku tidak bisa membantumu."


"Kau..!" Richi memandang Hades kesal.


"Kau harus melakukannya sendiri."


"Bagaimana?"


"Bagaimana melakukannya?"


"Astaga!"


"Dia bukan wanita pertama oke?"


"Mengapa Kau seperti ini?"


"Aku tidak tau!"


"Aku tidak bisa menghadapinya."


"Dia, Dia terlalu keras kepala! Menyebalkan! Tidak pernah mendengarkan ku!"


Hades tertawa terbahak-bahak mendengar cerita Richi. Dia mengusap air matanya yang hampir keluar.


"Astaga.."


"Minta maaflah padanya."


"Aku sudah.."


"Sudah?"


"Ya.."


"Didepannya?"


"Didepannya."


"Sungguh?"


"Aku melakukannya beberapa kali." Jawab Richi.


"Saat dia bangun?"


"Saat dia tidur." Gumam Richi.


"Oh Man!!"


"Terlalu!"

__ADS_1


"Dimana Kau taruh pikiranmu?"


"Lakukan lagi saat dia membuka matanya Oke!" Hades mendengus dengan kesal lalu pergi meninggalkan Richi yang masih menatapnya penuh harap.


__ADS_2