
"Siapa itu? Apa yang kau inginkan hah! " teriak seorang pria yang terikat di kursi dengan mata tertutup.
Sraak.. sreek.. Sraak.. sreek..
Suara yang membuat merinding memenuhi ruangan yang awalnya sangat sunyi, semakin lama suara gesekan itu semakin mendekati pria yang mulai merasakan panas dingin. Perasaan nya sungguh kacau dengan rasa takut yang di sembunyikan sebisa mungkin, ketika suara itu berhenti beberapa saat memberikan sensasi lega.
"Apa aku selamat? Syuku... " gumam pria itu terhenti karena suara selanjutnya yang berbeda.
Tang.. tang.. Dug.. Dug...
Suara nyaring dengan suara pukulan itu seakan mengitari dirinya dengan riangnya, membuat keringat biji jagung mengalir melewati kain pengikat mata nya. Tubuhnya seakan dengan cepat bereaksi dengan nyanyian luar biasa yang sangat mengguncang adrenalin nya sebagai seorang pria, sedangkan pemain nya masih setia memberikan terapi emosi pada mangsa nya.
*Ingatkan kamu pada mayat wanita di dalam kontrakan bunga kota Y? Anggaplah ini karma mu, selamat menikmati surga dunia." bisik seseorang dengan nada yang menakutkan.
Suara bisikan itu mampu mencubit jantung nya dengan sebuah kenangan lama yang sudah di arsipkan sangat dalam di otaknya, bukan hanya bulu yang meremang tapi darahnya seakan semakin panas dingin. Tubuhnya kian bergetar tidak lagi mampu ditahan hingga kursi tempat nya terikat memberikan bunyi decitan, suara pukulan dengan gesekan sudah tergantikan dengan decitan suara kursi.
"Wah rupanya keculunan mu sudah kembali, bagaimana rasanya terikat tanpa jalan keluar. Bukankah rintihan Dia sangat menyenangkan bagi mu? " ucap orang itu lagi yang menikmati rasa takut dari pemuda di hadapannya.
"Siii...aaa... paaa.. k... au...? " ucap Hendri dengan gugup.
"Akulah waktu yang kau campakkan, ingatlah jeritan Dia yang kesakitan dan permintaan tolong nya! Bukankah saat itu kau menjadi buta, tuli dan bisu? Apa sebaiknya ku kabulkan saja keputusan mu dulu?!" ucap orang itu seakan bertanya pada dirinya.
Hening dengan getaran kursi yang semakin kuat, Hendri terlihat susah payah menelah saliva nya mendengar ocehan orang di sekitar nya. Setiap ucapan dengan pengembalian memori yang membuat secuil rasa bersalah nya timbul di saat keadaanya tidak baik, mungkin benar kata pepatah jika manusia lalai terhadap dosa nya dan tersadar di saat karma tengah menghampiri kehidupan mereka.
Srree3t....auuw (satu goresan di samping sisi mata kanannya kini mengalirkan cairan merah dengan terlepas nya kain penutup matanya)
__ADS_1
"Sial@n! Apa mau mu hah!" seru Hendri seakan mendapatkan keberanian setelah penutup mata nya terbuka.
Terlihat seseorang dengan pakaian serba hitam dengan kepala tertutup tudung tengah membelakangi nya berdiri di depan sebuah meja dengan jarak empat meter, ruangan yang terlihat cukup tua dengan berbagai tumpukan kardus yang seperti tidak bernilai. Terlihat samar ada sebuah tulisan dari salah satu kardus yang terkena sorotan lampu di atas nya dan nama itu berhasil membuat kedua bola mata nya membulat sempurna.
"Yah kau tidak salah melihat itu, aku sendiri yang menyiapkan untukmu." ucap orang itu dengan membalikkan badannya.
Kardus dengan ukuran sedang itu jelas tercantum nama Hendri Pradata, itu adalah nama nya dan sudah jelas pasti akan terjadi sesuatu yang cukup menyetak nya dengan sebuah kenangan sama hanya berbeda posisi nya.
"Kaa..u..." ucap Hendri tercekat karena orang di depan sana memakai topeng yang menutupi seluruh wajahnya dengan sarung tangan yang sudah ada di kedua tangannya.
"Mari mulai perhitungannya." ucap orang itu mengambil sesuatu di dalam koper sedang nya.
Satu benda berkilau dengan ujung runcing menjadi pilihan pertama nya, langkah nya terlihat pasti dengan suara penekanan yang membuat Hendri tercekat dalam seribu bahasa. Satu langkah terakhir hingga menyisakan jarak lima senti, orang bertopeng itu membungkuk mensejajarkan wajahnya dengan wajah Hendri.
"Aku rasa di mulai dari ini dulu." gumam pria bertopeng dengan menyentuh telinga Hendri yang langsung di sambut gelengan kepala.
Sreeet... Sreeet... Aaaarrgghhh....
"Shuut! Diamlah, ini masih permulaan." bisik pria bertopeng yang baru saja mengambil kedua telinga Hendri.
"Perhitungan selanjutnya." gumam pria bertopeng itu kembali ke meja dan mengganti benda di tangannya dengan sesuatu yang terlihat tumpul namun jika terkena panas sudah pasti akan memberikan kejutan luar biasa.
Braaak... braaak..
Dengan santai nya satu kursi yang tak terpakai kini telah berubah menjadi tumpukan kayu dengan sedikit siraman alcohol, sebatang korek kayu dinyalakan hingga menjadi api unggun dadakan. Ruangan yang awal nya redup kini menjadi lebih terang namun bukan kehangatan yang di dapatkan melainkan rasa ngeri ketika benda tumpul itu di panaskan, meninggalkan suhu hingga beberapa saat hingga pria bertopeng itu terlihat bosan menunggu.
__ADS_1
"Maaf terlalu lama, langkahi saja perhitungan kedua dan berakhir pada hitungan ketiga." ucap pria bertopeng dengan nada kecewa.
Bagaimana perasaan Hendri setelah kehilangan kedua telinga nya, kehidupan nya sudah berakhir dengan setiap ucapan pria bertopeng yang membuat nya semakin merasa betapa kejam nya dirinya dulu. Sebuah senyuman manis yang tulus di balaskan dengan linangan air mata dan darah, seorang sahabat yang mau menerima kekurangan dirinya di saat dunia menelantarkan dan menghina nya.
"Maaf Asma, aku bukan sahabat sejati ataupun teman baik mu." gumam Hendri dengan pasrah apapun yang akan terjadi.
Sedikit tersentak ketika sebuah tangan telah mencengkram kuat lehernya, nafasnya terasa semakin tersangkut hingga lelehan cairan bening lolos begitu saja. Mata nya tak mampu lagi menahan rasa sakit luar dan dalam, namun semua itu hanya berlangsung sesaat hingga dua tangan memaksa mulutnya terbuka.
Sreeet... (satu lagi anggota tubuhnya yang hilang membuat Hendri lebih pasrah)
"Aah siap, sepertinya kau anak penurut. Jadi aku akan memberikan diskon special, tapi perhitungan tidak bisa di tawar." ucap pria bertopeng mengambil benda tumpul sepanjang satu meter yang sudah siap untuk di gunakan.
Jleeb.. Jleeb... Aaarllllh... (dua sentuhan terakhir dengan teriakan tidak jelas Hendri mengakhiri operasi pria bertopeng)
Dengan langkah terakhir pria topeng itu meninggalkan Hendri sendirian dengan keadaan yang sangat mengerikan, diskon yang di maksud pria bertopeng adalah menikmati setiap rasa sakit di tubuhnya dalam kesendirian dengan kondisinya yang masih terikat kuat.
.................... ...
Tok... tok.. tok..
"Selamat pagi pak." ucap seorang pria dengan dua cangkir kopi di atas nampan.
"Masuk!" jawab seseorang dari dalam.
"Kopi pak biar semangat, silahkan di coba." ucap pria itu meletakkan satu cangkir kopi di depan meja bossnya.
__ADS_1
"Thanks.Tolong ambilkan paket yang ada di ruangan depan, aku baru mendapatkan notifikasi ada paket untukku. " ucap boss nya dengan mencicipi kopi di depannya.