
Tangan AK menggenggam tangan Ferro. Dengan mendekati wajah kembarannya itu, AK membisikkan sesuatu. Ashley hanya bisa menatap tanpa mendengar apa yang AK bisikkan.
"Jagalah mereka. Dan Icha akan ku bawa." tukas AK setelah kembali berdiri di samping Ashley yang masih terduduk di tempat yang sama.
"Tidak bisakah Icha bersamaku?" tanya Ashley dengan gusar.
AK hanya diam dan mengambil ponsel pintarnya dari saku celana. Nada sambungan terdengar, hingga suara seseorang terdengar dari seberang. "Tunggu share lock ku! Pastikan semua seperti rencanaku."
"Tuan AK!" panggil Ashley.
AK menatap Ashley dengan satu alis terangkat. Satu bantahan saja, mungkin dirinya akan mengambil jalan pintas. Ashley merasa tertekan dengan tatapan intimidasi AK, dan memilih menghirup udara sebanyak mungkin. "Anda bisa membawa Icha. Tolong jaga dia. Aku menganggap gadis itu keluarga ku."
"Semua tergantung padamu! Pergilah yang jauh, pastikan bajing@n itu tidak menemukan kalian. Aku kirimkan seseorang untuk membantumu mengurus semuanya, sebelum itu. Mari kita temui saudara kembarmu dan gadis itu." tukas AK menyodorkan tangan agar Ashley berjalan terlebih dahulu.
Ashley mengalah dan bangun dari tempatnya. Melangkahkan kaki menuju tangga sembari menekan satu tombol batu di dinding. Perlahan pintu bawah tanah terbuka dengan sendirinya. Ashley dan AK berjalan keluar dari ruangan bawah tanah menuju pintu rumah belakang.
__ADS_1
Tangan Ashley memutar knop pintu berlawanan arah jarum jam, suara deritan pintu terbuka perlahan terdengar. "Silahkan masuk."
AK hanya mengikuti setiap langkah Ashley dengan waspada namun tenang. Keduanya beralih ke dalam rumah menuju ke ruangan khusus. Terlihat Bryant tengah mengotak-atik mesin komputer, wajah pria itu terlihat panik. "Mau ku bantu?"
Bryant berbalik menatap siapa yang menawarkan bantuan. Pria di belakang Ashley terlihat sangat tenang dengan tangan di saku celana. "Silahkan."
AK segera menghampiri komputer di depan Bryant, sedangkan Bryant hanya bergeser mundur sembari memperhatikan bagaimana AK mulai fokus dengan alat-alat elektronik. Tangan bersarung itu sangatlah cekatan. Dalam waktu kurang dari 30 menit, tangan AK sudah berhenti melakukan pekerjaan yang membuat Bryant hampir putus asa. "Lain kali, lawan mereka dan jangan biarkan menyerang terlalu sering. Bisa aku pasang alat pelindung? Atau masih ingin bermain?"
"Apa maksud anda?" tanya Bryant masih tidak paham.
Mata Bryant membulat, ternyata maksud AK adalah ulah para hacker dari pihak ka Sam. Spontan Bryant menggaruk kepalanya yang tak gatal. "Alat pelindung seperti apa yang anda maksud? Selama ini sistem keamanan masih bisa bertahan."
"Serangan sekali lagi pasti semua datamu hilang. Mau mencoba?" AK menarik satu kursi dan duduk didepan komputer yang menyala.
Tanpa menunggu jawaban. Tangan AK mulai bekerja, menari diatas keyboard dengan kecepatan diatas rata-rata. Angka bertambah huruf dengan berbagai sandi menjadi deretan rumus di layar komputer, selama dua menit berakhir. Komputer langsung padam total, bahkan semua lampu dan alat dengan aliran listrik ikut mati total.
__ADS_1
"Cepat pulihkan tuan! Mereka membutuhkan alat-alat itu!" Ashley panik ketika pemadaman terjadi begitu saja.
AK masih tetap tenang dan mengangkat satu jarinya agar Ashley diam. Wajah itu hanya memainkan jemarinya dengan santai tanpa beban kehidupan. Senyuman smirk tersungging, membuat Bryant bergidik ngeri. Kepanikan Ashley tak mempengaruhi AK.
Lima menit berlalu….
Triiing……
Suara komputer kembali menyala, seperti sistem dimuat ulang. AK kembali melanjutkan pelacakan. Selama satu menit, komputer kembali ke layar utama. AK berdiri dan mendorong kursi ke belakang. "Dimana Icha?"
"Di kamar pintu kuning, keluar dari ruangan ini dan belok kiri. Maaf…" ucap Ashley menahan rasa malu, tentunya dirinya malu karena ternyata kemampuan AK jauh lebih baik Bryant.
"It's ok. Aku tidak akan membunuh orang tak bersalah. Mereka keluarga ku. Persiapkan diri kalian untuk langkah selanjutnya. Aku pergi bersama gadis itu." tukas AK melanjutkan perjalanan meninggalkan si kembar sang pembawa berita baru.
Sedangkan di tempat lain, satu tangan berlumuran darah masih saja menggenggam sebuah foto dengan eratnya. Foto terakhir yang menjadi titik balik kehidupannya. Ruangan gelap dengan satu cahaya lilin menambahkan kesan suram si penghuni kamar. "Apa salahku padamu? Apakah memilikimu suatu dosa? Aku hanya ingin kamu menjadi milikku! Hanya milikku."
__ADS_1