
Semoga semua membaik, aku ingin hidup tenang tanpa rasa sesak ini.~ batin sang wanita merebahkan tubuhnya diatas lembutnya kasur.
Mata tak sungkan menyambut mimpi, dalam keadaan lelah fisik dan fikiran. Wanita itu terlelap, tapi tidak dengan kepanikan seseorang di rumah lain dan tempat lain. Wanita itu sibuk berlari menyusuri setiap tempat dan lorong. "Aku kecolongan. Ampuuun. Bagaimana ini?"
Dengan tergesa-gesa wanita itu mencari ponselnya didalam kamar, mencari nomer tuannya. Mencoba menghubungi nomer yang selalu aktif, tapi nyatanya gagal. Terpaksa menghubungi nomer yang hanya digunakan saat darurat. Nada sambungan telepon terdengar, terdengar helaan nafas lega dari wanita itu. Panggilan terjawab dan tanpa menunggu salam. "Tuan, Mia hilang bersama Desi dan Yun. Sepertinya wanita itu orang dalam."
"Maaf tuan AK masih istirahat. Nanti aku sampaikan." jawab dari seberang.
Elsa menatap layar, benar nomer itu nomer tuannya. "Jangan tutup! Berikan pada tuan AK dan bilang emergency."
"Tapi…"
"Apa kamu tul!? Emergency!" Elsa menaikkan oktaf suaranya karena yang menjawab panggilannya terkesan tidak paham arti emergency.
"Maaf. Tunggu sebentar."
Elsa membuat panggilan loudspeaker dan menyiapkan beberapa peralatan yang seharusnya. Sembari menunggu AK, Elsa memeriksa beberapa dokumen yang dibutuhkan. "Haloo, Elsa."
Mendengar suara AK, Elsa langsung menyambar ponselnya dan mematikan loudspeaker. "Mia dibawa kabur Desi."
"What? Bagaimana bisa? Apa yang ku lewatkan." tukas AK dengan nada terkejut.
"Sejak anda pergi, siangnya Desi keluar rumah selama berjam-jam. Malam hari baru ku lihat wajahnya lagi. Tapi ada yang aneh. Sikapnya tidak sepolos saat bertemu pertama kali. Ada jiwa liar dari tatapan matanya. Ada topeng dibalik kepolosannya.Dan semalam ku fikir anda yang pulang, dan say tidak memeriksa. Pagi ini saya mencari ke seluruh ruangan, tapi tak menemukan siapapun." jelas Elsa dengan rinci.
AK berfikir sejenak. Memikirkan setiap rangkaian kejadian demi kejadian. "Pergilah ke tempat seharusnya. Lakukan seperti rencana awal. Jangan fikirkan kami! Kamu tahu mana yang lebih penting."
"Baik tuan. Saya akan bersiap, semoga sukses untuk kita." jawab Elsa dan mematikan telepon.
Sebelum melanjutkan rencananya. Elsa membuka tempat kartu dan mematahkan kartu miliknya dan membiarkan tergeletak di bawah lantai. Dari dalam dompetnya, mengambil satu kartu yang sudah lama tak terpakai. Memasangnya ke ponsel dan kembali melanjutkan persiapan. Berbeda dengan AK, tubuhnya terasa lelah.
"Tuan?" panggil Icha.
Tangan AK menghentikan pergerakan icha. "Biarkan aku sendiri. Jangan pergi dari kamar!"
__ADS_1
AK berjalan menuju pintu kamar. Kepergian AK, membuat Icha termenung. Ada sesuatu yang menyerang ingatannya. Satu nama terdengar tak asing di telinganya. Tapi siapa? Dan kenapa nama itu familiar? Apa pernah bertemu? Atau mengenal tapi terlupakan?
"Aish. Siapa itu Desi? Kenapa kepalaku berputar, apa yang salah dengan diriku. Sakiiit…." Icha memegang kepala dan tubuhnya ambruk.
Mata terasa berat, dan kegelapan mulai menyapa. Icha kembali tak sadarkan diri tanpa seorang pun tahu. Dalam kegelapan suara sayup-sayup terdengar, percakapan dua orang dengan nada saling menekan. Percakapan itu sangat cepat. Akan tetapi satu nama panggilan, membuat Icha mencari sosok pemilik nama itu.
"Aku tidak mau tahu. Bagaimana caranya agar jantungnya untuk putriku! Apa kamu dengar aku, Desi?" seru seorang pria dengan bentakan keras.
Wanita dengan jas putih berkacamata, mendengus sebal. Mengambil tumpukan map di meja dan memukulkan ke lengan pria didepannya. "Kamu fikir semudah itu hah! Sudah ku ingatkan sejak awal, rumah praktik ku tak memiliki peralatan medis yang cukup! Apa kamu pikun? Atur saja operasi dirumah sakit umum."
"Kamu yang pikun. Mana mungkin rumah sakit membiarkan korban kasus bunuh diri di ambil jantungnya. Cepat cari jalan keluar!" titah si pria dengan geram.
Helaan nafas wanita itu sangat berat. Sejenak hanya keheningan. "Kita lakukan dirumah sakit dengan menyuap pemimpin rumah sakit. Setahuku, rumah sakit tempat pemeriksaan mayat kasus Asma sama tempatnya. Urus semua dan aku lakukan operasinya."
"Okay! Segera, pastikan kamu buat seperti keinginan ku." ancam si pria dan berjalan meninggal si wanita.
"Kenapa kamu segila ini? Obsesi mu diluar batas dan putrimu ikut menjadi korban. Sudahlah, aku siapkan saja laporannya." gumam si wanita dan menatap ke arah brankar, dimana Icha terbaring dalam keadaan koma.
Puk
Puk
Puk
Icha masih terjebak dalam memori ingatannya. Dengan sigap AK mengangkat tubuh Icha, membaringkan ke ranjang. Tangan AK memeriksa kening, dan juga leher. "Demam. Sebaiknya aku kompres dan panggil dokter dari pihak hotel."
Segera AK menelpon pihak hotel dan meminta seorang dokter untuk datang ke kamar pesanannya. Sembari menunggu, AK mengompres kening Icha dengan mangkuk tempat buah dan selembar handuk kecil.
Tok!
Tok!
Tok!
__ADS_1
"Pagi tuan, saya membawa dokter." lapor seseorang dari luar.
AK melepaskan handuk dari kening Icha dan berjalan untuk membukakan pintu.
Ceklek…
"Silahkan. Bisa tolong pesankan pakaian untuk kami. Kebetulan kami liburan tanpa rencana." tukas AK sembari mengambil dompet dan mengeluarkan sebuah kartu ATM.
Pelayan hotel mengangguk, dan menatap bagaimana postur tubuh AK. Tentu saja agar tidak salah pilih. "Bagaimana dengan istri tuan? Maaf, saya tidak tahu ukurannya."
"Beli saja seperti ukuranmu. Pasti sama, tapi pilih warna hitam saja.'' jawab AK.
"Baik. Di tunggu tiga puluh menit. Saya permisi, mari tuan dan dokter." pamit pelayan hotel dan membalikkan tubuhnya.
AK membuka pintu kamar lebar dan membiarkan dokter masuk ke kamar terlebih dahulu. Setelah menutup pintu, AK berbalik dan melihat bagaimana dokter memeriksa Icha. Wajah dokter nampak cemas dan bingung. Sepertinya ada yang tidak beres. AK menghampiri sang dokter. "Ada apa? Apa semua baik?"
"Maaf tuan. Sebaiknya bawa Icha ke rumah sakit, sepertinya terlalu banyak shock terapi yang di alami dalam waktu berdekatan. Dan dari diagnosis, jantungnya bermasalah. Apakah istri tuan melakukan suatu operasi?" jelas dokter dengan serius.
"Yah, istriku beberapa tahun lalu melakukan operasi pencangkokan jantung. Dan sepertinya akhir-akhir ini tertekan dengan pekerjaan yang menumpuk. Katakan rumah sakit mana? Biar aku urus sekarang." jawab AK dengan sikap khawatir seperti seorang suami sungguhan.
"Rumah sakit umum yang terdekat bagus. Alat medisnya juga lengkap, beberapa pemeriksaan bisa di langsungkan tanpa berpindah rumah sakit." ucap dokter memberikan saran.
"Terimakasih. Akan ku bawa istriku kerumah sakit yang anda sarankan." jawab AK dengan menghampiri Icha yang masih terbaring dengan wajah pucat.
Dokter bangun dari tempatnya. "Saya permisi dulu, jangan telat membawa istri anda kerumah sakit tuan. Waktunya terlalu singkat."
Dokter berpamitan dan berjalan melangkahkan kakinya menuju pintu kamar, tapi tak menunggu langkah ke empat. Pukulan keras terasa menghantam belakang kepalanya. Dengan menahan rasa sakit dan pusing, dokter itu memutar tubuhnya. Tatapan mata AK tajam dan langsung memberikan satu tamparan keras.
Bruug…..
Tubuh dokter itu ambruk dan AK bergegas mengangkatnya. Membawa tubuh dokter itu ke dalam kamar mandi, dengan cekatan tubuh dokter terlilit sebuah tali tambang. Sebuah keberuntungan karena beberapa barang yang dibutuhkan AK tersedia di dalam kamar mandi. "Siapa yang mengirim mu? Apa aku harus bermain?"
AK memilih keluar meninggalkan dokter yang terikat di dalam kamar mandi dan memeriksa isi tas sang dokter yang terjatuh ke lantai bersamaan tubuhnya saat ambruk. Dengan membongkar semua isi tas, AK menemukan sebuah amplop coklat. Terlalu tipis jika berisi uang tunai. AK menyobek dan mengambil isinya.
__ADS_1
"Ini?"