Plan Of Masked Man

Plan Of Masked Man
Rekan?


__ADS_3

Ketenangan AK dengan mengingat masa lalu. Berbeda dengan satu sosok pria berkumis, dimana kini tubuhnya terikat di atas tiang. Wajah yang babak belur dan darah segar masih terlihat mengalir di sudut bibirnya. Mata terpejam dengan suhu ruangan semakin meningkat, setelah mengalami penyerangan bertubi-tubi. Tubuh pria berkumis ambruk tak sadarkan diri, hawa panas perlahan menjalar ke seluruh ruangan.


"Eeeuugghh. Panaas."


Matanya perlahan terbuka, meskipun terasa perih dan berat. Tetap saja, pria berkumis memaksakan diri untuk membuka mata dan pemandangan yang menyambutnya, membuat matanya terbuka lebar.


"Sial@n! Berani sekali dia membangkang. Lihat saja nanti apa pembalasan dari ku, sekarang aku harus bisa bebas dari sini." ucap geram pria berkumis dan mencoba membuka tapi yang mengikat kedua tangannya di tiang.


Gesekan demi gesekan bukan melonggarkan ikatan, justru mempererat jeratan. Dengan mengayunkan tubuhnya, setelah kedua tangannya berpegang pada tiang. Pria berkumis bisa mengubah keadaan, tidak peduli dengan panasnya tiang akibat kobaran api yang mengelilingi. Pria berkumis tetap berusaha melepaskan diri dengan bergelantungan, perlahan dengan giginya ikatan bisa dilonggarkan.


Rasa perih akibat tamparan keras dan beberapa pukulan telak, tidak lagi dirasakan. Hati dan pikiran pria berkumis sudah menghitam, kini hanya ada amarah dan juga dendam. Perlakuan peliharaan yang menggigit majikannya, membuat pria berkumis murka. Ternyata selama ini sikap manis dan penurut peliharaannya hanya sebagai kamuflase, dan hari ini disaat semua hampir siap. Semua rencananya gagal total.


Bruug…


"Akhirnya aku bisa bebas, sekarang bagaimana aku menghindari kobaran api ini? Pasti ada sesuatu yang bisa digunakan." Pria berkumis memandang setiap sisi, hanya ada kobaran api yang membentuk lingkaran dan tidak ada celah sedikitpun.


Teknik yang digunakan untuk mengurung pergerakannya, sungguh terencana dengan matang. Meskipun lepas dari jerat tali dan tiang gantungan, rintangan lingkaran api menjadi hambatan kedua. Terlebih tidak ada ponsel yang bisa digunakan untuk menghubungi anak buahnya.


Suara jarum terdengar lebih nyaring dan itu memecahkan konsentrasi pria berkumis. "Waktu? Artinya dia memang ingin aku terlambat, bukan menghabisi. Tapi kenapa?"


Dua jam lalu…


Disaat dirinya tengah menikmati makanan hangat dengan secangkir kopi, tiba-tiba pintu terbang dengan dua bodyguard terhempas ke lantai. Pria berkumis menghentikan sarapan dan bangun dari tempat duduknya. "Apa-apaan ini? Apa yang kamu lakukan?!"


Tak!

__ADS_1


Tak!


Tak!


Suara sepatu terhentak keras, pria bertopeng dengan penampilan serba hitam melangkahkan kaki memasuki rumah mewah dan menyebarkan aura penindasan. Tidak peduli dengan teriakan pemilik rumah, langkahnya semakin mendekati pria berkumis dan berhenti dengan jarak tiga meter. Satu tangan kanannya terayun dan melemparkan sebuah ponsel pintar.


Hap


Pria berkumis menangkap ponsel itu dan melihat apa yang ingin ditunjukkan oleh pria bertopeng. Satu video berdurasi sepuluh menit, mengubah ekspresi wajah pria berkumis. Video yang berisikan satu pertemuan antara dirinya dan para anak buah preman seragam hitam. Jika pria bertopeng mengetahui siasatnya, maka itu berarti hidupnya dalam bahaya. Niat hati ingin menjelaskan dengan sebuah alibi kuat, tapi.


Plaak!


Duug!


Kraak!


Satu tamparan keras, ditambah pukulan bertubi-tubi tanpa aba-aba langsung membuat dirinya tumbang. Video yang ditonton sukses mengalihkan seluruh fokusnya. "Apa kamu gila? Kita ini rekan."


"Rekan? Jika kita rekan, lalu apa maksudmu mengganggu jalanku? Jangan kamu pikir aku bodoh! Aku tahu kamu yang mengirim para preman tanpa izin ku dan lancang sekali, kamu menyuap mereka untuk mengikuti perintahmu! Sebagai hukumannya, nikmati hadiah dariku." Pria bertopeng melayangkan kakinya ke arah kepala pria berkumis.


Duug…


Satu tendangan berhasil di hindari, namun berujung pada tendangan lainnya. Perlahan kesadarannya menghilang. Rasa ngilu di dalam kepala, membuat pria berkumis menutup mata.


Semua tergambar dengan jelas, dan kini kobaran api yang mengelilingi tempatnya berada. Menjelaskan apa yang terjadi setelah dirinya tak sadarkan diri. Aroma bensin yang tidak pekat, menghadirkan satu kesimpulan. Hawa panas akibat kobaran api tetap mempertahankan kehidupan pria berkumis di dalam lingkaran api. Jika dicermati, lingkaran api seperti yang ada di sirkus.

__ADS_1


Tidak ada jalan lain, aku harus menunggu hingga bahan api terserap habis. Sebaiknya, aku pikirkan rencana mana yang akan ku jalankan. Satu rahasia sudah terbongkar, tapi tidak dengan rahasia yang ku simpan sendiri. Sebagai balasan atas sikap pembangkangan mu, akan ku pastikan hadiah dariku menjadi hadiah terbaik untukmu tuan enemy. ~ batin pria berkumis dengan senyuman sinis.


Apapun yang terlintas di dalam otak pria berkumis, sudah pasti menjadi kejutan untuk tuan enemy. Sementara di tempat lain, para sandera tengah memberikan kode mata. Kepergian si penculik, membuat para sandera bebas berkomunikasi meski hanya melalui bahasa isyarat.


"Sepertinya kalian tidak paham dengan isyarat ku. Siapapun diri kalian, aku tidak tahu apa alasan pria itu menyandera kalian. Akan tetapi, aku ingin kalian bekerjasama denganku. Cukup kedipkan mata sekali jika setuju dan kedipkan mata dua kali jika menolak. Paham?" ucap satu sandera yang terbebas dari lakban.


Dua sandera saling pandang dan mengangguk setelah melakukan kontak mata, dan menatap sandera bebas dengan mengedipkan mata sekali.


"Apapun yang terjadi nanti, pastikan kalian saling melindungi dan buat penculik kita sibuk dengan rencana pengalihan. Mungkin ini kesempatan terakhir yang harus aku gunakan untuk menyelamatkan saudaraku. Jadi rencanaku adalah kalian tetap pura-pura tidak sadarkan diri hingga malam nanti, saat si penculik membawa kita ke tempat tujuannya. Kita akan bagi tugas, sasaran utama bukan kalian tetapi saudara ku dan sepertinya kalian bukan bagian dari panggung pertunjukan." tutur sandera tanpa lakban.


Sayup-sayup terdengar suara langkah mendekat, membuat ketiga sandera diam dan kembali memejamkan mata.


Ceklek…


Pintu terbuka dan suara langkah kaki semakin terdengar jelas, sentuhan tangan di wajah sandera tanpa lakban terasa dingin. Seakan enggan melihat, sandera membiarkan tangan nan dingin menyusuri setiap inci wajahnya. "Terlalu tampan, aku suka ini. Sayang sekali harus dikorbankan. Atau aku minta saja dari komandan? Sepertinya itu lebih baik. Tenang tampan, aku akan menyelamatkanmu dari manusia berdarah panas."


Cup…


"Manis, i like it." Wanita dengan nada manja mencuri satu ciuman kilat bibir sandera tanpa lakban.


Langkah kaki yang menjauh meninggalkan ruangan sempit dan gelap. Pintu terbuka dan tertutup terdengar jelas, helaan nafas sandera tanpa lakban terdengar pelan. Rasanya ingin memaki, tapi percuma. Siapa yang datang dan kenapa hanya menelusuri wajahnya ditambah mencium bibirnya. Ucapan wanita itu seakan memberikan angin segar, meskipun terkesan palsu.


"Istirahat saja, tenaga kalian sudah cukup terkuras." ucap sandera tanpa lakban lirih dan kembali memejamkan mata.


Bayang-bayang masalalu berkelebat, berulang kali mencoba mengusirnya. Tetap saja tidak ada hasil, tidak bisa diubah apalagi di perbaiki. Semua yang tersisa hanya kenangan dan duka. Kehidupan memberikan kesempatan dengan mempertemukan dua saudara kembar, dan hanya dirinya yang tahu. Kenapa selama hidupnya, baru kali ini bertindak melewati setiap batasan.

__ADS_1


Lihatlah aku. Bagaimana rasanya menjadi seorang pendosa? Apakah kamu pantas untuk hidup? Siapa yang ingin kamu lupakan? Masa lalu atas perbuatan nistamu? Dosa tetaplah dosa, kamu seorang pendosa.


"Aarrgghh. Tidaaak......"


__ADS_2