
Wajah pria yang dipanggil tuan berubah menjadi dingin. Bagaimana bisa ada pengganggu dalam rencananya, siapa yang mengirim tikus dan mengusir mangsanya? Siapa yang tengah mempermainkan rencana epik miliknya? Untuk kedua kalinya, rencananya tercium seseorang. "Singkirkan pria perusak rencanaku ini!"
"Baik tuan." jawab anak buahnya dan mulai melakukan eksekusi pada dokter yang masih hidup dan hanya pingsan.
Jeritan dan juga suara pukulan demi pukulan tak membuat pria dengan panggilan tuan memiliki belas kasihan. Hingga ekor matanya menangkap goresan di cermin kamar mandi. Langkahnya mendekati cermin dan menatap dengan cermat tulisan yang tertera di atas kaca itu. "Pesan ini...."
"Tuan kami tidak menemukan bukti ataupun jejak lainnya." lapor salah satu pria pakaian hitam.
Tangan pria yang dipanggil Tuan terangkat, memberikan isyarat untuk semua keluar dari kamar itu. Sementara dirinya masih menatap cermin, dimana ada sebuah pesan untuknya atau untuk siapapun pengirim pria dengan identitas tas jelas.
"Semua orang berlomba menjatuhkan ku. Apa hidup kalian milikku? Atau hidupku milik kalian? Masa lalu menjadi awal. Masa depan menjadi akhir. Selamat bermain para pecundang!"
Bukankah ini tantangan? Lalu, siapa yang memulai permainan? Kami atau mangsa? Berapa banyak pemain dalam panggung sandiwara ini? Aku, dia dan siapa lagi? Bukankah semua terlalu rumit. Mana yang bisa dipercaya? Atau semuanya pembohong? ~ batin tuan itu dengan mengambil shower dan menyemprotkan air ke cermin.
Tiing…. (Shower dibuang setelah tulisan di cermin hilang tanpa jejak)
Langkah kaki tuan itu berjalan keluar. Meninggalkan mayat seorang pria dengan kondisi mengenaskan. Semua telah keluar dan menunggu diluar kamar. "Biarkan saja pria itu lepas! Jika mencari masalah, bom saja hotel ini."
__ADS_1
"Baik tuan." jawaban serempak para anggota pakaian hitam dan melepaskan pria resepsionis yang babak belur.
Kelompok pakaian hitam meninggalkan hotel berdarah tanpa mempedulikan bagaimana kehebohan itu akan dihadapi oleh pemilik hotel. Di sisi lain AK sudah sampai di sebuah tempat yang tak seorang pun tahu, tempat yang cukup sunyi dari semua keramaian. Dengan membaringkan tubuh Icha di kamar miliknya. AK mulai melakukan pengobatan seperti yang selama ini dirinya pelajari. "Bertahanlah. Bukankah kamu ingin menjadi obatku. Maka kuatkan dirimu."
Jarum infus dipasang, dengan cairan penambah nutrisi. Tak lupa AK juga mencari semua riset tentang kasus pencangkokan jantung. Semua pekerjaan dilakukan secara bersamaan. Terlebih ada jebakan yang tengah menanti langkahnya, maka rencana baru harus dimulai. Dengan pengendalian jarak jauh, AK melakukan satu aksi yang sudah menjadi antisipasi.
Dari dalam pantauan CCTV tersembunyi, AK melihat apa saja yang terjadi selama dirinya meninggalkan gudang tua. Tempat dirinya membuat strategi selama ini. Tidak ada yang datang, namun ada sesuatu yang menarik perhatian AK. Dari dalam CCTV-nya, ada sebuah laser merah yang selalu mengarah kearahnya. Dan AK memeriksa secara random dari beberapa waktu, dimana setiap kali berkunjung ke gedung tua itu. ''Artinya setiap pergerakan ku ada yang mengawasi. Tapi siapa? Apakah orang-orangku ada pengkhianat? Tapi, tidak ada yang tahu tempat itu selain Ferro dan Icha. Apa aku melewatkan sesuatu setelah sekian lama?"
Sebuah jawaban muncul dikepala AK, membuat senyuman AK terbit. Senyuman iblisnya, tapi senyuman itu berganti menjadi kecemasan. Kini keadaannya benar-benar tidak baik. Satu sisi Icha dan sisi lain seseorang yang sangat berarti tengah menjadi intaian musuh. "Damn it! Bagaimana bisa aku sebodoh ini? Mataku sudah buta. Aku harus bertindak lebih waspada."
Seperti melihat sebuah adegan didalam film saja, sang penulis naskah hanya bisa menyaksikan. "Kalian terlalu meremehkan aku. Siapapun kalian, aku tidak peduli. Tidak ada yang bisa menghentikan aku, memberikan keadilan untuk cintaku!"
Meninggalkan senyuman iblis di wajah AK. Emosi membara, membuat dua tangan terangkat dan menggebrak meja dengan sepenuh hati. Beberapa kertas di meja ikut terkejut dan berhamburan kemana-mana.
Braaak……
"Hahaha. Rupanya aksimu ketahuan. Cu-ih. Apa kamu fikir dia sebodoh itu?" sindir seorang pria dengan kondisi kaki dan tangannya terikat.
__ADS_1
Suara tawa yang terkesan penuh cibiran, membuat darahnya semakin mendidih. Berani sekali seseorang yang menjadi tawanannya, menertawakan kegagalannya. Apalagi tawa itu terasa menusuk ke ulu hati. Tidak benar jika seorang singa di telanjangi di dalam wilayahnya sendiri.
Pelaku peng gebrakan meja berbalik menatap sandera. Dengan mata nyalang, tatapan itu siap menerkam. Tapi kemarahannya masih bisa diatasi. "Aku sudah memiliki semua bukti. Tidak masalah jika gudang itu hancur."
"Bukti. Simpan saja, aku tidak peduli dengan itu." cetus sandera dengan wajah santai meskipun masih ada perban di kepalanya.
"Apa kamu sungguh? Sudahlah, kamu tiketku. Jadi nikmati waktumu sebelum aku berubah fikiran. Lagipula kamu itu tawananku!" tukas si pengebrak meja dan kembali mendownload bukti-bukti ke dalam flashdisk.
Mata sandera hanya mengamati tanpa menyela. Sebuah rencana sudah tersusun dengan sangat matang. Semua akan dijalankan saat waktunya. Tapi matanya teralihkan, dengan nasib dua pria yang ikut dijadikan sandera. Tidak seharusnya dua pria itu ikut terseret masalahnya, tapi apa alasan si pengebrak meja melakukan semua ini?
Aku kembali untukmu. Apakah kamu mendengar suara hatiku? Tuhan jangan uji aku dengan Kau ambil nyawanya. Aku siap bertukar tempat. Jangan ambil dia, ambillah nyawaku saja. Berikan dia satu kebahagiaan.~ batin sandera dengan memejamkan matanya.
Suara ketikan dan hembusan nafas berat tak lagi dipedulikan. Saatnya memberikan ketenangan untuk fikirannya. Tidak peduli jika penculiknya tengah melakukan sesuatu, baginya istirahat lebih penting. Memang bisa apa dirinya? Kondisinya saat ini seperti burung dalam sangkar. Hanya fikirannya yang masih bebas berkeliaran, tapi tidak raganya. Maka biarkan para lawan memulai permainan dan gilirannya akan tiba pada waktunya.
Semua orang dalam lingkaran satu masa lalu. Siap melakukan pertempuran terakhir, dengan tipu muslihat dan juga rencana masing-masing. Disetiap hati tersembunyi, ada harapan dan pengkhianatan. Disetiap fikiran yang bebas, ada ketakutan dan keegoisan. Masing-masing memiliki arah tujuan. Senyuman dalam kepalsuan, dengan niat hati tak terbantahkan.
Dunia hanya melihat sekilas cerita, tapi para pemain sandiwara melihat seluruh cerita. Kata yang terlewat tak lagi sama, ucapan dibibir tak lagi demi kebaikan. Kini dunia akan terguncang, dengan badai yang tak mampu terlupakan.
__ADS_1