
Meninggalkan reuni dadakan dua agen yang mungkin terlihat saling mengenal, di dalam sebuah rumah yang mewah telah terjadi pengeledahan dadakan. Ntah apa yang membuat anggota kepolisian melakukan pengeledahan di dalam rumah seorang abdi negara, bukan hasil korupsi ataupun catatan suap menyuap yang di dapat kan tapi justru beberapa barang yang mencurigakan di temukan di dalam sebuah kamar utama yang membuat pemilik rumah mewah itu diam seribu bahasa dengan tatapan bingung nya.
"Anda di tangkap atas tuduhan pembunuhan Sisi Hutomo di kediamannya, borgol Pak Daniel! " ucap seorang polisi yang sejak awal hanya menunggu di ruang tamu bersama pemilik rumah nya.
Bagaikan petir di musim kemarau berita yang di sampai kan polisi menusuk telung hati nya, bayangan wanita yang selalu membuat jantung nya berdetak dan kebersamaan yang baru hari kemarin dengan pergulatan panas yang membuat nya hidup lagi. Tapi bayangan itu seketika terbakar bersama angan dan borgol yang kini mengunci ke dua tangan nya, bukan takut di penjara tapi jiwa nya hancur dengan berita yang masih membuat detak jantung nya bergetar hebat.
"Tidaak! Bapak pasti salah, Sisi baik-baik saja. Bapak pasti hanya bercanda kan? " tanya pak Daniel dengan gemetar.
"Kita akan ke rumah sakit, agar anda bisa melihat bagaimana hasil pekerjaan anda sendiri." jawab polisi itu dan memberikan isyarat agar membawa pak Daniel ke mobil polisi.
Dua mobil polisi itu beriringan menuju ke sebuah rumah sakit tempat Sisi menjalankan visum, membuat debaran pak Daniel semakin berpacu. Bahkan pertanyaan polisi tidak lagi di hiraukan, membuat polisi menyerah dengan sikap aneh tersangka kali ini.
Sebuah rumah sakit pemerintah menjadi tempat visum Sisi dan polisi langsung menyusuri lorong begitu sampai di rumah sakit itu dengan membawa tersangka di belakang nya yang di jaga empat polisi pria, siapapun tersangka nya tetap lah harus di berikan perlindungan agar tidak di amuk oleh keluarga korban. Terlihat sepasang pasustri tengah duduk bersandar di kursi tunggu dengan wajah sedih dan lelah dengan kantung mata hitam dan seorang agen juga tengah berdiri bersandar di tembok dengan memejamkan mata nya.
"Lapor pak, kami sudah menemukan tersangka nya, dan siap untuk di tindak lanjuti." lapor polisi yang berjalan paling depan dan memberikan barang bukti pada agen yang tengah memejamkan mata.
"Good job, bawa dia ke hadapan keluarga korban biar kita tahu apa hubungan mereka semua! " perintah agen itu dengan membuka mata nya dan melihat siapa tersangka nya.
__ADS_1
"Siap pak." jawab polisi itu dan menggeser posisi ke arah keluarga korban.
"Permisi tuan dan nyonya Hutomo, apakah kalian mengenali tersangka ini? " tanya polisi itu dan menunjuk ke arah Daniel.
Bukan hanya terkejut tapi terlihat wajah tuan Hutomo merah padam melihat sosok di depan nya itu, bagaimana dirinya tidak tahu jika sosok itu adalah ayah dari sabahat putra nya. Bahkan sosok itu juga yang mengatasi masalah anak nya beberapa tahun yang lalu meskipun dana dari tindakan sosok itu berasal dari nya, tapi cukup dana saja bukan dengan tangan nya sendiri untuk menyelesaikan masalah putra beserta geng nya.
"Berikan hukuman pada pria ini setimpalnya dan pastikan untuk tidak mendapatkan jaminan dari siapapun! " ucap tuan Hutomo dengan nada kasar dan keras yang membuat Daniel langsung menggeleng pelan.
Tenaga nya sungguh sudah tidak ada lagi dengan berita kematian istri nya yang masih di ambang khayalan apakah itu nyata atau hanya sebuah muslihat, hingga seorang dokter keluar dari ruangan yang tertutup bersama seorang anggota polisi. Terlihat ke dua nya memasang wajah serius dan tatapan yang menyiratkan keprihatinan membuat jiwa Daniel semakin menciut namun bibir nya seakan di gerakkan tanpa di sadari nya.
Plaak.. Dug..
Sebuah tamparan keras dari tuan Hutomo di tambah tendangan di perut pria yang dengan lantang menyebut adik tunggalnya sebagai istri, sungguh mendidih darah tuan Hutomo mendengar sebuah kenyataan pahit. Dirinya berfikir selama ini adik nya hidup bahagia bersama pria yang dia cintai meskipun di usir dari kediaman Hutomo tapi kini pemikiran itu mengutuk kebodohan nya yang tidak pernah menyelidiki siapa pasangan yang dipilih Sisi, ada jarum yang kini menusuk jantung nya karena kelalailan nya menjaga putri satu-satu nya dari keluarga Hutomo.
"Hentikan! Jangan main hakim sendiri." ucap seorang agen yang sudah menengahi pertikaian otot sepihak itu.
"Agen Yun, bukan kah ini tugas mu." sindir Agen itu dengan melirik ke pria yang masih berdiri dengan tenang.
__ADS_1
"Kalian bawa tersangka ke tempat pemeriksaan, pastikan bukti dan visum memanglah identik." perintah agen Yun dan berjalan meninggalkan tempat panas itu.
Melihat mata memelas dari Daniel membuat agen yang tertinggal di tempat panas itu sedikit menghela nafas dan jika mengatakan keadaan pasien dengan jujur mengurangi beban orang lain maka tugas nya akan di tuntaskan.
"Sisi Hutomo mengalami gagal pernafasan akibat asap dari kebakaran, namun dua peluru yang bersarang di kaki nya membuat korban tidak bisa menahan sakit dan keluar meninggalkan rumah yang sengaja di bakar oleh sang pelaku. Tidak ada jejak atau bisa di anggap pembunuhan ini terencana, tapi peluru yang bersarang di kaki nya bisa di jadi kan bukti karena peluru itu berjenis khusus.
Bruuug...
" Bawa tersangka ke ruangan rawat, dok tolong periksa tersangka." perintah agen itu yang langsung di laksanakan.
"Saya mau Daniel Diningrat di berikan hukuman seberat-beratnya, termasuk pernikahan nya yang tidak sah dengan adik saya.Tolong bantu kami Pak Leo Prakasa." ucap tuan Hutomo setelah tubuh pingsan Daniel di bawa pergi oleh para polisi.
"Semua akan sesuai dengan hasil perbuatan nya pak, kami akan mengantarkan jenazah dengan mobil ambulance." jawab agen Leo dengan sopan karena di depan nya adalah orang yang berpengaruh.
Tanpa menunggu jawaban yang seperti siap untuk menyerangnya, Leo memberikan isyarat pada dokter lain yang sedari tadi diam untuk mempersilahkan anggota keluarga korban melihat korban untuk terakhir kali nya sebelum di lakukan tahap selanjutnya oleh pihak rumah sakit. Sementara dirinya harus kembali ke kantor untuk memeriksa beberapa berkas yang kini sudah mulai mencecar fikiran nya untuk segera di selesaikan, sedangkan agen Yun ntah pergi kemana tanpa mengatakan apapun.
"Kalian terlalu lama hidup tenang, karma sudah menanti kalian di ujung jalan. Aku akan segera mengakhiri semua ini." ucap seseorang dengan menambahkan satu foto baru yang masih fresh dan menjadikan nya target utama dari sisa target lain nya.
__ADS_1