
Tangan dan kakinya bergerak dengan lincah, meskipun tanpa bantuan seorang suster satupun. Dokter Affan berusaha dengan keras untuk menyelamatkan komandan Sekkar. "Ayolah! Apa anda terlalu lemah? Komandan Sekkar yang ku kenal tidak selemah ini!"
Perjuangan dokter Affan masih berlanjut dengan alat pengejut jantung, dimana hanya itu jalan terakhirnya. Berbeda dengan kemurkaan di wajah pria berkumis, kamar yang indah dengan nilai seni yang tinggi berubah menjadi kapal pecah. Barang antik terpecah belah, foto melayang tak tentu arah.
"Kenapa? Apa aku kurang memanjakanmu! Apa salahku, padamu!" teriak pria berkumis dengan kasar menjambak rambutnya sendiri.
Tok... tok.. tok..
"Tuan, kami tidak menemukan non Icha di manapun." lapor seorang pria dari balik pintu.
Braaak...
"Aku tahu dimana putriku. Pindahkan dia ke tempat lain!" perintah Samuel dengan mengibaskan tangan.
Kepergian tangan kanannya, membuat Samuel menatap seluruh sudut mansion dengan mata nanar. Selama bertahun-tahun, hidupnya diabdikan untuk perusahaan dan putri tunggalnya. Tapi hari ini kekecewaan didalam hatinya tak terelakkan lagi. "Apakah mengetahui Asma, segitu pentingnya nak? Lalu, apa arti papa di hidupmu?"
Flashback
Acara pelelangan terjadi dengan sangat lancar dan juga berlangsung cukup mewah. Hingga semua unit senjata terjual habis tanpa sisa dalam kurun waktu dua jam. Tentunya setelah setelah saling berebut poin harga tertinggi.
__ADS_1
Harga SC 12 dimulai dari 50 triliun menjadi 89 triliun setelah diperebutkan dan jatuh ke tangan seorang pengusaha luar yang memiliki bisnis berlian dan real estate.
Harga boom mini SC 11 dimulai dari 5M menjadi 8M dan jatuh ke satu pengusaha yang memang memiliki ambisius dengan bahan kimia pembuatan boom mini.
Harga senjata SC 10 dimulai dari 1M menjadi 3M dan beruntungnya, tersebar untuk beberapa pengusaha.
***Bisa dibayangkan berapa total penghasilan yang Samuel dapatkan dari bisnis senjata ilegalnya itu. Tapi keuntungan besar yang di nanti selama 1 tahun penuh, justru berubah menjadi amarah yang membara.
Senjata Nuklir SC 12 dan 3 Packet Boom mini SC 11, beserta 2 unit senjata api sniper SC 10 raib tanpa jejak***.
Assisten sekaligus tangan kanannya pun ditemukan terkapar bersimbar darah di depan pintu bangker senjata. Namun satu sidik jari di temukan menempel di salah satu senjata lama, dan itu sidik jari Icha.
Kembali ke masa kini.
Dimana Samuel melangkahkan kaki meninggalkan mansion, tapi ditempat terpencil dua orang berbeda jenis tengah mengendap-endap dibalik semak. Dengan teropong mini yang setia di tangan kanan sang wanita. "Semua aman! Bisa kita lakukan sekarang?"
"Jangan gegabah! Tetaplah disini dan awasi semua sudut dari tempat ini. Aku yang akan masuk!" cegah pria dengan topeng yang berubah menjadi seorang bodyguard.
"Aku bukan wanita lemah! Jangan meragukanku." protes sang wanita merajuk kesal.
__ADS_1
"Apa kamu lupa jika nyawamu dalam bahaya? Maka semua usahamu akan sia-sia?" cecar sang pria bertopeng.
Benar yang dikatakan sang pria bertopeng. Setelah pemberontakan dilakukan, maka pasti yang menjadi buruan musuh adalah dirinya. Bukan sang pria bertopeng yang sengaja dipaksa untuk menerima persyaratan bodohnya. "Baiklah. Aku tunggu di tempat yang kamu katakan."
"Aku pergi." pamit sang pria bertopeng.
Kenapa aku terjebak dengannya? Kenapa pula aku menjadi nekat! Maafkan aku pa. Tapi papa sendiri yang memaksa tindakan ku, untuk sampai dititik ini. Aku sayang papa, tapi hidupku seperti burung dalam sangkar. Kebebasan yang papa sajikan hanyalah belenggu ilusi yang papa ciptakan. ~ batin sang wanita menghapus buliran bening di sudut matanya.
Teropong diarahkan dengan fokus, dimana sang pria bertopeng dengan lincahnya melewati perjagaan yang ketat. Berlari tanpa suara, melompat dan berguling dari satu titik ke titik lain. "Aku harus melihat wajahmu!"
Villa Hansa laut utara, bangunan indah didepan mata dengan penjagaan ketat. Menjadi tujuannya, video yang menunjukkan keberadaan seorang wanita didalam sebuah ruangan. Sungguh membuat hati resah tak menentu.
Dua jam kemudian, dari menghilangnya sang pria bertopeng ke dalam bangunan indah di depan mata sang wanita. Terdengar sayup-sayup suara mobil dengan raungan keras dari kejauhan. Suara mobil yang bising semakin mendekat membelah kesunyian hutan.
"Gawat. Sebaiknya aku susul dia." tukas sang wanita dan keluar dari tempat persembunyian.
Belum sempat langkahnya melangkah jauh, sebuah tangan menarik tubuhnya dan kembali bersembunyi dibalik semak. Ingin rasanya protes tapi bibir terbungkam. "Tenanglah! Dia akan baik-baik saja."
Suara yang berbeda dengan harum parfum maskulin. Tangan yang begitu dingin namun terasa sangat halus. "Diam dan jangan keluarkan satu katapun. Paham!"
__ADS_1