
Disaat Desi sibuk berpikir dan mencari jalan keluar, di luar gudang sudah dimulai pengintaian. Tidak ada tindakan geganah, meskipun datang tanpa membawa senjata. Tetap saja harus memulai dengan cara yang benar. "Terlalu sedikit, sepertinya malam ini menjadi malam berdarah."
Deretan pepohonan yang besar dan rimbun dengan beberapa batu besar, membuat AK bersembunyi dibalik salah satu batu. Hanya ada cahaya dari gudang tua di depan sana, posisi AK sangat strategis. Sebelum Sam datang, dirinya sudah menempati persembunyian itu. Meskipun hanya ada preman dengan pakaian hitam di depan gudang tua.
Para preman seragam hitam mengingatkan AK pada gerombolan orang di hotel beberapa hari lalu dan itu berarti orang-orang yang mengincar dirinya serta Icha adalah suruhan Sam. Bukankah Icha putri tunggal pria berkumis itu? Lalu untuk apa melakukan sesuatu yang membahayakan putrinya sendiri, terlebih Icha tidak mengingat apapun tentang masa lalu.
Sebaiknya aku menyerahkan diri, sisanya biarkan terjadi seperti keinginan mereka. Tidak mungkin aku menyerang, sementara keadaan di dalam gudang saja tidak bisa ku pantau.~batin AK.
Langkah kaki AK berjalan mundur dan kembali ke motor yang terparkir cukup masuk ke hutan, semua dilakukan hanya untuk melakukan pengecohan. Tidak ada yang dimintai bantuan, kali ini hanya seorang diri. Tanpa ada anak buah ataupun partner kerjasama.
Sam masih berdiri dengan menatap jalanan di depan gudang, tidak ada suara mencurigakan dari dalam gudang dan itu cukup melegakan perasaan. Sayup-sayup terdengar suara deru motor, sontak Sam bersiaga. Cahaya lampu dari kejauhan semakin mendekati area larangan. Mata menyipit, terlihat seorang pria tanpa helm dan berpakaian serba hitam mengendarai motor dengan kecepatan normal.
Motor itu berhenti di tengah jalan tepat di depan gudang, pria itu menurunkan standar dan turun dari motor. Tatapan matanya terpatri pada gedung tua, Sam beserta anak buah seragam hitam. Sam melambaikan tangan, membuat para anak buah dengan jumlah sepuluh orang berlari menghampiri AK dan menodong pria itu dengan senjata.
"Jalan!"
AK hanya mengikuti tanpa melawan, bagaikan tawanan yang pasrah untuk di eksekusi. AK berjalan tegas dan berhenti di depan Sam. Tangan Sam memberikan kode, agar dua anak buahnya menyingkir dan memberikan jalan. Mata Sam menelisik penampilan AK, dengan senyuman puas terbit di bibir pria berkumis itu. "Akhirnya, sampai kapan kita akan bermain petak umpet? Begini lebih baik, bagaimana kabarmu Tuan AK?"
"Sangat baik, lihatlah aku masih bernafas." jawab AK.
Sam terkekeh, menahan guncangan perut karena geli mendengar jawaban mangsanya. "Setelah kehilangan calon istri, sahabat dan juga kembaranmu. Kamu masih bilang sangat baik? Apa aku tidak salah dengar? Ck, nasibmu terlalu buruk. Apa ada permintaan terakhir?"
__ADS_1
"Katakan semua tanpa ada satupun rahasia, bagaimana?" AK menggerakkan kepalanya ke kiri.
Sam menimbang permintaan AK, sejenak wajah Sam terlihat serius. "Hahahahahaha, aku tidak bod0h. Apa kamu pikir, aku akan seperti keinginanmu? Big no."
Kepala AK kembali tegak, kini perlu membalas ucapan Sam. Semua sudah berakhir, tidak ada lagi penjelasan. Setelah puas mempermainkan AK dengan harapan palsu, wajah Sam kembali ke mode serius. "Bawa dia masuk! Ada yang menunggu untuk dipuaskan."
''Tuan, apa tidak sebaiknya di ikat tangan dan kakinya?" usul salah satu preman.
Sam mengangguk mempersilahkan ide itu untuk dilakukan, tidak ada pemberontakan dari AK. Sesuatu yang mustahil justru malam ini terjadi. Sam heran, tetapi memilih membiarkan. Setelah tangan dan kaki diikat dengan tambang, AK dimasukkan ke dalam gudang tanpa perasaan. Sam mendorong tubuh AK dan itu sukses membuat Desi terkejut.
Bruuug
"Nikmati! Waktumu tersisa tiga puluh menit." ucap Sam.
Pintu kembali tertutup, dan Desi berlari ke arah AK. Tangan yang hampir menyentuh bahu, membuat AK menunduk. "Jangan sentuh aku!"
Suara AK terdengar jelas dan tegas, bukannya mundur. Desi justru berjongkok dan memeluk AK. Tidak peduli seberapa kuat AK memberontak, ketetapan Desi tetap fokus untuk melepaskan tali yang mengingat tangan AK. "Menjauh dariku! Apa…."
"Ssst. Aku tidak akan melakukan apapun, tapi dengarkan aku untuk yang terakhir kalinya. Setelah itu, kamu bisa menghukum ku sesuka hatimu. Sekarang pikirkan keselamatan semua sandera," bisik Desi, sukses membuat AK terdiam.
Logika tidak percaya dengan ucapan Desi, tetapi sudut hatinya memiliki secuil harapan dan kepercayaan untuk wanita sexy yang ternyata berada di pihak lawan. Tali terlepas, membuat AK bergegas melepaskan tali yang mengikat kakinya. Sementara Desi berulang kali melihat ke belakang, memastikan pintu tetap tertutup.
__ADS_1
Tangan AK menyambar leher Desi, membuat wanita itu memegang tangan kejar AK. "Jangan sekarang. Lihatlah mereka semua, aku tidak tahu….."
Bruug
Tubuh Desi terjatuh dan mata AK menatap tajam ke arah para sandera, rasa sesak memenuhi dada. Tangan mengepal, ketegangan di balik topeng terpancar keluar. Sungguh siapapun yang membuat skema kematian di depannya, tidak beradab. Desi bangun dengan batuk ringan, akibat cengkraman tangan AK terlalu kuat.
"Tidak ada waktu untuk menjelaskan, apapun yang kulakukan pantas mendapatkan kutukan. Tapi, bantulah aku menemukan jalan keluar. Bagaimanapun kalian semua harus selamat, aku minta maaf atas semua dosaku." tutur Desi dan tak ditanggapi oleh AK.
Langkah AK berjalan mendekat ke arah lingkaran api, Desi yang melihat itu langsung menarik tangan AK agar mundur. "Jangan gegabah! Lihatlah satu papan ubin itu. Jika kamu menginjaknya, maka hujan pisau akan menyambut tanpa permisi. Lihatlah setiap lubang di dinding itu, pisau akan terbang dari setiap lubang dan itu akan mengenai kita semua. Tanpa terkecuali."
"Tanpa terkecuali?" ulang AK.
"Rencana Sam seperti itu, aku tidak tahu sisanya. Selain tabung kaca akan pecah dalam waktu setengah jam dari perhitungan waktu saat ini, tali itu akan menjadi perantara kesana dan ember bensin pasti tumpah menyambar lingkaran api. Tubuh dua pria itu akan terjatuh di papan beling, tetap saja tidak ada yang selamat. Satu posisi yang tidak kupahami adalah posisi Ferro. Lihatlah, saudara kembar mu terlihat aman," jelas Desi sembari menunjukkan ke setiap arah yang dimaksud olehnya.
AK mengikuti arahan jari Desi, dan berhenti tepat dimana Ferro berada. Benar ucapan Desi, posisi Ferro terkesan aman tanpa ancaman. Kecuali tangan terikat menjadi satu di sebuah tiang penyangga, mata yang terpejam dan kaki bebas. Sungguh tidak masuk akal. Semua dipikirkan, mata AK menelusuri lantai. Menghitung langkah dan juga perbedaan dari setiap ubin.
"Bagaimana dengan Gio?" tanya AK dan membuat Desi menelan saliva susah payah.
"Aku sudah menjelaskan jika semua yang terjadi adalah perbuatan Sam, mungkin aku terlambat. Aku berharap dia menyadari, jika selama ini hanya menjadi bonekanya Sam. Aku ikut andil untuk masalah di hidupmu, aku siap menerima hukuman…."
AK menghentikan curahan hati Desi. "Sttt! Kenapa aku mencium aroma bensin? Terlalu pekat, dan ini berasal dari…"
__ADS_1
"Luar." ucap Desi dan AK serempak.