
"Kalian terlalu lama hidup tenang, karma sudah menanti kalian di ujung jalan. Aku akan segera mengakhiri semua ini." ucap seseorang dengan menambahkan satu foto baru yang masih fresh dan menjadikan nya target utama dari sisa target lain nya.
Sebuah foto yang baru saja di dapat kan oleh nya karena sebuah kebetulan, sekali lagi sebuah kebenaran terungkap di saat tidak sengaja. Tapi tidak ada kata terlambat untuk penghakiman, bukan kah karma akan selalu mengikuti setiap insan kemanapun langkah kaki nya berpijak.
Tidak terasa waktu nya hanya berakhir dengan setiap rencana penghakiman layak nya sang malaikat pencatat amal baik dan buruk , sebanyak apapun dosa nya di anggap sepadan dengan penghakiman dan keadilan yang harus di tegakkan.
Dengan tangan bergetar di ambilnya sebuah album merah darah dengan tulisan tinta hitam "My Dream", tapi itu hanya menjadi angan untuk sang penulis. Album yang di penuhi dengan foto-foto tempat indah dengan memo harapan di setiap lembar nya, dengan foto di halaman terakhir yaitu sebuah foto terbaru yang terlihat sangat romantis meskipun foto di ambil dalam keadaan sederhana.
" Ku harap kalian berbahagia disana, maaf aku tidak bisa menyelamatkan kalian." gumam orang itu dengan mengusap foto di halaman terakhir.
Sinar mata yang menyiratkan kebahagiaan setulus hati dengan penuh cinta sangat terpancar dari wajah sepasang kekasih, sungguh jiwa nya bisa merasakan kebahagiaan sepasang kekasih itu di saat menatap foto. Tapi hanya sesaat karena setelah itu yang tersisa adalah dendam, amarah dan rencana dengan jiwa nya yang sudah tidak lagi hidup, kehidupan yang baru saja menemukan jalan nya harus berganti arah ke dalam jalan kegelapan.
Dan di sebuah kamar yang di penuhi boneka terlihat seorang gadis kecil tengah membuat coretan-coretan di temani seorang suster yang selama ini merawat nya, tidak ada kata yang di ucap kan untuk menghentikan gadis kecil itu mencoret dinding kamar dengan berbagai warna spidol. Seperti biasa nya tugas suster itu hanya menjaga dan mengawasi bukan melarang karena setiap coretan ada kisah di balik nya.
"Non, waktu nya sarapan." tegur suster itu setelah melihat jam di pergelangan tangan nya menyala karena alarm.
"Bi, aku mau papa!" ucap gadis kecil itu, tanpa menghentikan kesibukan nya.
"Ayo ke ruang makan non, bibi lihat mobil papa non ada di garasi." ajak sister itu dengan senyuman.
"Ayo bi." jawab gadis kecil itu dengan berlari tanpa meninggalkan spidol di tangan genggamannya.
Suster dengan hati-hati menggandeng tangan gadis kecil itu agar tidak berlarian ke ruang makan yang ada di lantai bawah, di dalam hati nya berharap semoga tuan nya benar ada di rumah karena jika tidak pasti nona muda akan mengamuk. Langkah kaki yang begitu ceria membuat rumah dengan kesepian menjadi sedikit hidup, sebuah meja makan yang terkesan sangat kecil untuk rumah yang di anggap cukup mewah namun meja makan itu bisa mendekatkan siapapun karena terlalu kecil dan hanya seperti meja restoran.
__ADS_1
"Papaaa." seru gadis kecil itu sembari melepaskan tangan suster nya dan berlari ke arah pria yang sangat di kenal nya.
"Come." ucap pria itu dengan merentangkan ke dua tangan nya.
Greeb...
Sebuah pelukan erat yang di dapat kan nya membuat hati nya menghangat, ini lah alasan nya untuk tidak menyerah dan ingin segera menyelesaikan urusan nya. Dengan isyarat tangan nya, suster meninggalkan ke dua nya tanpa penolakan, di gendong nya gadis kecil yang seakan tidak ingin melepaskan dirinya.
"Putri papa, lepaskan dulu. Ayo kita sarapan." ajak pria itu dan duduk dengan mengubah posisi gadis kecil duduk di pangkuan nya.
"Pa, kapan kita ke taman? " tanya gadis kecil itu sembari menerima suapan sop daging dengan nasi ke mulutnya.
"Sebentar lagi, apa papa bisa meminta sesuatu pada putri papa ini? " tanya pria itu dengan hati-hati.
"Yah, Mia putri papa. Sekarang makan lagi dan tunggu lah beberapa hari lagi, pasti papa akan membawa Mia ke taman terindah." ucap pria itu sembari menyuapi Mia juga mengusap kepala gadis kecil itu.
Sarapan yang cukup tenang dengan kebersamaan, sedangkan di dalam kantor agen Leo tengah mengalami mandi berkas. Yah pria single itu tengah membuat Dito kewalahan dengan permintaan berkas yang ternyata seperti jarum di tumpukan jerami, sudah dua jam mencari dari gudang berkas yang di pindahkan ke ruangan agen Leo hanya untuk menemukan satu harapan tapi seperti nya keberuntungan tidak ada di pihak nya.
"Dito! Kamu serius tidak sih! Berkas seambrek tapi tidak satu pun ada yang ku butuh kan, sebenarnya apa yang terjadi di tahun itu? " ucap agen Leo dengan kesal.
Bagaimana tidak kesal, baru saja otaknya bisa menemukan point penting tapi harus kembali buntu dan terlebih lagi si pelaku tidak lagi memberikan clue apapun. Frustasi yang membuat kepala nya harus lebih bekerja keras tapi tidak ada berkas yang bisa menjawab pertanyaan nya, terlebih kedatangan saingan nya agen Yun semakin membuat hati nya was-was.
"Ahaa, aku baru ingat dulu semua berkas tidak di simpan di sini tapi di kantor polisi pusat, tapi kantor polisi itu tinggal nama saat ini." seru Dito tanpa melihat situasi.
__ADS_1
Puk....
Satu berkas ringan di lemparkan Leo ke anak buah nya itu karena membuat nya terkejut tapi sedetik kemudian ada yang membuat nya semakin gelisah dengan pernyataan anak buah nya itu, kantor polisi itu tinggal nama saat ini. Bukan kah artinya terjadi sesuatu dengan kantor polisi pusat dan pasti nya hasil pencarian nya akan buntu lagi jika firasat nya memang benar.
"Hello pak? Agen Leo Prakasa." ucap Dito dengan melambaiikan tangan di wajah Leo.
"Kamu ini! Ada apa? " tanya Leo dengan menepis tangan Dito yang ada di depan wajah nya.
"Hehehe, ini pak. Silahkan di baca. " ucap Dito dengan menggaruk kepala yang tidak gatal dan menyodorkan ponsel nya ke Leo.
Tanpa menjawab Dito, Leo memilih untuk menerima ponsel itu dan melihat apa yang anak buah nya ingin tunjukkan. Benar dugaan nya, keberuntungan tidak ada di pihak nya dengan mata yang tidak berkedip di baca nya sebuah berita dari internet. Berita kebakaran kantor polisi pusat setahun lalu, meskipun tidak ada korban jiwa satu pun tapi kantor polisi pusat benar-benar rata dengan tanah dan lebih mengejutkan lagi adalah semua polisi seperti terkena obat bius dalam waktu bersama.
"Hancur sudah harapan terakhir ku." gumam agen Leo dengan menjambak rambutnya.
Triing...
sebuah notifikasi pesan masuk terdengar tapi benda pipih di tangan nya tidak ada pesan masuk, kini pandangan Leo beralih ke meja kerja nya. Yah benda pipih nya yang menerima pesan masuk dan layar nya masih menyala, tanpa mengembalikan ponsel Dito terlebih dahulu, di sambar nya ponsel di atas meja.
Nafas nya tertahan setelah melihat sebuah nomer baru, tapi ada perasaan berbeda kali ini. Biasa nya tidak ada rasa was-was yang berlebihan meskipun sang peneror memberikan clue nya tapi firasat nya mengatakan pesan yang masuk dari orang lain yang mungkin akan memberikan sebuah titik cahaya, dengan membuka pesan itu dan sesaat membaca pesan nya di dalam hati.
Triing....
Satu pesan masuk lagi tapi nomer yang berbeda lagi, percaya tidak percaya kini tanpa mempedulikan apapun di sambar nya jacket jeans denim milik nya yang tersampir di kursi dan kunci mobil di atas meja. Secepat kilat langkah kaki nya ingin segera menyelesaikan semua teka-teki yang kini sudah semakin rumit dan tersangka nya semakin tidak tentu, Dito memanggil pun tidak di dengar kan, selain langkah nya meninggalkan kantor itu secepatnya menggunakan mobil milik nya.
__ADS_1