
Berbeda dengan keadaan terpuruk seorang pria, entah berapa kali air dingin mengguyur tubuhnya. Rasa ngilu dan dingin tak lagi dirasakan, hatinya mendidih seperti luapan lava panas. Semua perjuangannya seakan sia-sia, ada kegagalan didalam hatinya. "Aku terlalu sibuk dengan misi balas dendam ku, hingga lupa ada permainan yang menjerat ku. Aaarrrrggghhh."
Suara erangan yang terdengar pilu membangunkan sosok yang terbaring lemah, dengan mata terbuka dan perlahan menuruni ranjang. Kakinya terseok-seok berjalan mendekati arah erangan. Pintu yang terbuka setengah menampilkan betapa penyiksaan nyata tengah dijalani pria di depannya.
"Apa yang anda lakukan? Stop!"
Seakan tidak peduli dengan suara lirih dari depan pintu, AK masih mengguyur tubuhnya dengan air es. Icha yang melihat kegilaan AK, mencabut selang infus di tangannya dan memeluk AK dari belakang. "Hentikan ini! Apa masalahmu bagilah denganku. Apa kamu lupa tentang semua misi mu? Bertahanlah dan kuatkan dirimu, aku ada untukmu. Tenanglah."
Deru nafas AK perlahan teratur, tidak ada air dingin yang mengguyur tubuhnya lagi. Pelukan Icha menghentikan kegilaannya, meskipun bukan rasa sakit dan rasa bersalah dihatinya. AK melepaskan tangan yang melingkar di perutnya, berbalik dan menatap Icha. "Ayo kembali ke tempatmu. Kamu harus istirahat."
Dengan sigap AK menggendong Icha, Icha hanya pasrah dan membiarkan AK membawanya kembali ke kamar. AK menurunkan tubuh Icha dengan lembut, sejenak melihat penampilan Icha. Pakaian yang basah akibat memeluk tubuhnya. "Tunggu sebentar."
Icha hanya melihat pergerakan AK, pria itu dengan cekatan mengambil pakaian di lemari pakaian. Setelah memilih beberapa jenis pakaian pria miliknya, satu sweater oversize menjadi pilihan terakhir. "Gantilah pakaianmu dengan ini, maaf aku hanya memiliki ini."
"Ini lebih dari cukup, bisa bantu aku berganti pakaian?" tanya Icha dengan puppy eyes-nya.
Gelengan kepala AK, membuat Icha menunduk. Namun, satu tangan menyentuh pipinya. "Menjaga kehormatan itu penting, meskipun aku bukan pria brengsek. Aku tetap laki-laki normal, setelah sekian lama akhirnya aku dekat dengan seseorang. Mengertilah, sekarang ganti pakaianmu dan aku akan siapkan makanan untuk kita."
"Maaf. Aku akan ganti pakaian ku." cicit Icha dan membiarkan langkah AK menjauh darinya.
__ADS_1
Kepergian AK, membuat Icha berjuang mengganti pakaian dengan susah payah. Sungguh aneh, saat mendengar erangan AK dengan suara menyayat hati tubuhnya bisa mendapatkan kekuatan dan kini tubuhnya kembali terasa lemas.
Apakah cintamu terlalu besar? Kenapa tubuhku seperti bukan milikku? Asma, aku tidak tahu kamu mendengarkan ku. Kuharap keinginan terakhir mu bisa aku penuhi. Meskipun aku harus menerjang badai. ~batin Icha.
Suara pisau dengan pertempuran peralatan dapur cukup terdengar jelas, membuat Icha berjalan perlahan dan menghampiri suara dentingan yang mengalihkan perhatiannya. Pria dengan wajah dingin, tanpa topeng ataupun sarung tangan, pakaiannya sudah berbeda dan hanya memakai pakaian santai. Tangan yang cekatan melakukan pekerjaan dapur, Icha memilih duduk di depan pantry sembari menatap pria didepannya.
"Boleh aku tanya sesuatu?" Icha menopang wajahnya di atas lengan.
Tidak ada jawaban selain lirikan mata, merasa mendapatkan kode izin Icha menegakkan posisi duduknya. "Apa yang terjadi padamu? Kenapa melakukan itu?"
"Jalan yang ku pilih terlihat penuh kebenaran, hingga satu kenyataan menyadarkan diriku. Jalanku memiliki penghianatan dan kebohongan, kebencian yang tidak seharusnya ada ternyata nyata. Sahabatku masih hidup, kupikir dia tiada saat dirumah sakit. Begitu banyak topeng yang menutupi wajah asli orang-orang disekelilingku. Bukankah hidup ku seperti sebuah papan permainan?" tutur AK tanpa menghentikan kegiatan memasaknya.
"Mengakhiri permainan. Sudah terlalu lama permainan ini bergulir, lawan dan kawan menjadi semu. Tidak ada yang bisa dipercaya, sudahlah. Makan dan istirahat saja." jawab AK ambigu.
Ekspresi Icha benar-benar bingung, ucapan AK terlalu singkat dan terasa ganjil. Apa arti mengakhiri permainan? Ditambah dengan makan dan istirahat, sedangkan dirinya tahu jika malam ini adalah malam besar. "Bisa jelaskan lebih jelas?"
Tangan AK menuangkan sayur sop daging ke dalam mangkuk menggunakan sendok sayur, mengangkat mangkuknya dan meletakkan di depan Icha. "Jangan terlalu dipikirkan. Makanlah jaga kesehatanmu, jangan membantah!"
Peringatan AK, membuat niat bertanya Icha gugur dan memilih meniup asap yang mengepul sebelum memasukkan satu sendok sup daging ke mulutnya. Tidak peduli apapun yang direncanakan AK, kini tugasnya mengawasi. AK terlihat ikut mengambil semangkuk sop daging dan duduk di seberang, suapan demi suapan berlalu dalam keheningan.
__ADS_1
Apakah ini yang disebut badai dalam diam? Ketenangan dia seperti air, diam menghanyutkan. Aku harus lebih waspada, tidak akan kubiarkan dia melakukan semuanya sendiri. ~batin Icha.
"Obatmu ada di atas meja, minumlah setelah makan." AK meletakkan sendok dan mangkuk di wastafel dan berjalan meninggalkan pantry, Icha hanya diam menatap kepergian AK.
Selera makan pun hilang bersamaan dengan sikap AK yang dingin, dengan paksaan selama beberapa menit akhirnya semua sup di mangkuk berpindah ke perutnya. "Aku akan lihat apa yang dia lakukan, atau aku pura-pura istirahat saja?"
Gumaman Icha hanya terdengar untuk dirinya sendiri, sementara AK sudah standby di depan laptop dan berbagai peralatan canggih miliknya. Kedua tangan AK sudah sibuk membuat serangkaian alat untuk melakukan permainan terakhir. Kini apapun yang terjadi biarlah terjadi, tidak ada waktu untuk melangkahkan kaki mundur.
Setelah memikirkan dengan matang, akhirnya Icha memilih untuk kembali ke atas ranjangnya dan mengambil obat di atas meja. Dengan santainya Icha meminum obat, tidak mungkin AK tidak mengawasinya. Lebih baik mengikuti permainan, hingga waktunya beraksi datang. Senyuman lega terlihat di bibir AK, melihat Icha sudah memejamkan mata setelah meminum obat darinya.
"Sekarang, semua sudah jelas. Tapi, dimana posisi mereka semua? Apa skema ini sudah benar? Hmmm sepertinya aku harus menyiapkan rencana cadangan, terlebih tidak ada kabar dari Elsa." gumam AK dan memperhatikan skema tatanan orang-orang yang masuk ke dalam circle permainan.
Triing...
Satu notifikasi pesan masuk mengalihkan perhatian AK, dengan menyambar ponsel di atas meja samping kiri nya. AK membuka dan men scroll beberapa pesan yang masuk. Satu pesan deretan kedua menjadi perhatian AK. Nomor yang sama dengan tulisan berbeda, jika sebelumnya memberikan alamat Jalan Melati gang satu. Maka kini bertuliskan alamat lain dan jam berbeda.
"Gudang Kuno pelabuhan barat. Pukul duabelas malam. Sandera orang-orang terkasih mu."
Bersamaan dengan beberapa foto yang jelas tanpa halangan, AK mengepalkan tangan hingga kukunya memutih. Foto-foto itu sungguh biadab dan tidak berperasaan.
__ADS_1
Sudah cukup! Kalian bukan lagi manusia, tetapi iblis. Tidak akan ku maafkan semua perbuatan dosa kalian. Tunggu aku sebagai malaikat pencabut nyawa kalian.~batin AK dan meremukkan ponsel pribadinya dengan penuh emosi.