Plan Of Masked Man

Plan Of Masked Man
Ending ll


__ADS_3

Desi yang melihat ke kursi belakang, tersenyum dan juga bersyukur. Andaikan malam ini semua menjadi korban, sudah pasti tidak ada kata ampunan untuk semua dosanya. Rasa lega Desi terpancar di mata wanita itu. Sementara Ferro menyetir mobil dan membiarkan AK mencoba membangunkan Icha yang masih tidak sadarkan diri.


"Hey sadarlah, tidak seharusnya aku melibatkanmu," ucap AK dengan menepuk pipi Icha pelan.


Beberapa jam lalu.....


Setelah meninggalkan Icha di pantry. AK mengamati pergerakan Icha yang makan dengan wajah tegang, dan kembali ke kamar untuk meminum obat di atas meja. Namun, saat Icha berbaring menyamping. Terlihat jelas wanita itu mengeluarkan obat dari mulutnya dan berpura-pura memejamkan mata. Saat itulah, satu rencana muncul di dalam benak AK untuk melibatkan Icha.


Tapi kini dirinya tidak menyangka, jika Icha siap berkorban dan berusaha untuk menyelamatkan semua orang di saat kondisi tubuh wanita itu tidak memungkinkan. Bukankah akhir dari semua permainan, menjadi perang antara anak dan orang tua. Satu sisi Sam yang tega menghabisi kawan dan lawan, sedangkan di sisi lain Icha mencoba menyelamatkan para Sanders.


Malam yang semakin pekat, tanpa sengaja AK menyenggol benda pipih di saku jaket Icha. Satu tangannya mengambil dan memeriksa apa yang ada di dalam ponsel itu. Suara yang terdengar jelas dan rekaman dari sudut terbaik. Ferro juga ikut mendengar percakapan dari dalam ponsel. "Sebaiknya kita ke bandara!"


"Tidak perlu, biarkan dia kembali ke tempat seharusnya." jawab AK.


AK membenarkan posisi Icha agar tidak terjatuh, dan kini jemari tangan AK fokus mengetik beberapa angka dan mendial nomor itu. Sambungan panggilan telepon terdengar, suara kereta api terdengar dari seberang. AK menunggu suara kereta itu selesai.


"Tangkap satu pria untuk ku dan pastikan mendekam di penjara untuk malam ini!" titah AK dan mematikan telepon.


Tidak harus menunggu jawaban, karena orang diseberang sana pasti melakukan permintaannya tanpa bertanya. Terlebih sudah banyak bukti yang dikantongi dan akan menjadi pemberat saat di pengadilan nanti. Tanpa AK sadari, mata Ferro gelisah. Ada sesuatu yang mengusik pikiran pria itu, sesuatu yang terlanjur terjadi. Satu lirikan mata ke arah AK, ada penyesalan yang tidak mampu diutarakan.


AK menyadarkan tubuh lelahnya dengan mata terpejam. Membiarkan Ferro fokus dengan jalan tanpa gangguan. Sementara di tempat lain, sebuah mobil yang melaju dengan kecepatan normal terpaksa harus berhenti ketika ada pengepungan. Beberapa mobil polisi dan juga motor polisi terlihat parkir cantik di ruas jalan, bahkan akses jalan ditutup sementara waktu.


Tok!


Tok!


Tok!


"Tolong turun Tuan!" perintah seorang petugas polisi.

__ADS_1


Jendela kaca belakang diturunkan, dan petugas polisi menunduk melihat penumpang yang ada di belakang. Seorang pria dengan kacamata hitam, namun wajahnya berbeda dengan foto yang beredar. "Maaf tuan, kami salah orang."


"Tidak apa, boleh kami lanjutkan perjalanan? Jadwal saya tidak bisa di undur." jawab penumpang mobil.


"Silahkan. Bukan, biarkan mobil lewat!" lapor petugas polisi pada petugas lain yang menjaga akses jalan.


Jendela kembali dinaikkan dan pria di dalam mobil tersenyum puas, bukan si penumpang di belakang. Akan tetapi sang sopir yang menutupi wajahnya dengan topi dinas ala sopir. Senyuman atas rencana terakhir yang sukses mengecoh lawan untuk terakhir kalinya.


"Aku ingin semua diurus! Jangan lupa bakar semua bukti, dan ya pastikan anak itu menjadi monster." tukas sang sopir dan melepaskan topinya.


Penumpang di belakang mengangguk dan menundukkan pandangan, bagaimanapun dirinya hanyalah seorang sopir dan pelayan. Pergantian posisi terjadi setelah ada pemberitaan penggeledahan para anggota polisi, dan sudah pasti semua itu bersangkutan dengan peristiwa kebakaran di gudang tua. Tidak mungkin ada asap tanpa api, alhasil Sam palsu mengubah rencana dengan bertukar posisi dan mengirim anak buahnya melalui rute masing-masing.


Mobil masih melaju dengan kecepatan normal, sementara petugas polisi yang memeriksa mobil Sam tengah mendapatkan ceramah panjang kali lebar dari atasannya. Kemarahan jelas terlihat, dengan urat yang menonjol. Jari yang menunjuk ke arah bawahannya. "Kalian aku minta untuk menangkap satu orang saja gagal! Sudah ku ingatkan, buronan kali ini cerdik dan kalian semua tertipu. Apa kalian makan gaji buta?!"


"Tapi pak, itu…."


"Aku tidak tul!, tapi kamu tidak paham. Buronan bisa menjadi siapa saja, apa sopir kamu periksa juga?" cecar sang atasan.


"Tidak ada gunanya berdebat dengan kalian." ujar sang atasan.


Ponsel yang tergenggam di tangan kiri, segera dioperasikan dengan mendial sebuah nama dan membuat panggilan suara. Nada panggilan tersambung, tapi tidak ada yang mengangkat. Dua kali mencoba, tiga kali mencoba tetap tidak ada jawaban. Helaan nafas kasar terdengar jelas, membuat para anggota polisi lain menikmati ketegangan.


"Cepat kita susul ke bandara!" titah sang atasan dan berlari ke arah mobil polisi yang terparkir di depan batas penjagaan.


Tiga mobil polisi melaju meninggalkan tempat penggeledahan, bunyi sirine meraung-raung membelah kesunyian malam. Sang atasan masih mencoba menghubungi sosok yang menjadi alasan dari semua perbuatannya. Namun, tetap saja tidak ada jawaban.


Sebaiknya aku hubungi petugas bandara, yah itu akan membantu. Entah kemana tuan ini, di saat genting justru tidak bisa dihubungi.~batin sang atasan dan mencari nomor pihak keamanan bandara setempat.


Malam yang digemparkan dengan berita kebakaran hebat di gudang tua pelabuhan, membuat banyak pasang mata dan mulut bergosip. Tidak di rumah, di jalanan atau di tempat umum lainnya. Semua memiliki pembahasan topik yang sama, berita itu seketika menjadi trending topic. Berita pemadaman juga tersebar, namun melihat kobaran api yang terlampau besar. Bisa dipastikan tidak akan ada yang selamat.

__ADS_1


"Perfect." gumam bibir dengan senyuman iblis.


Tidak ada kata bosan untuk mendengarkan berita trending topic itu. Sungguh itu sebuah kesenangan untuk dinikmati, rasanya mendapatkan siraman air surga yang memadamkan api neraka. Bayangan setiap peristiwa menjadi kilas balik, tanpa harus ditakuti. Hidupnya sekarang bebas dengan uang, tahta dan nama ada di genggaman tangan.


Mencuri wajah orang yang tepat, di waktu yang tepat pula. Maka hidupnya kini seperti sebuah berkah, tidak ada ketakutan apalagi tekanan jiwa. Kehidupan yang sempurna. Sangat sempurna, dan kehidupan seperti inilah yang selalu diimpikan olehnya.


Malam semakin pekat, para polisi melakukan penggeledahan di seluruh wilayah bandara. Namun, tidak ada tanda kedatangan buronan. Semua nihil tanpa jejak. Bahkan dengan melakukan pemeriksaan di setiap halte, stasiun dan tempat lainnya. Tetap saja tidak ada kepastian.


Pencarian dilakukan selama berhari-hari tanpa henti, bukan hanya buronan yang menghilang. Pemberi laporan juga menghilang tanpa kabar.


Satu bulan kemudian…..


Deburan ombak laut yang menggulung hingga ke tepian, dengan cahaya matahari menyilaukan. Tampak seorang pria tengah bersantai merebahkan tubuhnya diatas kursi pantai, tanpa pakaian atas dan segelas jus jeruk diatas meja serta sebuah kacamata hitam tergeletak di samping jus.


"Ka, aku menemukan keberadaannya," lapor seorang pria berdiri di depan pria yang tengah bersantai.


Pria tampan itu membuka mata, menatap pria dengan tato di tangan dengan senyuman tipis. "Siapkan semua, kita berangkat malam ini!"


"Bagaimana dengan…."


"Cukup kita, dan biarkan dia istirahat!" sela pria di kursi dan bangun berjalan meninggalkan tempat santainya.


Keduanya berjalan beriringan menyusuri pasir putih dan menuju sebuah bangunan indah di balik pepohonan rindang. Tempat ternyaman dan terbaik untuk melakukan semua tanpa ada yang mengawasi, seorang wanita dengan pakaian sederhana menyambut kedatangan kedua pria itu. "Kalian ingat waktu?"


"Hmm, aku hanya ingin pamit. Jaga dirimu selama beberapa jam, kami harus menyelesaikan semua permainan," jawab pria tanpa pakaian atas.


Wanita yang menyambut dengan senyuman mendadak menundukkan wajah, bayangan sebulan lalu kembali. Ucapan pria itu seakan ingin meninggalkan dirinya dan tak akan kembali. Pria itu mendekat dan memeluk sang wanita. "Kita akan kembali, percayalah."


"Janji?" wanita itu mendongakkan wajahnya.

__ADS_1


Senyuman manis dengan usapan lembut di kepala, membuat wanita itu memeluk erat pria pengisi hatinya. "Pergilah, aku menunggumu disini."


__ADS_2