
"Pakai jacket mu nak dan jangan lupa ponsel mu. Ingat hanya menjenguk Esha bukan ke tempat lain." ucap mama Aland dengan suara khawatir karena tetap melepaskan putra nya keluar dari rumah di saat jam dinding sudah tepat di angka sepuluh.
Meskipun putra nya terbiasa keluar malam, tapi ada perasaan campur aduk yang membuat hati nya seakan terluka dan sakit tanpa tahu apa sebabnya. Ada rasa yang membuat nya ingin mengurung putra nya namun rasa tak tega melihat tatapan memelas putra nya melunturkan seluruh keinginan hati nya, dengan tatapan sendu membiarkan putra nya keluar dari mansion dan jelas dari jendela kamar putra nya terlihat langkah Aland meninggalkan mansion dengan motor sports kesayangan putra nya itu.
"Ku harap Tuhan memberikan satu kesempatan agar aku bisa menjadi ibu yang baik untuk putra ku." ucap mama Aland dengan menatap langit yang teramat gelap.
Motor sports dengan warna putih ber sticker sebuah geng motor melewati sebuah jalan raya yang cukup padat kendaraan hingga di sebuah persimpangan jalan menuju rumah sakit tempat Esha di rawat, motor Aland berbelok ke sebuah jalan bulak menuju ke sebuah tempat yang menjadi tujuan nya. Jalan sepanjang tiga kilometer itu hanya di kelilingi sawah di samping kanan dan kiri nya, jalan yang sangat sepi seperti kuburan dan suara motor Aland terdengar memecahkan kesunyian malam dengan sorot lampu motor yang menerangi jalan.
Ciiiiiit......
"Woy cari mati ya! Berdiri di tengah jalan." seru Aland yang mengerem motor nya dadakan setelah di depan nya ada sosok yang berdiri di tengah jalan dengan pakaian gelap.
Hening...
Kriik.. kriik.. kriik..
Fiuuuh....
Suara jangkrik dengan hembusan angin malam yang dingin menambah suasana menjadi waspada dan juga penuh penghayatan, tidak ada jawaban apa lagi pergerakan dari sosok yang menunduk dengan tudung yang menutupi wajah sosok itu. Aland yang merasa kesal langsung turun dari motor nya setelah menurunkan standar motor, melepaskan helm yang menutupi wajah nya dan meletakkan di atas motor nya.
Nyali nya besar seperti langkah kaki nya yang pasti menuju sosok yang tak bergeming meskipun satu senti, hingga langkah kaki Aland terhenti di antara sosok di depan nya dan juga motor nya karena suara yang datang dari arah belakang nya. Suara yang tak asing, namun suara itu terdengar samar seakan tidak mencapai kunci memori di otak Aland.
"Aland bagaimana kabar mu?" ucap seorang wanita dari arah belakang yang membuat Aland berhenti tapi tetap menatap sosok di depan nya yang masih saja menunduk.
"Hiks.. hiks... kamu melupakan ku Aland? Setelah bersenang-senang, apa aku hanya pemuas nafsu mu Aju." ucap wanita itu lagi dengan sebuah panggilan yang membuat Aland langsung berbalik ke arah motor nya namun tidak ada siapapun di belakang nya.
__ADS_1
"Tidak ada, hey siapa jangan main-main dengan ku ya!" teriak Aland yang membuat para jangkrik terdiam.
"Aju... Aju... Aju.." suara wanita itu memanggil dari berbagai arah yang membuat Aland kebingungan dan menatap kesegala arah dan sosok yang menghalangi jalan nya pun lenyap.
"Aju... Aju... Aju... aju..." panggilan yang menggema itu semakin menyiksa Aland dengan wajah pucat pasi nya.
Panggilan itu sangat menyiksa nya, nama keramat yang tak akan pernah terlupakan oleh nya. Nama yang di berikan oleh senior nya karena diri nya lah yang meminta diberi panggilan kesayangan itu, 'Aju' singkatan dari Aland Junior, sungguh manis dan terkesan seperti sebuah keluarga. Tapi nama itu tidak membuat jiwa nya berhenti merobek kepercayaan senior nya, hawa nafsu yang melanda jiwa nya di saat masa remaja sungguh tak terbendung.
Jeritan rasa sakit kakak senior nya di saat pusaka nya menerjang tanpa hambatan memasuki lembah tak bertuan menjadi bukti hawa nafsu nya yang tak terbendung, aliran darah yang keluar dengan rasa hangat tak membuat jiwa nya sadar. Mahkota seorang wanita yang telah rela memberikan ilmu akhirnya hancur karena terenggut di bawah kungkungan nya, hari naas pertama yang memberikan kenikmatan tiada tara.
Rasa puas ketika bergerak liar keluar masuk di dalam lembah tak bertuan sangat lah memompa adrenalin nya, bukan nya berhenti ketika teriakan wanita tak berdaya di bawah tubuh nya semakin menjadi, tapi justru gerakan nya semakin brutal dan membiarkan sahabat-sahabat nya ikut bergerilya sesuka hati nya.
Berulang kali wanita itu ber teriak menyebutkan nama nya dan kedua sahabat nya secara berganti an tapi tidak ada satu pun yang berhenti melakukan aksi mereka, hingga wanita itu tak sadarkan diri ketika di gilir secara bersama oleh tiga pemuda sekaligus.
"Ajuuu lepaskan kakaaak, sakiiiit. Aaaarrrghhh." seru suara wanita yang seakan bersahutan dan tetap menyelinap masuk ke dalam sela-sela jari Aland membiarkan pemuda itu merasakan rasa sakit yang terlupakan.
"Tiiidak!" teriak Aland dengan buru-buru menghampiri motor nya dan berjalan seperti orang kesetanan.
Duug.. Bruug...
Sebuah pukulan di belakang kepala dirasakan Aland, membuat rasa denyutan seketika menyebar dan menghilangkan kesadaran nya secepat kilat. Sedangkan sosok yang sudah siaga langsung menggeret tubuh Aland menuju tempat persembunyian yang sudah di sediakan oleh nya, semua rencana nya berjalan dengan baik dan rapi tanpa meninggalkan jejak sedikit pun.
Motor Aland di biarkan tertinggal di jalanan bulak itu, sebagai bukti keberadaan pemuda itu di sekitar tempat itu, sedangkan sosok yang menjadi dalang terror yang di alami Aland melepaskan tudung nya setelah memasuki sebuah mobil hitam yang terparkir cukup jauh dari tempat Aland berhenti.
"Ini yang terakhir bukan? Apa masih berlanjut?" tanya seorang pria yang memejamkan mata di kursi pengemudi setelah mendengar suara seseorang memasuki mobil nya.
__ADS_1
"Pergi lah! Tugas mu sampai di sini." perintah pria yang baru memasuki mobil.
"Are you kidding me? You and me is twins , twins! (Apakah Anda bercanda? Anda dan saya kembar, kembar!)" bentak pria di kursi kemudi dan menatap suadara kembar nya dengan tatapan tajam.
"Hmmm.Jalan!" perintah kembaran nya yang memiliki wajah sedingin kutub utara.
Berdebat dengan saudara kembar nya adalah hal percuma, karena kenyataan nya saudara kembar nya lah yang bisa bersikap layak nya psicopat dan itu bertolak belakang dengan nya. Meskipun saudara kembar nya berjiwa psicopat tapi hati nya setulus samudra hanya saja hati nya sudah mati dan tak menyisakan emosi apapun lagi.
"Kapan orang-orang itu meninggalkan rumah kita?" tanya pria di kursi penumpang.
"Pesawat mereka baru saja lepas landas, rumah menjadi Milik mu sepenuh nya sekarang." jawab pria di kursi pengemudi dan tetap fokus menyetir.
"Kapan kamu pergi?" tanya pria di kursi penumpang dengan datar namun tetap saja maksud nya baik.
"Tuan AK yang terhormat, Aku akan pergi jika kamu pergi bersama ku!" ucap pria di kursi pengemudi dengan jelas dan tegas yang membuat AK hanya bisa menghela nafas.
Mengusir kembaran nya itu sungguh seperti mengusir virus yang tengah menyebar luas, tapi tanpa saudara nya yang keras kepala dan penurut pasti lah rencana nya akan berantakan tanpa sisa. Rencana besar yang menjadikan dunia nyata sebagai panggung sandiwara nya, semua berjalan sukses karena kedua nya bersatu dan saling mendukung serta bekerja sama.
"Baik lah, mari selesaikan pekerjaan terakhir kita dan pergi dari sini." ucap AK dengan serius dan mendapatkan anggukan dari saudara kembar nya yang masih fokus menyetir.
Mobil meninggalkan jalanan bulak menuju ke kawasan lain yang lebih terpencil hingga berhenti di depan rumah mewah yang terlihat gelap gulita dan hanya ada penerangan dari satu lampu di depan pintu masuk, kedua pria kembar itu keluar dari mobil bersama an dan melangkahkan kaki secara bersama memasuki rumah mewah kedua nya.
Pintu tidak terkunci dan dipastikan itu karena permintaan AK, yang hidup nya lebih menyukai kebebasan. Langkah kedua nya berhenti setelah memasuki rumah dan pintu tertutup, gelap sangat gelap namun kegelapan itu tiba-tiba menghilang berganti cahaya terang benderang.
"Kaau!" seru salah satu kembaran yang melihat wujud di depan nya yang telah menyalakan lampu seluruh ruangan dengan sekali tekan.
__ADS_1