Plan Of Masked Man

Plan Of Masked Man
Plan of Masked Man


__ADS_3

"Janji?" wanita itu mendongakkan wajahnya.


Senyuman manis dengan usapan lembut di kepala, membuat wanita itu memeluk erat pria pengisi hatinya. "Pergilah, aku menunggumu disini."


Perpisahan itu tetap terjadi, hanya dalam waktu setengah jam kedua pria itu meninggalkan Villa dan menaiki sebuah helikopter yang mendarat di bibir pantai. Tentu saja setelah melakukan persiapan dan kini hanya untaian harapan dan do'a yang bisa dipanjatkan sang wanita. Kepergian dua pria yang menjadi keluarga barunya, sungguh menghadirkan rasa takut mendalam.


Semoga Tuhan melindungi kalian dan kembali tanpa satu kekurangan. Ameen.~batin wanita itu menatap sendu heli yang terbang menjauh dari pulau.


Heli semakin menjauh dari pulau, dan kedua pria di dalam heli tengah berdiskusi akan rencana penyerangan. Perdebatan kecil dan juga ketidaksetujuan, membuat keduanya bersitegang. Hingga helaan nafas terdengar.


"Baiklah, seperti keinginanmu. Tapi ingat, aku hanya memberikan satu kesempatan." ucap pria dengan kacamata hitam.


Pria bertato mengangguk dan tersenyum penuh kemenangan, membuat pria berkacamata mengalihkan pandangan keluar heli. Awan putih dengan burung beterbangan, jauh di dalam pikirannya masih menyimpan luka dan juga kemarahan. Akan tetapi semua sudah terlanjur terjadi, tidak mungkin diulangi lagi.


Aku berharap kamu sudah tenang, maafkan aku. Izinkan aku mengakhiri semua permainan ini, aku tidak akan tenang jika dalang utama masih bernafas lega.~batin pria berkacamata.


Puk!


Satu tepukan di lengan pria berkacamata, dan mengalihkan perhatiannya.


"Sudahlah ka, jangan melamun. Bukankah kita sudah berusaha, lihatlah kita tetap bisa bersama." tegur pria bertato.


"Hmmm. Apa semua sudah tahu?" tanya pria berkacamata.


"Aku sudah memberikan kabar, dan semua sudah menunggu di tempat seharusnya. Mereka sudah siap melakukan tugas terakhir." jawab pria bertato.


Hening


Jawaban pria bertato sudah cukup, dan kini tangan pria berkacamata mengambil topeng yang ada di depannya. Kacamata dilepaskan berganti dengan topeng hitam, biarlah dunia mengenalnya sebagai pria bertopeng. Karena itu identitas dan juga dasar hukum keadilannya.


"Ayo kita selesaikan." ucap pria bertopeng hitam dan memasukkan satu senjata api ke jaketnya.


Pria bertato juga ikut memasukkan satu senjata api, heli masih di udara dan mulai memasuki wilayah perkotaan. Di atas sebuah gedung pencakar langit, heli melakukan pendaratan dengan sempurna. Perjalanan selama satu jam terasa lebih lama, membuat kedua pria itu menghela nafas panjang. Pintu heli di buka, dan pria bertato turun terlebih dulu, disusul pria bertopeng hitam.

__ADS_1


Wajah-wajah lama kini terlihat ada di sudut dekat lift kaca, semua wajah masih sama. Meskipun ada yang mengalami perubahan, dua pria itu berjalan menghampiri para kawanannya. Dunia seperti terbalik, musuh menjadi lawan dan lawan menjadi musuh. Dua kelompok yang terpisah kini bertemu kembali setelah kepastian didapatkan.


''Apa kabar bro?" tanya pria dengan topeng putih mengulurkan tangan ke arah pria bertopeng hitam.


Uluran tangan itu disambut dengan hangat, bersama pelukan seorang saudara. "I'm fine. Bagaimana denganmu dan putri raja?"


"Kami semua baik dan tidak sabar untuk malam ini. Apa sudah ada rencana?" sahut seorang wanita berhijab tanpa sungkan.


Pria bertato menggelengkan kepala, sudah diingatkan untuk tidak membawa wanita berhijab itu. Tapi tidak ada yang mendengarkan keluhannya. "Ka, bisakah nasehati wanita satu ini? Untuk apa kembali ke jalan hitam, bukankah jalan hidup pilihannya sudah berubah."


"Demi putraku! Aku ingin putraku kembali." jawab wanita berhijab dengan mata berkaca-kaca.


"Terkadang jalan hidup mengujimu, jika kamu ikhlas. Serahkan pada kami, aku tahu ini sulit. Tapi aku akan pertaruhkan nyawaku demi putramu. Bisakah kamu mundur?" tutur pria bertato serius.


Ucapan penuh arti dari pria bertato, sukses meluruhkan air mata yang tertahan. Rasa haru menyentuh hatinya, namun ada sesuatu yang tidak bisa dijelaskan dan itu hanya dirinya yang tahu. "Biarkan aku memenuhi tanggung jawabku sebagai seorang ibu, aku tidak bisa mundur."


Pria bertato ingin membalas ucapan wanita berhijab di depannya, namun tangan pria bertopeng hitam memberikan isyarat agar diam. "Biarkan dia ikut, apapun yang tersimpan biarlah menjadi tanggung jawab masing-masing. Ingatlah satu hal, aku memaafkan kesalahan yang lalu. Tapi tidak pengkhianatan masa kini. Sekarang ayo kita turun. Bukankah mangsa ada di gedung ini?"


Lift terbuka setelah berhenti di lantai tengah gedung perhotelan, semua anggota keluar dan wanita berhijab mengambil satu card sebuah kamar hotel. Keempat orang itu masuk ke kamar pesanan, dan di dalam kamar sudah ada seseorang yang menanti kedatangan mereka.


"Salam tuan, apa ini waktunya?" tanya si penunggu kamar menyambut kedatangan pria bertopeng hitam.


Topeng dilepaskan, wajah tampan dengan aura dingin nampak tenang. "Hmmm. Apa semua bukti sudah ditempat? Bagaimana dengan kasusnya?"


"Hanya menunggu buronan tertangkap, semua seperti yang anda inginkan. Tapi bagaimana dengan…."


"Aku siap bertanggung jawab. Aku tidak akan lari dari hukuman." jawab wanita berhijab dengan tegas.


Wajah pria bertato berubah menjadi cemas dengan keputusan wanita berhijab, bagaimanapun dirinya tidak ingin wanita itu mendekam dipenjara. Sementara pria bertopeng putih ikut melepaskan topeng. "Aku juga siap untuk bertanggung jawab atas semua perbuatan ku."


Semua menatap wajah pria bertopeng putih yang sudah jelas sangat mirip dengan wajah pria bertopeng hitam. Siapa sangka wajah kembar itu, kini bukan sedarah. Karena takdir dan ambisi, banyak wajah yang berubah.


"Semua akan mendapatkan ganjaran atas perbuatan masing-masing. Tapi lupakan itu sejenak, kita semua adalah pendosa. Tapi iblis sesungguhnya masih bernafas, bukankah itu yang harus dibinasakan? Ayo fokus ke masalah utama dan kamu, pastikan saja semua berkas sudah siap dan bukti terakhir akan ku kirimkan," jelas pria bertopeng hitam dan membungkam semua orang di kamar itu.

__ADS_1


Tidak ada perdebatan, yang ada hanya penantian menunggu waktu berganti malam.Tidak ada yang memejamkan mata, semua sibuk tenggelam di dalam pikiran masing-masing. Hingga yang terdengar hanyalah suara detakan jarum jam dinding.


Empat jam kemudian…..


"Pukul tujuh lebih dua menit, mau sekarang?" tanya pria bertato dan melakukan peregangan otot.


Dua pria kembar kembali mengenakan topeng, dan wanita berhijab terbangun dari posisi rebahan. Sementara satu pria terakhir menarik nafas dalam dan membuangnya dengan kasar. Kelima orang sudah berhadapan. Tangan pria bertopeng hitam terulur, dan yang lainnya mengikuti. Kelima tangan saling tindih menindih seperti tengah bersiap gambreng.


"Plan of Masked Man."


Kelima tangan berayun ke atas dengan seruan yang sama, kini dua pria bertopeng keluar bersamaan dari dalam kamar hotel. Barulah wanita berhijab dengan pria bertato keluar setelah jeda selama sepuluh menit, dan sepuluh menit berikutnya pria terakhir sebagai sang eksekusi.


Di dalam bisingnya suara musik dan para penari diatas panggung disco, terlihat seorang pria ikut menggoyangkan tangan dan tubuhnya mengikuti irama. Kehidupan memberikan kesempatan kedua dan itu digunakan untuk bersenang-senang tanpa batasan. Kini apapun yang ingin dibeli tidak perlu memusingkan soal uang, wanita pun ikut mengantri. Tidak seperti dulu saat dirinya menjabat sebagai anggota polisi dan menjadi agen rahasia.


Tugas dan misi berhasil pun, tidak akan bisa membeli semua keinginannya. Tapi berkat Sam si pria jadul dengan kumis panjang, kehidupan monoton seorang agen rahasia berubah menjadi seorang ningrat dalam waktu singkat. Yah pria yang sibuk mencolek tubuh sexy para wanita hiburan malam itu adalah sang agen detective yang menangani kasus kematian Asma. Berkat pertemuan tak sengaja dengan Sam, membuat rencana gila terlintas di benaknya.


Hingga kepintarannya sebagai seorang agen dapat digunakan dengan baik, melenyapkan Sam saat meminta bantuan untuk menemukan Icha dan berakhir di meja operasi. Wajah Sam menjadi miliknya dan jasad Sam sudah melebur menjadi satu dengan air lautan. Semua kesenangan kini dapat dirasakan tanpa harus bekerja keras.


"Jangan bergerak!" ancam seseorang.


Leo dapat merasakan sebuah senjata ditodongkan di belakang kepalanya, para wanita dan penghuni club mulai berteriak histeris dan berlarian kesana kemari. Namun, itu tidak mempengaruhi rencana pria bertopeng. "Semua tiarap! Jangan mencoba membantu seorang iblis."


Dorr!


Satu tembakan ke udara menghentikan langkah semua orang yang panik, dan senjata itu berasal dari satu sosok lain yang menghadap ke arah Leo. Tangan kiri pria bertopeng hitam terangkat dan membuka sedikit topengnya di hadapan Leo. Mata Leo membulat, wajah itu sudah terbakar di gedung tua dan tidak mungkin hidup kembali.


"Kami masih hidup. Apa kamu mau lihat?" bisik pria bertopeng putih di telinga Leo.


Leo membalikkan badan dan beralih menatap pria bertopeng putih, pria bertopeng putih ikut menunjukkan wajahnya sekilas dan kembali menutupi wajahnya dengan topeng. Pistol pria bertopeng putih terarah ke sisi kiri dimana wanita berhijab berdiri, dan berpindah ke sisi kanan dimana pria tampan dengan wajah datar berdiri.


Wajah Leo pucat pasi, mata melotot. Minuman yang terlanjur masuk seakan mempengaruhi kesadarannya. Berulang kali tangan Leo memukul kepala dengan racauan tak karuan jelas. Leo ketakutan sesaat hingga tawa terbahak-bahak mengubah situasi. "Kalian itu sudah mati terbakar! Untuk apa menakuti aku? Tidak ada sejarah orang mati bangkit lagi setelah sekian lama. Hahahaha…."


"Dia gila?" cetus pria bertato dengan alis terangkat.

__ADS_1


__ADS_2