Plan Of Masked Man

Plan Of Masked Man
Di balik kaca


__ADS_3

"Sampai kapan api itu menyala, kuharap kamu menjadi air di dalam hidup nya." batin pria paruh baya itu dengan menghela nafas berat.


Tok... Tok.. Tok...


Terdengar tiga ketukan dari dalam kaca membuat pria paruh baya itu menatap kaca besar yang ada di depan nya, kaca gelap yang hanya bisa melihat dari satu sisi. Tiba-tiba kaca gelap itu di buka setengah dan sebuah lambaian tangan muncul dari dalam membuat pria paruh baya itu meninggalkan gunting rumput di tempat dan melangkahkan kaki nya untuk mendekati jendela yang telah terbuka setengah di hadapan nya.


Langkah kaki pria paruh baya itu melewati pembatas yang merupakan bingkai kaca dan masuk ke balik kaca yang tertutup begitu saja di saat seluruh tubuh pria paruh baya itu sudah berpindah posisi seutuhnya, ruangan yang gelap segelap kaca menyambut kedatangan pria paruh baya yang nampak tenang dan tetap waspada.


Praaaang...


Suara benda sengaja di jatuh kan dan pecah menjadi ucapan selamat datang untuk pria paruh baya itu, dalam keadaan gelap tetap saja sosok yang ada di dalam balik kaca bisa melakukan apa saja. Hingga sebuah tangan dingin mencengkram tangan kanan paruh baya dengan kuat, rasa dingin tangan itu seperti es batu yang sudah berbulan-bulan di bekukan.


"Kali ini apa alasan mu marah? " tanya pria paruh baya dan membiarkan rasa sakit di tangan nya tetap bergelanyutan.


"Usir dia!" ucap sosok itu dengan suara gemetar.


"Apa kamu takut? Tidak ada yang melihat mu apa lagi mendengar mu selama kamu menjaga sikap mu, jangan marah karena itu tidak baik untuk kesehatanmu!" ucap pria paruh baya dengan tenang namun tegas.


"Aku akan membuat nya tenggelam di dasar laut, jika mengganggu rencana ku!" seru sosok itu dengan keras nya.


Untung saja ruangan gelap itu adalah ruangan kedap udara, hingga sekeras apapun teriakan sosok itu dapat di pastikan tidak akan sampai keluar dari ruangan itu sendiri. Suara yang dipenuhi amarah dengan penuh kebencian membuat pria paruh baya hanya menghela nafas, rasa nya ingin menjelaskan segala nya pada sosok di depan nya itu tapi terkadang diam dan menjadi penengah akan lebih baik.


Terlebih peringatan tuan nya yang hanya memperbolehkan dirinya menjaga sosok itu dan bukan nya mencampuri urusan sosok itu, yah meskipun sosok itu menjadi kan dirinya sebagai pelampiasan tapi pelampiasan itu masih dalam dosis kecil yang tidak akan membuat luka serius.

__ADS_1


"Dia akan pergi, bersabarlah." ucap pria paruh baya mencoba menenangkan sosok di depan nya yang sudah melepaskan cengkraman tangan nya.


Percakapan kedua nya masih berlanjut sedangkan di tempat lain, tepat nya di sebuah rumah sakit jiwa Harapan. Seorang pria dengan pakaian perawat tengah melakukan pemeriksaan pada salah satu pasien, sebuah nampan berisikan obat dan makanan sudah ada di tangan kanan nya dan tangan kiri nya memegang sebuket bunga mawar merah dengan setangkai bunga lili putih yang menjadi pusat dari buket bunga itu.


Kamar No 57 Pasien Rico al Fatih


Dengan kunci yang ada di saku perawat itu kini pintu terbuka lebar dan segera masuk dan kembali tertutup, terlihat seorang pemuda yang tubuh nya kini menjadi kurus dengan cekungan mata yang cukup jelas. Sudah pasti pemuda itu tidak terawat dengan baik, bahkan rambut nya menjadi lebih panjang dari terakhir kali di lihat nya. Pemuda itu masih memejamkan mata dengan tubuh yang di bedong seperti bayi, itu arti nya pemuda itu termasuk pasien yang berbahaya.


"Hay, apa kabar mu? " tanya perawat pria itu setelah meletakkan nampan di atas nakas dan sedikit mencipratkan air ke wajah Rico.


"Eeuumh..anda... " ucap Rico yang membuka mata nya dan melihat seorang pria yang samar-samar seperti di kenali oleh nya.


"Sttt! Aku bawakan buket bunga ini untuk mu. " ucap perawat pria itu dengan menutupi wajah nya dengan bunga mawar merah dengan setangkai bunga lili putih di tengah.


"Buungaa I.. tu.. " ucap Rico dengan terbata.


***Flashback


"Bunga yang indah ka, pasti dari fans nya ya ka? " tanya Rico dengan canda nya namun kakak senior nya itu hanya tersenyum dan memberi kan nampan minuman pada kami.


"Cieee ada yang cemburu nih." ledek Esha dengan membuat simbol hati terpisah.


Puk..

__ADS_1


"Jangan dengarkan Esha ka, anak satu ini tidak tahu tempat. Tapi bolehlah cerita ka, siapa penggemar kakak hehehe." ucap Aland dengan cengiran kuda nya setelah memukul lengan Esha cukup keras.


"Fans dari mana? Hehe kalian ini ada-ada saja." jawab kakak senior dengan santai nya.


"Trus dari siapa ka? Kakak itu cantik, baik plus smart lagi. Pasti banyak fans nya, Iya gak guys." ucap Rico dengan mengedipkan mata nya pada kedua sahabat nya.


"Yup, agree 100%.Very Beautiful 😍." timpal Aland dengan mengacungkan dua jempol nya ke arah kakak senior nya.


"Sudah-sudah, ayo mulai belajar nya." ucap kakak senior dengan menyudahi gombalan adik senior nya itu.


"Iih kakak gak asyik, ayo lah cerita ka. " protes Esha dengan memanyunkan bibir nya.


"Itu dari calon suami kakak. Sudah? Ayo di buka buku nya! " jawab Kakak senior dan mulai mengambil buku yang ada di depan nya***.


Percakapan itu menjadi sebuah sengatan yang membuat jiwa Rico kembali terguncang, bunga mawar yang masih ada di depan mata nya sangat menyayat ingatan nya akan masa lalu. Perasaan bersalah itu kembali hadir dan membuat tubuh nya bergetar, tidak ada jeritan yang memekakkan telinga tapi tubuh pemuda itu seakan berusaha untuk meraih agar bisa menghentikan guncangan di dalam jiwa nya.


Klik...


Pintu ruangan terbuka namun tak membuat perawat pria berbalik untuk melihat siapa yang datang, hingga suara langkah kaki dengan hak yang dapat di pastikan tidak begitu tinggi mendekati nya. Beberapa langkah hingga langkah kaki itu berhenti dan terdiam melihat pemandangan di depan nya, dari tindakan orang yang baru masuk itu sudah pasti tidak masalah dengan apapun yang tengah di lakukan perawat pria itu.


"Bukankah karma orang tua jatuh pada anak nya, siapa sangka putra dari seorang pengusaha terkenal seperti Fatih bisa masuk ke rumah sakit jiwa dan sangat di sayangkan ketika tidak ada yang memberi kan pemuda ini perhatian lagi sejak masuk ke rumah sakit jiwa ini." ucap orang itu dengan santai nya seakan ucapan nya adalah hal biasa saja.


"Bukankah ini tujuan mu? Agar bisa menjadi kan Rico boneka mu?! " ucap perawat pria dengan meletakkan buket bunga di dada Rico dan menatap orang yang menjadi lawan bicara nya.

__ADS_1


Seorang dokter wanita dengan kaca mata tebal yang selalu menjadi ciri khas dokter itu ada di hadapan nya, dokter yang biasa nya identik dengan ramah lembut dan juga penuh senyuman. Justru wajah di depan nya terlihat aneh, senyuman dengan lengkungan di satu sudut bibir kiri dan sudut bibir kanan tetap saja datar di tambah dengan ramput kepang dua yang seakan menunjukkan kesan gadis desa, sungguh penampilan nya tidak sesuai dengan jas putih yang menjadi penopang karir wanita di depan nya itu.


"Hahaha anda benar. Dan Fatih pantas mendapatkan karma ini." ucap dokter itu dengan suara tawa nya yang bisa membuat Rico semakin meringkuk di brangkar milik nya.


__ADS_2