
Sedangkan di tempat lain kini, sebuah berkas usang sudah ada di tangan nya. Masih ada pertimbangan sebelum niat nya datang untuk membuka berkas itu, di lihat nya kembali beberapa gambar yang membuat nya mendapatkan titik terang meskipun hanya seperti satu lilin yang menyala.
"Apa semua ini ada kaitan nya dengan uang yang ku terima? " gumam orang itu dengan mencengkram ponsel nya.
Dengan pergerakan tangan yang tak menentu karena banyak hal yang difikirkan menjadi satu membuat sebauh berkas usang di tangan nya terjatuh di lantai dan beberapa lembar kertas menyembul menunjuk kan sedikit kata dari isi berkas itu.
"Kasus mayat ter." ucap orang itu dan membungkuk menggambil berkas yang jatuh.
Ditarik nya lemaran kertas yang menyembul sehingga kini tulisan nya jelas dan lengkap, kasus yang pernah di baca nya di dalam kantor nya dan kini ada di genggaman nya. Dengan rasa penasaran perlahan setiap lembar kertas di baca dengan teliti dan kini wajah nya mulai mengingat sesuatu, sesuatu yang seperti nya hampir terlupakan oleh nya.
Berkas yang sama hanya saja di setiap bait selalu ada sebuah coretan tangan dimana itu sebuah simbol senyuman dan kesedihan seakan ingin memberitahu kan sesuatu. Namun tetap saja orang itu masih belum memahami apa guna nya simbol senyuman fan kesedihan itu, tapi sampai lembar terakhir seperti berkas itu tidak sama dengan berkas yang ada di kantor nya.
Tanpa menunggu lama, orang itu merapikan berkas dan keluar dari rumah nya untuk kembali masuk ke dalam mobil, kini tujuan nya adalah tempat nya bekerja. Hanya membutuh kan waktu singkat karena jarak rumah dan kantor tidak lah jauh, dengan langkah tenang melewati rekan-rekan kerja lain nya dan segera memasuki ruangan milik nya.
"Dimana berkas itu? Seharusnya disini." gumam orang itu dengan membuka setiap lemari kecil di ruangan nya.
Hampir tiga puluh menit tapi berkas yang di cari nya tak kunjung ketemu membuat nya semakin gencar mengobrak-abrik setiap berkas yang masih menumpuk di ruangan nya.
"Pak Leo? Apa yang anda cari? " tanya seseorang yang baru saja masuk dan berniat membereskan berkas setelah keadaan nya membaik.
"To apa kamu melihat berkas kasus mayat wanita terbuang beberapa minggu lalu, yang ku baca tanpa sengaja? Aku mencari itu." tanya Leo tanpa menghentikan pencarian nya.
''Berkas itu tiga hari lalu di tarik oleh seseorang pak, kata nya kasus itu tidak seharusnya ada kantor wilayah ini." ucap Dito santai.
__ADS_1
"What? Siapa yang menarik nya? Kasus nya bukan kah ada di wilayah dekat ya." ucap Leo dengan mengingat kawasan tempat kejadian.
"Ntahlah pak, karena penarikan berkas juga mendapatkan izin dari orang dalam." jawab Dito dengan tangan mulai membereskan berkas agar bisa di kembali kan ke gudang.
"Pak boleh saya tanya? " ucap Dito dengan pelan sejenak menghentikan kegiatannya.
"Tanya apa? " ucap Leo dan menatap bawahan nya itu.
"Bagaimana bapak bisa tahu ada mayat di gedung tua itu? Apa ada petunjuk saat bapak memeriksa mayat nya? " tanya Dito dengan tatapan menyelidik.
"Ada yang mengirim pesan dan mengatakan sesuatu yang mencurigakan di gedung itu, soal mayat tentu saja aku tidak tahu dari awal. Dan tidak ada petunjuk apapun yang bisa di dapatkan, bagaimana dengan hasil visum nya?" jawab Leo dengan tenang karena menyadari tatapan Dito sedang menelisik benar dan salah nya jawaban yang di utarakan.
"Dokter akan mengirim hasil visum nya langsung ke kantor, saya bawa ini ke gudang kembali. Permisi pak." pamit Dito sembari mengangkat setumpuk berkas hingga menutupi setengah wajah nya.
"Aku harus lebih hati-hati." batin Leo dan kembali meninggalkan kantor nya.
Sedang kan di dalam gudang berkas yang di bawa Dito nampak hanya di letakkan di meja dekat pintu masuk, terlihat pria itu mengeluarkan ponsel nya dari saku celana. Di buka nya kembali video yang masih tersimpan di ponsel nya, video yang memangkas rada percaya nya pada agen Leo.
Sebuah pesan masuk menghentikan video berputar, berganti dengan sebuah pesan yang sekali lagi menggoyak hati Dito dari pertahanan milik nya yang hanya tersisa setengah kini sudah tinggal seperempat. Tanpa menunda waktu, sebuah icon telepon di tekan nya dan terdengar suara sambungan panggilan yang menandakan nomer itu masih aktif.
"Apa pertanyaan mu? " sapa suara dari seberang.
"Apa mau anda? Apa salah ku hingga terjebak di antara kalian?" tanya Dito dengan tertekan.
__ADS_1
"Posisi mu mempermudah urusanku, kamu lah hakim di antara kami." jawab dari seberang.
"Apa maksud mu? " tanya Dito semakin terlihat cemas.
"Sang penjahat penegak keadilan atau sang opsir pelenyap keadilan?" jawab dari seberang dan mengakhiri percakapan singkat itu.
"Astaga, kenapa aku yang di pilih.Masih banyak polisi lainnya." gumam Dito dengan menatap atas dimana ada ternit putih yang menutupi pemandangan genteng.
Sebuah kepercayaan yang sudah terkoyak dan berganti dengan keraguan, terlebih setelah mendengarkan jawaban dari atasan nya agen Leo. Rasa curiga itu semakin besar membuat Dito kembali mengingat apa yang di cari oleh Leo, berkas kasus dua tahun lalu dimana saat itu dirinya masih magang dan hanya selentingan kabar yang di dengar nya tentang kasus itu.
"Seharusnya ada di internet, yah lebih baik aku melakukan refensi kasus itu dari internet. " gumam Dito dengan meninggalkan gudang kembali ke kursi nya sendiri.
Sedang kan di sebuah pemakaman umum yang biasa nya sepi mendadak menjadi sangat ramai seakan ada hajatan, tidak dapat di pungkiri jika status orang bisa membuat para pengikut setia mengekor. Tidak peduli turut berduka atau hanya sekedar menunjuk kan simpati palsu, tetap saja banyak pasang kaki yang melangkah kan kaki ke dalam pemakaman umum itu.
Satu keluarga yang tengah berkabung dan berduka menaburkan bunga mawar merah dengan air mawar di atas tanah gundukan yang masih terlihat segar, wajah sendu dengan lingkaran hitam nampak terlihat jelas di anggota keluarga itu.
"Bangunlah.Jangan bercanda seperti ini, aku janji akan selalu bersama mu. Bangunlah." seru seseorang yang baru saja muncul dan langsung memeluk papan nisan.
"Bajing@n! Enyah kau dari sini, bodyguard singkirkan sampah itu! " teriak seorang pria yang tengah berduka menatap nyalang ke arah orang yang dengan berani nya memeluk nisan keluarga nya.
"Bangun, akan ku turuti semua keinginanmu sayang.Tapi kembali lah pada ku! Ku mohon." ucap orang itu tanpa mempedulikan teriakan orang yang sedari tadi menarik tangan nya dari nisan yang ada di pelukan nya.
Para bodyguard maju dan mencoba untuk melepaskan orang dengan penampilan acak-acakan itu dari nisan tapi kekuatan orang itu seperti tidak wajar, semakin di tarik bukan nya lepas malah semakin posesif nya pelukan itu.
__ADS_1