
Tubuh dokter itu ambruk dan AK bergegas mengangkatnya. Membawa tubuh dokter itu ke dalam kamar mandi, dengan cekatan tubuh dokter terlilit sebuah tali tambang. Sebuah keberuntungan karena beberapa barang yang dibutuhkan AK tersedia di dalam kamar mandi. "Siapa yang mengirim mu? Apa aku harus bermain?"
AK memilih keluar meninggalkan dokter yang terikat di dalam kamar mandi dan memeriksa isi tas sang dokter yang terjatuh ke lantai bersamaan tubuhnya saat ambruk. Dengan membongkar semua isi tas, AK menemukan sebuah amplop coklat. Terlalu tipis jika berisi uang tunai. AK menyobek dan mengambil isinya.
"Ini?"
Sebuah note dengan tulisan tangan dan tinta merah bertuliskan *Masa kini adalah masa lalu dengan goresan cerita belum usai*. Dokter itu hanya pengantar pesan dan clue dari ucapan dokter adalah *Waktunya terlalu singkat*.
Siapa yang mengirim dokter ini? Dari masa lalu mana yang datang? Semua milikku telah berakhir, Asma, sahabatku, dan saudara kembarku dalam jangkauan tak terhingga. Lalu, siapa yang memiliki masa kini dan bersangkutan dengan masa lalu. Apa ini Sam? Jika iya, seharusnya pria itu merebut Icha bukan selembar kertas catatan. ~ batin AK melipat kertas dan memasukkan ke dalam saku celananya.
Tok!
Tok!
Tok!
Suara ketukan pintu, membuat AK membereskan semua isi tas dokter dan memasukkan kedalam salah lemari kamar hotel. Semua aman, dan AK berjalan ke pintu kamar dan membuka pintu.
"Tuan, ini pesanan anda. Dan ini kartu milik anda.'' lapor pelayan hotel dan menyodorkan dua paperbag ke AK.
Sesaat sebuah ide muncul di kepala AK. "Boleh minta tolong nona."
"Silahkan tuan, bisa katakan apa yang harus saya bantu?" tanya pelayan hotel dengan ramah.
AK membuka pintu dan mempersilahkan pelayan hotel masuk ke kamar. "Bantu tunangan saya berganti pakaian, saya masih menjaga kehormatannya."
Pelayan hotel tersenyum dan mengangguk. Kini pintu kembali tertutup dan terkunci. Pelayan hotel memberikan satu paperbag ke AK dan membawa satunya lagi untuk wanita di atas ranjang. "Tuan anda bisa ganti di kamar mandi, tapi tunggu ketukan pintu dari saya. Supaya anda tidak perlu melihat tunangan anda berganti pakaian."
"Boleh satu lagi bantu saya." cetus AK dengan serius.
Pelayan hotel merasa ada sesuatu yang tidak beres. "Apa ada masalah tuan? Jika iya, saya akan melaporkan pada manager hotel dan beliau akan membantu menyelesaikan masalah anda."
__ADS_1
"Masalahnya hubungan kami tidak direstui, jadi bisakah nona meminjamkan seragam hotel untuk tunangan saya dan gaun baru itu untuk gantinya. Saya berharap nona tidak keberatan. Saya khawatir orang-orang masih berkeliaran mencari kami." jelas AK dengan nada memelas.
Mendengar kisah sedih AK, pelayan hotel mengangguk setuju. "Terimakasih nona."
"Sama-sama tuan. Silahkan." jawab pelayan hotel dan membiarkan AK memasuki kamar mandi terlebih dulu.
Seperti keinginan AK, pelayan hotel mengganti pakaiannya terlebih dahulu. Baru setelah itu membantu Icha memakai seragam hotelnya. Dengan inisiatif, pelayan hotel juga mengikat rambut Icha agar terlihat lebih rapi. "Akhirnya selesai. Cantik dan manis. Beruntung sekali tuan itu."
Langkah kaki pelayan hotel berjalan mendekati pintu kamar mandi. Mengetuk pintu tiga kali. "Tuan anda bisa keluar."
Belum sempat langkah pelayan hotel berbalik. AK sudah membuka pintu kamar mandi dan keluar. Memastikan semua sesuai harapannya. "Terimakasih atas bantuan anda nona."
"Sama-sama tuan. Kalau begitu saya permisi." pamit pelayan wanita dan berjalan menuju pintu kamar.
"Tunggu!" cegah AK.
"Iya tuan?" tanya pelayan yang spontan menghentikan langkah dan berbalik menghadap AK.
"Sebaiknya saya minta beberapa karyawan untuk membawa tandu, setidaknya sampai di depan mobil. Atau anda mau menggendong tunangannya?" ujar pelayan hotel.
"Bantu saya checkout saja. Ini kartu dan anda simpan terlebih dahulu. Bisa?" AK mendekati pelayan wanita sembari memberikan kartu ATM yang sama.
Pelayan hotel ragu, tapi melihat keadaan dan juga suhu tubuh wanita di atas ranjang sangat panas. "Baik tuan. Anda bisa menghubungi saya dari pihak hotel atas nama Diandra. Semoga semua membaik dan hubungan kalian langgeng dipenuhi kebahagiaan. Ameen."
AK mengangguk dan mengantarkan pelayan hotel keluar dari kamarnya. Kepergian pelayan itu, membuat AK bergegas menyiapkan pelariannya. Dengan memakai jaket yang tersimpan di lemari, masker dan juga kacamata. Dengan sigap AK menggendong Icha dan keduanya berjalan mendekati pintu.
Perlahan AK memastikan meninggalkan kamar hotelnya. Dengan menghindari banyak orang, bahkan wajah Icha tersembunyi kedalam dada pelukannya. Langkah AK terhenti sebelum mencapai lobi, matanya menangkap beberapa orang dengan pakaian hitam tengah membuat keributan di meja resepsionis.
Puk….
Sebuah tepukan di pundak AK, membuatnya menatap ke samping. Satu jemari di bibir sosok yang menepuk pundaknya, membuat AK diam dan mengikuti arahan sosok itu. Kini langkah keduanya beriringan melewati jalan lain, dimana jalan khusus para karyawan hotel. Sebuah pintu besi besar berada di ujung. "Tuan bisa lewat pintu besi itu, dan pintu itu tembus ke jalan raya. Lebih baik tuan jangan melewati daerah depan hotel, beberapa orang bertanya dan ciri-ciri yang mereka sebutkan sama seperti tunangan anda. Pergilah."
__ADS_1
"Terimakasih. Jika ada yang menginterogasi nona, cukup katakan tidak tahu." AK berjalan menuju pintu besi dan pelayan hotel yang membantunya kembali bekerja.
Kepergian AK tanpa diketahui oleh siapapun, selain seorang pelayan hotel yang jam kerjanya sudah berakhir dan ikut meninggalkan hotel dari pintu depan tanpa rasa cemas ataupun was-was. Meskipun, belum melakukan checkout seperti permintaan AK. Pelayan hotel memilih tindakan bijak, dengan menunda melakukan Checkout atas nama pelanggan kamar hotel yang baru ditolongnya.
Wajah para pria berbaju hitam semakin gusar dan tidak sabaran. Tanpa peduli ketakutan para karyawan wanita. Gebrakan meja dan todongan senjata menjadi jalan terakhir. "Sekarang bisa tunjukkan?"
"Saayaaa…"
Doorr…..
Bruug…..
Satu tembakan dan membuat cipratan darah kemana-mana. Satu resepsionis sudah jatuh dengan peluru tembus di kepala dan satunya lagi jatuh pingsan karena shock. Yang tersisa hanyalah satu resepsionis pria dengan wajah mematung. "Jalan!"
"Baaa-iik…" cicit resepsionis pria dan mengikuti perintah satu pria berpakaian hitam yang menodongkan senjata.
Suasana yang tidak ramai, bahkan terkesan sepi. Membuat para pria pakaian hitam bertindak bebas tanpa aturan. Langkah gemetar resepsionis pria semakin didesak tekanan todongan senjata api di belakang kepalanya. Rombongan itu berhenti di depan salah satu kamar hotel. "Buka!"
Tangan resepsionis pria memutar knop pintu, ternyata tidak terkunci. Pintu terbuka lebar dan todongan senjata api diturunkan. Satu dorongan dari belakang, membuat resepsionis pria masuk kedalam kamar dan terjungkal mencium lantai nan dingin. Gerombolan pria pakaian hitam ikut masuk dan menutup pintu. "Periksa!"
Suara langkah kaki berlomba-lomba, menelusuri setiap sudut dan inci untuk menemukan secuil bukti. Hingga salah satu pria membuka pintu kamar mandi dan melihat sajian di dalam ruangan penuh busa. "Tuan! Lihatlah ini."
Suara yang berasal dari kamar mandi, membuat semua orang berhenti melakukan kegiatan mereka. Pria yang memegang senjata api berjalan mendekati kamar mandi. "Jaga resepsionis itu!"
"Siap tuan." jawab beberapa pria pakaian hitam dan mencengkram kedua lengan resepsionis pria yang ketakutan dengan wajah pucat pasi.
Wajah pria yang dipanggil tuan berubah menjadi dingin. Bagaimana bisa ada pengganggu dalam rencananya, siapa yang mengirim tikus dan mengusir mangsanya? Siapa yang tengah mempermainkan rencana epik miliknya? Untuk kedua kalinya, rencananya tercium seseorang. "Singkirkan pria perusak rencanaku ini!"
"Baik tuan." jawab anak buahnya dan mulai melakukan eksekusi pada dokter yang masih hidup dan hanya pingsan.
Jeritan dan juga suara pukulan demi pukulan tak membuat pria dengan panggilan tuan memiliki belas kasihan. Hingga ekor matanya menangkap goresan di cermin kamar mandi. Langkahnya mendekati cermin dan menatap dengan cermat tulisan yang tertera di atas kaca itu. "Pesan ini….."
__ADS_1