Plan Of Masked Man

Plan Of Masked Man
Hari Nano-nano


__ADS_3

Ciiit..


"Keluar." perintah sosok itu dengan tegas dan Desi langsung menciut dengan suara dingin yang menusuk gendang telinga nya.


Tanpa di sadari Desi yang sudah turun dari mobil Lamborghini itu , satu makhluk mungil tengah menikmati begitu banyak permainan baru di teras sebuah rumah bersama seorang gadis kecil dengan riang nya. Melihat langkah sosok itu yang keluar dari dalam mobil, sungguh mata Desi hampir keluar, bahkan kedua tangan nya reflek menampar pipi nya sendiri untuk menyadarkan jika yang turun dari mobil adalah manusia bukan dewa.


Wajah yang sangat tampan dengan garis pesona yang langsung membuat dirinya ingin pingsan namun di tahan, tapi kesadaran nya kembali setelah merasakan sebuah pelukan dari tangan yang masih belum cukup melingkar di kaki nya. Di alihkan nya pandangan mata nya ke bawah, rasa nya rindu menatap mata ceria yang selalu menjadi pelipur lara nya selama ini.


"Hyun ku sayang." seru Desi sembari menggendong makhluk yang menempel di kaki nya dengan penuh suka cita,membuat makhluk itu terbang dengan tawa yang selalu terdengar dari bibir mungil nya.


Ada yang menatap kedekatan Desi dengan makhluk kecil itu dengan tatapan kerinduan dan juga kesedihan, rasa nya tatapan itu menggambarkan jiwa nya yang masih membutuhkan kasih sayang seorang ibu. Pria tampan yang menyadari perubahan wajah gadis nya langsung menggendong gadis milik nya dan memeluk nya dengan erat dan elusan kepala yang membuat gadis nya mengalungkan kedua tangan di leher pria tampan yang kini menjadi papa nya.


"Ma, Hyun punya temen. Holeee... " celoteh Hyun sembari memainkan rambut Desi yang sudah berhenti menerbangkan nya di udara.


"Waah seperti nya seru sekali, boleh mama ikut kenalan. Mama juga pengan punya teman." ucap Desi sembari mengacak rambut putra nya yang panjang seperti pria korea.


"Ayoo Hyun kenalin ma." tarik Hyun yang tidak sabaran membuat Desi sangat gemas dan juga bahagia melihat senyuman yang sangat menawan dari putra nya.


Langkah Hyun yang baru berusia lima tahun setengah membuat Desi mengimbangi nya dengan hati-hati, takut nya justru putra terjatuh karena saking semangat nya. Pandangan Desi hanya pada putra tercinta bukan ke arah depan, siapa yang hendak putra nya tuju hingga pandangan Desi beralih barulah mata nya melotot dan merasa jantungan.


*Tuhan, ujian apa lagi ini? Satu pria telah tiada bagi ku, tapi dewa ini kenapa turun dari khayangan. Apa di khayangan sudah tidak muat tempat nya? Atau dewa ini hanya jalan-jalan saja?* batin Desi dan menggabaikan mulut kecil Hyun yang sudah berbusa memperkenalkan teman baru nya.


"Ekhem! Lihat lah putra mu yang siap menangis." dehem pria itu dengan menatap Desi dan mengalihkan tatapan di depan Desi yang kini wajah Hyun sudah memerah dan mata nya berkaca.


"Hyun, kakak di sini jadi jangan menangis. Ayo bermain bersama lagi, mau?" ajak seorang gadis yang langsung bersikap seperti seorang kakak sungguhan dengan mengulur kan tangan kanan nya.


"Hyun mau." jawab Hyun dengan kembali ceria membuat wajah merah nya perlahan memudar dan menggandeng tangan teman baru nya.


Melihat kedekatan dua anak beda usia membuat Desi merasa kan sesuatu yang membasahi pipi nya, sungguh rasa nya kesedihan bercampur rasa syukur memiliki anak seperti Hyun. Tapi dirinya tahu jika putra nya merindukan sosok ayah yang tak akan bisa diberikan oleh nya meskipun berdoa ratusan kali pun, hati nya semakin tersudut ketika melihat dua anak beda usia itu dengan bahagia nya berbagi mainan dan menikmati waktu bersama.


"Pakai.Ikutlah!" ucap pria itu dengan menyodorkan sapu tangan biru navy yang memiliki sebuah lambang bintang.


Desi hanya menerima sapu tangan dan menggenggam nya dan air mata nya justru di hapus dengan jas putih nya, hati nya tidak rela jika mengotori sapu tangan yang semerbak wangi cool menenangkan justru ternodai air mata asin nya. Sembari langkah nya mengikuti pria yang ber jalan dengan langkah besar nya, tentu saja setelah pria itu memerintahkan para pelayan untuk menjaga putri nya dan juga Hyun.

__ADS_1


Desi menatap setiap sudut ruangan yang terkesan mewah hanya saja semua tertutup rapat seakan tak mengizinkan hembusan angin menembus rumah itu tanpa izin sang tuan rumah, sungguh indah dan nyaman meskipun sedikit membuat fikiran nya travelling kemana-mana. Yah siapa yang akan menutup semua jendela dengan tirai gelap padahal matahari masih menampakkan wujud dan sinar nya dan di setiap sudut tidak ada satu foto pun yang menunjuk kan siapa pemilik rumah tersebut.


"Sudah puas? " tanya pria itu yang berhenti di tangga karena tidak mendengar suara langkah kaki di belakang nya dan benar saja wanita single parent itu tengah meneliti keadaan rumah nya.


"Maaf tapi rumah anda sangat indah hanya saja kurang hangat." ucap Desi dengan lirih di kata terakhir nya tapi pria tampak acuh dan hanya kembali berbalik dan melanjutkan menaiki tangga hingga membuat Desi memanyunkan bibir nya dan mengikuti dengan sedikit kesal karena di abaikan.


Langkah pria itu berhenti di sebuah kamar, setelah knop pintu di putar kini nampak sebuah kamar bak princess dengan begitu banyak boneka berbagai jenis dan ukuran hanya saja sekali lagi nuansana sangat lah hampa dan seperti tidak ada nyawa di kamar yang luas nya melebihi kamar putra nya Hyun. Wajah Desi berkerut dengan tautan alis di saat pria itu memberikan sebuah kardus yang di angkat dengan satu tangan, melihat tidak Ada reaksi dari Desi membuat pria itu memberikan isyarat agar wanita itu mengambil kardus di tangan nya.


"Ini? " tanya Desi dengan bingung setelah mengambil kardus yang setengah tertutup.


"Kamu dokter specialist kejiwaan, jadi lah dokter untuk putri ku. Hanya untuk putri ku dan berhenti lah bekerja di rumah sakit." ucap pria itu dengan jelas dan tidak ada keraguan sedikit pun.


Desi benar-benar merasa kan rasa pusing luar biasa, berhenti bekerja? Pekerjaan yang selama ini menopang kehidupannya dan dengan mudah nya pria dewa di depan nya mengatakan pada nya untuk berhenti bekerja. Lalu bagaimana dirinya akan memenuhi kebutuhan nya terlebih kebutuhan Hyun yang beberapa bulan lagi pasti akan membutuhkan sekolah, dengan berulang kali mengerjapkan mata nya dan mengusir kupu-kupu yang masih terbang di kepala nya hingga tidak menyadari bagaimana keadaan nya.


"Aaarrggh.. " seru Desi begitu merasa kan tubuh nya melayang dalam hitungan detik.


Sungguh rasa nya tidak percaya jika dewa nya bisa semanis itu meskipun wajah nya masih dingin dan dewa nya mau menggendong nya ala bridle style bak actor hollywood, sesaat membuat Desi melupakan masalah pekerjaan nya. Pria itu mengambil segelas air putih dan menyodorkan dengan isyarat tatapan mata yang semakin membuat Desi salah tingkah, Desi menerima minuman itu dan meminum nya dengan berpaling agar wajah merah nya tidak terlihat.


"Ukhuk.. ukhuk.." rasa nya sangat sakit setelah terbang kembali terjatuh, dengan menepuk dada nya untuk meredakan rasa tak enak akibat tersedak minuman yang seperti salah masuk jalan di dalam tenggorokan nya.


"Apa bisa ku fikirkan lagi? " tanya Desi dengan hati-hati karena ntah kenapa perasaan nya sedikit tidak baik dan ada sesuatu yang mengusik fikiran nya.


Bukan nya menjawab tapi pria itu justru pergi meninggalkan kamar princess dan membiarkan Desi melongo dengan sikap ajaib dewa nyasar itu, tapi kini ekor mata Desi menatap kardus yang sudah ada di samping nya. Dengan rasa yang bercampur antara ragu dan penasaran, di buka nya kardus yang hanya tertutup setengah.


Kardus itu berisi tumpukan lembaran kertas warna-warni dengan coretan-coretan yang harus di pelajari dengan konsentrasi, tangan Desi terulur mengambil tiga lembaran kertas teratas yang memiliki warna merah dengan spidol hitam, warna putih dengan spidol merah dan warna biru dengan spidol putih. Perlahan di baca nya coretan-coretan yang memang membuat sebuah kalimat, kalimat pertama yang langsung membuat leher Desi merasa tercekat dan fikiran nya sudah mulai memasuki jiwa ke dokter an yang di miliki nya.


"Dia berteriak meminta ampun, tapi tatapan mata nya meminta ku tetap bersembunyi dan dengan gigitan keras di bibir ku yang berdarah hanya bisa menjadi jeritan tanpa suara." ucap Desi dalam kertas warna merah spidol hitam.


"Mata itu selalu menyambut malam dan pagi ku, mata yang penuh Cinta namun ternodai." ucap Desi dalam kertas warna putih spidol merah.


"Telinga ku sangat sakit mendengarkan jeritan rasa sakit nya, rasa sakit yang membuat tubuh ku terpaku di dalam tempat tersembunyi, jeritan nya seakan menyiksa ku tanpa ampun." ucap Desi dalam kertas warna biru spidol putih.


Hanya tiga kertas sudah membuat Desi memikirkan banyak kemungkinan, lalu pandangan nya beralih ke dalam kardus yang masih memiliki puluhan kertas warna. Ingin rasa nya segera membaca semua kertas warna itu namun ada perasaan yang sangat membuat nya menjadi tidak nyaman dengan goresan spidol di kertas warna di tangan dan di dalam kardus, jika yang menulis adalah gadis yang bersama putra nya itu arti nya kejiwaan anak itu sedang tidak baik.

__ADS_1


Dengan masih menggenggam tiga kertas warna di tangan nya Desi bangun dari duduk nya dan berlari untuk menggapai pintu yang terbuka tanpa berfikir panjang lagi, namun setelah keluar dari kamar justru tubuh nya menabrak sebuah dada bidang dengan aroma maskulin yang membuat kecemasan Desi menguap seketika dan berganti dengan rasa malu karena bulu-bulu halus yang ada di depan nya dan masih dengan posisi yang sangat manis untuk nya.


"Putri tidak akan melukai putra mu, tenang lah. Ayo kita lanjutkan pembicaraan yang masih belum berakhir." ucap pria itu dan melepaskan satu tangan nya yang menahan Desi agar tidak terjatuh akibat menabrak nya.


Dengan genggaman di tangan nya kini pria itu kembali memasuki kamar putri nya dan menuntun Desi yang menunduk malu dan diam ke tepi ranjang dimana masih ada kardus di atas nya, kedua nya kini duduk berhadapan dengan pemisah kardus yang seperti nya bekas kardus mie instan.


"Ambil lah, waktu mu hanya sampai langkah kaki mu meninggalkan batas tanah ku. Aku tidak akan memaksa tapi Putri ku sangat membutuhkan penangan khusus bukan hanya sebagai dokter kejiwaan nya tapi sebagai teman nya." ucap pria itu dan menaruh sebuah amplop coklat di atas tumpukan kertas warna.


"Putri ku hanya membutuhkan kasih sayang untuk menyembuhkan trauma nya tapi percaya lah, putri ku tidak pernah menyerang siapa pun." ucap pria itu dan kembali bangkit dari tempat duduk nya.


"Trauma apa yang di alami putri anda? " tanya Desi dengan lembut karena jiwa dokter nya tengah meronta.


"Melihat pelecehan di depan mata nya sendiri, di saat usia nya masih sangat kecil namun gadis ku masih bertahan hingga detik ini karena korban pelecehan itu adalah motivasi hidup nya." jawab pria itu setelah menghentikan langkah nya dan menatap pintu yang setengah terbuka dengan menahan rasa bergemuruh di dalam hati nya.


Merasa tidak ada pertanyaan lagi membuat pria itu meninggalkan kamar putri nya, tanpa melihat reaksi Desi yang kini merasa tersedak tanpa minuman dan makanan. Ada yang menghantam hati nya mendengar jawaban dewa nyasar dan kini tangan nya terulur mengambil amplop coklat di dalam kardus, dengan melepaskan tali yang menjadi penutup sebuah kertas putih terlihat begitu amplop terbuka.


"Ini? "


...***********...


hay readers, author cuma mau kasih tahu kalau novel Plan of Masked Man akan segera tamat.


.


.


. Meskipun author belum tahu akan berapa episode lagi tapi author bakalan nulis ending nya sesuai dengan alur nya.


.


.


. Thanks readers yang setia membaca karya author 🥰

__ADS_1


__ADS_2