Plan Of Masked Man

Plan Of Masked Man
Kenangan AK bersama Sekkar


__ADS_3

Tangan Ashley melambai, dan memutari pancuran. AK memperhatikan setiap pergerakan Ashley, hingga tubuh Ashley semakin menghilang. Dengan langkah tegasnya, AK mengikuti kemana perginya Ashley. Tangga dengan batu pilihan menjorok ke dalam tanah, ada obor yang menyala di dinding dan menerangi setiap langkah AK.


"Bukankah itu dia?" tanya Ashley menunjuk ke satu kamar terbuka dengan banyaknya alat medis ditubuh satu insan lemah tak berdaya.


Tangan Ashley melambai, dan memutari pancuran. AK memperhatikan setiap pergerakan Ashley, hingga tubuh Ashley semakin menghilang. Dengan langkah tegasnya, AK mengikuti kemana perginya Ashley. Tangga dengan batu pilihan menjorok ke dalam tanah, ada obor yang menyala di dinding dan menerangi setiap langkah AK.


"Bukankah itu dia?" tanya Ashley menunjuk ke satu kamar terbuka dengan banyaknya alat medis ditubuh satu insan lemah tak berdaya.


AK memandangi tubuh seorang pria dengan banyaknya peralatan medis di tubuhnya. Pria yang terlihat postur tubuhnya sama seperti postur tubuh AK. Rasa sesak dihati AK kembali terasa, ikatan batin itu tidak bisa dipungkiri. Dengan langkah sigap, AK menghampiri sosok tak berdaya itu. Tangannya terulur mengusap perban diwajah sosok itu. "Apa yang terjadi padamu? Kenapa jadi seperti ini?"


"Tubuhnya mengalami luka bakar, menurut informan ku terjadi keributan massal dimalam dia masuk kerumah sakit. Sasarannya bukan dia tapi sang penolong. Lihat pria di sebelah kamar ini! Dialah yang menjadi sasaran." tutur Ashley dengan serius.


AK melepaskan tangannya dari wajah pasien pertama dan berpindah ke pasien dikamar lain. Sejenak matanya terpaku menatap sosok pria paruh baya yang sudah lama tak ditemuinya, tapi kondisi pria paruh baya itu sangat lah memprihatinkan tak jauh berbeda dari pasien pertama. "Apa yang terjadi pada Sekkar?"


Ashley mengerutkan dahi, sekilas memandang AK dengan satu tanda tanya. "Anda mengenal pria itu?"


AK masih berdiri mematung di antara pintu, membiarkan Ashley mencari jawabannya sendiri. Karena fikiran AK terjebak pada satu kisah, kisah yang membuatnya melakukan keputusan terbesar dalam hidupnya.


Flasback


Malam dengan petir menggelegar, hujan turun dengan derasnya. Dengan hembusan nafas yang tersisa, seorang pria berlumuran darah mencoba mencapai ujung tebing dengan sisa tenaganya. Satu sorot cahaya terlihat samar, dan satu uluran tangan muncul ditengah petir yang menyambar. "Ayo pegang tanganku! Semua sudah pergi."


Pria berlumuran darah menerima uluran tangan sang penyelamat, dibawah hujan deras dengan petir menyambar. Kedua pria itu melewati jalanan terjal menuju satu pondok bambu milik warga setempat, pondok yang selalu digunakan untuk istirahat para warga ketika lelah mencari kayu bakar.

__ADS_1


"Tunggu disini, aku ambilkan minum." ucap penolong dengan wajah cemas.


Dua puluh menit kemudian, sang penolong datang kembali ke pondok dengan satu tas ransel besar dipundak. Pria berlumuran darah sudah lebih baik dengan nafas teratur, meskipun luka di tubuhnya cukup banyak bertebaran di sekujur tubuhnya.


"Minumlah, ini hangat. Akan membantu menghangatkan tubuhmu." ucap sang penolong dengan menyodorkan satu cangkir teh tanpa kepulan asap.


Sluurr…


"Terimakasih. Tapi aku harus pergi sekarang." ucap pria berlumuran darah dengan menyerahkan cangkir teh dengan sisa teh setengah.


Sang penolong menahan pergerakan pria berlumuran darah, dari tatapan mata sudah pasti itu kecemasan. "Biar ku obati luka mu dulu. Aku sudah pastikan orang-orang itu pergi jauh dari sini."


"Baiklah. Siapa nama mu?" tanya pria berlumuran darah.


"Terkadang bukan si pendosa yang mendapatkan karma. Tapi si penuntut keadilan yang menerima hukuman. Apakah hukum negara masih bisa di percaya? Apa aku harus pergi ke neraka untuk menghukum para pendosa?" jawab pria berlumuran darah dengan menatap derasnya hujan.


Tanpa menghentikan gerakannya, Sekkar mencerca ucapan pria didepannya. "Jika seperti itu, percayalah pada diri anda sendiri. Meskipun aku seorang petugas negara, aku akan memberontak ketika hak warga di abaikan. Katakan apa masalah mu, aku akan mendengarkan."


Hening……


"Jangan katakan jika ragu. Banyak yang berfikir petugas negara tidak bisa dipercaya, terutama para polisi. Jadi tenanglah, aku tidak akan memaksa." tukas Sekkar beberapa tidak mendapatkan jawaban dari pria didepannya.


Mata dengan tatapan dalam menerawang gelapnya malam, petir berhenti menyambar. Tapi siapa yang akan menyelamatkan jiwanya yang tenggelam dalam kegelapan? Saat ini dirinya seperti nahkota yang kehilangan arah haluan, salah sedikit bisa menenggelamkan kapal. "Dia sangat manis dan baik hati. Kebaikannya menjadi awal kehancuran hidup kami, aku lalai menjaga dan melindunginya. Hingga para iblis datang melecehkan calon istriku. Kekuasaan ku seperti tak ada gunanya, musuh mengepung tanpa ampun. Kenapa orang-orang itu membuangku? Karena aku tidak berniat melepaskan para iblisnya. Disinilah aku sekarang, luka di tubuhku tidak sesakit luka di hati dan jiwaku. Air mata pun tak akan berguna. Apa aku harus menyerah? Bagaimana aku membiarkan para iblis itu hidup tenang ketika mereka merenggut dunia ku tanpa belas kasihan."

__ADS_1


"Jangan bilang kamu adalah kekasih wanita satu bulan lalu yang ditemukan bunuh diri?" sela Sekkar tidak sabar.


Pria didepan Sekkar mengangguk, sontak membuat Sekkar menutup mulutnya sendiri. Bagaimana takdir mempertemukan dirinya dengan orang yang tengah menjadi buruan atasannya, kini ada dihadapannya. "Sebaiknya kita pergi dari sini. Nyawa mu dalam bahaya! Kecuali."


"Kecuali apa? Dan apa maksudmu aku dalam bahaya? Tentunya selain orang-orang tadi." cecar pria berlumuran darah dengan nada tinggi.


Sekkar menggelengkan kepala dan menghirup udara sebanyak mungkin. "Atasan kami telah menargetkan kamu sebagai buronan! Mungkin jalan kembali seperti itu sama saja menyerahkan diri. Kecuali anda mau memanipulasi keadaan. Tapi untuk ini, anda harus menghapus nama anda sendiri dari muka bumi."


Seperti sebuah cahaya dalam kegelapan, ucapan Sekkar memberikan pencerahan bagi pria berlumuran darah. Wajah yang masih memiliki sisa darah menerbitkan senyuman penuh arti. "Terimakasih atas sarannya. Boleh pinjam ponsel?"


"Ambillah. Ini ponsel pribadi jadi tidak tersadap." tukas Sekkar dengan menyodorkan sebuah ponsel jadul.


Beberapa nomer ditekan dan satu tekan tanda panggilan, hingga ada seseorang yang menjawab diseberang. "Temui aku di pinggir hutan Kota L."


Pria berlumuran darah menyerahkan ponsel jadul. "Terimakasih. Bisakah aku minta satu permintaan?"


"Katakan tuan." Sekkar seakan sungkan dengan sikap pria didepannya yang terlihat formal.


Pria berlumuran darah membisikkan sesuatu, wajah Sekkar mengerutkan dahi hingga mata melotot namun akhirnya senyuman terbaik hadir dibibir Sekkar. "Seperti yang anda katakan. Saya tunggu kamar selanjutnya."


Puk…


"Tuan AK? Apa yang terjadi?" tanya Ashley setelah menepuk pundak AK yang hampir sepuluh menit mematung diam tanpa kata dengan tatapan serius ke pasien Sekkar.

__ADS_1


__ADS_2