
Wajah Leo pucat pasi, mata melotot. Minuman yang terlanjur masuk seakan mempengaruhi kesadarannya. Berulang kali tangan Leo memukul kepala dengan racauan tak karuan jelas. Leo ketakutan sesaat hingga tawa terbahak-bahak mengubah situasi. "Kalian itu sudah mati terbakar! Untuk apa menakuti aku? Tidak ada sejarah orang mati bangkit lagi setelah sekian lama. Hahahaha…."
"Dia gila?" cetus pria bertato dengan alis terangkat.
Tangan kiri pria bertopeng hitam terangkat, meminta pria bertato untuk diam. Langkah pria bertopeng hitam mendekati Leo dan membisikkan sesuatu, sesuatu yang sangat sensitif. Leo berbalik dan mencengkram jaket pria bertopeng hitam dengan kuat, sontak itu membuat pria bertopeng putih, pria bertato maju dan menarik paksa tubuh Leo (yang masih mereka anggap Sam).
"Tidak! Itu tidak mungkin, kalian sudah mati di gudang itu. Yah mati terpanggang hidup-hidup. Hahahaha." seru Leo dan membuat seisi club terkejut, wajah cemas dan takut karena pria bersenjata berubah menjadi sebuah dukungan terbalik.
"Yah kami mati, itu yang kamu pikirkan. Lalu kenapa tubuhmu bisa disentuh?" tukas wanita berhijab dan maju ke hadapan Leo.
Plak!
Satu tamparan keras mendarat di pipi Leo, Desi mencengkram keras Leo dengan tatapan tajam. "Dimana putraku Yun?''
"Cuuih… Aku tidak peduli dimana anak itu!'' tukas Leo dan meludah.
Pria bertato langsung memukul Leo ditunggak dan membuat pria pemilik wajah Sam terkulai lemas.
Bruug…
"Sebaiknya serahkan dia pada pihak berwajib, jangan kotori tangan kalian," cegah Pria bertopeng hitam dan menghentikan gerakan tangan pria bertato.
Semua mengangguk dan pria bertopeng putih menyeret tubuh Leo dan menghempaskan ke arah pintu club, dimana seorang pria sudah berdiri bersama anggotanya. Tubuh pingsan Leo berpindah tangan, dan pria bertopeng hitam melambaikan tangan agar Leo dibawa pergi. Kini urusan beralih pada para saksi.
"Nikmati film gratis dari kami, kalian bisa memilih diam atau melaporkan kami." tukas pria bertopeng putih.
__ADS_1
Semua orang di dalam club seakan memilih diam tanpa bantahan, pertunjukan malam yang tidak pernah terbayangkan. Keempat orang pembuat ketegangan berjalan meninggalkan klub, tanpa memikirkan hari esok. Menyusuri lorong dan masuk dalam lift untuk turun. Keempat orang itu merasakan lega setelah berhasil menyerahkan Sam tanpa ada korban.
Pintu lift terbuka dan keempatnya keluar dari lift. Suara gaduh dengan langkah lari yang terdengar jelas seakan menghampiri, dan suara tembakan memenuhi area parkir hotel.
Dooor!
"Awas!" seru pria bertopeng hitam dan melindungi pria bertopeng putih, namun peluru itu menembus jantungnya.
Dooor!
Suara tembakan kedua kembali memenuhi area parkir, namun kali ini peluru diluncurkan dari senjata pria bertato. Satu peluru tepat mengenai kepala Leo. Wanita berhijab menatap keadaan pria bertopeng hitam.
"Hey bangun! AK bangun! Jangan lakukan ini, kumohon." seru pria bertopeng putih memeluk tubuh pria bertopeng hitam.
Topeng putih terlepas, dan wajah kembaran AK terlihat jelas. AK membuka mata dan meraih tangan sahabatnya. "Jaga dia untukku, takdirku bersama Asma. Maafkan aku telah melukaimu, berbahagialah bersama Icha. Berjanjilah padaku, Gio…''
"Waktuku… ukhuk… ukhuk… Jadi…lah.. a..kuu…" ucap AK dan tangannya terlepas terkulai jatuh.
"Kakaaak!" seru pria bertato dan limbung, membuat Desi segera menahan tubuh Ferro.
"Aku berjanji untuk melindungi Icha. Maafkan aku, aku tidak bisa menjadi sahabat yang baik. Aku akan berjuang, maafkan aku hero. Hiks…"
Tragedi malam itu menjadi sebuah rahasia, hanya mereka yang berada di area parkir. Semua CCTV sudah terhapus dan tidak ada sejarah yang tersisa. Seperti hembusan nafas yang tak mampu kembali, malam itu menjadi malam kelam bagi kerumitan panggung sandiwara nyata.
Satu tahun kemudian……
__ADS_1
Seorang wanita dengan gaun putih, mahkota di kepala, wajah manis dengan riasan sederhana. Senyuman wanita itu penuh bunga kebahagiaan, dari pantulan cermin terlihat seorang pria dengan setelan jas biru navy, dasi kupu-kupu berdiri di depan pintu.
"Sudah siap?" tanya pria di depan pintu dengan suara berat.
Sang wanita berbalik menatap pria pemilik hatinya. "Aku siap menjadi nyonya AK."
AK mendekati Icha dan merengkuh tubuh wanita di depannya dengan penuh cinta. Dari cermin jelas terlihat wajah AK sangat tampan, tapi hanya wajah bukan jiwa dan hatinya. Seakan semua menjadi takdir tertukar, hidup masih mempermainkan dirinya. Tapi demi janji dan penebusan dosa, Gio siap menjadi seorang AK.
Kamu berada didekatku, tapi kenapa aku merasakan kita jauh? Apakah ini perasaanku saja? Atau hanya sekedar rasa takutku?~batin Icha.
"Mari, semua sudah menunggu." ajak AK menggenggam tangan Icha.
Kedua mempelai melangsungkan pernikahan dengan sederhana dan khidmat, pernikahan yang mengubah banyak kehidupan. Rahasia yang tersimpan tenggelam dalam pembenaran.
..._______...
Dunia adalah panggung sandiwara nyata.
Tidak ada kata esok atau kini.
Gelap dan terang tetaplah semu.
Layaknya permainan tak berujung.
Takdir kehidupan dalam pengkhianatan waktu.
__ADS_1
Tidak ada kesempurnaan.
Semua berakhir untuk menjadi awal.