
Jrees... Fiiuuh... Wuuss...
Dengan nyala korek api yang terbang dan terjatuh di dalam rumah pohon langsung membuat percikan api menyala dan menyambar apa saja yang sudah di lapisi minyak tanah, sedangkan di depan mobil yang terparkir tidak jauh membuat Lidya bergegas keluar dari tempat duduk nya.
"Ayaaaah... " seru Lidya yang merasa jiwa nya ikut terbakar dengan terbakar nya rumah pohon secara perlahan di depan mata nya.
Bahkan kedatangan seorang pria bertudung justru membuat Lidya semakin histeris meratapi rumah pohon yang kini menjadi api unggun raksasa di depan mata nya, membuat pria bertudung itu langsung menggendong tubuh Lidya yang meronta-ronta untuk di bawa kembali masuk ke dalam mobil nya.
"Diam! " perintah pria bertudung setelah memasang sabuk pengaman di kursi Lidya dan menutup pintu mobil untuk beralih ke kursi pengemudi.
Hiks... hiks... hiks...
"Minumlah! " perintah pria bertudung memberikan sebutir obat putih berbentuk kapsul bersamaan sebotol air mineral ke arah Lidya.
Dengan tangan gemetar dan isakan yang tiada henti nya, Lidya meminum obat pemberian pria bertudung dan perlahan ada rasa kantuk yang menghampiri mata nya. Seperti nya obat putih berbentuk kapsul itu sudah berubah isi nya, seharusnya itu hanya lah sebuah vitamin bukan obat tidur yang membuat kesadaran Lidya perlahan menghilang dan membuat pria bertudung menyalakan mesin mobil nya meninggalkan api unggun raksasa ciptaan nya itu.
Mobil yang melewati jalan lain dari arah kedatangan nya menuju sebuah jalan utama yang menghubungkan wilayah perbatasan kota, setelah memastikan semua siap melalui ponsel pintar nya. Mobil Lamborghini yang terlihat mewah itu menyusuri jalan yang cukup lenggang di waktu yang terbilang larut malam, hingga di depan sebuah cafe mobil berhenti di parkiran dan membuat pria bertudung turun dari mobil seorang diri berjalan memasuki cafe yang begitu rame dan terdengar suara music klasik yang menyambut kedatangan nya.
Disaat tangan pria bertudung menyentuh gagang besi pintu masuk cafe, seseorang dari dalam cafe juga ikut keluar dengan posisi yang bersamaan membuat dua orang dengan pakaian mirip bertukar posisi secara cepat. Tidak ada yang akan menyadari apa yang sebenarnya terjadi, hingga mobil Lamborghini kembali berjalan meninggalkan cafe, meninggalkan seorang pria bertudung yang memandang kepergian mobil nya dari dalam cafe melalui pantulan sebuah kaca di depan nya.
*Semua sudah aman, sekarang waktu nya melanjutkan permainan. * batin pria bertudung dan mengambil ponsel pintar nya mengirimkan sebuah video pada tiga nomer berbeda secara bersamaan.
Ting...
Ting...
Ting...
Bunyi notifikasi pesan terkirim membuat ponsel pintar itu kembali ke saku jacket nya dan langkah nya meninggalkan cafe yang baru saja di masuki nya, sebuah motor besar yang terparkir di sudut menjadi tujuan nya. Kunci motor dengan bandul bola dunia mini dimasukkan ke tempat kunci dan dengan santai nya menyalakan motor besar berwarna merah menyala itu meninggalkan cafe yang masih saja ramai pengunjung, sedangkan di sebuah kamar seorang pemuda menatap benda pipih milik nya dengan tatapan mata melotot layaknya mata pemuda itu ingin keluar jalan-jalan saja.
"Tidaaak. Ini tidak mungkin, pasti ini hanya orang iseng." gumam pemuda itu dengan gusar dan berjalan kesana kemari tanpa jeda, hingga tidak menyadari kedatangan kedua orang tua nya yang menatap tingkah putra mereka dengan heran.
__ADS_1
"Aland! Ada apa nak? " tanya seorang wanita yang merupakan ibu Aland dengan menghampiri putra tunggal nya itu.
"Emm.Tidak ada apa-apa ma. Aland hanya frustasi dengan sidang skripsi yang tinggal menghitung hari, kenapa papa dan mama ke kamar Aland? " tanya Aland balik dengan suara gugup yang dapat di tangkap kedua orang tua nya.
"Nak, duduk lah. Ada yang ingin kami sampai kan." ucap Tuan Hutomo dengan berjalan ke arah ranjang putra nya terlebih dulu sembari memberikan isyarat pada istri nya agar mengikuti langkah nya.
"Ada apa pa? " tanya Aland yang hati nya dag dig dug dengan perasaan tidak karuan, terlebih setelah melihat sebuah video singkat bagaimana keadaan salah satu sahabat nya.
Dan wajah tegang kedua orang tua nya membuat hati nya semakin was-was seakan apapun yang akan di bahas pasti lah tidak jauh dari masa lalu yang sudah terkubur dalam tanpa ingin di ingat kembali, dengan lembus mama Aland membantu putra nya untuk duduk di antara diri nya dan sang suami.
"Ini tiket untuk mu, tinggal kan negara ini." ucap tuan Hutomo dengan menarik tangan kanan nya dari saku celana dan ternyata sebuah tiket keberangkatan ke london sudah ada di tangan pria paruh baya itu.
Mata Aland mengerjap saking tidak percaya nya dengan apa yang di ucap kan oleh papa nya itu, tiket keberangkatan ke london yang di jadwalkan pukul sepuluh pagi esok sudah berpindah ke tangan kanan nya. Bahkan melirik mama nya pun hanya memberikan anggukan kepala sebagai tanda jika kedua orang tua nya sudah sepakat atas kepergian nya, tidak ada kata yang bisa di lontarkan Aland selain diam dengan rasa terkejut nya atas keputusan mendadak dari kedua orang tua nya itu.
"Nak, ini yang terbaik untuk mu. Mama dan papa tidak mau jika nasib Rico dan Esha menimpa mu, hiks. Mama.. " ucap mama Aland dengan memeluk putra nya yang tertegun.
Alasan kepergian nya adalah kondisi sahabat-sahabat nya sendiri yang berarti video yang baru saja di tonton oleh nya itu bukan pekerjaan orang iseng, lalu kenapa papa nya tidak mengatakan apapun selama beberapa hari belakang ini. Bahkan menghubungi Rico dan Esha pun tidak pernah ada jawaban, kedua sahabat nya itu seperti hilang di telan bumi.
"Rico kini menjadi pasien RSJ Harapan dan Esha keadaan nya tidak ada beda nya yaitu di rawat di sebuah rumah sakit umum setelah mencoba mengakhiri hidup nya. Pergilah biarkan papa yang mengurus masalah ini. Ma bantu Aland berkemas, papa tinggal dulu. " jawab tuan Hutomo dengan mengusap rambut Aland sebelum berlalu meninggalkan kamar mewah putra nya.
"Ma, boleh kah aku menjenguk Esha. Sebentar saja." pinta Aland dengan tatapan mata memelas setelah kepergian papa nya yang ntah akan melakukan apa.
"Nak.. " cegah mama Aland yang hati nya merasakan firasat buruk.
"Please ma, Aland janji akan menuruti permintaan kalian untuk pergi ke London tapi izinkan Aland melihat keadaan Esha." ucap Aland dengan mengecup tangan mama nya yang menghela nafas dan memberikan anggukan kepala sebagai tanda setuju.
"Pakai jacket mu nak dan jangan lupa ponsel mu. Ingat hanya menjenguk Esha bukan ke tempat lain." ucap mama Aland dengan suara khawatir karena tetap melepaskan putra nya keluar dari rumah di saat jam dinding sudah tepat di angka sepuluh.
Meskipun putra nya terbiasa keluar malam, tapi ada perasaan campur aduk yang membuat hati nya seakan terluka dan sakit tanpa tahu apa sebabnya. Ada rasa yang membuat nya ingin mengurung putra nya namun rasa tak tega melihat tatapan memelas putra nya melunturkan seluruh keinginan hati nya, dengan tatapan sendu membiarkan putra nya keluar dari mansion dan jelas dari jendela kamar putra nya terlihat langkah Aland meninggalkan mansion dengan motor sports kesayangan putra nya itu.
"Ku harap Tuhan memberikan satu kesempatan agar aku bisa menjadi ibu yang baik untuk putra ku." ucap mama Aland dengan menatap langit yang teramat gelap.
__ADS_1
...~~...
.
.
. Hay readers, hari ini othoor mau nyapa kalian 👋
.
.
. Apa rasa nya jadi seorang pembunuh ya? Atau jadi seorang pendosa?
.
.
. Kok dua-dua nya sama-sama bikin tegang,, 😬
.
.
. Apapun itu, othoor cuma mau say trims yang udh support karya Plan of Masked Man.. 🥰
.
.
. Jangan lupa like, comment, vote, favorite plus happy reading.. 🥀
__ADS_1