
Tanpa menjawab, sebuah tanda tangan sudah tertera di atas kertas putih itu dan dokter segera melakukan tindakan selanjutnya, makhluk tak berdaya itu tidak menyadari jika ada sepasang mata yang mengawasi setiap pergerakan mereka. Wajah nya memang terbiasa dingin tanpa ekspresi, dan tanpa ada yang mencurigai nya ketika berkeliaran di rumah sakit itu.
"Halo tuan, kabar baik dari keluarga Diningrat, Esha diningrat melakukan percobaan bunuh diri dan hampir overdosis karena obat terlarang. " lapor wajah tanpa ekspresi itu setelah memasuki ruangan nya.
"Terus awasi." jawab dari seberang.
"Dengan senang hati." ucap wajah tanpa ekspresi dan memasukkan ponsel nya ke saku jas nya.
............ ...
Hari ini adalah hari dimana seorang Menteri Pertanian melakukan kunjungan ke sebuah desa namun kunjungan itu akhirnya di wakilkan karena keadaan keluarga nya yang tidak memungkinkan , dengan pemberitaan yang memang sengaja di cantumkan di media sosial agar publik mendukung nya di saat keluarga nya mengalami musibah.
Dan itu tepat seperti saran assisten nya, tampak pria paruh baya itu tengah menatap sebuah rumah sederhana dengan kaca gelap dimana ada seseorang yang akan di kunjungi nya. Langkah kaki nya terlihat berat namun pasti, diketuk nya pintu merah itu dengan tenaga sepenuh hati, tak berselang lama terdengar suara langkah kaki yang mendekati pintu.
Krieeet..
Tanpa sebuah kata pria paruh baya di persilahkan masuk dan pintu kembali di kunci agar tidak ada yang melihat ataupun mendengar, terlihat seorang wanita dengan kepala tiga berlari ke dapur dan mengambilkan segelas air putih. Di letakkan di depan tamu yang sudah lama tak mengunjungi nya sejak hari tragis yang membuat pria itu berlari tunggang langgang tanpa mempedulikan penampilan nya yang acak-acakan.
"Apa kabar mu sisi? " tanya pria paruh baya itu dengan nada lembut namun penuh makna.
"Masih segar dan baik, ada apa tuan kemari? " balik tanya sisi dengan wajah datar.
"Aku membutuhkan pelayanan mu, rasa nya sangat lelah." ucap pria paruh baya itu dengan berpindah tempat ke samping sisi.
"Kembalilah ke istri mu, bukankah selama dua tahun terakhir ini aku menjadi sampah." jawab sisi dan berdiri.
Greeb...
__ADS_1
Satu pelukan dari belakang membuat tubuh sisi menegang, bagaimanapun hanya pria di belakang nya yang membuat hati nya bergetar tapi mengingat perlakuan pria itu terakhir kali. Hati sisi masih terluka dan luka itu masih terasa menyayat hati nya tanpa darah yang mengalir, memang pria itu masih mengirimkan jatah bulanan tapi bukan itu yang dibutuhkan oleh sisi selain kehadiran pemilik raga dan hati nya itu.
"Kumohon, berikan aku ketenangan si. Tidak mungkin aku meminta istri ku, keadaannya tidak baik dan hanya menangisi Esha." ucap pria paruh baya itu dengan mengeratkan pelukan.
"Tuan Daniel yang terhormat, jika putra anda masuk ke rumah sakit kenapa anda datang kerumah ini! Pergilah." usir sisi yang memang diri nya akan selalu tahu segala sesuatu tentang kehidupan pria paruh baya itu.
"Sisi Daniel Diningrat, kamu tetaplah istriku. Istri pertama ku!" ucap pak Daniel dengan membalikkan tubuh wanita yang memang masih lebih muda dari istri di rumah lainnya.
Bukannya menjawab, justru pandangan Sisi kini menatap tajam suami nya itu namun berbeda dengan tindakan yang mulai di lakukan. Lihat lah jemari lentik itu mulai meraba dada yang tidak begitu bidang namun tetap tegak, dengan tidak berperasaan di tarik nya kemeja dengan bahan tebal itu hingga seluruh kancingnya berlari sesuka hati.
Bruuuk..
Dengan satu dorongan kini tubuh pria paruh baya itu sudah terbaring di sofa yang lembut, dan membiarkan istrinya memberikan kepuasan yang selama ini di rindukan nya. Yah baik dengan rela atau kemarahan nyata nya Sisi tetap memberikan pelayanan yang memuaskan, membuat jiwa lelaki Daniel kembali muda dan bermain dengan brutal.
Desah@n dan rintih@n kenikmatan dari bibir keduanya semakin membuat ruang tamu itu memanas tanpa mempedulikan apa yang terjadi di dunia lagi, taut@n bibir yang begitu menggebu saling merampas tak terlepas meskipun telah mencapai puncak kemenangan. Lelehan keringat membuat keduanya mengambil nafas berebutan, tidak ada kata-kata lagi selain dekapan hangat di atas sofa yang lembut kini menjadi basah karena ulah kedua makhluk itu.
"Diam dan tetaplah seperti ini." cegah pak Daniel dengan mengunci tubuh polos Sisi didalam pelukannya.
"Lampiaskan semua amarahmu itu, aku menyukai caramu kali ini." bisik pak Daniel yang membuat sisi merinding.
Niat hatinya adalah memberikan apa yang di inginkan suaminya dan bisa mengusirnya setelah itu namun kini keadaan nya justru berbalik, suaminya enggan meninggalkan tempat nya bernaung. Rasa yang telah lama mati menjadi sebuah beban untuk sisi, memang benar diri nya istri sekaligus cinta pertama dari Daniel Diningrat namun kenyataan lain , yang nyata nya tidak bisa di singkirkan membuat sisi memilih melepaskan pria paruh baya itu.
"Kasihanilah putra mu Dan. Dia lebih membutuhkan mu, pergilah." ucap sisi dengan lembut.
"Tidak bisa kah biarkan seperti ini sesaat saja, aku hanya takut ini yang terakhir kalinya aku melihat mu." jawab Daniel dengan menatap wajah ayu sisi yang membuat jantungnya berdebar setiap saat.
"Ada apa Dan? " tanya sisi mendongakkan wajahnya agar bisa melihat wajah suaminya.
__ADS_1
"Aku merasa karma itu mendekat, maaf aku tidak mendengarkan mu saat itu." ucap lirih Daniel dengan tatapan mata kosong.
"Apa ini soal gadis itu? " tanya sisi mencoba memastikan.
"Yah gadis itu, tapi kita semua melihat gadis itu di kuburkan meskipun dari mata-mata. Tapi ada yang mulai menerror Esha dan aku fikir keadaan Rico juga karena hal sama, tapi aku masih belum tahu keadaan Aland." ucap Daniel.
"Aland Hutomo? Pulanglah temani istri dan putra mu. Aku akan mengurus soal Aland." ucap Sisi dan melepaskan pelukan suami nya.
"Apa kamu serius? Kamu tahu kan mereka tidak menyukai keberadaan mu? " cegah Daniel karena tidak setuju dengan saran itu.
"Bagaimana pun aku bibi nya, jadi tenanglah. Darahku tetaplah keluarga Hutomo,jangan khawatir soal itu. " jawab sisi yang memunguti pakaiannya yang berserakan di lantai.
Langkah nya meninggalkan ruang tamu dengan menenteng pakaian kotor nya, dan membersihkan diri di dalam kamar mandi. Terlihat Daniel menyusul nya dan ikut berendam di dalam bath up menikmati aroma terapi bunga mawar, tangan nakal itu mulai menjelajahi setiap permukaan yang semakin terasa menegang.
"Dan." ucap Sisi dengan wajah memerah.
"Sekali lagi, tubuh ku masih membutuhkan asupan." bisik Daniel dengan suara berat di telinga sisi.
Pergulatan dengan suara air yang menetes mulai memenuhi ruangan dengan dinding kaca itu, tidak ada kenyamanan dan perpaduan terbaik selain berbagi peluh dengan orang terkasih. Keduanya menjadi satu paket roti tanpa isi dan membiarkan seluruh rasa rindu yang terpendam membakar perpaduan cinta, melupakan hubungan rumit keduanya.
Setelah dua jam akhirnya kedua makhluk itu telah berubah dengan penampilan yang lebih rapi dan harum, dengan senyuman yang terukir di bibir keduanya. Keduanya meninggalkan rumah sederhana itu dengan sebuah mobil hitam, tanpa menyadari ada sosok yang bersembunyi sembari mengambil gambar keduanya dengan profesional.
Sosok itu segera menghampiri motor yang terparkir cukup tersembunyi dan mengikuti mobil di depan nya dengan jarak cukup dan membiarkan camera menggantung di lehernya. Terlihat helm fullface selalu setia menutupi wajahnya, apapun pekerjaan nya kali ini cukup menarik dan membuat jiwa kepo nya semakin keluar meronta.
Setelah perjalanan hampir satu jam akhirnya mobil hitam itu berhenti di sebuah rumah atau lebih tepat nya sebuah mansion dan di salah satu dinding depan jelas sebuah papan nama memperkenalkan siapa pemilik mansion itu. Mansion Hutomo itulah nama mansion nya dan setahu dirinya pemilik mansion itu adalah seorang pembisnis sekaligus seorang abdi dalem negara yang jabatan nya tertutup.
Terlihat wanita yang kini berpakaian jumpsuit panjang itu keluar dari mobil dan mendekati gerbang sedangkan mobil hitam mulai berjalan meninggalkan kawasan yang tergolong pribadi.
__ADS_1
"Aku harus ikuti yang mana ini? Hadeuh pakai acara pisah segala." gumam sosok dengan helm fullface.