
Praaaaang.... praaaaang...
Suara barang yang pecah membuat AK dan Desi memutuskan kontak mata kedua nya dan berlari keluar dari dapur dengan langkah yang tergesa-gesa, Desi hanya bisa mematung di ambang pintu dapur ketika melihat sosok yang sudah terkulai lemah dengan linangan air mata terduduk di antara pecahan piring dan juga gelas. Sedangkan AK langsung berlari mendekati sosok itu tanpa mempedulikan banyak nya pecahan beling yang berserakan, yang terpenting untuk nya adalah merengkuh sosok yang tengah menatap nya dengan nanar.
"Hiks... hiks.. hiks... papaa." ucap lirih Mia yang merasakan perih di kaki nya karena pecahan piring yang tertancap di telapak kaki nya.
"Tenanglah, papa ada di sini. Mia putri papa yang paling kuat. " ucap AK dengan menggendong Mia hati-hati membawa gadis itu ke ruangan tamu.
Desi yang juga yang melihat kaki Mia berdarah bergegas mencari kotak obat di dalam ruangan makan, mencari di setiap laci yang ada di rak almari dinding.
"Ambillah." ucap seseorang dengan mengulurkan sebuah kotak obat yang cukup besar ukuran nya.
"Terimakasih Elsa." jawab Desi dan menerima kotak obat itu dan segera menyusul AK yang membawa Mia ke ruangan tamu.
Terlihat AK tengah mengusap punggung Mia yang masih menangis dengan memeluk gadis itu dan wajah Mia terbenam di dada bidang AK, terlihat jelas AK sangat khawatir dari sorot mata pria itu. Desi dengan diam dan melangkah mendekati ayah dan anak itu, seperti isyarat AK yang meletakkan jari telunjuk nya sesaat di depan bibir pria itu.
Dalam diam Desi membuka kotak obat yang isi nya cukup mengejutkan bagi dirinya yang seorang dokter, tapi jari telunjuk AK tertuju pada sebuah jarum suntik dengan ukuran paling kecil dan sebuah cairan di dalam botol lima mili. Sebagai seorang dokter kejiwaan tentu nya obat yang akan di suntik kan sangat biasa di berikan pada pasien dengan gangguan kejiwaan tapi seperti nya AK sudah mengatur dosis obat bius nya menjadi lebih rendah dan hanya akan seperti obat tidur dalam dua jam saja.
Tangan kanan yang masih mengusap punggung Mia dan tangan kiri nya menyuntikkan obat bius ke Mia setelah Desi melakukan setiap isyarat pria itu tentu nya, meskipun di dalam benak nya kini memiliki banyak pertanyaan. Suara isakan tangis itu perlahan berhenti dengan suara deru nafas yang mulai teratur, membuat AK memindahkan tubuh Mia ke sofa dengan posisi berbaring.
"Panggilkan Elsa kemari!" perintah AK dengan mengambil alih kotak obat di depan Desi dan mulai mengambil pencapit untuk mencabut pecahan piring yang tertancap di kaki kiri Mia.
"Biar aku saja, lihatlah luka mu kembali terbuka." ucap Desi merebut pencapit terlebih dahulu.
"Baiklah, jaga Mia untuk ku." ucap AK dan bangkit meskipun luka di telapak tangan nya kembali mengeluarkan darah karena terlalu banyak di gunakan.
"Cepatlah kembali, biar ku obati luka mu juga." ucap Desi sebelum tubuh AK melangkah semakin menjauh.
Tampaknya AK tidak mendengar ucapan nya, karena pria itu tidak menjawab ataupun sekedar memberikan isyarat. Kepergiaan AK membuat Desi mengobati luka di kaki Mia dan mencabut pecahan piring dengan pelan di sertai tiupan angin dari mulut nya agar gadis kecil itu tidak merasakan sakit berlebihan, padahal obat bius yang baru saja di suntik kan pasti membuat gadis itu terlelap dalam angan.
Sudah hampir setengah jam dari kepergian AK namun pria bak dewa itu tidak segera kembali dan menampakkan batang hidung nya, sungguh ada rasa cemas dan was-was di dalam hati Desi. Dengan lembut di rengkuh nya tubuh Mia ke dalam pelukan nya, tubuh yang memiliki berat lumayan karena Mia memiliki masa pertumbuhan yang baik seperti putra nya hyun, sekelebat fikiran nya kembali mengingat tentang putra nya.
__ADS_1
Dengan langkah cepat, Desi menaiki tangga dan menuju ke kamar Mia yang ternyata terbuka setengah, belum juga langkah kaki nya sampai di depan pintu. Perdebatan di dalam kamar itu membuat langkah nya berhenti, perdebatan yang sedikit mencubit hati nya namun ingat an nya tentang Hyun membuat langkah nya kembali berjalan ke depan.
Tok... Tok.. Tok...
"Boleh aku masuk? " tanya Desi dengan menahan tubuh Mia di dalam gendongan depan.
"Hmm. Bereskan secepat mungkin! Pergilah." perintah AK menatap Elsa yang langsung mengangguk dan berjalan keluar kamar melewati Desi yang berganti memasuki kamar Mia dengan wajah pias.
"Apa anda melihat Hyun? " tanya Desi sembari melihat seluruh isi kamar Mia namun tetap tak menemukan keberadaan putra nya itu.
"Bukalah tirai jendela. " jawab AK dan menghampiri Mia yang sudah di baringkan oleh Desi di tempat tidur putri nya itu.
Mendengar hal itu, Desi langsung mendekati kaca jendela yang selalu tertutup rapat di dalam kamar Mia.
Sreeek...
Terlihat seorang anak tengah bermain bola di halaman belakang dengan tawa riang nya yang tampak begitu bahagia dengan seorang pria paruh baya yang mungkin menjadi tukang kebun. Hati Desi seketika lega dan rasa cemas di hati nya menghilang begitu saja, perdebatan AK dan Elsa membuat perasaan nya tidak tenang, di tatapnya pria yang tengah menyandarkan tubuh nya itu dengan memejamkan mata nya.
Hhaaahh...
Bukan kah AK lebih canggih dari CCTV , dimana pria itu bisa melihat jelas meskipun mata nya terpejam, dengan langkah pelan Desi mendekati AK sembari mengamati garis wajah AK yang memang nyaris sempurna.
"Ambil kotak obat di laci pertama atas dan obati luka ku! " perintah AK dan tetap enggan membuka mata nya sembari mengulurkan tangan kiri nya.
"Boleh aku... " ucap Desi dengan lembut sembari mengambil kotak obat seperti yang di ucap kan AK.
"Don't come in my rules! My life full of darkness. (Jangan datang di aturan ku! Hidupku penuh dengan kegelapan?) " ucap AK menghentikan ucapan Desi yang sudah dapat di tebak kemana dokter di depan nya itu akan me mulai percakapan.
"Dewa? " panggil Desi lirih.
"Stop! " ucap AK dengan tegas dan membuka mata nya.
__ADS_1
Perban yang telah terbuka dan masih ada di tangan Desi terjatuh ketika tatapan AK begitu tajam menatap wanita itu, tatapan yang dipenuhi kebencian dan amarah. Sungguh wajah tampan itu semakin dingin dan menjadi sangat menyeramkan dengan mata yang tajam dan merah, Desi dengan susah payah mengatur helaan nafas nya yang seakan memburu dengan pacuan yang memecut adrenalin nya.
"Kalian harus pergi!" ucap AK dan menarik tangan nya yang terluka, berdiri dan melangkah kan kaki nya meninggalkan kamar Mia dan Desi yang masih mengalami skot jantung diam membisu dengan keringat yang mengalir di pelipis nya.
Sedangkan AK memilih kembali ke kamar pribadi nya dan menenangkan hati nya yang terasa terbakar, ada perasaan yang mengalir kan amarah tapi satu garis mengalir kan rasa yang baru muncul. Rasa yang selama ini tidak pernah datang dalam hidup nya, sebagai seorang pria dewasa tentu dirinya tahu perasaan apa yang mulai memasuki hati nya.
"Perasaan ini datang di saat yang tidak tepat. " gumam AK dengan menarik rambut nya sendiri.
...~~~...
.
. hay reader's.. 😁
.
.
. Maaf othoor up nya telat, dan sangat sedikit, jujur aja othoor belum bisa memposisikan diri sebagai Tuan AK.
.
.
. Next episode di mulai lagi pertarungan antara hukum dan sang malaikat keadilan.. 😁
.
. Jangan lupa like, comment, favorite plus vote nya yah 🥰
.
__ADS_1
. othoor tunggu ❤️