Plan Of Masked Man

Plan Of Masked Man
Jabatan sebagai taruhan


__ADS_3

"Mari pak Daniel, kita bicarakan kasus ini." ajak seorang pengacara yang sedari tadi diam menyimak dan membiarkan client nya menyelesaikan masalah internal nya terlebih dahulu.


Dengan berat hati Daniel kembali ke tempat duduk nya dan berhadapan dengan pengacara yang diberikan Ayu untuk nya, kedua nya terlibat pembicaraan layaknya seorang pasien sedang berkonsultasi pada dokter. Sedang kan di sebuah cafe yang terlihat sangat ramai memiliki sebuah pemandangan yang cukup menarik minat para kaum hawa, seorang pria dengan pakaian casual nya tengah menyeruput kopi dengan angkuh nya.


Wajah nya dingin dengan mata yang selalu melirik jam di pergelangan tangan nya seakan tengah menunggu seseorang, hingga dari arah pintu masuk muncul orang dengan melambaikan tangan ke arah pria itu.


"Sudah lama Ka?" tanya orang yang baru saja duduk di depan pria yang kini masih terlihat tegang.


Sebuah gelengan pelan yang menjadi jawaban, orang yang baru saja datang langsung mengeluarkan sesuatu dari tas kerja nya. Sebuah berkas yang terlihat sudah tidak tersegel di keluarkan dan di sodorkan dengan menatap sekililing untuk memastikan tidak ada yang melihat tindakan nya. Dengan cepat berkas itu berpindah ke tas lain dengan tetap waspada, kedua nya menghela nafas bersama seakan baru melewati sarang penjahat.


"Thanks De. Bantuan mu sangat berarti, persan lah sesuka mu dan jangan menolak, aku yang traktik sebagai ucapan terimakasih ku." ucap pria itu dengan tersenyum tipis.


"It's ok Leo, sebagai sahabat aku bisa membantu mu bukan. Tapi kamu tahu kan ini resiko nya jabatan kita di pertaruhkan? " jawab Desi dengan tatapan serius dan masih enggan memesan sesuatu sebelum pembicaraan berakhir.


"Yah De, tenang saja aku tidak akan membuat jabatan mu sebagai wakil dirut di rumah sakit mengalami masalah karena membantu ku." ucap Leo dengan menggenggam tangan wanita di depan nya yang masih menggunakan jas putih kerja nya.


"Mba." panggil Desi kepada seorang pelayan wanita yang ada dibelakang Leo.


"Ya non, mau pesan apa? " tanya pelayan dengan usia remaja yang menghampiri meja Leo.


"Lemon tea hangat, coffee latte plus salad buah. Nasi goreng sea food untuk sahabat saya dan dua gelas air putih." ucap Desi tanpa melihat menu karena menu di cafe itu dirinya sudah hafal di luar kepala.

__ADS_1


"Di tunggu pesanan nya, permisi." pamit pelayan remaja itu dan langsung kembali ke kasir untuk menyerahkan pesanan tamu caffe.


"De, apa kamu masih berhubungan dengan Yun? " tanya Leo dengan hati-hati.


Terlihat Desi terkejut dan menatap Leo dengan dalam, mengorek telinga untuk memastikan pendengarannya baik tapi wajah Leo yang terlihat sama membuat Desi menghela nafas dan memalingkan wajah nya. Leo tahu jika menyangkut agen Yun, sahabat nya itu sangat lah sensitive terlebih dengan masa lalu mereka ber tiga yang memang sangat rumit.


"Apa kamu tahu jika Yun ada disini di negara kita." ucap Leo dengan lirih tapi tetap terdengar oleh Desi.


"Aku tahu, tapi ku fikir tidak masalah. Semua sudah berlalu, yah sudah berlalu." ucap Desi dengan pelan tanpa menatap Leo, ntah apa yang membuat ucapan nya seperti hambar.


Sudah lama kejadian tidak menyenangkan itu terjadi tapi kemunculan Yun di negara nya yang ntah karena apa seakan membuat luka lama kembali terbuka, seorang pria yang pernah menempati separuh hati nya menjadi orang asing dalam sekejap mata. Menyalahkan takdir pun tidak bisa karena semua terjadi begitu saja, tapi ada yang tidak bisa di lupakan nya sejak saat itu.


Kenangan tentang Yun masih ada di dalam hidup nya bahkan sahabat nya pun tidak tahu jika ada sebuah rahasia yang masih tersimpan rapat, menatap lalu lalang orang yang berjalan di depan cafe seakan lebih menarik bagi Desi. Hingga pelayan datang dan menyajikan makanan dan minuman yang di pesan, Desi baru membalikkan wajah nya.


"Mau ku antar De? Sekalian aku kembali ke kantor." ajak Leo dan bangun dari kursi nya.


"Tidak, coffee ku masih setengah. Duluan saja." tolak Desi dengan mengangkat cangkir kopi nya.


"Okay De. Hati-hati." pamit Leo dan segera berlalu meninggalkan cafe.


Mendadak suasana menjadi terlihat sangat sunyi meskipun banyak pengunjung cafe yang tengah menikmati makan siang meskipun waktu sudah di angka tiga, terlihat keramaian di dalam cafe namun hati dan fikiran Desi tidak ada pada tempat nya hingga ponsel di saku jas putih nya bergetar menandakan ada pesan atau panggilan masuk. Di ambil nya dan setelah membaca pesan yang baru masuk, di ambil nya tas kerja nya yang tergeletak di samping kursi dan bergegas keluar dari cafe.

__ADS_1


Sejenak memperhatikan setiap mobil hitam yang ada di parkiran cafe dan mencocokkan dengan isi pesan nya, hingga tatapan nya berhenti pada sebuah mobil Lamborghini hitam dengan plat nomer yang sama terparkir manis dengan letak yang sangat strategies untuk mengawasi semua yang terjadi di cafe terlebih orang-orang yang keluar masuk cafe.


Setelah menyebrang jalan yang memang adalah jalan umum dan menghampiri mobil Lamborghini hitam dengan sedikit tergesa-gesa, terlihat pintu penumpang terbuka dan dengan segera Desi masuk tanpa menunda waktu. Kebetulan cafe dan parkiran memang lah menjadi dua tempat berbeda tempat namun satu kepemilikan, jalan umum milik pemerintah menjadi penghalang namun itulah keunikan cafe itu yang menyediakan tempat parkir khusus dan cafe dalam dan luar menjadi tempat makan yang berbeda nuansa.


"Aku sudah melakukan apa perintah mu, bisa sekarang kembali kan dia pada ku." ucap Desi dengan menatap tajam ke pengemudi yang menggunakan topeng.


Bukan nya menjawab, tapi sosok itu justru menyalakan mesin mobil nya dan meninggalkan tempat parkir dan melintasi jalan umum yang terlihat cukup lenggang. Desi merasa di permainkan, bahkan tindakan nya kali ini mungkin akan menimbulkan masalah besar nanti nya tapi apapun akan di lakukan oleh nya demi kehidupan nya.


"Turunkan aku!" seru Desi dengan keras karena merasa terabaikan.


"Ssttt." ucap sosok itu dengan menaruh telunjuk jari nya di depan topeng dan menambah kecepatan laju mobilnya.


"Hiks... hikss.. hiks.. Apa salah ku pada mu? Katakan saja dan aku akan meminta maaf, tapi ku mohon jangan libatkan Hyun ku. Hukum saja aku..." ucap Desi yang sangat frustasi dengan keadaan nya saat ini.


Ciiit...


"Keluar." perintah sosok itu dengan tegas dan Desi langsung menciut dengan suara dingin yang menusuk gendang telinga nya.


Tanpa di sadari Desi yang sudah turun dari mobil Lamborghini itu , satu makhluk mungil tengah menikmati begitu banyak permainan baru di teras sebuah rumah bersama seorang gadis kecil dengan riang nya. Melihat langkah sosok itu yang keluar dari dalam mobil, sungguh mata Desi hampir keluar, bahkan kedua tangan nya reflek menampar pipi nya sendiri untuk menyadarkan jika yang turun dari mobil adalah manusia bukan dewa.


Wajah yang sangat tampan dengan garis pesona yang langsung membuat dirinya ingin pingsan namun di tahan, tapi kesadaran nya kembali setelah merasakan sebuah pelukan dari tangan yang masih belum cukup melingkar di kaki nya. Di alihkan nya pandangan mata nya ke bawah, rasa nya rindu menatap mata ceria yang selalu menjadi pelipur lara nya selama ini.

__ADS_1


"Hyun ku sayang." seru Desi sembari menggendong makhluk yang menempel di kaki nya dengan penuh suka cita,membuat makhluk itu terbang dengan tawa yang selalu terdengar dari bibir mungil nya.


__ADS_2