
" Andai hati papa mu bukanlah iblis, mungkin tidak akan ada iblis baru yang tercipta seperti diri ku. Jadi nikmati saja karma mu dan karma papa mu itu secara bersamaan." ucap Lidya setelah menetralkan hati nya yang bergemuruh karena mengingat masa lalu nya yang membuat hati dan jiwa nya berubah total, di ambil nya sebuah suntikan yang sudah ada di saku jas putih nya dan dengan santai nya menyuntikkan ke leher Rico.
Tubuh yang gemetar ketakutan mendadak menjadi kejang-kejang dengan mata melotot dengan tubuh seperti bedongan bayi membuat Rico seperti ulat kepanasan dan sudah pasti ketakutan dan rasa sakit menjadi satu, sedangkan Lidya dengan tenangnya membuat video Rico dalam keadaan paling menyakitkan berdurasi lima belas menit dan mengirimkan nya pada sebuah nomer yang sudah setahun ini di simpan nya.
Di tempat lain seorang pria baru saja mendapatkan hasil medis istri nya yang mengalami lumpuh total akibat shock yang di alami, sungguh semua terjadi dengan waktu yang begitu cepat. Operasi penyumbatan darah pun sudah di lakukan tapi tetap saja istri nya mengalami lumpuh total, lamunan nya yang dipenuhi rasa frustasi teralihkan dengan datang nya suara dering ponsel di dalam saku celana nya.
Tiing...
Dengan perasaan campur aduk di ambil nya ponsel pintar keluaran terbaru dari saku celana nya dengan tangan kiri nya dan sebuah notifikasi yang berasal dari pesan masuk. Sebuah nomer baru, di buka nya sebuah pesan yang berupa video berdurasi lima belas menit itu. Mata nya memerah dengan tangan kanan nya mengepal meremas laporan tentang istri nya, sakit di hati nya berkali-kali lipat namun sikap diam dan tenang nya seperti sebuah sinyal jiwa psikopat nya bangkit.
"Siapa pun kalian yang bermain dengan ku, akan ku pastikan hancur lebur menjadi tanpa sisa." gumam pria itu dan berselancar di dalam ponsel pintar nya dengan sebuah senyuman licik yang tercetak jelas di wajah terawat nya.
Tanpa di sadari pria itu jika setiap tindakan dan ekspresi nya tengah di saksikan secara live oleh seseorang dari jarak jauh, seakan senyuman licik pria itu menjadi alarm tersendiri untuk nya. Mengetahui betapa lawan terakhir nya bukan orang sembarangan dan bukan pemain ulung maka permainan pun tidak bisa semudah permainan sebelum nya, terlebih target nya masih ada yang tersisa dan akan di gunakan menjadi pion terakhir nya.
Dengan mengirim sebuah pesan untuk melakukan langkah selanjutnya, kini sosok bertopeng yang menjadi seorang penonton hanya menyiapkan pertarungan terakhir nya. Dimana semua akan bermain bersama nya, sedangkan di sebuah kantor polisi pusat tengah di hebohkan dengan pengangkatan salah satu agen biasa menjadi agen berpangkat.
__ADS_1
Perayaan kecil yang tak luput dari pandangan seorang agen senior sungguh membuat pria di balik pintu itu menahan geram di hati nya dan tidak ada lagi senyuman di bibir senior itu, namun melihat langkah sang agen yang biasa menjadi bawahan nya dan kini bisa di samakan kedudukan nya itu berjalan ke arah ruangan nya membawa nasi kotak yang memang di bagi kan oleh sekawan profesi nya sebagai syukuran kecil-kecilan membuat senior itu menetralkan perasaan nya.
Tok... tok.. tok...
"Boleh masuk pak? " tanya agen itu setelah mengetuk pintu tiga kali sebagai bentuk sopan santun.
"Masuk." jawab senior itu yang berpura-pura sibuk dengan berkas di atas meja dan menundukkan kepala tenggelam dalam berkas.
Ceklek...
"Sibuk pak? Ini saya bawakan nasi padang depan sebagai syukuran kecil-kecilan saya. Mohon di terima." ucap agen itu dan meletakkan kotak foam di atas meja mantan atasan nya.
"Bisa aja bapak, tidak perlu hadiah pak. Saya sekalian pamit, ini hari terakhir saya di kantor polisi wilayah ini. Semangat ya pak untuk kasus pembunuhan berantai yang mendadak hilang, hehehe." ucap Dito dengan kekehan ciri khas nya yang memang tidak suka terlalu serius, tapi ucapan Dito justru membuat senior nya tersedak ringan namun Dito seakan tidak tahu hal itu.
*Anda sungguh bermuka dua agen Leo, andai anda agen jujur sudah pasti aku akan menjadi bawahan yang setia.* batin Dito dengan wajah tenang yang berbeda dengan isi hati nya.
__ADS_1
"Terimakasih, saat senggang ayo minum kopi bersama sebagai perayaan." ajak Agen Leo dengan senyuman manis yang membuat Dito seketika muak.
"Tentu pak, saya permisi dulu. Masih harus bertemu pimpinan untuk menyelesaikan berkas, selamat bekerja pak." jawab Dito dan memberikan hormat sebagai penghormatan terakhir atas senior nya itu.
Kepergian Dito membuat agen Leo mengambil kotak foam dengan kasar dan langsung membuang nya ke tempat sampah tanpa perasaan, hati nya tidak terima ketika bawahan yang terlihat tidak mampu menjadi seorang agen detective itu tiba-tiba jabatan nya naik dan justru di pindahkan di tempat yang lebih baik dari nya. Dito di pindahkan di kantor polisi yang menjadi central para polisi wilayah pusat dari berbagai wilayah, sedangkan diri nya yang sudah terbukti berpengalamanan harus tinggal di salah satu kantor polisi pusat wilayah kecil.
"Sial@n! Desi hilang tanpa jejak, pencarian ku buntu dan sekarang bawahan itu naik jabatan. Rasanya aku seperti sampah saja! Awas saja kalian." gumam agen Leo menarik rambut nya dengan frustasi.
Sedangkan Dito tengah membereskan barang-barang penting nya dan menghilang jejak tentang diri nya selama di dalam kantor polisi pusat wilayah kecil itu, namun sebuah notifikasi pesan masuk membuat tangan nya bergegas menghapus file di komputer tempat nya bekerja. Setelah mengecek tiga kali dan memastikan semua bersih dan aman, di sambar nya benda pipih yang sudah gelap karena setelah pesan masuk satu jam lalu yang masih tetap di biarkan saja.
Di buka nya pesan dari nomer tak di kenal namun kini bukan hal mengejutkan lagi jika tiba-tiba ada pesan masuk dari nomer asing yang tidak di kenal nya, sebuah pesan yang memberikan sebuah alamat dan juga tugas nya sudah masuk ke ponsel nya. Tanpa berfikir panjang lagi langkah Dito meninggalkan kantor polisi pusat wilayah kecil itu dan mengendai motor viksen nya menuju ke pusat keramaian kota, ada seseorang yang tengah menunggu nya di sebuah tempat dalam keramaian.
Pasar tradisional Jaya
Itu lah plang besar di bahu jalan yang menjadi tujuan nya, setelah memarkirkan motor viksen nya di tempat parkir kini Dito memasuki pasar dengan pakaian atas nya yang tertutup jaket denim warna biru tua. Di telusuri nya beberapa tempat penjual makanan hangat hingga sebuah spanduk dengan nama yang di cari nya ketemu, dengan santai nya langkah Dito memasuki sebuah warung bakso mercon MakNyus dan memilih tempat duduk yang berada di ujung setelah melakukan pemesanan sesuai dengan level 7 kesukaan nya.
__ADS_1
Tanpa menunggu lama pesanan nya datang dan di antar oleh seorang pemuda yang mungkin anak pemilik warung bakso mercon MakNyus, tanpa berfikir lama di lahap nya bakso yang memang terkenal terenak di pasar tradisional Jaya. Sungguh bukan hanya hati nya saja yang akan kenyang tapi juga perut nya, pemilihan tempat yang dikirim kan sungguh membuat diri nya merasa bahagia luar dan dalam.
"Pilihan yang tepat, ambillah semua bukti. Jaga bukti ini dengan baik." ucap seseorang menyodorkan sebuah amplop coklat seperti amplop uang yang baru saja duduk di sebelah Dito yang masih dengan nikmat nya mengunyah bakso mercon dan menyeruput kuah bakso dengan warna begitu pekat nya.