Plan Of Masked Man

Plan Of Masked Man
Rumah jalan Melati gang 1


__ADS_3

Semua pertanyaan mencapai puncak, dengan semua titik penarikan. Maka garis besar tercipta.


Agen Leo, Samuel, Desi, komandan Sekkar, tuan X, dan satu lagi ntah siapa. Aku harus memikirkan ini sekali lagi, tapi dari titik mana? ~batinnya dengan menatap layar laptop.


AK telah mendapatkan kesimpulan dan garis besar. Jika tidak melenceng dari prediksinya, maka orang-orang di dalam circle masa lalunya dan masuk secara acak. Bisa dipastikan mereka menjadi wajah para pemain lain. Berkas tentang Desi dari rumah sakit, berkas tentang agen Leo Prakasa yang tersembunyi, berkas Samuel, dan berkas komandan Sekkar sudah dipelajari ulang. Hanya tersisa dua sosok yang menjadi bayangan semu.


Di tempat lain, di jalan Melati gang 1 seseorang dengan pakaian tertutup tudung serba hitam dari atas sampai bawah, tengah berdiri di depan sebuah rumah dengan pekarangan penuh daun kering berguguran. Sunyi sepi tanpa ada orang berlalu lalang, seakan rumah di depannya adalah rumah hantu. Pagar bercat kuning yang mengelupas, dan berkarat. Satu dorongan tangan membuat pagar itu terbuka dengan suara decitan.


Kriiieet


Sepatu boots hitam melangkah maju dan melewati pintu gerbang, tanpa menutup pagar. Langkah kakinya berjalan mendekati rumah minimalis dengan cat hitam pekat. Sekeliling rumah ditanami berbagai jenis pepohonan besar. Dibalik topeng, matanya masih mengawasi sekeliling.


Sebaiknya aku masuk, apapun yang terjadi pasti akan terjadi. Setidaknya aku bisa membantu tuan AK.~batinnya dengan menyentuh knop pintu.


Pintu terlalu ringan dan tidak menimbulkan suara apapun, hal yang patut di curigai. Matanya menelisik kedalam dari depan pintu, hanya ada ruang tamu dan dua kursi berhadapan. Sesuatu tiba-tiba terbang dan jatuh di depan kakinya. Dengan tenang mengambil kertas putih di depan kaki dan membukanya.


"Masuk dan duduk!"


Itulah tulisan yang ada di dalam kertas pesawat. Tidak ada ketakutan, langkah kakinya tidak ragu untuk masuk kedalam rumah dan duduk di tempat yang tersedia. Kursi hanya ada dua dan dirinya memilih duduk di kursi menghadap pintu. Sembari menunggu clue berikutnya, jemarinya sibuk bermain nada dengan mengetuk pinggiran kursi.


Selang beberapa menit tidak ada yang datang, apalagi clue baru. Akan tetapi tidak ada kata menyerah atau bosan menunggu, hingga telinganya mendengar suara motor datang dari jauh dan semakin mendekat. Dalam waktu satu menit, motor berhenti di depan rumah. Suara langkah kaki terseret berjalan mendekat dan menunjukkan diri didepan pintu rumah.

__ADS_1


Sepertinya kedua tamu rumah memiliki janji untuk memakai pakaian tertutup, langkah sosok kedua masuk kedalam dan duduk di kursi menghadap sosok pertama. "Ku kira kamu tidak tertarik, bagaimana kabarmu AK?"


Hening…..


"Sepertinya waktu mu semakin menipis. Baiklah hari ini, aku akan memberikan satu kisah. Kisah yang mungkin membuat ingatanmu kembali." ucap sosok kedua dan mengambil ponsel pribadinya, menyalakan satu video yang senyap tanpa suara.


"Villa berpasir putih, awal pertemuan dua orang asing dan berakhir menjadi kekasih. Kepedulian dan kebaikan mu, sungguh selalu sama. Tetapi, aku tahu hatimu mulai tertuju pada gadis pemandu villa. Senyuman di wajah dingin dengan tatapan mendamba, membuat semua mata iri. Tanpa kamu sadari, semakin besar rasa cinta dihatimu maka semakin besar halangan yang merintangi. Dulu sahabatmu selalu mendukung mu dan tidak akan membiarkan jalan kebahagiaanmu terhalang, hingga hari naas itu datang."


Sejenak terdiam dan mengganti video selanjutnya,


"Tanpa peduli kehidupan orang lain, kamu terjun mencari para pendosa. Bukan hanya harta, tapi juga nyawa dan semua kamu korbankan tanpa satu keluhan pun. Sungguh cinta membuat seorang AK buta dan tenggelam. Aku terima saat cinta mu membawa senyuman. Aku masih menerima ketika air matamu jatuh. Hingga kegilaan membuatmu berpikir melakukan keputusan terburuk. Malam dimana kamu membakar rumah impianmu, malam itu aku masih menerimamu. Hingga mataku terbuka di ruangan putih, dan kamu tidak ada bersamaku."


"Apakah aku tidak berarti untukmu? Kenapa kamu merencanakan kematianku? Apa kepergianku bisa membuatmu bahagia? Katakan! Siapa aku bagimu?" Tamu kedua menaikkan nada suaranya dan melemparkan ponselnya hingga membentur dinding.


[Sampaikan maafku padanya. Aku tidak tahu jika dia masih hidup, tidak peduli siapa yang mempermainkan ku. Aku tetap bersalah, jika mungkin izinkan aku menebus kesalahan ku.]


Mendengar suara dari seberang, membuat tamu kedua menghela nafas. "Aku tidak memiliki jawaban atas semua curahan hatimu. Dia meminta maaf, dan tidak peduli siapapun yang mengatakan kebohongan atau kejujuran padamu dan padanya. Dia berharap bisa menebus kesalahannya. Selama ini, tuan AK terdiam di makam hanya untuk merenung akan pengorbanan sahabatnya dan kepergian calon istrinya. Andaikan, banyak kobaran api yang menyelimuti dirimu. Sudahkah kamu selidiki, siapa yang melakukan pengkhianatan?"


"Siapa kamu?!" geram tamu kedua setelah mendengar suara seorang wanita.


Tamu kedua hanya menyodorkan kertas yang bertuliskan clue awal. "Siapa aku, aku hanya perantara. Apa anda tidak menyadari? Jika kehidupan yang terancam bukan hanya anda, tetapi dia juga dalam bahaya. Aku hanya melakukan tugas terakhir ku."

__ADS_1


"Tugas terakhir? Sepertinya, semua memang harus berakhir." ucap tamu kedua dengan nada serak.


Suara itu seakan menjadi sebuah penekanan, tamu kedua bersiaga. Instingnya memberikan peringatan. Hingga tamu kedua bertepuk tangan tiga kali, dan tiba-tiba kursi tempatnya duduk merosot jatuh kedalam bawah tanah. Sengatan listrik dengan menjalar tanpa permisi, menghilangkan kesadaran dalam sekejap.


Tamu kedua dengan santainya melepaskan tudung, masker dan kacamata hitamnya. Senyuman aneh terbit dengan mata tajam penuh kelicikan. "Skakmat! Semua umpan ku sudah siap, kini waktunya menjalankan drama. Semua harus binasa, aku tidak ingin sibuk dengan masa lalu. Terlalu melelahkan dan merepotkan."


Berbeda dengan keadaan terpuruk seorang pria, entah berapa kali air dingin mengguyur tubuhnya. Rasa ngilu dan dingin tak lagi dirasakan, hatinya mendidih seperti luapan lava panas. Semua perjuangannya seakan sia-sia, ada kegagalan didalam hatinya. "Aku terlalu sibuk dengan misi balas dendam ku, hingga lupa ada permainan yang menjerat ku. Aaarrrrggghhh."


Suara erangan yang terdengar pilu membangunkan sosok yang terbaring lemah, dengan mata terbuka dan perlahan menuruni ranjang. Kakinya terseok-seok berjalan mendekati arah erangan. Pintu yang terbuka setengah menampilkan betapa penyiksaan nyata tengah dijalani pria di depannya.


"Apa yang anda lakukan? Stop!"


...~~~~...


*Hay readers, othoor mau umumin sesuatu 🥰


Hari ini othoor resmi punya GC Bulan Sabit. 🌙


Ayo siapapun boleh ikut gabung, bisa nambah temen dan berbagi pengalaman atau mendengarkan cerita teman.


Siapapun boleh ikut dan othoor menanti kalian.. 😊*

__ADS_1


*



__ADS_2