
Seorang wanita dengan pakaian sexy dan rambut terurai, sebatang rokok terselip di bibir merahnya. Wanita itu duduk di kursi yang menghadap ke jendela. Seorang pria dengan kumis dan pakaian jadul, duduk di sebelah sang wanita sembari memainkan gelas wine di meja. Sedangkan kursi terakhir masih kosong, hingga sepuluh menit berlalu. Suara hentakan sepatu berjalan mendekat ke arah pertemuan darurat itu.
Seorang pria dengan topeng, penampilan modern dan harum parfum bermerk berhenti tepat di bawah lampu gantung. "Ada apa?"
"Selamat datang tuan, akhirnya anda mau keluar dari semedi. Sudah waktunya mengakhiri drama tua ini. Apakah anda akan bergabung?" tukas sang wanita sexy tanpa menatap ke arah pria yang masih stay berdiri.
Langkah kaki pria bertopeng berjalan mendekati meja dan menarik kursi dengan tangan kirinya. Duduk penuh gaya layaknya boss besar, wajah pria berkumis masih acuh tanpa melirik pria bertopeng. Tangan kiri pria bertopeng diletakkan di atas meja sembari mengetuk meja dengan irama. "Apa rencana kalian?"
"Semua tergantung pada permainan si Jelita, bagaimana dengan tugasnya. Bukan begitu Jelita?" tanya pria berkumis dan meneguk wine kembali.
Pria bertopeng mempersilahkan sang wanita sexy agar memulai pembahasan rencana melalui isyarat tangannya. Jelita mengambil satu gelas wine dari tengah meja, membuang setengah batang rokok ke lantai dan menginjak rokok itu dengan alas sepatu heels. "Semua sudah ada dalam genggamanku, mereka tidak tahu jika aku penyusup. Taktik anda memang luar biasa, tidak ada yang menyadari jika aku salah satu bagian dari tragedi gadis malang itu. Hanya saja sejak pagi aku tidak melihat keberadaan pria itu, apa kalian tahu dimana dia? Dan satu lagi, cobalah periksa rumah mewah di jalan xxx."
"Aku akan memeriksa sendiri, lalu bagaimana dengan mu Sam? Apa rencana mu?" tanya pria bertopeng beralih ke arah pria berkumis.
Gelas wine masih menjadi mainan Sam, fikirannya terbagi namun dengan satu tarikan nafas. Sam mengubah ekspresi wajahnya menjadi serius. "Aku sudah menyiapkan jebakan untuk mengakhiri drama tua ini. Tugas Jelita membawa target sampai ke titik pertemuan, aku sendiri akan datang. Tidak ada lagi rahasia, sudah waktunya mengungkapkan seluruh kebenaran dalam hidup pria brengs3k itu!"
"Ck… Ck… ck… Rupanya masih ada yang gagal move on. Sebaiknya hati-hati dengan perasaan mu itu bung!'' tukas Jelita menggelengkan kepala karena heran dengan cinta buta Sam.
__ADS_1
Sam mendelik tajam, perasaannya bukan urusan orang lain. " Mau ku potong lidahmu?''
"Berani? Kamu lupa siapa aku hah!" tantang Jelita dengan membalas tatapan Sam lebih tajam.
"Ekhem!"
Satu deheman membuat Sam dan Jelita saling membuang muka, tangan kiri pria bertopeng terangkat dan melepaskan topeng diwajahnya dengan sekali tarikan. Meletakkan topengnya diatas meja, kini wajah dengan luka bakar dan goresan berbekas di wajah pria itu. Jangankan tampan, bahkan wajahnya seperti parutan kelapa tanpa perasaan dan menyeramkan. Hanya matanya yang masih selamat, siapapun yang melihat wajah aslinya pasti akan kabur atau jijik.
"Mari kita selesaikan drama ini besok malam! Aku sendiri yang akan membuat rencananya, kalian pandanglah aku!" tukas pria buruk rupa dengan gertakan.
Satu sentakan, membuat Jelita dan Sam menatap pria bertopeng yang sudah menunjukkan wajah aslinya. Wajah hancur tanpa tersentuh operasi plastik sekalipun, wajah itu hasil dari satu tindakan di masa lalu.
Karena wajah buruk lah, topeng selalu menjadi andalannya. "Apa kalian takut? Bukankah ini saran kalian."
"Aku tidak takut, tapi lebih baik pakai topeng anda kembali. Bukankah berulang kali aku meminta anda melakukan operasi plastik! Tapi anda selalu menolak dengan alasan semua masih belum berakhir." Jelita mencecar pria buruk rupa dengan nada sindiran.
Sam memilih menjadi pendengar tapi tidak dengan fikirannya. Satu kenangan muncul, sekilas bayang-bayang beberapa sosok yang asing melintas. Memberikan pertunjukan yang nyata seperti sebuah mimpi. Kenangan yang menjadi awal pertemuan dirinya bersama pria buruk rupa, yang kini menjadi partner dalam kejahatannya.
__ADS_1
Flasback
Setelah berita kematian AK di umumkan, para awak media dengan gencar menyajikan berita kepergian sang pembisnis nomer satu di kota Y dan dalam sehari berita itu menjadi trending topik. Pemakaman pun bisa dikatakan cukup di padati oleh para kolega dan juga masyarakat sekitar, kedermawanan seorang AK menjadi sebuah panutan.
Tapi pemakaman terkesan sangat tertutup, karena di jaga dengan banyaknya polisi. Para pelayat hanya bisa datang dan berdoa di pintu malam, seperti yang dirinya tahu. Semua hanyalah settingan belaka dan AK masih hidup, tapi siapa yang menepati makam itu? Jawabannya adalah pria yang kini ada di depan Sam. Bagaimana masih bisa berdiri dan bernafas? Tentu saja karena Sam yang melakukan menyelamatkan nyawa pria buruk rupa didepannya itu.
Plaak……
"Apa kau gila? Untuk apa menampar ku?" seru Sam dengan mata terkejut karena pipinya mendapatkan sentuhan cinta dari Jelita.
Jelita mendengus sebal. Bisa-bisanya Sam melamun tak tahu waktu dan tempat, terlebih tatapan tajam pria buruk rupa masih tak surut. "Kemana otakmu travelling hah! Jangan mesum. Aku bukan seleramu."
"WHAT'S?" Sam menaikkan satu alis karena tak paham dengan maksud ucapan aneh dari bibir Jelita.
Niat hati ingin membalas Sam, tapi tangan pria buruk rupa sudah terangkat dan memberikan kode untuk diam. "Aku bisa membakar kalian tanpa menunggu esok, jadi hentikan perdebatan tak bermutu kalian! Sekarang, dengarkan apa rencana ku."
"Okay. Tell!" jawab Sam dan Jelita hampir bersamaan.
__ADS_1
Pria buruh rupa menopang dagunya dengan tangan kiri, tatapan tajam dan aura serius. "Rencanaku…."