Plan Of Masked Man

Plan Of Masked Man
Clue tersembunyi


__ADS_3

Matanya menatap satu persatu foto dari deretan foto lama dan beralih ke deretan foto baru. Tidak ada senyuman atau mata berbinar, hanya ada kehampaan. Foto-foto tanpa kata itu, seakan berteriak memanggil namanya. Lihatlah betapa beruntungnya pria di dalam foto itu. Selalu ada seseorang yang disisinya, tapi lihatlah dirinya sendiri. Siapa yang ada disisinya? Tidak ada.


"Apa kamu melupakan aku? Aku yang selama ini mendukungmu. Lalu, dimana kamu saat aku membutuhkanmu? Apa aku tak berarti untukmu? Jika iya, untuk apa kamu selalu membawa bucket bunga ke makam kosong itu? Apa kamu ingin mempermainkan perasaanku?"


Tangan sosok itu mengepal, setiap kali pertanyaan akan jati dirinya dipertanyakan. Terlebih dirinya seperti tidak di anggap oleh seseorang yang sangat berarti di dalam hidupnya.


"Sebaiknya aku selesaikan dalam sekali panah. Yah, bukankah Asma pasti menantimu di alam sana. Selamat menikmati sisa waktu mu Hero. Tik tok tik tok." ucap sosok itu dan berjalan meninggalkan ruangan kegelapan.


Langkahnya menyusuri setiap lorong rumah dengan suara sepatu yang terdengar malas. Pintu terujung menjadi tujuannya, dengan perlahan knop diputar dan pintu terbuka sedikit. Dari celah sepuluh centi, sosok itu mengintip ke arah ranjang didalam kamar. "Satu ditanganku, bagaimana dengan sisanya? Sebaiknya aku hubungi mereka."


Tangannya kembali menutup pintu kamar, berjalan meninggalkan lorong terujung, dan satu tangannya mengambil ponsel dari saku. Setelah men scrol beberapa nama panggilan terakhir, sebuah nomer di dial. Tak berselang lama, nada sambungan panggilan terdengar. Belum juga sempat mengatakan apapun. Suara dari seberang, membuat sosok itu menutup telepon dan bergegas meninggalkan daerah lorong rahasia di dalam rumahnya.


Langkah kakinya berjalan tergesa-gesa, menuruni setiap anak tangga. Semakin cepat langkah kakinya berjalan hingga mencapai pintu utama. Matanya menelisik seluruh penjuru depan rumahnya. Dan benar saja sebuah mobil taksi sudah terparkir di depan gerbang. Bergegas sosok itu menekan satu tombol di ponsel pribadinya. Dan pintu gerbang terbuka, mobil taksi berjalan memasuki rumah dan berhenti di depan seorang pria dengan topeng di wajah.

__ADS_1


Seorang wanita keluar dari pintu depan mobil dan membuka pintu belakang mobil. "Bisa bantu bawa satunya lagi!"


Sosok yang mematung bergegas membuka pintu satunya lagi dan melihat seorang anak perempuan terlelap. Dengan segera anak itu berpindah ke gendongannya. "Pak tunggu sebentar."


"Baik pak." jawab pak sopir dan membiarkan penumpangnya masuk kedalam rumah dulu untuk membawa kedua anaknya.


Didalam rumah, kedua anak di baringkan di sofa. Kini sang wanita menatap pria bertopeng. "Sekarang apa?"


"Bayar dulu taksinya. Kita bahas setelah itu." jawab sosok bertopeng.


"Trims kembali neng. Permisi." pamit sopir dan memutar mobil untuk keluar dari rumah mewah nan suram.


Kepergian sopir taksi, membuat gerbang kembali tertutup. Kini langkahnya kembali memasuki rumah bersejarah. Pria bertopeng sudah duduk dengan menatap kedua anak yang masih terlelap. "Ada apa?"

__ADS_1


"Kenapa hidup tidak adil? Aku hanya meminta sebuah uluran persahabatan, lalu apa yang kudapatkan. Hanya pengkhianatan." ucap pria bertopeng dengan suara tak bersemangat.


Andai aku berani, sudah pasti aku bicara jujur. Tapi bersabarlah sebentar lagi, semoga tidak terlambat. Jika terlambat, entah berapa banyak nyawa dikorbankan. Aku pun ingin semua segera berakhir, semua larut terlalu lama. Hingga kebenaran hilang tanpa jejak. ~ batin sang wanita dan merebahkan tubuhnya disamping pria bertopeng.


"Kenapa kamu diam? Bukankah ucapanku benar adanya?" tukas pria bertopeng dengan melirik ke arah sang wanita.


"Aku tidak punya jawaban. Seperti kamu memiliki alasan untuk bertindak sejauh ini, maka dia punya alasan atas tindakannya. Mungkin, kamu berfikir seorang wanita serakah sepertiku berbicara sebijak ini adalah hal teraneh. Tapi percayalah, aku lelah. Aku ingin hidup tenang bersama putraku." Sang wanita berbicara sangat jelas namun sendu.


Pria bertopeng menatap sang wanita. Ada ucapan yang menyimpan arti lain, ada sebuah clue yang di tunjukkan. "Akan ku fikirkan. Istirahatlah, nanti malam semua akan berakhir."


"Hmmm. Bisa bantu aku bawa anak-anak ke kamar?" tanya sang wanita tanpa ragu.


Pria bertopeng mengangguk dan menunjuk ke kamar terdekat. Sang wanita paham maksudnya. Langkah kakinya berjalan menuju kamar yang telah disediakan. Membiarkan anak-anak dibawah pengasuhan pria bertopeng. Setelah semalaman terjaga demi melakukan misinya. Kini tubuh dan fikirannya membutuhkan istirahat.

__ADS_1


Semoga semua membaik, aku ingin hidup tenang tanpa rasa sesak ini.~ batin sang wanita merebahkan tubuhnya diatas lembutnya kasur.


Mata tak sungkan menyambut mimpi, dalam keadaan lelah fisik dan fikiran. Wanita itu terlelap, tapi tidak dengan kepanikan seseorang di rumah lain dan tempat lain. Wanita itu sibuk berlari menyusuri setiap tempat dan lorong. "Aku kecolongan. Ampuuun. Bagaimana ini?"


__ADS_2