
Hanya tiga kertas sudah membuat Desi memikirkan banyak kemungkinan, lalu pandangan nya beralih ke dalam kardus yang masih memiliki puluhan kertas warna. Ingin rasa nya segera membaca semua kertas warna itu namun ada perasaan yang sangat membuat nya menjadi tidak nyaman dengan goresan spidol di kertas warna di tangan dan di dalam kardus, jika yang menulis adalah gadis yang bersama putra nya itu arti nya kejiwaan anak itu sedang tidak baik.
Dengan masih menggenggam tiga kertas warna di tangan nya Desi bangun dari duduk nya dan berlari untuk menggapai pintu yang terbuka tanpa berfikir panjang lagi, namun setelah keluar dari kamar justru tubuh nya menabrak sebuah dada bidang dengan aroma maskulin yang membuat kecemasan Desi menguap seketika dan berganti dengan rasa malu karena bulu-bulu halus yang ada di depan nya dan masih dengan posisi yang sangat manis untuk nya.
"Putri ku tidak akan melukai putra mu, tenang lah. Ayo kita lanjutkan pembicaraan yang masih belum berakhir." ucap pria itu dan melepaskan satu tangan nya yang menahan Desi agar tidak terjatuh akibat menabrak nya.
Dengan genggaman di tangan nya, kini pria itu kembali memasuki kamar putri nya dan menuntun Desi yang menunduk malu dan diam ke tepi ranjang dimana masih ada kardus di atas nya, kedua nya kini duduk berhadapan dengan pemisah kardus yang seperti nya bekas kardus mie instan.
"Ambil lah, waktu mu hanya sampai langkah kaki mu meninggalkan batas tanah ku. Aku tidak akan memaksa tapi Putri ku sangat membutuhkan penangan khusus bukan hanya sebagai dokter kejiwaan nya tapi sebagai teman nya." ucap pria itu dan menaruh sebuah amplop coklat di atas tumpukan kertas warna.
"Putri ku hanya membutuhkan kasih sayang untuk menyembuhkan trauma nya tapi percaya lah, putri ku tidak pernah menyerang siapa pun." ucap pria itu dan kembali bangkit dari tempat duduk nya.
"Trauma apa yang di alami putri anda? " tanya Desi dengan lembut karena jiwa dokter nya tengah meronta.
"Melihat pelecehan di depan mata nya sendiri, di saat usia nya masih sangat kecil namun gadis ku masih bertahan hingga detik ini karena korban pelecehan itu adalah motivasi hidup nya." jawab pria itu setelah menghentikan langkah nya dan menatap pintu yang setengah terbuka dengan menahan rasa bergemuruh di dalam hati nya.
Merasa tidak ada pertanyaan lagi membuat pria itu meninggalkan kamar putri nya, tanpa melihat reaksi Desi yang kini merasa tersedak tanpa minuman dan makanan. Ada yang menghantam hati nya mendengar jawaban dewa nyasar dan kini tangan nya terulur mengambil amplop coklat di dalam kardus, dengan melepaskan tali yang menjadi penutup sebuah kertas putih terlihat begitu amplop terbuka.
"Ini? " ucap Desi menatap tidak percaya dengan surat kontrak kerja sama yang sangat fantastic.
Membayangkan saja tidak pernah tapi justru langsung mengalami nya, kontrak kerja sama dimana dirinya menjadi dokter pribadi seorang gadis yang bernama Mia dan meninggalkan pekerjaan nya sebagai wakil dirut rumah sakit tempat nya bekerja saat ini. Sebagai ganti rugi karena meninggalkan pekerjaan nya itu, isi kontrak kerja di tangan nya dengan jelas menyebutkan setiap point yang sangat mengutungkan bagi kelangsungan hidup nya.
Fasilitas yang sangat waw, dengan pendidikan putra nya dari nol sampai jenjang tertinggi menjadi tanggungjawab boss baru nya, belum lagi sebuah rumah mewah dengan mobil keluaran terbaru dan juga gaji pokok yang menyamai gaji pokok nya selama tiga bulan dari rumah sakit. Semua isi kontrak bukan hanya sebuah tulisan belaka karena di dalam amplop itu sudah terdapat sertifikat rumah, mobil dan juga selembar cek gaji sebulan di muka.
"Ini sangat berlebihan, terima tidak ya? Tapi dengan kontrak ini hidup Hyun akan terjamin dan tidak akan ada yang merebut nya dari ku. Semua demi Hyun." ucap Desi meyakinkan dirinya dan membubuhkan tanda tangan nya dengan penuh kepercayaan dan bayangan putra nya yang akan mendapatkan kehidupan lebih baik lagi.
Sedang kan di teras rumah pria bak dewa tengah menemani dua anak untuk bermain ayunan yang ada di bawah pohon mangga, kedua tangan pria kekar itu mengayunkan ayunan dengan perlahan agar tidak membuat dua makhluk manis di ayunan terjatuh. Bahkan tangan nya tetap tidak berhenti meskipun melihat sosok dokter yang terlihat ber jalan menghampiri dirinya dan juga anak-anak, hingga dokter itu tersenyum lebar dengan tatapan hangat pada putra nya Hyun.
__ADS_1
"Aku siap menjadi... " ucap Desi memulai pembicaraan seperti keputusan nya.
"Mia bisa ajak Hyun makan sop buah di dalam? Seperti nya papa lihat bibi membuat makanan manis itu tadi." ucap pria itu dengan menghentikan mendorong ayunan dan membantu kedua anak itu turun dari ayunan.
"Okay pa, papa sini." ucap Mia sembari meminta pria itu untuk menunduk.
Cup.. cup...
Dua kecupan dari dua makhluk di satu pipi nya sekilas memberikan senyuman manis di wajah nya dan Desi yang melihat senyuman samar itu langsung memerah seakan senyuman itu diciptakan hanya untuk nya.
"Ekhem! Bu dokter baik? " tanya pria itu yang melihat wajah memerah Desi.
"Eh itu.. " jawab Desi dengan gugup dan salah tingkah.
"Apa ada syarat tambahan? " tanya pria itu langsung ke point nya.
"Apa ini masalah uang? Mengembalikan jiwa putri ku agar seperti semula jauh lebih mahal dari harta yang tak seberapa itu, bagi ku putri ku kembali hidup normal adalah kebahagiaan terbaik dalam hidup ku. Jadi bagaimana? " jawab pria itu dengan menatap Desi lebih dalam.
"Aku siap tapi berikan aku waktu untuk membuat surat resign di rumah sakit.. " pinta Desi yang kembali ucapan nya di potong oleh pria bak dewa di depan nya.
"Done, sekarang lakukan pekerjaan mu untuk menyembuhkan putri ku dan satu hal yang harus kamu lakukan. Jadi lah teman atau sahabat putri ku bukan menjadi dokter nya. " ucap pria itu dengan menekankan kalimat terakhir nya.
"Eh, apa maksud nya done? Soal permintaan anda akan saya kabulkan dengan senang hati." ucap Desi dengan sungguh-sungguh.
"Orang ku sudah mengurus surat resign mu dan kini kamu bebas bekerja dimana pun. Berikan ponsel mu! " ucap pria itu dan kali ini wajah nya lebih serius.
"Ponsel? Ini." jawab Desi dan tanpa berfikir panjang memberikan ponsel yang ada di saku jas putih nya.
__ADS_1
Tanpa meminta izin Desi, di ambil nya SIM card milik Desi dan di patah kan menjadi beberapa bagian membuat Desi hanya melongo dengan menahan genangan air di pelupuk mata nya. Bahkan pria itu terlihat mengotak atik ponsel nya selama lima menit dan kembali menyodorkan ponsel setelah selesai ntah melakukan apa.
"Sim card mu akan sampai nanti malam dan cukup hubungi nomer yang ada di dalam sim card itu, jangan mencoba menghubungi orang lain. Karena kamu sudah setuju maka kamu harus patuh dengan semua peraturan saya." ucap pria itu dan ber jalan meninggalkan Desi yang menatap nanar sim card yang ada di rumput.
Ingin berteriak tapi itu hanya SIM card, meskipun begitu banyak orang-orang penting termasuk kolega sesama dokter yang menjadi penghuni nya tapi kini sudah menjadi tempat bermain semut.
"Masuk!" seru pria itu dan membuat Desi berbalik melangkah kan kaki nya dengan berat hati.
"Tinggu tuan." seru Desi sedikit berlari menyusul pria bak dewa di depan sana.
Bruuug...
Untuk kedua kali nya Desi kembali menabrak pria bak dewa namun kali ini bukan dada bidang pria itu tapi justru punggung pria itu yang menjadi sasaran nya, dengan mengusap hidung mancung nya Desi memperhatikan apa yang membuat pria itu berhenti mendadak.
Kedua anak yang saling berbagi satu mangkok sop buah dengan ceria nya sembari berceloteh tentang obrolan seputar mainan layaknya anak-anak pada umum nya, sangat menentramkan hati jika melihat perdamaian di antara kedua anak itu. Tapi wajah Desi seketika berkerut ketika melirik ke arah samping, bukan nya tersenyum tapi ada sinar kemarahan di wajah pria bak dewa seakan ada yang memancing kemarahan pria itu.
"Tuan apa anda baik-baik saja? " tanya Desi dengan pelan.
"Tuan ada telefon." panggil seorang bibi yang menggenggam sebuah ponsel pintar.
"Bi antarkan non Desi ke kamar nya. Berikan semua jadwal tentang Mia dan peraturan rumah ini, dan kamu jaga anak-anak dengan nyawa mu." perintah pria itu setelah menerima ponsel dari bibi dan ber jalan menuju ruangan kerja nya.
"Mari non, panggil saja saya bibi." ajak bibi itu dengan ber jalan di depan.
Sekilas Desi menatap anak-anak yang masih asyik dengan sop buah maka tidak masalah jika di tinggal sebentar hingga bibi berhenti di sebuah kamar yang terletak di belakang tangga, sungguh aneh kenapa Ada kamar di belakang tangga. Begitu kamar terbuka hanya ada kegelapan hingga bibi masuk dan menyalakan lampu dengan menekan saklar yang ternyata agar jauh dari pintu masuk, kamar yang besar jika hanya untuk dirinya dan Hyun tidur bersama.
"Non, duduk lah. Kita harus bicara serius." pinta bibi dengan menunjuk sofa yang ada di depan jendela dan lagi-lagi tirai nya tertutup hingga kamar memerlukan cahaya lampu untuk menerangi ruangan yang cukup luas itu.
__ADS_1