Plan Of Masked Man

Plan Of Masked Man
Makam Asma


__ADS_3

"Jika ku katakan. Berhenti mencari Asma. Apa kamu akan berhenti?" tukas Bryant dengan tatapan dalam.


Icha sungguh tidak percaya. Setelah tahu apa mimpinya, justru Bryant meminta dirinya berhenti mencari Asma. Asma yang membuat hidupnya selalu seperti bayang-bayang. "Apa kamu tahu, hanya karena wanita itu hidupku menjadi neraka! Bagaimana ka..."


"Orang yang kamu sebut 'WANITA ITU'. DIALAH pendonor jantung mu. Kamu dengar aku Icha binti Samuel! Kamu memiliki jantung Asma."


Bruuug...


Menyusahkan! Tapi kasihan sekali kamu, karena cinta ka Sam padamu. Justru hidup kalian tidak tenang. Andai papa mu itu bukan seorang penjahat, sudah pasti kami akan ikut menjagamu. Tapi sebaiknya aku membawamu kesana.~ batin Bryant dan menggendong tubuh Icha.


Meninggalkan rumah ditengah kebun durian. Tentu saja bukan dengan jeep tapi dengan mobil lain yang bisa menyembunyikan wajah keduanya. Sedangkan di villa hansa laut Utara tengah berduka. Pria berkumis menatap abu villanya dengan mata nyalang, sendu dan linangan air mata. Rasa sesak di dadanya menjadi bukti hancurnya kepercayaan didalam hati. "Temukan Icha di manapun gadis itu berada! Aku sendiri yang akan menghukumnya."


"Baik boss."


Suara jeep beriringan meninggalkan wilayah villa hansa, dan hanya tersisa sang pemilik Villa. Kakinya terasa berat melangkah, dengan pakaian yang compang camping akibat ledakan. Siapapun dalang kehancuran villanya, sudah pasti dialah yang mencuri senjata terbarunya. Kini Villa hansa hanya tinggal kenangan. Dengan hembusan angin menerbangkan kepulas asap hitam menyesakkan dada.


"Siapapun kamu, akan kupastikan hancur lebih dari yang kurasakan." janji Samuel dengan menggoreskan abu villa di keningnya.

__ADS_1


Flasback


**Kedatangannya ke Villa, hanya untuk melakukan pemeriksaan dan melihat seseorang yang terkurung didalam villa hansa. Tapi, belum sempat langkah kakinya mendekati Villa, suara dentuman hebat merusak gendang telinganya. Tubuhnya terhempas cukup jauh bersamaan kobaran api yang melahap villa dengan serakahnya.


Ingin menerjang si jago merah, tapi itu sama saja tindakan bunuh diri. Meskipun hatinya hancur, tapi lebih baik mengorbankan sesuatu yang masih tinggal di dalam villa hansa. Seorang wanita paruh baya, yang menjadi tahanannya selama hampir 2 tahun kurang. Sosok itu selalu menjadi penghalang, namun tak ada niat Samuel untuk melenyapkan wanita yang membesarkan dirinya.


Tanpa disadari oleh Samuel, jika ada sosok lain yang mengawasi pergerakannya dari balik pohon. Sosok yang terdiam dengan rasa sakit tanpa sayatan**.


~~


Mobil hitam Avanza melewati pemukiman umum dan berhenti disamping gapura pemakaman umum. Perjalanan hampir 45 menit, tapi Icha masih saja pingsan. Bryant keluar dari mobil dan menghampiri sebuah warung di area makam. "Permisi bu, tolong bunga lili putih dan mawar merahnya. Seperti biasa bu!"


"Walah nak, ini tinggal bunga mawar merahnya saja. Lima menit lalu ada pria yang meminta bucket bunga double. Mau nda nak?" jelas penjual bunga dengan gaya khas ibu-ibu.


Bryant mengangguk dan memberikan dua lembar kertas merah. "Satu lagi bu, jika gadis didalam mobil keluar. Bilang saja, saya ada di makam."


"Beres nak, ini kembaliannya." jawab penjual bunga menyodorkan dua puluh ribu ke Bryant.

__ADS_1


"Tidak usah bu, buat ibu saja." tukas Bryant mengambil bucket bunga mawar merah dan meninggalkan warung bunga.


Langkah kakinya terkesan buru-buru. Ada sesuatu yang mengusik hatinya, sesuatu yang mungkin membawa berita baik untuknya dan juga kakaknya. Melewati beberapa makan, hingga langkah kaki Bryant terhenti. Seorang pria dengan pakaian rapi tengah bersimpuh, dengan dua bucket bunga di atas dua makam. "Siapa dia? Aku tahu satu itu makan Asma, tapi makan satunya itu?"


Rasa penasaran Bryant membuat kakinya melangkah kembali, suara hentakan kaki yang terkesan pelan tak membuat pria didepan makan tertipu. "Apa tujuanmu ke makan Asma?"


Deg...


Suara berat dengan aura dingin menyergap adrenalin Bryant. Suara yang hampir sama seperti suara saudara kembarnya. Dengan rasa was-was, Bryant mendekati makam. Meletakkan bucket bunga mawar merah dan berdiri disamping pria dingin tanpa ekspresi. "Aku ingin menebus dosa seseorang. Lalu anda sendiri?"


"Dosa? Apakah kamu salah satu pelaku pelecehan 2 tahun silam?!" cecar pria dingin dengan menyedekapkan tangan didada.


Bryant terkejut dan spontan membalikkan tubuhnya. Matanya menatap pria yang sungguh ketampanannya melebihi dirinya. Hanya saja ekspresi dingin itu sangatlah berlebihan dan terkesan seperti patung hidup. "Pelecehan apa yang anda maksud?"


"Jika bukan. Lalu dosa apa yang kamu bicarakan?" cecar pria dingin dan mengabaikan pertanyaan Bryant.


"Bryant!" panggil seseorang dari belakang dan membuat Bryant berbalik menatap sosok yang memanggilnya.

__ADS_1


__ADS_2