Plan Of Masked Man

Plan Of Masked Man
Permainan tetap lah permainan


__ADS_3

"Putar balik, mereka dalam keadaan bahaya!" seru Desi yang tersadar kembali akan tujuannya bermain api.


"Tenanglah, mereka sudah ada di tempat seharusnya." ucap Ferro dengan memasuki sebuah kawasan perumahan Sejahtera.


"Apa.." selidik Desi yang menyadari jika dirinya memanglah bodoh karena telah bermain dengan orang yang salah.


Hanya hening hingga mobil memasuki sebuah gerbang rumah mewah yang terbuka secara otomatis ketika mobil taksi itu mendekat.


"Ayo turun." ajak Ferro dengan membukakan pintu mobil di kursi belakang.


Terlihat seorang wanita sudah menyambut kedatangan Desi dan Ferro, wanita yang membuat Desi berlari cepat tanpa mempedulikan keadaan sekitarnya.


"Mereka di dalam dan sudah tertidur." ucap Elsa dengan tenang membuat nafas Desi berangsur membaik dan bergegas masuk ke rumah mewah itu tanpa permisi.


Berbeda dengan Ferro yang langsung meninggalkan rumah mewah di perum Sejahtera untuk kembali bersatu dengan saudara kembarnya, yah semua yang terjadi adalah rencana AK.


Disaat Desi menunggu di dalam mobil, Ferro masuk kembali ke dalam rumah untuk menemukan AK yang telah mengirimkan pesan agar bertukar posisi. Tidak ada rahasia di antara keduanya sehingga membuat semua rencana berjalan baik dan tanpa masalah, di dalam rumah, keduanya bukan hanya bertukar posisi tapi juga membuat rencana yang matang dalam waktu sepuluh menit.


Bahkan untuk membuat rencana keduanya berhasil, Ferro harus menyabotase koneksi para taksi online dan hanya dirinya yang akan mendapatkan pesanan taksi online dari Desi, sedangkan AK selalu memilih menjadi sang maestro dalam sandiwara dunia.


Sesuai dengan pernyataan AK jika Desi akan keluar dari Cafe Andala dalam waktu sepuluh menit, dan setelah mengantar Desi maka kini tugas Ferro untuk menjemput AK di tempat yang sudah di janjikan.


"Maaf lama, sedikit terjadi drama." tukas Ferro setelah berhenti di sebuah gudang tua yang menjadi markasnya.


"Langsung saja." perintah AK dengan santai dan melangkahkan kakinya untuk memasuki gudang tua terlebih dahulu.


"Ka, apa tidak kita biarkan saja mereka tetap di sini?" usul Ferro sembari mengikuti langkah AK dari belakang.

__ADS_1


"Lakukan saja sesuka mu! Tapi jangan salahkan aku jika ada yang binasa." tukas AK dan membuka gudang dengan kunci yang ada di genggaman tangannya.


"Ka." panggil Ferro dengan sedikit tak suka atas ucapan bar-bar kakaknya itu.


"Tugasmu selanjutnya!" jelas AK dengan menunjuk ke papan tulis yang sudah di penuhi target perencanaan.


"Ka, aku masih.." balas Ferro menghentikan langkah AK.


"Permainan tetap lah permainan, jika kamu memang mencintai mereka. Maka lindungi! Apa kamu mau tragedi Asma terulang kembali? Tidakkan." jelas AK menatap Ferro yang langsung menunduk.


"Maaf ka, aku sendiri yang akan membawa mereka pergi. Tapi sampai aku kembali, berjanjilah kakak akan diam untuk sementara waktu." pinta Ferro dengan mengulurkan tangan kanannya.


"Pergi lah dan bawa mereka pergi malam ini, heli akan menjemput mu di tempat biasa." ucap AK dan menepuk tangan kanan Ferro.


"Jaga diri kakak, aku akan segera kembali." pamit Ferro dengan serius.


Suara mobil yang terdengar menjauhi gedung tua membuat AK melepaskan sarung tangannya, di telapak tangannya ada sebuah tattoo indah dengan nama terbaik di dalam hidupnya. Nama yang mampu mengetarkan jiwanya, Asma yah gadis korban pelecehan yang telah berpulang pada Yang Maha Esa itu lah pemilik tattoo cinta di dalam genggaman tangan kiri AK.


"Tunggulah sebentar lagi sayang, aku akan membalaskan semua rasa sakit dan air mata darah kita pada para pendosa itu." gumam AK sembari mengecup tattoo di telapak tangan kirinya.


"Semua seperti yang ku rencanakan, kini waktunya menarik garis besar dari semua permainan petak umpet ku." ucap AK dengan menyatukan setiap rangkaian balas dendam di papan tulis, maka AK memusatkan semua targetnya pada satu sosok yang masih saja terus bersembunyi dengan foto tanpa wajah.


Sosok utama yang pasti akan muncul setelah semua target pancingan berhasil di kalahkan, namun sepertinya sosok utama masih enggan bertindak dan memilih menjadi penonton setia. Meninggalkan AK yang masih sibuk membuat rencana, Ferro melajukan kendaraannya dengan kecepatan tinggi namun tiba-tiba ada cahaya menyilaukan yang membuat pandangan matanya teralihkan.


Wuusss... wuusss.. Braaaak...


Kecelakaan akhirnya tidak dapat di hindari, mobil yang Ferro tumpangi berakhir menabrak sebuah tiang listrik dan mobil mengalami kerusakan yang parah.

__ADS_1


"Ka, bertahanlah. Aku akan kembali meskipun harus melawan malaikat." gumam Ferro sebelum kesadarannya menghilang dengan darah yang mengalir di wajahnya.


Sedangkan satu bayangan mendekati mobil Ferro dengan senyuman iblisnya, tanpa memeriksa keadaan Ferro apakah masih hidup atau sudah tiada.


"Seharusnya kamu tidak pernah kembali! Temuilah kekasih mu yang sudah menunggu mu di alam lain." tukas sosok itu dengan api amarah di dalam matanya.


Sosok yang berpakaian bangsawan dengan kumis tebal di bawah hidungnya membuat wajahnya seperti orang jaman dulu, sosok itu meninggalkan lokasi kecelakaan dengan kilat sebelum ada yang melihatnya.


Beberapa kendaraan yang melewati tempat kecelakaan Ferro bergegas untuk menolong, berkat bantuan seorang petugas kepolisian yang tengah patroli akhirnya Ferro dapat di evakuasi.


"Bagaimana keadaannya?" tanya pak polisi dengan serius setelah membawa Ferro ke puskesmas terdekat.


"Langsung saja bawa ke rumah sakit pak, kondisinya kritis. Puskesmas tidak memiliki peralatan yang lengkap." tutur dokter puskesmas dengan serius dan wajah yang cemas.


"Baik dok, akan saya bawa ke rumah sakit. Tolong siapkan ambulance di puskesmas!" perintah pak polisi dengan tegas dan langsung mendapatkan anggukan kepala dari dokter puskesmas.


"Bawa pasien ke rumah sakit kota!" perintah dokter puskesmas yang langsung di laksanakan oleh seorang perawat pria paruh baya dengan nama tag perawat Dono.


"Dok, tolong rahasiakan informasi soal pasien ini. Ini kasus kecelakaan tapi tidak sederhana seperti yang terlihat." ucap pak polisi dengan serius.


"Siap pak, puskesmas kami akan bekerjasama dengan pihak kepolisian." jawab Dokter puskesmas dan mempersilahkan pak polisi melanjutkan tugasnya.


Dengan langkah tegap pak polisi mengikuti brangkar pasien yang akan di masukkan ke ambulance, dan ikut masuk ke dalam ambulance agar memastikan keamanan korban kecelakaan dalam perlindungan.


Aku tidak tahu apa masalahmu dan siapa musuhmu, tapi hati ku mengatakan aku harus menyelamatkanmu. ~ batin pak polisi menatap Ferro yang sudah diperban kepalanya.


Kepergian ambulance dari puskesmas membuat kepergiaan Ferro menghilang begitu saja, sedangkan AK mulai melakukan rencana terakhirnya dan mengabaikan firasat hatinya.

__ADS_1


Kenapa hatiku terasa sesak, apa terjadi sesuatu dengan Ferro? Kuharap kamu baik-baik saja.~ batin AK.


__ADS_2