Plan Of Masked Man

Plan Of Masked Man
Ferro saudara kembar AK


__ADS_3

Mobil meninggalkan jalanan bulak menuju ke kawasan lain yang lebih terpencil hingga berhenti di depan rumah mewah yang terlihat gelap gulita dan hanya ada penerangan dari satu lampu di depan pintu masuk, kedua pria kembar itu keluar dari mobil bersama an dan melangkahkan kaki secara bersama memasuki rumah mewah kedua nya.


Pintu tidak terkunci dan dipastikan itu karena permintaan AK, yang hidup nya lebih menyukai kebebasan. Langkah kedua nya berhenti setelah memasuki rumah dan pintu tertutup, gelap sangat gelap namun kegelapan itu tiba-tiba menghilang berganti cahaya terang benderang.


"Kaau!" seru salah satu kembaran yang melihat wujud di depan nya yang telah menyalakan lampu seluruh ruangan dengan sekali tekan.


Seorang wanita dengan rambut tergerai dan koper di samping sofa menandakan wanita dengan jeans dan blouse warna putih itu tidak meninggalkan rumah apa lagi negara seperti rencana nya, terlihat jelas raut wajah terkejut dan juga pertanyaan di mata wanita itu. AK yang merasa sudah muak dan lelah memilih melangkahkan kaki nya meninggalkan ruangan tamu, agar saudara kembar nya mengatasi masalah yang tak seberapa itu.


"Apa yang kamu lakukan des! Sudah ku katakan untuk pergi tapi ini? Dimana yang lain? Jangan bilang.." ucap pria yang masih tinggal di ruangan tamu bersama Desi.


"Hanya aku yang tinggal, anak-anak dan Elsa sudah meninggalkan negara ini." jawab Desi dengan suara yang masih belum stabil karena rasa terkejut nya melihat dua pria kembar di depan mata nya.


"Apa alasan mu?" tanya pria itu dengan tegas dan jelas menatap Desi dengan jarak empat meter.


"Aku punya bukti keterlibatan detective itu. Sebagai sahabat aku ingin dia sadar, maaf aku baru menyadari kesalahan nya." ucap Desi menundukkan wajah nya yang benar-benar sendu dengan sebuah kenyataan pahit di dalam hidup nya.


"Ikut aku!" ajak pria itu dengan mendekati Desi dan menarik tangan Desi dengan erat, sedangkan Desi hanya pasrah dan mengikuti langkah pria di depan nya.

__ADS_1


Sebuah bunga yang mendiami pot antik di sudut rumah tepat samping ruangan kerja di geser, hingga suara gemeretak terdengar dan tembok di depan kedua nya bergeser. Pintu rahasia yang terhubung dengan sebuah ruangan sangat gelap, langkah Desi bimbang namun tidak dengan pria yang ada di samping nya.


"Masuk!" perintah pria itu dengan serius ketika melihat Desi hanya termenung di batas pintu rahasia.


"Ruangan apa ini? sangat gelap?" tanya Desi ketika masuk dan otomatis pintu rahasia tertutup kembali hingga menghadirkan kegelapan yang nyata.


"Jangan pergi! Akuu takut gelap." ucap Desi yang tidak lagi merasakan genggaman di tangan nya.


Tidak ada jawaban tapi suara korek api terdengar dan nyala kecil itu berubah menjadi sebuah cahaya yang lebih besar meskipun masih minim, ruangan gelap berubah menjadi sedikit terang. Dengan mengerjapkan mata beberapa kali akhirnya mata Desi bisa melihat ruangan itu dengan lebih baik, pria yang membawa nya masih sibuk dengan sesuatu entah apa membuat Desi menghampiri nya.


"Ituu.." tanya Desi dengan menutup mulut nya dengan kedua telapak tangan nya.


Foto-foto yang menjadi target, dengan cermat Desi mengamati setiap kasus pembunuhan yang naik turun ke permukaan seperti sebuah kapal terapung di terjang badai. Foto full HD yang membuat warna darah dan sayatan di tubuh terlihat sangat jelas, setiap foto yang membangkitkan jiwa Desi untuk bertahan hidup.


Greeb...


"Berhenti memandang jika ingin tidur nyaman!" perintah pria itu dengan memeluk tubuh Desi yang mulai menggigil ketakutan.

__ADS_1


"Aku saudara kembar AK, nama ku Ferro. Berikan apa yang kamu punya dan biar kan kami yang meramaikan panggung sandiwara dunia ini." bisik Ferro dengan lembut dengan mengusap kepala Desi.


"Aku ingin melihat nya untuk terakhir kali, boleh?" tanya Desi melepaskan pelukan Ferro.


Mata yang membuat Ferro percaya dan mengangguk, dan dengan segenap hati nya Ferro mengirimkan pesan pada saudara kembar nya untuk izin keluar rumah bersama Desi bertemu seseorang.


"Ayo.Lewat sini saja." ucap Ferro dengan keluar dari jendela besar yang ada di ruangan gelap itu, yah itu lah jendela besar yang di datangi oleh seorang pria paruh baya yang di anggap Desi sebagai paman pemberi ice cream untuk Hyun.


Kedua nya berjalan meninggalkan halaman rumah dan menuju sebuah mobil yang terparkir tepat di depan rumah, hingga Ferro berhenti ketika merasakan getaran di saku celana nya. Dengan membuka ponsel yang terdapat satu pesan masuk, akhirnya Ferro membuka kan pintu penumpang untuk Desi.


"Tunggu sebentar, Aku akan kembali dalam lima menit." ucap Ferro dan bergegas memasuki rumah nya kembali, meninggalkan Desi yang langsung menggambil ponsel di saku jeans nya dan mengirimkan pesan pada seseorang.


Bukan hanya lima menit Desi menunggu tapi hampir lima belas menit tapi Ferro tidak kunjung datang, membuat nya berfikir untuk menyusul namun belum juga tangan nya membuka pintu. Sosok Ferro sudah keluar dari dalam rumah dengan pakaian berbeda dan tidak lupa jacket ber tudung yang menjadi ciri khas pria itu, Desi menggurungkan niat nya dan duduk tenang di kursi penumpang.


Braak.. (pintu mobil di tutup dengan lebih keras membuat Desi sedikit terkejut)


"Kirim pesan pada detective itu, katakan pertemuan di Cafe Andala cabang Mataram." ucap Ferro dengan santai nya dan me masuk kan kunci mobil untuk memulai aksi nya.

__ADS_1


"Baik." jawab Desi dan kembali menggambil HP nya untuk mengirimkan pesan seperti permintaan Ferro.


Tanpa di sadari Desi jika pria di samping nya sudah menerbitkan senyuman iblis nya yang langsung menghilang dalam hitungan detik, dan mobil meninggalkan rumah yang kembali gelap gulita.


__ADS_2