Plan Of Masked Man

Plan Of Masked Man
Sedikit bicara banyak bekerja


__ADS_3

"Mari non, panggil saja saya bibi." ajak bibi itu dengan ber jalan di depan.


Sekilas Desi menatap anak-anak yang masih asyik dengan sop buah maka tidak masalah jika di tinggal sebentar hingga bibi berhenti di sebuah kamar yang terletak di belakang tangga, sungguh aneh kenapa Ada kamar di belakang tangga. Begitu kamar terbuka hanya ada kegelapan hingga bibi masuk dan menyalakan lampu dengan menekan saklar yang ternyata agar jauh dari pintu masuk, kamar yang besar jika hanya untuk dirinya dan Hyun tidur bersama.


"Non, duduk lah. Kita harus bicara serius." pinta bibi dengan menunjuk sofa yang ada di depan jendela dan lagi-lagi tirai nya tertutup hingga kamar memerlukan cahaya lampu untuk menerangi ruangan yang cukup luas itu.


Desi hanya menuruti dan duduk di sofa di ikuti wanita yang sebenarnya lebih muda dari nya tapi menyebut dirinya sendiri sebagai bibi, jika di pandang lebih seksama tidak ada wajah pembantu sedikit pun. Wajah yang terawat dengan postur tubuh yang semampai bak model, sungguh jika fotografer melihat wanita di depan nya itu akan langsung meminta wanita itu menjadi model nya karena memang cantik.



(bibi)


"Dengarkan ini baik-baik , karena tidak ada yang bisa menyelamatkan mu jika kamu melakukan kesalahan. Tidak aku atau pun putra mu, tidak juga non Mia. Posisi apapun selama itu adalah pekerja maka peraturan dan hukuman tetap sama, tapi tenang lah. Jika kamu menerapkan kalimat *Sedikit bicara banyak bekerja* maka kamu akan memilih aman dari sebuah kesalahan meskipun kesalahan itu kecil." ucap bibi dengan serius dan tatapan tajam sebagai penekanan jika itu peringatan yang paling utama.


"Disini semua sudah ku tulis jadwal obat dan makanan untuk non Mia, selama ini aku yang merawat non Mia maka aku tidak akan lepas tangan Dan apapun yang di makan non Mia harus kamu coba terlebih dahulu meskipun yang memasak itu kamu apa lagi orang lain termasuk aku dan pastikan tidak panas tapi cukup hangat saja karena jika terlalu panas maka non Mia pasti akan melempar makanan itu." ucap bibi lagi sembari mengeluarkan ponsel pintar dari saku baju nya.


"Apa lagi peraturan di rumah ini? " tanya Desi dengan serius karena jujur saja antara ragu dan terus maju, kini di dalam hati nya merasa jantungan.


"Kamar di samping non Mia adalah kamar pribadi tuan dan jangan melirik apa lagi berfikir untuk mendekati kamar itu, sebanyak apapun rasa penasaranmu tentang tuan lenyap kan itu agar hidup mu aman. Selebihnya akan ku katakan saat esok pekerjaan mu di mulai, sekarang istirahat lah karena anak-anak aman bersama ku." jawab bibi dan menghilangkan wajah serius nya sebelum bangun dari duduk nya.

__ADS_1


"Satu pertanyaan lagi." ucap Desi dengan cemas yang menghentikan pergerakan bibi.


"Katakan pada ku. " jawab bibi dan menatap Desi dengan santai.


"Kamu tidak cocok jadi pelayan, apa kamu sungguh seorang pelayan bukan detective yang menyamar? " tanya Desi yang ntah dari mana pemikiran itu datang memasuki kepala nya.


"Apapun pekerjaan asli ku, akan ku pastikan peraturan rumah ini tidak ada yang melanggar. Ku rasa jawab an ku sudah cukup membuat anda keep silent." jawab bibi dengan menaruh jari telunjuk di bibir nya yang mengisyaratkan untuk diam.


Gleek...


Senyum sih senyum tapi kok terlihat ngeri dengan cara bibi itu memberikan jawab an yang terkesan sangat jelas seperti sebuah larangan dan pantangan di rumah mewah ini, Desi bahkan susah sekali menelan saliva nya dan baru bisa menghirup udara sepuasnya setelah bibi itu keluar dan menutup pintu kamar nya. Kembali di pandangi nya kamar yang bagi nya sangat luas, sebuah lemari kayu tiga pintu juga ada di kamar nya, pandangan nya menjelajahi setiap sudut hingga ke kamar mandi yang ternyata tersedia di dalam kamar juga.


"Wow, pria itu apa menyiapkan semua ini? Sebaiknya aku tanya langsung saja." gumam Desi yang melihat pakaian lengkap untuk nya dan Hyun, tapi belum juga lemari di tutup rapat justru gerakan nya terhenti karena mengingat percakapan yang baru saja selesai beberapa menit lalu.



(Desi)


Deg....

__ADS_1


"Astaga kenapa menjadi serba salah seperti ini, tidak mungkin mundur setelah aku setuju. Bagaimana ini ya? " racau Desi dengan menggigiti kuku nya yang tidak panjang sama sekali.


Sedangkan di tempat lain, tepat nya di sebuah club yang memang buka dua puluh empat jam tengah terjadi pertemuan rahasia di ruangan VVIP antara dua orang asing yang kini saling her hadapan dengan keangkuhan masing-masing tapi keangkuhan kedua nya sangat lah jauh berbeda antara bumi dan langit karena status kedua nya adalah penyewa dan yang di sewa.


"So? " ucap seorang pria dengan topeng di wajah nya tanpa mengeluarkan kedua tangan nya dari saku jaket kulit nya menatap pria di depan nya dengan serius.


"Semua bukti yang anda ingin kan, bagaimana dengan sisa bayaranku? " tanya pria di depan pria bertopeng dengan meletakkan satu map merah di atas meja.


Tanpa menjawab, pria bertopeng memeriksa isi map yang memang berisikan bukti yang dirinya ingin kan dengan tangan kiri nya yang menggunakan sarung tangan tapi bukti itu masih ada yang kurang membuat satu tangan kanan yang masih di dalam saku jaket nya mengepal menahan gejolak panas di dada nya. Dengan tenang di tutup nya kembali map merah itu dan disodorkan kembali pria yang di sewa nya, dengan tatapan yang semakin tajam membuat pria itu gelagapan dengan wajah nya yang aneh tapi tetap imut.


"Don't play with me!" ucap pria bertopeng dengan dingin membuat pria di depan nya melongo seakan tidak percaya jika yang menyewa dirinya ternyata orang yang tidak bisa di tipu.


Proook.. proook.. proook..


Tiga tepukan tangan membuat empat pria kekar dengan tattoo elang memasuki ruangan VVIP itu dan mengerti isyarat tuan mereka maka ke empat pria itu langsung menyeret pria imut yang ada di hadapan tuan nya keluar dari ruangan VVIP dan meninggalkan tuan mereka sendiri an.


"Ampuni saya tuan, saya mohon." seru pria itu berulang kali namun tidak ada jawab an dari orang yang menyewa nya dan justru semakin di tarik lebih kasar oleh dua pria kekar sedangkan dua pria kekar lain nya telah berjalan di depan.


Setelah mendengar pintu tertutup, kini topeng di wajah nya di lepas kan dengan tatapan yang masih tajam dan dingin hingga ruangan club VVIP menjadi senyap seketika. Di ambil nya ponsel pintar milik nya dan melihat perkembangan dari para target nya, orang-orang milik nya selalu memberikan kabar dengan intens tanpa menunggu di berikan perintah.

__ADS_1


"Tinggal giliran mu, bagaimana jika aku membuat mu menanggung semua yang ku lakukan. Seperti nya itu hukuman yang setimpal untuk mu dan pelindung mu itu." ucap pria itu yang melihat seseorang menikmati kedamaian di sebuah kamar mewah dengan terlelap bermimpi indah tanpa ada racauan kegilaan.


__ADS_2