
Meninggalkan rencana para lawan, didalam gudang tua dimana AK terbangun setelah terlelap sesaat. Tubuh Icha masih ada dalam pelukannya, dengan hati-hati AK membaringkan tubuh Icha. AK memilih melanjutkan kembali skema tragedi demi tragedi, hingga akhirnya tetap memberikan beberapa pertanyaan yang mengusik fikirannya.
Masih saja ada garis yang tak sinkron. Apa yang harus aku lakukan sekarang, siapa yang bisa menjawab pertanyaan ku?~ batin AK.
Triiing.... (notifikasi pesan masuk mengalihkan perhatian AK)
Dengan sekali scroll, sebuah pesan baru terbuka.
[Temukan semua jawabanmu di jalan Melati gang 1. Waktumu hanya 12 jam! ]
Permainan siapa lagi? Terlalu banyak yang datang dan yang pergi masih terhitung. Sudah pasti ada pemain utama yang menyetir semuanya, jika tidak bagaimana Ferro tiba-tiba kecelakaan? Sekkar di serang? Dan kini ada wanita dengan jantung Asma. Apa aku melewatkan sesuatu? Tapi apa?~ batin AK berfikir dari awal dirinya melakukan perencanaan.
Semua itu di mulai dari satu keputusan AK yang cukup ekstrim, setelah selamat dari tebing dan bertemu dengan komandan Sekkar. AK memutuskan untuk membuat kematian palsu, yah itulah keputusan final AK yang menjadi sebuah tragedi tak di sengaja.
Flasback
Didalam rumah mewah kediaman. Tepatnya fi ruang tamu tengah terjadi perdebatan hebat antara AK dan assistennya Gio. Perdebatan keduanya berawal dari keputusan AK yang mendadak seperti orang kesurupan, dengan santainya menyampaikan akan membuat kematian palsu.
"Are you CRAZY? Apa ini sikap seorang pemimpin? Dimana hero ku yang selalu menjadi pahlawan? Hey! Kamu dengar aku AK." Gio meluapkan seluruh amarah dan kekesalannya dengan berteriak.
AK hanya duduk santai dan menikmati kopi hitam dan sesaat melirik Gio. Meletakkan cangkir kopi ke atas meja dan menepuk sofa di sebelahnya. "Duduk!"
"Aku…"
AK menatap Gio tajam, perintahnya bukan untuk di tolak. Dan tidak ada satu kata yang bisa mengubah keputusan final seorang AK. Gio menghempaskan tubuhnya di sofa, namun memilih duduk di seberang dan berhadapan dengan AK.
"Apa kamu mau aku mati?" tanya AK.
Mata Gio melotot, bantal sofa di sisi spontan berpindah tempat ke seberang.
__ADS_1
Hap…
"Sebaiknya aku antar kamu ke dokter. Kamu perlu seorang psikiater!" tukas Gio dengan memijat pangkal hidungnya.
Tidak ada angin apa lagi hujan, tapi AK bisa berbicara seperti orang tidak waras. Bukannya mengobati luka di tubuh justru memikirkan hal lebih gila. Belum genap satu jam sampai dirumah dari hutan belantara, bahkan nyawanya baru saja terancam. Dan sungguh tidak ada kata lagi yang bisa Gio ucapkan, selain mengatai AK tidak waras.
AK membenarkan posisi duduknya dan menatap Gio dengan serius. "Bukankah kamu tahu, apa yang terjadi di tebing bersangkutan dengan kematian Asma. Dan mereka mengira aku sudah tiada, lalu apa yang akan mereka lakukan jika tahu saat ini aku masih bernafas? Katakan!"
"Mereka akan melakukan rencana lain dan memastikan kamu tiada, tapi bukan berarti kamu membuat rencana kematianmu sendiri! Kita bisa meningkatkan keamanan atau menyewa intel polisi sekalipun, uang pasti bisa membantu kita." jawab Gio dan berusaha mengubah keputusan AK.
"Sampai kapan? Kamu tahu dunia bisnis akan kacau. Jika kita selalu berfikir semua bisa dibeli dengan uang, keputusan ku sudah final. Dengan dunia tahu aku tiada, maka mereka hidup tenang. Dan aku bisa menyelidiki semua dari awal tanpa perlu diawasi, jika kamu tidak mau membantu ya diam saja!" jelas AK dan mengusap tato nama Asma di telapak tangannya.
Gio berdiri dengan wajah memerah, kedua tangannya terkepal erat. "Terserah! Aku butuh udara segar, kegilaan mu diluar batas ku."
Tak... Tak… tak…
Semua berawal dari keteguhan hatinya untuk mencari dalang kematian sang pujaan hati, terlebih ucapan dokter selalu menjadi cambuk di setiap nafasnya. Siapa yang akan kuat membayangkan penderitaan pasangannya? Jika dengan teramat jelas, seseorang mengatakan luka fisik dan batin yang sang kekasih akibat pelecehan massal.
Malam masih enggan berlalu, denting jam terdengar nyaring karena suasana teramat sunyi. Matanya mengerjap, dengan seksama AK melihat jam di atas meja. "Sepertinya Gio tidak pulang. Sudah jam satu, sebaiknya aku mulai rencana ku."
AK bangun dari sofa tempatnya terlelap sejenak, dan berjalan menuju ke dapur. Mencari apa yang dibutuhkan, untung saja rumah mewahnya adalah rumah baru dan hanya Gio yang tahu. Dengan mengambil satu jerigen solar dan sebuah korek api, tak lupa AK membuat lubang di selang gas. Aroma gas mulai menyebar, dan langkah AK menyusuri ruang makan menuju ke tangga hingga ke lantai atas.
Tapi tetesan solar dari jerigen seperti garis panjang tercetak jelas dan bertambah aroma gas yang semakin menyengat. Hampir lima belas menit, AK menyelesaikan tahap rencana pertamanya. "Sudah beres, sebaiknya aku tinggalkan semua barangku disini termasuk pakaianku saat ini."
AK bergegas mengambil satu stel pakaian baru dan membiarkan pakaian lamanya terbungkus kresek hitam, tak lupa AK memakai jaket bertudung lengkap dengan masker. Sejenak AK memandangi foto romantis dirinya bersama Asma di bawah sinar senja dengan deburan ombak. "Aku akan datang setelah semua air mata darah dan penderitaan mu terbalaskan! Akan ku tegakkan keadilan demi kebaikan hatimu, aku percaya kamu wanita terhebat untukku. Aku sangat mencintaimu Asma. Tunggu aku disana, dan doakan aku untuk melangkah ke dalam kegelapan."
AK berjalan meninggalkan kamar dan menyusuri anak tangga dengan hati-hati, karena tak ingin meninggalkan jejak. Maka AK menggunakan satu jendela di samping ruang tamu yang langsung mengarah ke taman.
Hap…
__ADS_1
Sejenak AK memandangi bangunan di depan matanya. Bangunan yang dibangun atas nama cinta, yah rumah mewah tingkat dua dengan fasilitas lengkap itu akan AK persembahan untuk sang pujaan hati. Tentunya sebagai mahar pernikahan, tapi semua tidak memiliki arti lagi. Kehidupannya seperti seorang buronan meskipun tak melakukan kejahatan, dan kesempatan hidup keduanya harus digunakan untuk menegakkan keadilan.
Tangan AK sudah menggenggam sebuah korek kayu. Dan mengambil sebatang korek, bersiap menggesekkan ke pinggirak kotak korek.
Jrees… wuss…. Wooss…
Kobaran api langsung menyambar tirai jendela, AK berjalan meninggalkan samping rumah. Namun, suara mobil datang membuat AK berbelok arah. Langkah kaki AK terlambat. Dengan mata kepalanya sendiri, AK melihat Gio membuka pintu tanpa ragu.
Duuuaaarrr…..
Fiiuuuhhh…. Braaak…..
"Giiiioooo….." seru AK.
AK berlari menghampiri tubuh sahabatnya yang terkena sambaran api akibat ledakan gas, tubuh Gio tak terkena api sedikit pun. Tapi aliran darah dari kepala Gio karena membentur pondasi tajam, membuat Gio bersimbah darah. Nafas Gio semakin lemah, dengan cekatan AK membawa Gio pergi meninggalkan rumah yang dilalap si jago merah.
Dengan mobil milik Gio, AK membawa Gio ke rumah sakit terdekat. Kekhawatiran AK semakin memuncak ketika dokter tak kunjung keluar dari ruang pemeriksaan, hingga satu dering ponsel AK mengalihkan perhatiannya. "Ya aku sudah selesai, tapi seseorang terluka karena itu!"
Jawaban dari seberang membuat AK meninggalkan rumah sakit, dan menuju ke tempat yang sudah disiapkan oleh seseorang. Hingga keesokan paginya, AK menerima kabar duka tersebar di seluruh media massa.
(Kebakaran hebat terjadi di jalan XXXX. Membakar sebuah rumah mewah yang baru sebulan lalu selesai pembangunannya, di duga rumah mewah ini milik seorang pengusaha muda Tuan AK. Dan penemuan satu jasad dengan ciri-ciri sama, membuat polisi memastikan jika jasad itu adalah Tuan AK. Kami segenap team dan dewan direksi yang bekerja di bawah naungan perusahaan beliau, turut berduka cita. Semoga amal ibadah beliau diterima dengan baik.)
"WHAT'S??"
Berita itu membuat AK shock, dan dengan menyamar AK keluar meninggalkan tempat persembunyian, AK menerobos banyaknya massa di pemakaman umum, hingga satu tangan menariknya paksa dan pelakunya adalah Sekkar.
Puk…
"Tuan? Are you okay?"
__ADS_1