
Setelah mendengar pintu tertutup, kini topeng di wajah nya di lepas kan dengan tatapan yang masih tajam dan dingin hingga ruangan club VVIP menjadi senyap seketika. Di ambil nya ponsel pintar milik nya dan melihat perkembangan dari para target nya, orang-orang milik nya selalu memberikan kabar dengan intens tanpa menunggu di berikan perintah.
"Tinggal giliran mu, bagaimana jika aku membuat mu menanggung semua yang ku lakukan. Seperti nya itu hukuman yang setimpal untuk mu dan pelindung mu itu." ucap pria itu yang melihat seseorang menikmati kedamaian di sebuah kamar mewah dengan terlelap bermimpi indah tanpa ada racauan kegilaan.
Sinar mata nya tajam namun nyalang dengan api amarah, tiga target utama sudah menjadi satu target terakhir yang masih dalam keadaan baik-baik saja. Memang sengaja itu di lakukan oleh nya sebelum melakukan rencana terakhir nya, setidak nya membiarkan target terakhir melewati masa berkabung dengan baik. Setelah puas memeriksa semua yang dikirim kan oleh orang-orang nya, kini topeng di pakai kembali untuk memeriksa bagaimana pekerjaan anak buah nya.
Pria itu pergi meninggalkan ruangan VVIP dan menyusuri lorong belakang club, jalan yang hanya bisa di lalui oleh nya dan juga orang-orang nya. Sebuah pintu besi ada di ujung lorong, lorong dengan lampu yang sangat kecil sehingga lorong itu menjadi suram.
Tanpa mengetuk, tangan bersarung nya memutar handle pintu dan membuka pintu dengan santai nya. Di lihat nya pria penipu yang tengah pingsan dengan posisi di gantung terbalik seperti sandera, kemeja biru muda sang penipu telah bersimbah darah dengan robekan tak beraturan di bagian punggu nya.
"Biarkan dia seperti itu, pastikan tetap hidup." perintah pria bertopeng dan hanya di angguki oleh ke empat anak buah nya dengan sikap sangar yang tak luntur.
Pria bertopeng memilih menyerahkan tugas sang penipu pada anak buah nya karena urusan nya harus segera berakhir, dengan meninggalkan club dan kembali ke tempat seharusnya. Mobil nya berhenti di sebuah rumah mewah, rumah yang selalu membuat nya nyaman meskipun hati nya tetap lah sendiri an.
Langkah yang pasti dengan menapaki setiap jengkal tanah milik nya, tidak ada lagi topeng di wajah nya ataupun sarung tangan dan juga jacket hodi nya. Yang ada kini adalah wajah tampan dengan pesona yang menjadi idaman kaum hawa, sebuah kunci rumah di keluarkan nya dari saku nya. Rumah mewah itu nampak sangat sunyi di saat malam baru beranjak dan juga gelap namun tak menyurutkan langkah pria untuk berjalan menuju ke kamar nya, namun suara celotehan di kamar putri nya membuat nya penasaran hingga langkah nya berjalan menuju arah berbeda.
"Baik lah ini sudah malam, kalian harus tidur. Dongeng malam ini sudah cukup, good night Mia, good night Hyun sayang." ucap Desi dengan memberikan kecupan kening di dua anak yang kini berbaring di samping kanan dan kiri nya.
"Good night too ka, Ma." jawab kedua anak itu bersamaan dan memeluk tubuh Desi dengan erat nya.
__ADS_1
Melihat kebersamaan itu membuat sebuah senyuman terbit di wajah pria bak dewa yang langsung menutup pintu dengan perlahan agar penghuni kamar itu tidak tahu kehadiran nya, ada rasa lega di hati nya melihat putri nya mendapatkan kasih sayang yang seharusnya. Dan kini langkah nya akan kembali ke tujuan awal nya namun siluet seorang wanita yang tengah berdiri di dekat tangga membuat nya menghampiri wanita itu dan memberikan isyarat agar wanita itu mengikuti nya dalam diam, kedua nya berjalan beriringan tanpa ada perbincangan hingga tubuh kedua nya menghilang di balik pintu kamar terlarang.
"Ada apa?" tanya pria bak dewa yang meletakkan kunci rumah dan mobil nya di atas sebuah meja yang dipenuhi dengan kertas dan berbagai alat lain nya termasuk sebuah laptop yang selalu menyala.
"Tuan harus waspada, dokter itu memiliki rasa penasaran yang lebih tinggi. Saya khawatir dokter itu membuat tuan dalam masalah." jawab wanita itu dengan menunduk karena dirinya sadar akan posisi nya.
"Hmm.Awasi terus tapi jangan bertindak apapun tanpa izinku, lebih awasi putri ku. Kau paham?" perintah pria bak dewa dengan duduk di kursi putar nya.
"Mengerti tuan, saya permisi." pamit wanita itu dan mendekati pintu.
"Elsa." panggil pria bak dewa dan menatap wanita yang langsung berbalik menghadap nya itu.
"Persiapkan semua nya, sebentar lagi kita semua akan kembali." ucap pria bak dewa yang langsung di sambut dengan senyuman manis di bibir wanita itu.
"Dengan senang hati tuan. Selamat malam." pamit Elsa dan membuka pintu dengan mudah nya karena pria bak dewa tidak mengunci pintu itu dari dalam.
Kepergian Elsa membuat pria bak dewa kembali membuat skema rencana terakhir nya, hingga waktu berjalan dengan cepat nya. Tapi pria bak dewa masih saya memposisikan setiap pion dan raja serta ratu dalam papan catur di meja nya dengan posisi yang diinginkan, hingga jarum pendek jam ada di angka 3 membuat pria itu menghentikan kegiatan nya.
Sejenak menatap foto besar yang selalu menguras emosi nya, hingga perlahan mata nya mulai menutup menjemput mimpi yang menenggelamkan nya. Ada rasa takut yang luar biasa membuat nya berkeringat dingin dengan mimpi yang menghampiri nya, tubuh nya bergetar hebat hingga racauan tidak jelas keluar dari bibir sexy nya.
__ADS_1
"Jangan pergi, aku janji akan membalas semua air mata mu.Jangan tinggalkan aku lagi, ku mohon." racauan pria bak dewa dengan isakan kecil yang mengalirkan cairan bening di kedua sudut mata tertutup nya hingga bantal halus itu menjadi basah kuyup karena dua cairan membasahi secara bersamaan.
Hingga beberapa waktu suara teriakan samar-samar memasuki telinga nya yang membuat tidur nya terusik, tapi semakin terdengar jelas suara teriakan itu membuat tubuh nya tersentak dan langsung melompat dari tempat tidur nya. Tanpa menunggu lama, pintu kamar nya di buka dan tak lupa mengunci nya dan bergegas menuju ke sumber suara yang membuat nyawa nya langsung kocar-kacir tak menentu.
"Pergi! Pergiii!" seru gadis kecil dengan melemparkan kertas-kertas warna nya ke segala arah.
"Mia." panggil pria bak dewa dengan sedikit keras agar gadis itu mendengar, dan benar saja gadis sepuluh tahun itu berhenti berteriak dan langsung berlarian menghamburkan tubuh mungil nya ke dalam rentangan tangan yang selalu menjadi pelindung nya.
Dengan mengusap kepala putri nya agar tenang, mata nya menatap penuh amarah ketika melihat dokter baru putri nya menunduk kan kepala nya. Membuat pria bak dewa menggendong putri nya dan membawa nya pergi ke kamar princess nya dengan satu tangan kanan sebagai penopang tubuh putri nya untuk menempel di tubuh nya dan tangan kiri yang masih mengelus kepala putri nya.
Sedangkan kini dokter itu tengah mendapatkan tatapan penuh selidik dari bibi yang menjadi perawat Mia sebelum nya, dengan posisi yang berhadapan dan dengan kertas warna yang masih berserakan membuat kedua wanita itu di landa emosi yang bertolak belakang.
"Apa yang kamu lakukan?" tanya bibi itu dengan tatapan tajam nya.
"Maaf aku tidak sengaja, aku mencoba melakukan terapi seperti yang biasa ku lakukan pada pasien ku tapi terapi itu tidak bekerja dan Mia mulai berteriak saat aku memberikan pertanyaan... " ucap dokter itu dengan wajah yang terlihat menyesal.
"Apa ini cara mu menangani pasien mu!" seru seseorang yang menggema di seluruh rumah, untung saja dirinya langsung memberikan obat bius agar putri nya istirahat dan menghentikan tangisan serta rasa sakit yang sangat menyiksa nya.
"Akuu.." jawab dokter itu dengan meremas ujung blouse nya.
__ADS_1
"Diam!" perintah pria bak dewa dengan posisi yang kini sudah berdiri di depan dokter putri nya.